Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah


Tak Kutinggalkan Foto Kita Berdua di Jabal Rahmah

Di tanah suci macam-macam saja kebiasaan jama’ah haji Indonesia ini. Salah satunya kebiasaan bersandar di tembok atau tiang masjid di tanah air yang ternyata terbawa sampai ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    Di Masjid Nabawi tampak mencolok wajah melayu, bertubuh kecil, memakai baju batik yang berleha-leha di tiang-tiang masjid sambil menunggu waktu shalat. Ini masih mending karena jama’ah Masjid Nabawi tidaklah sebanyak Masjidil Haram. Kalau di Masjidil Haram kebiasaan itu akan merugikan jama’ah haji sendiri. Mengapa?

Harga shaf di Masjidil Haram sangatlah mahal. Paha yang dilipat bersila menandakan masih adanya tempat yang leluasa untuk bisa diselipi oleh orang lain. Dan itu dimanfaatkan betul oeh jamaah dari negara lain yang tanpa basa-basi meminta kita untuk bergeser walaupun sudah tahu bahwa shaf sudah penuh.

Nah, jamaah haji kita kalau dekat tiang seharusnya duduk merapat tiang agar tidak bisa digeser oleh orang, tetapi karena kebiasaan bersandar itu jadi menyebabkan terlihat mencolok space yang kosong. Mau tidak mau seharusnya dia yang dapat tempat yang nyaman untuk duduk malah disingkirkan oleh jama’ah haji yang melihat adanya ruang yang kosong itu. Karena orang Indonesia orangnya santun, tak enakan, dan ngalahan maka ia pun terpaksa duduk dengan melipat kaki ke dada.

Ada lagi yang lain. Saya pernah menjumpai ibu-ibu jamaah haji Indonesia yang mendekati petugas kebersihan Masjidil Haram dan memohon-mohon dengan sangat sambil mengangkat jari telunjuk menandakan angka satu dan menunjuk-nunjuk kain pel. Artinya ibu-ibu itu meminta kepada Petugas Kebersihan satu helai kain pel. Untuk apa sih? Saya juga tidak tahu. Mungkin buat bahan cerita di tanah air, “nih kain pel asli dari Makkah buat membersihkan Masjidil haram. Asli.” Klenik? Tidak tahu juga. Hanya Allah yang tahu.

Orang Indonesia saja yang demikian? Tidaklah. Jama’ah haji Pakistan seringkali menggerak-gerakkan jari-jari mereka seperti menulis ketika habis shalat di lantai Masjidil Haram. Entah apa yang ditulis. Mungkin nama mereka agar bisa datang lagi ke Mekkah. Apalagi waktu di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Suatu tempat pertemuan Nabi Adam dengan Siti Hawa. Kalau jamaah haji yang lain pakai spidol, mereka tidak. Cukup dengan menggunakan jari tangan mereka.

*Jurus Tulisan Tanpa Bayangan?

Selain itu di Jabal Rahmah ini banyak sekali foto-foto yang bertebaran. Foto sendiri atau foto berdua. Katanya kalau meninggalkan foto di sini atau menulis di batu-batunya bisa dipanggil lagi untuk berkunjung ke tempat itu atau jodohnya awet.

  • Salah satu foto yang saya temukan. Ada nama di balik foto itu.

  • Lembaran foto lainnya. Ada nama mereka berdua di balik foto itu.

Karena melihat kebiasaan itu, maka seringkali para askar atau penjaga yang bertugas di Jabal Rahmah menegur dan melarang mereka untuk melakukan hal tersebut. Karena tidak pernah ada syari’atnya untuk itu. Syukurnya kami pun tidak melakukan itu. Berdoa di sana pun tidak.

Di sekitar tugu yang berada di puncak Jabal Rahmah tampak terlihat dijaga ketat sekali oleh para askar. Para askar yang berbaju gamis, berjenggot panjang, dan bersurban itu senantiasa berteriak serta menasehati para peziarah untuk tidak menyentuh tugu dan berdoa menghadap tugu persis, tetapi diminta oleh mereka untuk menghadap kiblat. Kalau tidak dijaga, maka tugu Jabal rahmah rawan jadi tempat shalat, thawaf, dan dicoret-coret.

Kalau yang berziarahnya itu terlihat bermuka melayu maka yang dihadapkan adalah askar dari Malaysia. Kalau orang Afrika maka askar yang ditugaskan adalah askar yang berkulit hitam dan mampu berbahasa orang Afrika. Jadi para askar yang bertugas di sana dari berbagai macam bangsa pula.

*Tampak para askar sedang menjaga tugu di puncak Jabal Rahmah

Ada lagi yang menarik. Seringkali kita melihat kalau di sekeliling tembok Kakbah itu banyak sekali orang yang menyapu kopiah, peci, surban, sajadah, baju mereka ke tembok Kakbah. Awalnya saya menduga, semua barang itu nanti akan jadi barang kenang-kenangan dan tidak akan pernah dicuci karena bekas kena batu dinding Kakbah. Mungkin bagi sebagian orang iya. Kemudian saya berbaik sangka kalau mereka itu sebenarnya memang hanya ingin mengetahui wangi Kakbah itu seperti apa.

Karena ternyata, sebelum shalat jama’ah dimulai, dinding Kakbah yang steril dari manusia karena dijaga ketat para polisi itu, selalu diberi minyak wangi oleh petugas khusus. Begitu pula dengan hajar aswadnya. Nah itu yang diperebutkan oleh seluruh jama’ah di dekat Kakbah ketika imam selesai salam bahkan sebelum imam selesai mengucapkan salam pertamanya. Saat pertama itulah kopiah, peci, surban, sajadah, baju menyapu bersih wangi parfum Kakbah.

