Jaga Posnya Masing-masing


Kamis (17/9) siang itu menjadi pembelajaran terbaik buat Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2Humas), Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Apa soal?

Kami menyelenggarakan rapat dengan Seksi Sinkronisasi Peraturan Perpajakan, Subdirektorat Harmonisasi Perpajakan, Direktorat Peraturan Perpajakan II, DJP. Ada Pak Bombong Widarto dan tim. Kak Ani Natalia sebagai Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan di waktunya yang padat juga turut hadir dalam rapat ini. Terima kasih banyak, Kak.

Continue reading Jaga Posnya Masing-masing

Penikmat Kopi dan Pemilik Starbuck Harus Berterima Kasih kepada Sultan Ottoman


Pada 29 Agustus 1526, Tentara Turki Utsmani (Ottoman Empire) menang telak atas pasukan koalisi Eropa di Mohacs dalam sebuah pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Mohacs.

Pasukan Eropa berjumlah kurang lebih 40.000 pasukan terdiri dari pasukan koalisi Hongaria, Kroasia, Polandia, Romawi Suci, dan negara gereja. Pasukan Turki yang dipimpin Sulaiman Alqanuni berjumlah 65.000 orang. Versi lain, jumlah pasukan Turki Utsmani 100.000 prajurit sedangkan pihak lawan berjumlah 200.000 prajurit.

Baca Lebih Lanjut

Syaifuddin Zuhri, Guru SMP, dan PKI


Menyebut nama ini, saya teringat dua orang yang bernama mirip dan peristiwa yang menyertainya. Satu orang berasal dari 30 tahun lampau, satunya lagi peraih bintang dari Sri Paus di Vatican pada zaman jaya-jayanya PKI.

Senior saya di Direktorat Jenderal Pajak bernama Syaifuddin Zuhri meninggal dunia beberapa waktu lalu. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Saya hanya bisa berdoa semoga ia mendapatkan husnul khatimah.

Baca Lebih Lanjut

Derai Air Mata di Balik Meterai


Kinan (kiri depan) bersama teman-teman di kelasnya di SMPIT Pondok Pesantren Alkahfi, Cigombong, Bogor pada Selasa, 18 Agustus 2020.

Pagi ini, kami satu keluarga mengantarkan Kinan untuk memasuki Pondok Pesantren Al-Kahfi di Cigombong, Bogor. Kinan sekarang kelas VII SMP. Di periode pertama, akhir Juli 2020 lalu, Kinan melewatkan kesempatan memasuki pesantren karena kami masih khawatir dengan situasi pandemi, belum menyiapkan segala keperluan Kinan dengan lengkap, dan kesibukan kami.

Pesantren membuka kembali periode memasuki pesantren pada Ahad, 16 Agustus 2020. Setelah Kinan masuk pesantren, Kinan tidak boleh dijenguk, tidak boleh pulang, dan baru bisa pulang pada akhir Desember 2020.

Baca Lebih Lanjut

Mengurangi 3.000.000 Butir Permen


Tahu tidak? Ketika kita datang ke sebuah layanan pelanggan (customer service) perusahaan kita menjumpai di mejanya ada yang menyediakan permen dalam sebuah mangkuk atau toples kecil.  Penggunaan mangkuk dan toples ini ternyata punya dampak berbeda-beda. Berdasarkan penelitian, menggunakan toples lebih menghemat konsumsi permen dibandingkan menggunakan mangkuk. Mengapa demikian?

Ini karena penggunaan mangkuk tanpa ada penutup senantiasa memantik keinginan pelanggan untuk mengambil permen, entah seberapa besar atau kecil keinginannya dalam mengonsumsi permen. Sedangkan kalau diletakkan dalam toples yang ada penutupnya akan ada usaha kecil untuk dapat mengambil permen. Itu saja sudah dapat menghambat keinginan yang tak besar memakan gula-gula.

Baca Lebih Lanjut

Berlari di Malam Jumat Kliwon


Sudah engap. Jalanan gelap. Malam Jumat Kliwon.

