Di Balik Layar Seseloki Seloka di Pinggir Selokan


Merah Buku

Tidak tebersit dalam benak saya untuk menerbitkan buku kumpulan sajak dalam waktu dekat. Sebabnya, saya sedang menulis buku lain dengan tema khusus.

Apa daya, diselingi dua proyek buku formal dari kantor konsentrasi saya terpecah. Saya belum sempat meneruskan naskah buku keempat saya itu.

Saya mulai menyusun kumpulan sajak di pertengahan 2021. Saya mengumpulkan ratusan puisi yang pernah saya dokumentasikan. Saya tidak mengambilnya semuanya. Saya menyeleksi ratusan puisi itu. Saya mengambil dari periode 2015 sampai 2021, yang saya pikir ini adalah masa kematangan puisi saya.

Saya menyaring dengan ketat puisi-puisi itu. Akhirnya ada 40-an puisi terbaik saya yang saya pikir layak dipersembahkan kepada para pembaca. Dengan berbagai format puisi, baku dan tidak baku, rima tidak rima.

Kumpulan puisi itu kemudian teronggok begitu saja sampai akhirnya pada pertengahan Desember 2021 mulai saya garap serius. Saya membaca lagi manuskrip yang ada, menambahkan puisinya sehingga mencapai 52 puisi, menyunting puisi itu kembali, lalu menyerahkan manuskrip buku itu kepada CEO Maghza Pustaka Iqbal Dawami.

Saya memilih Seseloki Seloka di Pinggir Selokan sebagai judul buku. Judul itu adalah judul salah satu puisi saya yang ada di dalam buku. Di sinilah saya menemukan bahasa Melayu ini indah pun.

Manuskrip itu belum ada kata pengantar. Beberapa bulan saya memburu kata pengantar dari dua pensyair terkenal. Gagal total. Lama. Tiada berbalas. Akhirnya saya mendapatkannya dari Presiden Penyair Tegalerin Dr. Maufur. Tentang Dr. Maufur ini saya jelaskan pada Prataka untuk Kisanak dalam buku itu.

Kemudian saya menyerahkan narasi “Tentang Penulis” kepada Mas Iqbal. Seperti di dua buku terakhir yaitu Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini dan Dari Tanzania ke Tapaktuan, saya meminta ada foto saya di sana. Fotonya itu-itu saja. Tiada yang baru. Dan saya meminta kepada Mas Iqbal untuk menyediakan tiga halaman terakhir sebagai galeri tiga buku solo saya.

Mas Iqbal kemudian menyerahkan kover sampul buku. Ia memberikan tiga kover untuk saya pilih. Setelah berkonsultasi dengan istri dan beberapa kawan, mayoritas mereka memilih kover dengan latar warna putih. Ini melambangkan kesederhanaan. Sama seperti warna dominan di dua buku saya terakhir.

Cukup? Ternyata belum selesai. Saya harus membuat blurb. Blurb itu sederhananya narasi pemikat yang berada di sampul bagian belakang buku. Saya melihat beberapa blurb dari buku-buku puisi yang saya beli. Saya mendapatkan seperti ini: satu puisi dan satu testimoni. Akhirnya saya mengambil satu puisi yang menurut saya paling menarik dan menggugah makna yaitu Di Pesta Pernikahanmu. Kemudian satu testimoni yang berasal dari cuplikan “Kata Pengantar” Dr. Maufur. Dua itulah yang menjadi blurb yang ada di halaman buku saya ini.

Saya juga berdiskusi dengan Mas Iqbal soal harga jual buku. Tidak terbetik dalam hati saya untuk menjual narasi ini dengan harga yang tidak terjangkau. Saya ingin buku ini tersebar secara luas dan layak. Akhirnya disepakati buku ini dijual dengan harga Rp55.000,00. Benar-benar seperti harga satu gelas kopi di warung kopi waralaba itu atau dua gelas kopi single origin yang diseduh oleh barista kafe kecil.

Akhirnya buku selesai di-layout pada akhir Januari. Di setiap puisinya pun ada ilustrasi yang disediakan oleh ilustrator tim Mas Iqbal. Ketika melihat layout awal saya terperangah. Tak menyangka. Ilustrasinya di luar ekspektasi saya. Sederhana, tidak abstrak, dan inheren dengan teks dalam sajak-sajak saya itu. Istilah yang cocok di kepala saya soal ilustrasi ini adalah semanis gula aren yang dimasukkan ke dalam ekstrak kopi.