Jadi siapa bilang kalau hajar aswad itu selalu wangi. Wanginya itu wangi sebelum dicium oleh puluhan ribu orang. Baru tercium wangi kalau Anda jadi yang pertama mencium hajar aswad. Tentu itu butuh pengorbanan yang luar biasa. Mau?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

selalu berdoa untuk pertemuan itu

22.41 15 Desember 2011

Tags: hajar aswad, jabal rahmah, jurus tulisan tanpa bayangan, jurus, Kakbah, masjidil haram, masjid nabawi, mekkah, makkah, mecca, macca, medinah, madinah, kota nabi

CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS


CARA DAPAT ALQUR’AN GRATIS

Ini ilmu yang perlu diketahui  seluruh calon jama’ah haji Indonesia. Kata Ketua Rombongan saya ilmu yang baik ini harus dibagi. Okelah kalau begitu. Soalnya beliau saja yang sudah pergi bolak-balik ke tanah suci saja belum tahu kalau ada ilmu seperti ini. Saya kira sudah tahu.

Ini berguna buat halaqah, majelis taklim, yayasan, masjid, musholla, madrasah, ma’had, lembaga pendidikan, pengajian RT, pengajian RW, pengajian PKK, pengajian desa yang ingin mengganti atau menambah Alqur’an buat jama’ahnya.

Sudah tiga periode sejak tahun 2007 Masjid Al-Ikhwan menitipkan proposal permintaan Alqur’an kepada pengurusnya yang pergi haji untuk disampaikan kepada Pengurus Masjid Nabawi, Madinah. Sebut saja pengurus karena kita tidak tahu nama sebenarnya dari lembaga pewakaf Alqur’an tersebut.

Nah, tentu syarat utama dari keberhasilan proposal ini adalah kerelaan dari yang dititipkan untuk dibebani banyak Alquran dengan berat total sebesar 10 kg itu. Karena mau tidak mau amanah ini akan mengurangi jatah berat maksimal dalam kopor untuk dirinya. Atau minimal bikin ribet selama perjalanan pulang kalau ditenteng.

Proposalnya seperti apa sih? Sebenarnya cukup surat satu lembar saja. Rinciannya begini:

  1. Kop Surat. Saya lihat ada juga yang tidak pakai. Tetapi lebih baik surat tersebut memakainya sebagai tanda bahwa permintaan ini resmi.
  2. Pakai bahasa apa? Bahasa Arab boleh. Bahasa Indonesia juga boleh. Bahasa Betawi Bojong juga tidak apa. Tidak dibaca soalnya.
  3. Ditujukan kepada siapa surat tersebut? Tulis saja Pengurus Masjid Nabawi.
  4. Struktur suratnya bagaimana? Salam, kalimat pembukaan seperti biasa yang terdiri dari rasa syukur dan shalawat, inti surat yang isinya bahwa lembaga kita butuh alqur’an, dan penutup.
  5. Tanda tangan pengurus. Dalam surat saya ditambah pula tanda tangan Ketua RW.
  6. Cap. Ini penting banget. Mereka, para penjaga, akan meminta cap kalau dalam surat itu—di atas tanda tangannya—tidak ada cap. Walaupun pada akhirnya tetap akan diberi. Saya sarankan untuk memakai cap buat surat itu. Selesai.

Proposalnya disampaikan kemana? Kalau sudah sampai di Masjid Nabawi pergilah ke pintu 18. Gate 18 ini seingat saya bernama Gate Umar Bin Khaththab. Masuklah dari Gate King Fahd lalu cari di sebelah kanan. Di sana akan ditemukan ruangan kecil yang d idepannya ada tempat antrian untuk masuk ke ruangan itu dan mengambil Alqur’an.

Saya lupa di hari ke berapa saya bawa proposal itu ke sana. Tetapi saya masih ingat saya mengambilnya pada waktu dhuha. Sekitar jam 10-an pagi. Kalau memang belum buka coba tanya-tanya sama penjaga pintu Masjid Nabawi, pakai bahasa tarzan sambil menunjukkan surat itu Insya Allah mereka paham.

Tak hanya orang Indonesia yang bawa proposal, orang Tajikistan, orang Turki, orang dari negeri seberang banyak juga tuh yang bawa. Pokoknya yang enggak bawa proposal sudah pasti tidak boleh masuk. Nanti akan ada penjaganya yang menyortir setiap pengantri bawa proposal atau tidak. Kebetulan saya lihat yang jaga sambil nyortir juga dzikir pakai biji tasbih. Pikir saya di pusat gerakan salafy ini ada juga orang dzikirnya memakai biji tasbih yang katanya bid’ah itu.

Karena saya bawa surat saya diperkenankan untuk masuk. Di sana surat hanya dilihat sebentar (tidak dibaca) oleh para penjaga yang lain lalu diberi lembaran kertas yang divalidasi olehnya dan diberikan kepada saya. Lalu saya disuruh masuk ke ruangan yang lain dengan menunjukkan lembaran kertas kecil tersebut.

Di tanya oleh penjaga yang berada di ruangan itu: “ustadz fi madrasah?” Saya jawab: “Na’am”. Saya enggak bohong kok jawabnya. Saya memang seorang guru dalam sekolah informal pekanan. Lalu saya diberi satu kardus berisi Alqur’an.

Karena saya dari Indonesia, Sang Penjaganya memberi tambahan lagi satu Alquran Terjemah dan satu buku tafsir. Tapi saya diharuskan minta validasi lagi ke penjaga sebelumnya. Satu hal yang perlu diingat kertas validasi itu jangan sampai hilang.