Genap satu minggu, tidak lebih, kami Tim DJP Kuat menyelesaikan lari sejauh 375 km. BC Runners berkolaborasi dengan ASNation menyelenggarakan lari virtual dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia. Kegiatan ini khusus untuk amtenar.

Pandemi Covid-19 membuat banyak lomba lari dibatalkan sejak Maret 2020. Untuk tetap menjaga protokol kesehatan penyelenggara kegiatan lari mengganti formatnya menjadi virtual. Peserta lomba tidak berkumpul di satu tempat dan cukup lari di lokasinya masing-masing.

Baca Lebih Lanjut

50 Tahun Lalu Masyarakat Yogyakarta Gelisah Seperti Dikejar Hantu


Dengan adanya Peraturan Wali Kota yang diterbitkan baru-baru ini, warga Padang yang kedapatan tidak memakai masker ketika beraktivitas di luar rumah pada saat Pembatasan Sosial Berskala Besar wajib membayar denda Rp250 ribu. Puluhan tahun sebelumnya, di Yogyakarta, anjing yang kedapatan bepergian tidak memiliki atau membawa plumbir akan ditangkap. Jika tidak ditebus, dapat dibunuh.

Dari zaman kerajaan sampai modern sekarang, masyarakat sudah dikenakan berbagai jenis pajak seperti pajak tanah, pajak hasil bumi, pajak kepala, pajak sepeda, dan lain sebagainya. Bermacam-macam jenis pajak muncul karena adanya objek pajak baru atau dihapuskan karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat.

Baca Lebih Lanjut

Jangan Menjadi Orang Pertama yang Berhenti Bertepuk Tangan


Video dengan subtitle “Lihatlah Betapa Rakyat Korea Utara Sangat Mencintai Kim Jong-Un” viral hari-hari ini. Apalagi di tengah isu tidak jelas tentang kematiannya sehabis menjalani operasi kardiovaskular.

Menarik memang ketika melihat tayangan video supreme leader Republik Rakyat Demokratik Korea ini. Dalam sebuah acara yang tidak disebutkan itu Kim Jong-Un memasuki ruangan dengan iringan orkestra musik yang kencang dan menyemangati.

Baca Lebih Lanjut

Secuil Cerita Digaplok Kepala Stasiun Jatibarang


Photo by James Wheeler on Pexels.com

Waktu itu Sekolah Dasar (SD) kami menyelenggarakan kegiatan Pramuka. Acaranya hiking dan mencari jejak. Saya ikut. Lengkap dengan seragam pramuka dan perlengkapannya. Ditambah satu termos besar berisi es bungkus. Es bungkus dengan rasa teh manis ini saya ambil dari tetangga.

Ya, sambil ikut pramuka saya jualan juga. Laku? Alhamdulillaah, laku keras. Saya senang kalau teman-teman pada kelelahan karena berjalan jauh ini di tengah terik matahari, dengan begitu mereka akan mengincar es teh saya. Semakin mereka lelah, semakin ringan termos yang saya bawa ini. Keuntungan jualan ini buat jajan. Itu pengalaman berdagang saya waktu SD.

Baca Lebih Lanjut

Perdikan di Tengah Pagebluk?


Atas jasa-jasanya membantu Kesultanan Demak, Ki Ageng Sela mendapatkan desa perdikan di Grobogan. Penduduknya dibebaskan dari pembayaran pajak dan kerja wajib. Saat masa kolonial Hindia Belanda tiba status perdikan tetap dipertahankan dengan Staatsblad nomor 77 tahun 1853. Status yang kemudian lenyap pada saat kemerdekaan Republik Indonesia dan tak elok terjadi pada kiwari yang menuntut kesadaran lebih-lebih.

Membaca Opini Kompas, Kamis, 19 Maret 2020, yang ditulis oleh Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Suyanto membenarkan pemikiran selama ini. Laku pada kondisi sekarang bukan hanya soal membangkitkan kesadaran mencuci tangan, namun mengubah pemikiran orang tentang banyak hal.

Baca Lebih Lanjut