Secuil Cerita Digaplok Kepala Stasiun Jatibarang


Photo by James Wheeler on Pexels.com

Waktu itu Sekolah Dasar (SD) kami menyelenggarakan kegiatan Pramuka. Acaranya hiking dan mencari jejak. Saya ikut. Lengkap dengan seragam pramuka dan perlengkapannya. Ditambah satu termos besar berisi es bungkus. Es bungkus dengan rasa teh manis ini saya ambil dari tetangga.

Ya, sambil ikut pramuka saya jualan juga. Laku? Alhamdulillaah, laku keras. Saya senang kalau teman-teman pada kelelahan karena berjalan jauh ini di tengah terik matahari, dengan begitu mereka akan mengincar es teh saya. Semakin mereka lelah, semakin ringan termos yang saya bawa ini. Keuntungan jualan ini buat jajan. Itu pengalaman berdagang saya waktu SD.

Pada saat SMP, saya juga jualan pada saat libur panjang. Mengasong rokok, permen, tisu, dan air mineral dalam kotak kayu bertuliskan Pemburu Dollar (L dobel) dan menyusuri jalanan, stasiun, bioskop, dan pasar Jatibarang. Bahkan bisa juga sampai mengasong ke Stasiun Haurgeulis dan Bangodua naik kereta api jarak jauh itu.

Banyak pengalaman didapat. Mulai jatuh dari kereta api, dipalak, digaplok kepala stasiun, kecanggungan bertemu dengan kawan SMP terutama kawan perempuan (kalau demikian saya hanya menunduk dan menurunkan topi sampai benar-benar menutupi muka), melihat kecelakaan, menghentikan laju kereta api hanya dengan beberapa bungkus rokok. Beberapa pengalaman ini sudah saya tulis dan ada dalam buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Alhamdulillaah, keuntungan yang didapat dari mengasong ini bisa buat biaya pendaftaran SMA.

Pada saat SMA, untuk menambah uang jajan, saya jualan majalah bekas, majalah Intisari dan TTS. Sempat jadi tukang sekop kapur di Palimanan, Cirebon. Menaikkan butiran kapur ke mobil pick-up. Hasilnya lumayan. Sempat juga diajak kawan menjadi tukang batu. Kerjanya memecahkan batu gunung besar dengan palu supaya batu itu bisa masuk ke mesin penggiling batu. Cuma bertahan dua hari. Hasil bersih setelah dipotong biaya makan dan uang transportasi enggak sebanding dengan capeknya yang luar biasa.

Itu semua pengalaman berharga buat saya yang bisa diceritakan kepada anak-anak selepas salat berjamaah di rumah ini. Di saat pandemi. Sama seperti yang saya tulis dalam buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini di halaman 63:

Dari sana ada yang bisa dijadikan pembelajaran, kalau keberhasilan atau kesuksesan itu tak bisa dicapai tanpa keringat yang menetes dan pengorbanan. Sampai-sampai saya menulis sebuah kalimat dengan gaya kaligrafi di atas slof pembungkus rokok dan menempelkannya di dinding rumah: tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Apa ceritamu?

***

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 Maret 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.