Mau bawa berapa proposal? Mau bawa tujuh proposal dan antri setiap harinya enggak apa-apa, yang penting bisa tidak bawa pulangnya ke tanah air. Saya cuma bawa satu saja cukup. Ada juga jama’ah haji Indonesia yang bawa dua proposal. Dua proposal berarti dua kardus.

Kardus itu berat sekali. Pada saat penimbangan tas kopor dilakukan saya iseng untuk menimbang kardus alqur’an wakaf itu ternyata beratnya berkisar 10 kg. Lalu bagaimana cara bawa kardus itu ke tanah air? Soalnya para jama’ah haji sudah ditakut-takuti oleh para petugas haji sejak di tanah air sampai pemulangan itu bahwa kita tidak boleh bawa tas tenteng selain tas tenteng berlogo maskapai penerbangan. Ah, masa iya sih?

Alternatif cara pertama adalah mengirimkannya dengan kargo. Hitung saja kalau ongkosnya sekitar 8 real per kilonya. Berarti total 80 real. Kalau dikurskan ke rupiah berkisar 200 ribu rupiah. Ini sama saja dapat Al Qur’an enggak gratis. Tapi tidak masalah kalau yang dititipkan memang ikhlas dan berniat infak serta tak mau direpotkan dengan membawa banyak barang tentengan.

Alternatif kedua adalah dengan memasukkannya ke dalam kopor. Tentu saja ini akan makan tempat apalagi tas kopor para jama’ah haji dibatasi beratnya hanya maksimal 32 kg. Tapi sebenarnya tak apa beratnya melebihi itu yang penting berat total satu kloter tidak melebihi batas maksimal 32 kg dikalikan jamaah dalam satu kloter.

Paling tidak jika beratnya melebihi batas yang telah ditentukan biasanya akan jadi perahan para pekerja perusahaan kargo. Untungnya Ketua Rombongan kami tahu trik ini jadi ketika diperas Ketua Rombongan kami dengan tegas menolak permintaan uang tambahan itu karena yang jadi patokan adalah berat total dalam satu kloter itu. Kebetulan banyak juga dari jamaah haji rombongan kami yang beratnya tidak melebihi 32 kg.

Kalau memang tasnya masih kempes dan hanya diisi dengan sedikit oleh-oleh tidaklah mengapa kalau kopor itu diisi dengan Alqur’an itu. Masalahnya adalah bisa tidak kita mengemas Alqur’an sebanyak 19 buku itu dalam kopor? Kalau masih muat silakan saja.

*Jumlah 19 Kitab Alqur’an wakaf ini baru diketahui setelah tiba di tanah air.

Alternatif ketiga adalah dengan menentengnya. Petugas haji Indonesia yang garang-garang di bandara itu tidak akan mungkin untuk meminta kita untuk membuang kardus wakaf alqur’an ini. Jika ditanya isinya apa, jawab saja Alqur’an wakaf dan siapkan kertas validasi jika mereka enggak percaya. Mereka cuma pegang-pegang kardusnya pada saat pemeriksaan untuk mengecek kalau-kalau ada air zam-zam di dalam kardus itu.

Cara alternatif ini tentu merepotkan tapi tidaklah mengapa jika yang bawanya ikhlas. Semoga amalnya dihitung oleh Allah sebagai amal kebaikan. Repotnya gimana sih? Ya karena rawan lupa atau tertinggal barang bawaannya. Apalagi kalau sudah tiba di bandara tanah air dan embarkasi. Sedikitnya ada 4 bawaan di setiap jamaah antara lain Tas tenteng di tangan kanan, tas paspor yang digantung di leher dan diikat di pinggang, tas gemblok di punggung, dan air zam-zam 5 literan di tangan kiri, ditambah satu kardus Alqur’an entah di tangan yang mana lagi.

Satu saran saya terakhir jika memang kardus itu mau ditenteng, siapkan saja sapu tangan tebal untuk ditaruh di talinya. Tanpa sapu tangan itu siap-siap saja tangan lecet kena tajamnya tali kardus. Itu saja.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

semoga kita dipertemukan kembali…

14.55 12 Desember 2011

Tags: masjid nabawi, pintu 18, gate 18, proposal alqur’an gratis, gate King Fahd, gate umar bin Khaththab, cara dapat alqur’an gratis, proposal alqur’an.

SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH


SELALU ADA SENJA DI LAUT MERAH

    Ada waktu senggang yang kami manfaatkan setelah ritual wajib haji telah tertunaikan yaitu rihlah ke berbagai tempat di Makkah dan sekitarnya. Yang akan sedikit saya ceritakan kali ini adalah Masjid Terapung di Jeddah. Sebenarnya bukan terapung begitu saja, tetapi masjid ini didirikan dengan tiang pancang pondasinya yang tertancap persis di pinggir Laut Merah. Sehingga ketika Laut Merah sedang pasang airnya maka masjid ini dikelilingi air dan seakan-akan mengapung di atas air laut.

    Kami berangkat dari pondokan di Makkah jam dua siang melalui jalan lama Mekkah Jeddah. Karena katanya kalau melalui jalan baru nanti akan melewati pos pemeriksaan dan urusan akan ribet. Jarak Mekkah Jeddah melalui jalan lama sekitar 85-an kilometer.

Dalam perjalanan kami mampir dulu ke peternakan unta. Foto-foto bersama unta dan seumur hidup baru kali itu bisa mencium unta yang baunya “prengus” karena sejak lahirnya ia tak pernah mandi. Lalu beli satu botol susu unta murni yang nantinya akan saya sesali. Hu…hu…hu…

Ketua Rombongan sudah bilang untuk tidak langsung meminum susu itu. Dan itu sudah saya turuti. Karena bagi yang tidak cocok dengan susu murni seperti itu walaupun terasa gurih dan enak, isi perut bisa keluar semua.

