Beberapa waktu lalu, kawan saya sekaligus pembaca buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan bernama Ikhwanudin membagikan foto dan narasi tentang kesaksiannya saat membaca buku sajak-sajak saya tersebut.
Ia menuliskannya di saat sedang menunggu kereta api malam yang akan membawanya ke Semarang. Ia kemudian menyebarkan foto dan narasi itu di grup Whatsapp dan akun Instagramnya. Tentunya buat saya, apa yang dilakukannya sangat berharga. Saya berterima kasih kepadanya.
Jumat itu saya bersilaturahmi kepada Ibu Aan Almaidah Anwar atau A3. Beliau biasa diinisialkan seperti ini. Adanya di lantai 25 Gedung Mar’ie Muhammad Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak.
Sesaat hendak menuju meja kerjanya yang tidak berada di ruangan khusus—karena sudah menerapkan metode flexible working space (WFS)—panggilan menyeruak.
Di lantai 16 Gedung B Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, INTAX menyambut Nidya Hapsari yang datang berseragam khas Kementerian Keuangan warna biru dipadupadankan dengan sweater biru tua dan kerudung motif coklat tua. Tanda pengenal bertali panjang hitam tergantung di lehernya.
Nidya menampik tawaran INTAX untuk meminum kopi. “Tadi pagi saya sudah minum kopi,” kata perempuan penggemar amerikano dingin ini dari balik maskernya. Kegemaran meminum kopi tumbuh ketika ia kuliah di Australia. “Masyarakat sana tuhembracing the coffee culture. Kopi sudah jadi kebutuhan,” ujarnya. Sampai sekarang Nidya masih menyimpan cangkir kopi andalan yang ia selalu bawa saat di sana.
Salah satu pembaca buku tingkat akut adalah Sigit Raharjo. Ia juga pembaca buku puisi Seseloki Seloka di Pinggir Selokan.
Ia menuliskan ulasan singkat di akun Instagramnya dengan nama @om.sig. Buat saya ulasannya berharga. Apa katanya setelah mendapatkan dan membaca buku tersebut?
Seperti Steven Spielberg, sebagian masyarakat Indonesia tergiur investasi dengan imbal hasil tak masuk akal.
Pada pertengahan Desember 2021 lalu, terbongkar investasi bodong alat kesehatan hingga mencapai Rp1,2 triliun. Tergoda dengan keuntungan luar biasa, investor menyerahkan uangnya untuk dikelola. Bukannya untung, malah bencana yang datang. Mereka tertipu investasi yang menggunakan skema Ponzi.
Salah satu jabatan di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang menggunakan bahasa Inggris adalah account representative (AR). Jabatan ini muncul sejak pemerintah mulai memodernisasikan institusi perpajakan pada 2002.
Dengan jabatan ini, pemerintah ingin agar ada orang yang bertanggung jawab mengawasi wajib pajak secara mendetail dan menyeluruh. Wajib pajak sendiri ketika ingin menjalankan hak dan kewajibannya cukup berkonsultasi dengan orang itu dan tidak perlu mendatangi banyak meja. Sederhananya demikian tugas dan fungsi AR.
Membaca puisi itu seperti makanan sehari-hari waktu SD dulu. Saya pernah ikut juara membaca puisi dan menang. Membaca puisi di Malam Puncak 17 Agustusan tingkat kelurahan juga sering.
Pernah suatu ketika, puisi wali kelas saya bacakan di atas panggung malam Agustusan itu. Ada yang saya sesali di sana. Namanya lupa saya sebut setelah judul puisinya. Barangkali waktu itu saya lagi demam panggung, berdiri di hadapan ratusan orang. Pak Mastara, nama guru SD itu, mengingatkan saya soal itu setelah saya turun panggung. Ia tidak marah. Adegan ini puluhan tahun lalu itu, masih terekam di benak saya sampai sekarang.
Beautiful Asia muslim lady casual wear working using laptop in modern new normal office. Working from home, remotely work, self isolation, social distancing, quarantine for coronavirus prevention.
Beberapa waktu lalu ada yang bertanya kepada saya tentang cara magang di Direktorat Jenderal Pajak (DJP).
Dulu sebelum ada aturan soal magang dari Kementerian Keuangan, buat mahasiswa dari perguruan tinggi yang hendak magang di DJP tinggal mengajukan permohonan ke DJP secara langsung.