Saat Menonton Televisi di Tetangga Sebelah


Foto siang tadi

DI WAKTU KECIL***dulu, saya dan adik saya kalau menonton televisi pergi ke tetangga yang keturunan Tionghwa. Kalau malam, sehabis isya, saya mengetuk pintu rumah tetangga kami itu, “Papih! Papih!” teriak kami kepada bapak tua yang biasa kami panggil demikian. Istrinya pun kami panggil Mamih.

Kalau kami datang, anjing kecilnya bernama Bleki, karena warna bulunya yang hitam, menyambut kami dengan gonggongan atau geramannya. Saya memang tidak pernah akur dengan asu itu. Jadi di depan televisi itu saya mengangkat kaki ke atas kursi, duduk bersila, bukan bermaksud tak sopan, ini sekadar menghindari kaki-kaki kami terkena sentuhan sang asu.

Kabhi-kabhi (kadang-kadang) saya menonton televisi sampai malam, bahkan sampai papih dan mamihnya itu tertidur. Kalau saya mau pulang saya bangunkan papih atau mamih. Bertahun-tahun kami demikian. Mulai dari televisinya hitam putih sampai layar televisi menjadi beragam warna.

Kalau pagi hari Minggu juga demikian. Itu saatnya menonton film seri Unyil di TVRI, generasi milenial tentu tak tahu serial boneka ini. Antara papih, mamih, dan saya tak ada rebutan remote, karena satu-satunya saluran yang ada ya cuma TVRI itu. Juga televisinya tidak pakai remote, masih pakai tangan terjulur buat pencet-pencet tombol di badan televisi.

Yang membosankan dari semua itu adalah saat papih dan mamih menonton acara musik mingguan, genrenya  adalah “Keroncong” lagi. Sampai sekarang saya masih mengingat betul begitu mendayu-dayunya salah satu alat musik pengiringnya bernama flute itu

Tentu ada yang bertanya-tanya memangnya di rumah kami tidak ada televisi. Televisi adalah barang mewah di era 80-an . Dulu orang tua kami pernah punya televisi, tapi itu masa lalu banget karena pada akhirnya televisi itu dijual, entah buat apa hasil penjualannya.

Selain di rumah papih dan mamih, saya terbiasa menonton televisi di lobi hotel. Jaraknya 300 meter dari rumah kami. Saya biasa nonton sambil duduk dlosor di bawah kursi hotel. Tentu setelah izin kepada resepsionisnya. Hotel itu strategis sekali, dekat dengan bioskop yang menjadi pusat keramaian Jatibarang, sebuah kota kecamatan di Indramayu.

Tidak setiap saat saya menonton televisi di hotel itu. Jarang-jarang banget. Biasanya pada waktu malam tahun baruan, ketika kaleidoskop lagi diputar di televisi. Televisi tabung itu berlayar besar. Enak banget buat ditonton.

Suatu saat di pertengahan tahun 1994, saya pergi ke lobi hotel yang sama, seperti biasa buat nonton televisi. Tetapi sebenarnya ada tujuan utamanya. Saya harus menelepon teman saya yang ada di Jakarta. Malam itu adalah malam penentuan. Malam kelulusan apakah saya bisa diterima masuk Sekolah Tinggi Akuntansi Negara atau tidak.

Sambil menonton televisi yang saya sudah lupa acaranya apa, saya merasa tak sabar dan gelisah. Dan pas waktunya, segera saya menelepon teman saya itu. Segera saya menuju telepon umum kartu yang berada di lobi hotel. Saya masukkan kartu teleponnya dan memencet nomor Jakarta.

Teman saya memang sudah stand by di Jakarta untuk memantau pengumuman itu. Keluarganya memang ada di Bekasi. Waktu itu belum ada internet. Pengumuman kelulusan masih harus dipantau secara manual, dijembrengin di papan pengumuman, di lokasi kampus STAN yang berada di Bintaro. Ratusan kilometer dari Jatibarang.

“Halo, gimana Dahlia?”

“Saya tidak lulus.”

“Kalau saya?”

“Selamat yah kamu lulus.”

“Yang bener?”

“Iya.”

“Alhamdulillah.”

Saya mengucapkan terima kasih kepadanya atas semua info itu. Setelah menutup telepon, saya langsung sujud syukur di lobi hotel. Saya langsung kabarkan informasi itu kepada orang tua—Bapak dan mamah—yang ada di rumah kalau saya lulus STAN Spesialisasi Perpajakan.

Mereka gembira. Saya juga gembira. Akhirnya saya bisa ke Jakarta, satu-satunya kampus tujuan yang gratis itu, menyusul anaknya papih dan mamih.  Anak laki-laki mereka memang kuliah dan lulusan STAN, sekarang sudah menjadi fungsional pemeriksa pajak di salah satu kantor pajak.

Sebulan kemudian saya berangkat ke Jakarta untuk pendaftaran ulang. Sebuah saat terakhir saya menghisap rokok dan menginjak puntungnya dengan kaki. Pula, sebuah momen yang mengubah hidup saya selanjutnya.

Saya ceritakan sebagian kisah di atas kepada para mahasiswa STAN yang saya ajar pagi ini. Tidak ada yang tidak bisa kalau kita punya mimpi dan berusaha mengejarnya.

Kalau ini foto tahun 1997. 😀

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
Di bawah hujan, 07 Oktober 2017.
Foto pribadi.
Dahlia bukan nama sebenarnya.

 

 

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s