    Sampai di Masjid Terapung, kalau tidak salah sudah hampir jam 4. Shalat ashar di sana lalu menikmati pemandangan yang ada sambil menunggu maghrib tiba. Benar-benar tepat singgah di sana sewaktu sore. Tersajikan sebuah pesona alam yang sungguh indah dipandang mata.

    Lengkungan kubah dan tiangnya, menara tinggi menjulang, angin yang menderu kencang, Laut Merah dengan ombak kecilnya, langit hitam, dan matahari senja yang hendak turun ke peraduan membuat hati saya tergetar. Subhanallah indahnya.

*Suasana senja di Masjid Terapung

*Pemandangan lain di sekitar Masjid Terapung

    Saya tak dapat menggambarkan lagi apa yang saya rasakan di sana. Ada kebahagiaan dan ketenangan yang didapat saat menikmati semuanya itu. Hasrat untuk memainkan kata-kata mulai timbul. Tapi sungguh hanya cuma terlintas dalam hati. Dan tak dapat tertuliskan sampai kemarin. Jika boleh, inilah huruf-huruf yang bisa terangkai hari ini.

    selalu saja ada senja di setiap sudut

    pun di laut merah

    jika angin yang menerpa dan cahayanya melukis di wajahmu

    akankah ada ufuk hanya untukku

    langit hitam takkan menjadikanku hitam

    tapi serinai siluetmu

menerobos kelalimanku

aku menjadi putih di merah hatimu.

**

Aduh biyunggg…tobaat…Cuma kata-kata itu yang bisa tertangkap. Banyak foto indah yang bisa dibuat. Tapi tak bisa saya unduh di sini. Paling di facebook. Insya Allah. Lihat saja di sana. Hanya sedikit ini.

  • Selalu ada senja di setiap sudut

    

    *Salah satu sudut Masjid Terapung

    

  • Di mana-mana ada senja. Bolehkah aku gunting dan kulipat engkau di sakuku?

Setelah foto-foto, kami menikmati jagung bakar yang dijaja di sana. Penjualnya bisa memikat hati para pengunjung yang mayoritas orang Indonesia dengan sedikit kepintarannya berbahasa Indonesia. “Lima real…! Lima Real…!” Satu biji setara Rp12.500,00.

Setelah makan jagung bakar yang dibeli dan nasi kotak yang disediakan oleh Ketua Rombongan, adzan maghrib berkumandang. Saya mengambil air wudhu di toilet Masjid. Jangan bayangkan seperti di Masjidil Haram yang berlimpah air dan banyak WC serta krannya, di Masjid Terapung sarananya minim, kami harus antri panjang untuk sekadar mengambil air wudhu.

Ada yang membuat hati saya bergetar kembali. Bacaan imamnya itu indah sekali. Walaupun di saat maghrib itu penuh dengan jamaah namun saya membayangkan jika tidak di musim haji. Imam yang sudah sepuh itu memimpin segelintir jamaah di suatu maghrib, di tepi laut merah. Syahdu. Berasa seperti shalat maghrib atau shubuh di sebuah desa di pegunungan atau di puncak Bogor. Tiba-tiba saya membayangkan saya punya pesawat jet, maka sabtu atau minggu pergi dari tanah air untuk sekadar shalat maghrib di sana. Mustahil? Insya Allah tidak.

Setelah shalat maghrib, perjalanan rihlah dilanjutkan ke Masjid Qishosh, melewati air mancur setinggi 100 meter lebih, melewati pula makam Siti Hawa, dan berakhir di pusat perbelanjaan Corniche Commercial Centre, Balad. Beli apa di sana? Beli unta-untaan made in China buat Kinan dan keponakan. Unta-untaan itu kalau ditepuk langsung nyanyi: “Ya Thoybah…ya Thoybah…”. Di Jeddah, di Makkah, dan di Madinah harganya sama, 15 Real.

Tidak lama setelah itu kami pulang. Sampai di pondokan jam 11 malam. Dan berakhir sudah rihlah di hari itu.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mana senjamu?

17.51 11 Desember 2011

Tags: hajj 2011, mekkah, madinah, jeddah, corniche commercial centre, siti hawa, masjid terapung,

MUSTAJAB BANGEEET…


MUSTAJAB BANGEEET…

    Bagaimana cara bertemu dengan teman yang kita tidak tahu nomor kloternya berapa, tinggal di sektor mana, rumah pondokannya berapa? Suatu hal yang mustahil saya mencari satu orang di antara ratusan ribu jama’ah Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru mata angin kota Makkah.

    Tapi di sana tidak ada yang mustahil. Tinggal berdoa saja di depan Kakbah, di sebuah tempat yang paling mustajab, di waktu yang mustajab, dengan 100% keyakinan pada Allah, maka tunggu dan biarkan mekanisme doa itu berjalan sendirinya untuk kita. Dan saya hanya terlongong-longong ketika teman saya itu muncul di hadapan saya begitu saja. Terpana. Tak dinyana. Tak terduga. Allah Akbar.

Mustajab banget doa di sana. Banyak sekali doa yang dikabulkan. Oleh karenanya tak pandang sepele semua keinginan saya panjatkan. Dengan bahasa Arab ataupun pakai bahasa orang Bojong. Doa kecil ataupun doa besar. Maksudnya? Doa kecil itu semisal minta supaya saya tak ada masalah pada saat mengantri toilet di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (ARMINA). Doa besar semisal agar saya bisa dikumpulkan dengan orang-orang yang saya cintai di Firdaus A’laa bersama Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Saran saya buat yang mau berangkat haji di tahun-tahun mendatang adalah siapkan stok doa sebanyak mungkin. Doa berbahasa Arab yang sudah kita hapal, kita pahami betul maknanya sehingga tak sekadar diucapkan di lisan. Bahkan jika kita hanya punya satu doa andalan—doa sapu jagat, Robbana aatina—tak mengapa itu diulang ribuan kali atau menjadi doa pada saat thawaf dan sa’i. Jika sudah selesai dengan doa yang berbahasa Arab berdoalah dengan doa berbahasa Indonesia ataupun bahasa daerah yang kita kuasai. Allah Maha Mendengar.

