Di Hadapanmu


Pastinya, lama-kelamaan samudra yang kautatap adalah tempat bersahaja untuk sudra sepertiku.
Ikarus yang kecipak kepak sayapnya dimamah lemah, meluruh jatuh, karam bersama sayu.
Dan engkau tetaplah maharani di puncak kertap matahari magrib.
***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
8 Mei 2018

Kalau Sudah Begini



Kalau sudah begini, aku ingat di suatu masa, di muara Kali Bluwak, jauh di batas Alas Kencono Wungu yang mulai gundul, di tepianku. Saat pacarmu menghilang di kejauhan lalu engkau diterkam kesenyapan sampai menggigit jantungmu sendiri. Aku datang membawa sedikit kabar. Kabar yang kuambil dari sobekan koran. Di sana, di halaman kedua, ada judul yang ditulis besar: Lepas dari Penjara, Bramacorah Sadis Berkeliaran. Engkau tak tahu, ialah yang menjadi pacarmu untuk kesekian kali. Dan untuk kesekian kali itulah aku hanya menjadi pelipurmu, melihatmu dari jauh, menjilati jari-jari kakimu yang sengaja kau masukkan ke dalamku. Seringkali kubisikkan kepadamu, jangan kau menunggunya, karena setiap hari ia menghilang membawa kenang, dan setelahnya kau berperang dengan kenelangsaan. Lagi-lagi aku datang kembali menghibur membawa mahkota putih buih di sekujur untukmu. Tetapi kautetap tak peduli. Engkau masih menunggunya, sedangkan aku yang selalu ada setiap saat, siang dan malam, kau abaikan. Kau hanya mendengar deruku saja. Selainnya tidak. Senja, bramacorah itu, memang tak tahu diuntung. Dan aku tetap yang tak beruntung.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
8 Mei 2018

Mahaguru Alas Kencono Wungu


 

Syahdan Mahaguru Kucing di Alas Kencono Wungu sedang bersantai-santai di tepian Kali Bluwak.

Matanya tajam mengamati permukaan kali. Sebagai sebinatang sakti mandraguna, ia tak seperti satoan lainnya yang hanya bisa menangkap apa yang ada di permukaan.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Maraton 2018 (Terakhir): Inong, Apakah Aku Anak Ikan?


Di suatu pagi.

“Inong, apakah aku memang anak ikan?” tanya anak lelakiku itu. Air mata membiak di pipinya.

“Kata siapa?”

“Kata Among.”

“Kenapa Among berkata seperti itu? Ada apa?” tanyaku mendesak. Aku cemas. Ada yang tak beres hari ini dan untuk hari-hari berikutnya.

“Aku bawa nasi dan lauk yang Inong suruh tadi ke ladang. Tapi aku lapar. Aku makan sebagiannya di tengah jalan.” Tubuhnya gempa. Ia masih menahan isak yang semakin menariknya ke bumi. “Lalu setelah makan aku ke ladang. Di sana, Among murka melihat makanannya sudah tinggal sedikit. Lalu bilang kalau aku anak yang kurang ajar, karena aku keturunan ikan.”

Baca Lebih Lanjut.

Kepada Puisi yang Berulang Tahun Hari Ini


Mudah saja membiarkan gema jantungmu itu berkelana ke seantero bentala, angkasa, atau jiwa-jiwa dahaga. Tetapi buatku sulit sekali untuk melupakan satu jengkal hurufmu dalam kataku, satu milimeter persegi pada kulitmu, satu nirmala pada ayumu. Maka, berulangkali aku bilang kepadamu, datang, datang, datanglah padaku, mengkhianati waktu, untuk kupeluk dirimu, dan tak pernah lepas lagi. Atau kaudengungkan huruf-hurufmu, agar aku terbakar, jadi abu.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
28 April 2018

Photo by @_marcelsiebert check out his feed for more

Selamat hari puisi nasional. Puisi ini didedikasikan dalam rangka memperingati hari puisi nasional yang jatuh pada hari ini tanggal 28 April 2018.

Butir-butir Puisi di Kaca Jendela


Aku menitipkan pesan
dari hujan yang barusan
kepada serbuk-serbuk sari
untuk putik-putik yang terbaring
jikalau kau lupa
warna harumku
lihat saja buru-buru
butir-butir puisi yang terasing
merenung di kaca jendela
beberapa orang akan berkaca
beberapanya lagi mengabaikan
tak mengapa, nanti kaukejutkan
dengan mahligai bunga
di mulut-mulut mereka.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
26 April 2018
Photo by @robertlukeman check out his feed for more

Pion Pamungkas Ditjen Pajak Penuhi Target di Kejurnas Catur Taspen


Klub Catur Ditjen Pajak Pion Pamungkas DJP memenuhi target masuk 10 besar dalam Kejuaraan Catur Beregu Nasional memperebutkan Taspen Anniversary Cup XIV yang diselenggarakan Taspen dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-55 PT Taspen (Persero) di Jakarta (Jumat, 12/4).

Pion Pamungkas DJP meraih posisi kedelapan dengan poin 19,5 setelah Japfa Arjuna, Pelabuhan tanjung Priok, Kab. Bogor, Japfa Bima, Percasi Grobogan, Taspen A, dan Taspen B.

Baca Lebih Lanjut.

Anton dan Tante Siska


Sehabis lari tipis-tipis ke atas sejauh 2,5 kilometer, sempat digonggong dan dikejar anjing, lalu turun lagi dengan jarak yang sama, di Lembang yang pagi harinya kelabu dan menggigilkan tubuh, aku kembali balik ke ruang kelas untuk mendapatkan banyak wiyata.

Lokakarya kepenulisan kali ini diisi oleh Yusi Avianto Pareanom, penulis novel Pangeran Mandasia si Pencuri Daging Sapi. Ia banyak memberikan penugasan kepada peserta lokakarya. Lalu ketika tugas itu selesai dikerjakan, Pak Yusi akan mengevaluasi satu per satu tugas itu.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (3): Menghilang di Rerimbunan Kembang Kenikir


Mandi di sendangmu (Foto milik sendiri).

Asyik. Aku tiba juga di Water Station (WS) kilometer (KM)-26. Di sana ada Fruit Station. Yang jelas ada pisang. Aku mengambil pisau yang ada di meja lalu memotong potongan pisang yang sudah kecil kemudian menyantapnya. Aku menikmati potongan itu tanpa ada keinginan untuk muntah.

Air yang keluar dari Water sprinkler memancur deras. Aku sekalian mandi. Segar rasanya disiram butiran air. Ini Svarloka. Tempat sungai mengalir dan buah-buahan tumbuh. Sudah cukup. Jalan saja.

Baca Lebih Lanjut.

Cerita Lari Mandiri Jogja Marathon 2018 (2): Melangit Menuju Svarloka


Tampak Belakang

Prambanan masih gulita saat aku dan Mas Hafidz berada tak jauh di belakang garis start yang sudah dipenuhi para pelari. Sebagian besar dari mereka memakai kaos komunitas larinya.

Beberapa dari mereka ada yang memakai balon yang diikatkan di kaosnya. Mereka para pacer yang akan memandu kecepatan berlari sampai tiba di garis finis dengan beberapa kategori waktu.

Baca Lebih Lanjut.