Sudah Kubilang, Aku Pergi Untuk Kembali


Di September yang dipaksa untuk ceria, seorang laki-laki bertemu dengan muasalnya, sejarahnya. Untuk tak mati, sejarah memakan nektar dan ambrosia waktu agar terus awet muda. Lelaki ini tidak. Ia hanya menuliskannya di laman Facebook.

Setelah berjuang dari ketersesatan Google Maps—dan sesungguhnya saya berlindung kepada Tuhan atas hal itu—yang membuat saya harus menyusuri jalanan sempit Pondok Karya, akhirnya saya bisa menemukan kampus Politeknik Keuangan Negara (PKN) STAN yang saya tinggalkan 20 tahun lampau ini.

Hati menggempa ketika saya memasuki gerbangnya. Getarannya merembet dari hulu jantung sampai ke bagian atas tubuh hingga membuat bulu kuduk saya meremang. Suasana Sabtu pagi itu ramai sekali dengan aktivitas yang memenuhi sudut-sudutnya, entah dengan berolahraga, apel pagi, jalan-jalan, dan kuliah.

Turun dari mobil saya langsung menuju gedung C. Sapaan bertubi-tubi datang dari para mahasiswa yang sedang berbaris dari lapangan utama entah menuju suatu tempat yang mana. “Selamat pagi, Pak,” sapa mereka. “Selamat pagi,” jawab saya. Berulang kali saya harus membalas sapaan mereka. Sebuah penanaman sikap kesopanan yang bagus, pikir saya.

Saya tidak lupa dengan gedung C yang legendaris itu. Gedung tempat saya mendaftar ulang untuk menjadi mahasiswa STAN ketika saya dipastikan lolos ujian masuknya 23 tahun lampau. Tetapi untuk memastikannya saya bertanya kepada salah satu mahasiswa yang lewat.

“Yang mana gedung C?” tanya saya.

“Itu, Pak,” jawab mahasiswa sambil menunjuk sebuah bangunan kokoh dengan pagar besi di setiap jalan masuknya. Masih sama seperti dulu.

Dari depan saya melangkah ke bagian belakang gedung itu. Diapit gedung C dan gedung D di tengahnya ada sebuah tempat lapang dengan dua pohon yang perkasa berdiri. Masih sama kokohnya seperti pada saat saya mengisi formulir pendaftaran masuk STAN di bawah rindangnya yang menganopi. Saat ini, beberapa kelompok mahasiswa sedang berada di bawahnya. Entah apa yang mereka diskusikan.

Mengikis de javu dan cairan kenangan yang mulai membanjir di tempurung kepala, saya bergegas masuk ke kelas. Masih dengan kemerindingan yang bertahan bahkan ketika saya sudah memulai berbicara di depan kelas. Saya katakan kepada mahasiswa D1 Spesialisasi Pajak ini, “Saya masih merinding. Dua puluh tiga tahun yang lalu saya adalah kalian yang duduk di meja ini,” kata saya.

Empat hari sebelumnya saya mendapatkan sebuah tawaran dari teman di direktorat lain untuk menggantikannya mengajar selama satu semester. Kesibukan membuatnya sudah tidak bisa menangani satu kelas yang diamanahkan kepadanya. Tawaran itu saya ambil tanpa pikir lebih lama lagi. Segera saya mempersiapkan segalanya terutama materi pengajarannya. Sebuah mata kuliah yang dulu pernah saya dapatkan dengan nilai B: Pengantar Hukum Pajak (PHP).

Di kelas I-18 ini kebanyakan mahasiswi. Mereka hampir seumuran dengan anak sulung saya yang sekarang berada di kelas 12.  Jadi di hadapan mereka saya seperti bapak mereka saja. Saya memperkenalkan diri dan mencoba mengenal mereka satu per satu. Menanyakan asal mereka dari mana. Selalu ada yang bisa saya ceritakan tentang muasal mereka, tentang kisah perjalanan saya di daerah seperti Yogyakarta, Surabaya, Magelang, Semarang, Lhokseumawe, dan tentang apa saja. Selalu ada tawa di ujung pembicaraan.