Jangan malu untuk buka-buka buku pada saat doa di sana. Buku paket doa dan dzikir yang dibagikan pemerintah di tanah air itu juga bisa mencukupi. Atau dengan buku yang dibagikan pada saat kita mendarat di bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Di buku itu ada tulisan Arabnya dan terjemahannya. Saya pakai buku yang terakhir dan membaca terjemahannya di saat berdoa karena saya anggap isinya bagus banget.

Jangan sepelekan buku dzikir dan doa yang dibagikan oleh pemerintah yang isinya juga bagus-bagus. Mentang-mentang tak ada keterangan doa ini dari hadits (Nabi) atau dibuat oleh siapa jadi enggak dipakai. Padahal buku doa dan dzikir dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi (KAS) pun sama bae. Enggak ada keterangan doa itu riwayat dari siapa atau ditakhrij oleh siapanya.

Keuntungan yang dimiliki oleh orang-orang Makkah dan Madinah adalah mereka punya tempat yang mustajab untuk berdoa—di Makkah yakni di Multazam sedangkan di Madinah yakni di Raudhah—yang bisa mereka kunjungi kapan saja. Tak ada kendala jarak dan waktu.


Tampak seorang Pakistan berdoa dengan khusyu’ memandang Kakbah

di lantai paling atas tempat sa’i Masjidil Haram (18/11)

Tapi Allah Mahaadil, Allah memberikan kepada kita—kaum Muslimin secara keseluruhan—saat yang mustajab untuk kita berdoa. Oleh karena betapa susahnya kita doa di tempat yang mustajab itu maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya saat-saat yang tepat itu dan jangan sekali-kali meremehkannya. Saat-saat itu adalah antara lain waktu sahur, sepertiga malam terakhir, turun hujan, antara adzan dan iqamat, berbuka puasa, dan pada saat khatib jumat duduk.

Berdoalah apa saja sesuai hajat kita dengan sepenuh hati. Pun dengan adab-adab doa yang telah kita ketahui bersama antara lain seperti memulai dan mengakhirinya dengan mengucapkan rasa syukur dan shalawat, mengangkat tangan, khusyuk, serta penuh keyakinan bahwa doa itu akan dikabulkan Allah.

Satu hal lagi adalah ada saat berdoa yang mustajab yang tidak bisa dimiliki oleh kaum muslimin hatta penduduk Makkah dan Madinah sekalipun kecuali mereka yang berhaji yaitu pada saat wukuf di Arafah. Jangan sia-siakan waktu yang enam jam itu untuk kita tuntaskan semua hajat kita dengan doa. Waktu itu dimulai saat tergelincirnya sampai terbenamnya matahari.

Kebanyakan dari jama’ah haji Indonesia hanya memanfaatkannya sebentar yaitu pada saat dimulainya khutbah wukuf sampai selesainya. Atau paling lama sampai waktu ashar tiba. Saran saya adalah berdoalah sampai benar-benar maghrib tiba. Saya merasakan sekali betapa waktu itu terasa pendek dan teramat berharga. Seperti merasa waktu itu hanya akan mampir cuma sekali dalam seumur hidup. Seperti merasa hanya punya waktu sehari saja untuk hidup di dunia atau mau dihukum mati besok harinya. Oleh karenanya di penghujung waktu itu saya ulangi semua hajat dan keinginan terbesar saya dan minta agar saya bisa kembali untuk menjumpainya.

Semoga kita bisa menjumpai saat itu dan memanfaatkan waktu yang terbaik untuk berdoa dengan sebaik-baiknya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lagi, bukan di depan bangunan hitam itu kita dipertemukan

03.15 11 Desember 2011

CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH


CERITA MUDIK BOGOR SEMARANG 21 JAM LEBIH

 

Ramadhan, mudik, dan baliknya sudah berlalu. Saatnya menatap hari esok untuk menekuni rutinitas dan pekerjaan kembali. Namun masih ada bagian cerita yang belum sempat untuk dituliskan di sini. Oleh karenanya izinkan saya untuk mengisahkan sedikit perjalanan mudik kami.

    Cuti bersama dimulai dari hari Senin, Kamis, dan Jum’at. Ditambah satu hari lagi cuti tahunan pada hari Senin pekan depannya sehingga kalau ditotal jenderal jumlah hari libur yang saya ambil –dari tanggal 27 Agustus s.d. 5 September—adalah sebanyak 10 hari.

    Karena masih banyak tugas yang harus diselesaikan terutama masalah pengumpulan dan pembagian zakat di Masjid Al-Ikhwan maka saya putuskan untuk memulai perjalanan mudik itu pada Sabtu malam Ahad tepatnya pukul 00.00. Karena memang tugas penghitungan ZIS baru selesai jam setengah 12 malam. Pada menit ke-40 selepas tengah malam kami pun berangkat.

    Kilometer sudah dinolkan, tangki bensin sudah dipenuhkan, shalat safar tertunaikan, shalawat sudah dipanjatkan, perbekalan sudah disiapkan, dan fisik sejenak sudah diistirahatkan maka perjalanan dimulai dengan menyusuri terlebih dahulu tol Jagorawi lalu ke Lingkar Luar Cikunir sampai ke tol Cikampek.