Setelah perbaikan kecil akhirnya buku itu siap untuk dicetak. Butuh tujuh hari untuk mencetaknya. Persis awal Februari 2022, buku itu selesai dicetak dan siap menuju tangan pembaca.

Alhamdulillaah, cetakan pertama buku ini habis dipesan dalam jangka waktu tak terlalu lama. Pada saat saya menulis catatan ini, buku itu sedang dalam proses cetak kedua kali di Kota Yogyakarta. Sebentar lagi selesai, insyaallah.

Beberapa pembaca buku yang telah memesan dan mendapatkan buku ini memberikan testimoni atas kehadiran buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan. Di antaranya dapat dirangkum seperti di bawah ini.

Salman Cakil (Alias Abdul Hofir, Auditor, Cerpenis, Penulis Buku)

Wahai kata yang fana, kau menyembul dari cangkir kopi yang menguap, menebar aroma kenikmatan pada makna yang enggan padam.

Jambi, 14 Februari 2022

Tulisannya bagus-bagus. Alhamdulillah banyak belajar dari buku Antum, Kang 🙏.

Tuti Ismail (Penulis DJP)

Ibarat secangkir wedang ronde yang aku beli saban sore, buku ini masih hangat betul. Baru saja tiba petang tadi.

Seseloki Seloka di Pinggir Selokan, begitu ia memanggil buku ini. Sebuah panggilan yang unik. Mengucapnya pun jadi asik.

Hatiku tambah berdesir manakala tiba di halaman 6. Aku tidak bisa beranjak pada empat baris kalimat yang ia tempatkan di sana. Teringatku pada Bapak dan Ibuku. Entah jika kamu membacanya, teringat pacar mungkin, atau malah mantan gebetan yang nggak kesampaian.

Menjadi Laut Tempat Engkau Membasuh Kaki sepertinya jadi salah satu favorit saya. Kalau favoritmu apa?

Terima kasih Mas Riza Almanfaluthi untuk puisi-puisi indahnya. Terus berkarya, jangan enggak!!

 Gentur Fani Saputra (Penggiat Lari)

Seloka yang kausebut seseloki nyatanya terasa sangat memenuhi. Selokimu tak sekadar seseloki, isi di dalamnya berisi dan mengisi seseloki seloka di pinggir selokan, tidak sekadar seloka seseloki di pinggir selokan.

Terima kasih telah menghadirkan buku ini. Menyenangkan sekali membaca kalimat-kalimat di dalamnya.

 

Edmalia Rohmani (Penulis dan Penggemar Buku)

Buku puisinya keren.

 

Muhammad Mansur (Akuntan Publik)

Baru sampai rumah dari pusaran labirin ibu kota. Di meja tamu tersaji Seseloki Seloka. Akan kusesap pelan hening tetes demi tetes hikmahnya. Seteguk terlalu  cepat. Biar kusesap saja.

Sehat, sehat, rahayu.

 

Dewi Damayanti (Penulis dan Cerpenis)

Aku suka semua puisinya Riza. Penuh kedalaman rasa. Sepanjang jalan tadi, aku mengembara. Kadang di pantai, rimba, kadang ingat kantin samping kantor.

Anggun Abrina (Pembaca Buku)

Baca doa jenazah ke mempelai, hi hi. Entah ini kejadian beneran atau punya makna kiasan. Just enjoy the poem. Tapi gw geli bacanya.

 

Erin Fadilah Sari (Penulis dan Pembaca Buku)

(Puisi berjudul Malam 21) Ini yang paling kusuka. Berasa kesentil gitu.

Kok jadi ketawa ya baca ini (Puisi berjudul Di Pesta Perkawinanmu).

 

Nugroho Putu Warsito (Pensyair)

Buku puisi yang indah dan asyik untuk dinikmati.

Semoga demikian adanya dari pembaca yang lain. Buat yang hendak menikmati sajian sajak-sajak dalam buku Seseloki Seloka di Pinggir Selokan silakan mengakses tautan berikut: https://linktr.ee/rizaalmanfaluthi.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
16 Februari 2022

 

 

 

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.