Mbak dari mana?

“Lampung, Pak.”

“Oh, saya punya cerita tentang Lampung. Waktu tahun 1997, saya pernah main ke salah satu pantainya. Nama pantai itu Pasir Putih. Ada kan pantai itu?”

“Ada, Pak. Cuma pasirnya sudah tidak putih lagi sekarang.”

“Iya, karena putihnya sudah pindah ke hatimu, Mbak.” sergap saya dengan nada bercanda. Seisi ruangan tertawa.

Kalau Mas, dari mana? tanya saya kepada pemuda yang mengacungkan jarinya tinggi-tinggi itu.

“Pekalongan, Pak.”

“Hm, maaf Pekalongan cuma dilewatin saja sih. Itu pun pas mudik. Eh enggak ding. Saya pernah berkunjung ke kantor pajak Batang. Menginapnya di Pekalongan.”

Beberapa lamanya saya berasa stand up comedy di hadapan mereka. Tak masalah. Saya pikir materi kuliah juga bisa ditransfer sedemikian rupa dalam waktu yang tersedia. Yang penting adalah mereka paham.

Saya bukan dosen killer. Saya bukan Nemesis seperti dalam mitologi Yunani. Tidak ada yang namanya pembalasan. Sudah cukup bagi saya, menjalani tiga tahun perkuliahan dengan mimpi-mimpi buruk takut drop out, walau pada kenyataannya tidak pernah terjadi, alhamdulillah. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan dari saya. Terpenting mereka belajar dengan baik saja.

Saya memotivasi mereka. Saya bagi proses perjuangan saya untuk berubah. Sesungguhnya tidak ada yang namanya kesuksesan tanpa perjuangan. Masa muda adalah masa penuh pengorbanan. Menikmatinya nanti di garis finis.

“Nanti tua ya, Pak?” celetuk salah satu dari mereka.

“Tidaklah. Kelak kalau di akhirat saja. Dunia adalah tempat kita berlelah-lelah. Surga adalah tempat rehat sejati,” kata saya yang mendadak menjelma menjadi Ustaz Abdul Somad. Saya lancang sekali.

Dulu dibalik kaca hitam itu adalah kamar kos saya.

 

Dengan Pak Haji Sanian.

 

Usai perkuliahan saya mampir ke kos-kosan saya dulu. Sebuah rumah di pinggir empang nan hijau. Kos-kosan Pak Haji Sanian ini berada di sebelah musala Albarkah yang sekarang sudah menjadi masjid. Rumah Haji Sanian yang bersisian dengan jalan sempit itu sudah berubah menjadi warung kecil semua.

Saya bertemu dengan Haji Sanian. Umurnya sudah 67 tahun. Saya juga bertemu dengan anak perempuannya yang paling bungsu, yang waktu kecil masih belum “dong” cara beringus, sekarang sudah punya anak saja. Dia sudah lupa dengan saya.

Saya tidak lama di sana. Setelah meminta keridaan Haji Sanian atas tindak tanduk saya yang kurang berkenan selama tiga tahun berada di rumahnya, saya pamit.

Untuk semua yang mewujud di hari itu tetap ada yang menjejak ke tanah kenyataan dari perjalanan waktu 23 tahun. Kemudian saya teringat akan sebuah paragraf dalam buku yang ditulis oleh Fatih Zam berjudul Perjalanan Mengalahkan Waktu: Kebahagiaan Tak Pernah Datang Terlambat.

Pada akhirnya, lelaki memang tidak bisa mengalahkan waktu. Lelaki memang harus pergi. Pergi untuk kembali. Apa yang dicari? Alasan. Lelaki mencari alasan. Alasan untuk pergi—sekaligus alasan untuk kembali.

Ya, sebelum masuk ke kelas pagi tadi, sambal memandang dua pohon menjulang tinggi, ia telah menuliskan satu perihal di laman Facebooknya: “Sudah kubilang, aku pergi untuk kembali.”

 

Saya di masa lampau.

 

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
21 September 2017
Catatan ringan di perkuliahan pertama tanggal 16 September 2017

 

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s