    Keberuntungan di tahun lalu tidak berulang di tahun ini. Selepas pintu tol Cikopo mobil kami dialihkan ke jalur kanan untuk melewati Subang karena pertigaan Jomin macet total. Padahal rencana kami adalah untuk singgah dulu di tempat bibi, Lik idah, di Segeran Indramayu. Kalau melalui jalur tengah—Cikopo, Subang, Cikamurang, Kadipaten, Palimanan—sudah pasti kami harus memutar terlalu jauh ke Segeran.

    Sebelum masuk Kalijati Subang saja sudah macet total. Kami pun mematikan mesin mobil. Jam sudah menunjukkan setengah empat pagi ketika kami memulai sahur di atas kendaraan. Kami sudah bertekad untuk tidak mengambil dispensasi untuk tidak berpuasa pada saat menjadi musafir.

Karena saya merasakan betul kenikmatan berbuka di saat orang lain tidak berpuasa dan godaan tawaran pedagang asongan dengan minuman dingin yang berembun di siang terik, apalagi di tengah kemacetan yang luar biasa. Syukurnya Haqi dan Ayyasy juga mau untuk sahur dan berpuasa. Kebetulan pula mobil kami tepat berhenti di depan masjid, sehingga ketika adzan shubuh berkumandang kami dengan mudahnya memarkirkan mobil dan shalat.

Setelah shalat kondisi jalanan ke arah Subang sudah tidak macet lagi. Arah sebaliknya yang menuju Sadang yang macet. Kami melewati Subang menuju Cikamurang dengan kecepatan sedang. Menjelang matahari terbit kami melewati perkebunan pohon-pohon Jati. Indah sekali pemandangan yang terekam dalam mata dan benak menyaksikan matahari yang mengintip di sela-selanya. Dan sempat tertuliskan dalam sebuah puisi yang berjudul Terperangkap. Saya rekam dengan menggunakan kamera telepon genggam dan unggah segera ke blog.

Sebelum Cikamurang kami lewati, lagi-lagi kendaraan kami dialihkan dari jalur biasanya ke arah jalur alternatif. Tentunya ini memperpanjang jarak dan waktu yang kami tempuh sampai Kadipaten. Kemacetan yang kami temui selepas Cikamurang sampai Palimanan hanyalah pasar tumpah. Terutama pasar tumpah di Jatiwangi dan Pasar Minggu Palimanan.

Setelah itu kami melewati jalur tol Kanci Palimanan melalui pintu tol Plumbon. Di tengah perjalanan karena mendapatkan informasi dari teman—yang 15 menit mendahului kami—via gtalk bahwa di pintu tol Pejagan kendaraan dialihkan arusnya menuju Ketanggungan Timur dan tidak boleh ke kiri menuju Brebes maka kami memutuskan untuk keluar tol melalui pintu tol Kanci.

Tapi jalur ini memang padat sekali. Kalau dihitung jarak Kanci hingga Tegal ditempuh dalam jangka waktu lebih dari 3 jam. Jam sudah menunjukkan angka 15.15 saat kami beristirahat di SPBU langganan kami, SPBU Muri, tempat yang terkenal dengan toiletnya yang banyak dan bersih. Shalat dhuhur dan ashar kami lakukan jama’ qashar. Haqi dan Ayyasy sudah protes mau membatalkan puasanya karena melihat banyak orang yang makan eskrim dan minum teh botol. Kami bujuk mereka untuk tetap bertahan. Bedug buka sebentar lagi. Sayang kalau batal. Akhirnya mereka mau.

Setelah cukup beristirahat kami langsung tancap gas. Jalanan lumayan tidak penuh. Pemalang kami lewati segera. Kami memang berniat untuk dapat berbuka di Pekalongan. Di tempat biasa kami makan malam seperti mudik di tahun lalu. Di mana coba? Di alun-alun Pekalongan, sebelah Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan, tepatnya di Rumah Makan Sari Raos Bandung. Yang patut disyukuri adalah kami tepat datang di sana pas maghrib. Beda banget dengan tahun lalu yang maghribnya baru kami dapatkan selepas Pemalang.

Rumah makan ini khusus menjual ayam kampung yang digoreng. Sambalnya enak. Tempatnya juga nyaman. Ada lesehannya juga. Kebetulan pula pada saat kami datang, kondisinya padat banyak pengunjung, dan anehnya kami dapat tempat paling nyaman yang ada lesehannya. Persis di tempat kami duduk setahun yang lalu.

Cukup dengan teh hangat, nasi yang juga hangat, sambal dan lalapan, satu potong ayam goreng, suasana berbuka itu terasa khidmatnya. Yang membuat saya bahagia adalah Haqi dan Ayyasy mampu menyelesaikan puasanya sehari penuh.

Setelah makan dan istirahat kami langsung sholat maghrib dan isya. Walaupun tempat sholat sudah disediakan di rumah makan itu, saya dan Haqi berinisiatif shalat di Masjid Agung Al-Jami’ Pekalongan. Waktu itu suasana masjid ramai karena dekat dengan alun-alun yang sesak dipenuhi pedagang dan pusat perbelanjaan. Kami sempat merekam gambar menara masjid tua ini.

Selepas adzan ‘isya kami segera berangkat kembali untuk menyelesaikan kurang lebih 102 km tersisa perjalanan kami. Batang kami lewati tanpa masalah. Kendal pun demikian. Saya yang tertidur tiba-tiba sudah dibangunkan karena mobil kami ternyata sudah sampai di rumah mertua di daerah Grobogan dekat stasiun Poncol.

Perjalanan kami belum berakhir karena kami memang berniat menginap di rumah kakak. Sekarang gantian saya yang menyetir menuju Tlogosari, Pedurungan. Tidak lama. Cuma 15 menit saja. Akhirnya tepat pada pukul 21.45 kami pun sampai di tujuan.

Wuih… lebih dari 21 jam lamanya perjalanan mudik ini. Saya sempat berpikir lama–kelamaan jarak Bogor Semarang susah untuk ditempuh dalam jangka waktu 12 jam atau lebih sedikit. Tidak seperti di tahun 2007 lalu waktu kami berangkat jam enam pagi sampai di Semarang sekitar pukul tujuh petang dengan suara takbir menggema dan kembang api menghiasi langit.

Tapi apapun yang kami lalui yang terpenting penjalanan itu bisa ditempuh dengan selamat. Saya yakin shalawat yang kami lantunkan menjadi salah satu faktor utama keselamatan kami. Dan berujung pada kebahagiaan kami di lebaran bersama keluarga di kampung. Semoga cerita mudik Anda pun berakhir bahagia.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00.37 WIB

6 September 2011

 

Diupload pertama kali di http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2011/09/06/cerita-mudik-bogor-semarang-21-jam/

Tags: bogor, semarang, ramadhan, mudik, cuti bersama, masjid al-ikhwan, tol jagorawi, lingkar luar cikunir, tol cikampek, tol cikopo, subang, lik idah, segeran, indramayu, cikamurang, kadipaten, palimanan, kalijati, haqi, ayyasy, cikamurang, palimanan, jatiwangi, pasar minggu palimanan, tol kanci palimanan, plumbon, gtalk, pejagan, ketanggungan timur, brebes, spbu muri, pemalang, pekalongan, alun-alun pekalongan, masjid agung al-jami’ pekalongan, rumah makan sari raos bandung, batang, kendal, grobogan, stasiun poncol, tlogosari, pedurungan

T E R P E R A N G K A P


image

:bayangmu seringkali terperangkap

:pada ranting-ranting dan daun-daun pohon jati cikamurang

:di pagi yang tak sengaja untuk menjadi beku

:di matahari yang hendak mengakhiri agustus

:di kemarau yang salah datang di hatimu

:bayangmu seringkali terperangkap di lingkaran-lingkaran otak yang tak punya sudut

:di bilik jantungku yang kerap tanpa bunyi

:kau, ramaikanlah segera ruang itu.

***

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Ramadhan 1432
06.05

Kuliah Dhuha Al Yaum Ma’al Qur’an di Penghujung Ramadhan


image

Hari ke-27, di Masjid Al Ikhwan, setelah sesi melelahkan di malamnya ditambah sahur pakai nasi biryani dengan 66 lebih jama`ah, kini saatnya mendengarkan kuliah dhuha bersama Ustadz Badruddin, Lc.

Temanya: Cara Berinteraksi yang Baik dengan Alqur’an.

AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA


AYYASY, KINAN, UNTA, KIJANG, DAN RUSA

 

Sabtu malam Ahad sebelum Ramadhan, kami bertiga—saya, Ayyasy, dan Kinan—menjemput Ummu Haqi dari sebuah hotel di Bogor tempat konsinyering sehari penuh itu diselenggarakan. Nama hotel itu adalah Hotel Sahira, tepatnya di jejeran Jalan Paledang. Kalau saya cuma tahu jalan itu identik dengan nama penjara.

Hotel itu dekat ditempuh dari stasiun Bogor. Jalan kaki bisa atau naik ojek juga bisa. Hotelnya terlihat bagus. Tampak depan bangunan bercita rasa zaman keemasan kolonial Belanda. Sepertinya juga hotel ini hotel syariah karena ada larangan untuk membawa minuman keras dan pasangan yang bukan mahrom untuk menginap. Di setiap kamarnya ada Alqur’an dan terjemahnya serta sajadah untuk shalat.

Untuk kami disediakan satu kamar buat bermalam sampai besok tetapi karena ada agenda yang tak bisa ditinggalkan oleh saya maka kami putuskan untuk pulang saja. Nah, sebelum pulang itu saya sempatkan untuk menjepret Ayyasy dan Kinan di samping unta yang sedari tadi mematung di lobi hotel yang interior dan pencahayaannya cukup bagus.

Selamat dinikmati saja fotonya. J Omong-omong tentang Bogor banyak sekali tempat eksotik untuk dikunjungi. Bogor bisa disamakan dengan Bandung. Yang membedakan adalah hujan, pohon, kijang dan rusanya. Satu lagi kata orang sih…perempuannya. Ah, ada-ada saja. Suatu saat kami akan sempatkan untuk jalan-jalan di sana. Eksplorasi lebih dalam dan lama.

Ini yang terakhir. Beneran terakhir. Sumpah. Kalau ke Bogor melewati istana Bogor dan di halaman luasnya menemukan banyak binatang mamalia seperti kijang dan rusa maka yang menjadi pertanyaan adalah apa bedanya kijang dengan rusa? Saya tanya saya jawab sendiri. Kalau kijang itu punya totol-totol sedangkan rusa tidak punya. Membedakan jantan dan betinanya bagaimana? Yang jantan itu punya tanduk sedangkan yang betina tidak.

Jadi kalau ada yang bertotol-totol dan tidak bertanduk itu namanya adalah kijang betina. Jangan salah sebut yah…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

merdekalah kita

11.28 17 Ramadhan 1432 H

 

 

Tags: bogor, paledang, stasiun bogor, kijang, rusa, hotel sahira, kolonial belanda, belanda, istana bogor, bandung, kinan, ayyasy

DI SEBUAH KETINGGIAN


image

Pagi ini setelah kuliah shubuh, sesaat mau pulang ke rumah, hati kok tergerak untuk menangkap pemandangan pagi  yang sejuk ini. Masih banyak kabutnya yang bertengger di pucuk- pucuk pepohonan di kejauhan sana. Suasana masih sepi. Orang mungkin masih bergulung dengan selimutnya sehabis sahur tadi.
Jalan lurus ini adalah jalan depan rumah. Satu yang ada di hati pada pagi ini bersyukur tinggal di Bogor yang hawanya masih sejuk.
Jangan dilupa kicau burung-burung di pagi ini terasa gaduhnya. Seperti menyambut suasana hati saya yang sedang bahagia di Ramadan Mubarak ini.
Ya Rabb jangan kau cabut kebahagiaan kami di pagi ini sampai akhirnya.
Dan….
Ya benar, selalu akan ada banyak yang dilihat di atas ketinggian.
Pagi semua.
***

Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara.
Perpisahan juga adalah pertemuan yang salah tempat.
14 Ramadhan 1432 H
06.17

EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU


EMAS BATANGAN ITU BERNAMA BUKU

 

Tak dinyana saya menemukan banyak buku bagus waktu pergi ke toko buku Gramedia di ITC Cibinong, Rabu petang (29/6). Selain bagus sudah barang tentu murahnya itu yang  membuat saya tertarik sekali. Seperti biasa yang saya cari pertama kali di toko itu adalah bukan buku-buku yang terpajang di rak-rak utama di bagian dalam toko. Tetapi pada buku-buku yang tergeletak tak beraturan di lapak-lapak khusus buku murahnya.

Bayangkan buku Membongkar Kegagalan CIA dijual cuma 35 ribu perak. Namun bukan buku itu yang saya pilih, karena saya sudah baca bukunya di Perpustakaan Kantor Pusat DJP. Selain itu ada buku-buku yang seharga semangkuk bakso atau satu gelas jus buah. Berkisar angka 5 ribu sampai dengan 10 ribu rupiah. Nah yang ini baru saya beli. Murah tapi tidak murahan. Dan perasaan saya saat membelinya seperti membeli satu kilogram emas batangan yang dijual cuma dengan harga 1 gram saja.

Ada lima buku yang saya beli. Bukunya tebal-tebal lagi.

  1. Pahlawan Zaman Kita, sebuah novel yang ditulis oleh Penulis Rusia, Mikhail Lermontov , harganya cuma 10 ribu rupiah. Tebal 200 halaman.  
  2. The Long Tail: Ekonomi Baru dalam Bisnis dan Kultur, Bagaimana Pilihan Tak Terbatas Menciptakan Permintaan Tak Terbatas, Chris Anderson, harganya sama cuma ceban. Tebal lebih dari 287 halaman.
  3. Bidik, Novel Dengan Dua Sisi. Sisi 1: Lomotions, Sisi 2: Loko Motive. Sebuah novel yang ditulis oleh Nugroho Nurarifin.  Harganya goceng saja, lima ribu rupiah. Tebal 264 halaman.
  4. Orang Batak Berpuasa, buku yang ditulis oleh Baharuddin Aritonang. Harganya cuma 10 ribu rupiah saja.
  5. Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang, Jilid 3. Merupakan buku yang direkomendasikan oleh Tutor pada waktu workshop menulis untuk dimiliki. Sayangnya yang ada cuma jilid ke-3. Tidak ada jilid ke-1 dan ke-2 nya. Harganya? 10 ribu rupiah. Tebal 224 halaman.

Sampai tulisan ini dibuat buku yang sudah saya baca adalah Novelnya Mikhail Lermontov dan buku yang sedang saya baca adalah The Long Tail. Tiga lainnya belum terbaca sama sekali.

Tidak sampai satu bulan kemudian, Ahad kemarin (24/7) saya balik lagi ke toko buku itu. Dan ternyata, waow, buku-buku murahnya tambah banyak lagi dan baru-baru. Maksud baru di sini adalah buku lama yang di bulan sebelumnya belum ada di lapak buku murah. Dan ternyata lagi, jilid 1 dan jilid 2 dari buku Proses Kreatif sudah ada. Sudah pasti saya angkut dua buku itu dengan harga masing-masing cuma 15 ribu rupiah.

 

Tak disangka pula saya menemukan bukunya Jung Chang, Angsa-angsa Liar. Tahu siapa Jung Chang? Dia yang menulis buku bagus tentang Mao. Buku tebal yang berjudul Mao, Kisah-kisah yang Tak Diketahui sudah saya baca habis. Waktu itu saya penasaran sama Jung Chang yang bisa bercerita detil tentang Mao dengan segala kekejamannya itu. Eh, malah ketemu buku lainnya itu yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, Wild Swan.

Di toko itu, harganya cuma 20 ribu rupiah. Dulu harga buku barunya 100 ribu rupiah.

Walaupun banyak sekali buku murah yang bagus-bagus, saya memutuskan  hari Ahad itu saya beli buku tiga saja. Ada loh buku tentang India dan Cina, juga tentang Perang Troya. Tetapi  nafsu saya harus ditahan dulu. Insya Allah bulan depan.

Yang mengejutkan saya kira buku Proses Kreatif itu hanya sampai jilid 3, baru saja googling ada juga jilid empatnya.

Semoga saja sudah ada edisi murahnya bulan depan.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

16.19 25 Juli 2011

 

 

tags: gramedia, itc cibinong, membongkar kegagalan cia, perpustakaan kantor pusat djp, djp, pahlawan zaman kita, rusia, mikhail lermontov, the long tail, chris anderson, bidik: novel dengan dua sisi, lomotions, loko motive, bidik, nugroho nurarifin, orang batak berpuasa, baharuddin aritonang,  proses kreatif: mengapa dan bagaimana saya mengarang, jung chang, angsa-angsa liar,  mao zedong, mao tse tung,  mao: kisah-kisah yang tak diketahui, mao: untold story, wild swan, india, perang troya.