Membaca Seloka dari Panggung ke Panggung


Membaca puisi itu seperti makanan sehari-hari waktu SD dulu. Saya pernah ikut juara membaca puisi dan menang. Membaca puisi di Malam Puncak 17 Agustusan tingkat kelurahan juga sering.

Pernah suatu ketika, puisi wali kelas saya bacakan di atas panggung malam Agustusan itu. Ada yang saya sesali di sana. Namanya lupa saya sebut setelah judul puisinya. Barangkali waktu itu saya lagi demam panggung, berdiri di hadapan ratusan orang. Pak Mastara, nama guru SD itu, mengingatkan saya soal itu setelah saya turun panggung. Ia tidak marah. Adegan ini puluhan tahun lalu itu, masih terekam di benak saya sampai sekarang.

Ibu Guru Pelajaran Kesenian di SMP, seringkali memanggil kami, para siswanya, untuk menyajikan kesenian di depan kelas. Saya yang tidak bisa bernyanyi (namun pernah menjadi anggota paduan suara untuk diikutkan lomba) ini seringnya membaca puisi. Pernah suatu ketika saya bernyanyi. Sayangnya lupa lirik. Akhirnya lagi-lagi membaca puisi yang saya hafal: Aku dari Chairil Anwar.

Sewaktu SMA saya belajar menulis puisi, tetapi tidak pernah saya kumpulkan. Hilang begitu saja. Begitu juga sewaktu menjadi mahasiswa. Saya benar-benar mendokumentasikan karya itu pada 2002 setelah era internet sudah mulai. Barulah pelan-pelan terkumpul satu demi satu. Akhirnya sampai ratusan begitu.

Sampai tahun 2020 saya belum berniat untuk mengumpulkannya menjadi satu dalam sebuah buku. Barangkali karena saya sedang fokus untuk menerbitkan buku-buku yang lain dan penugasan kantor tiada kalah pentingnya.

Barulah kemudian di pertengahan 2021, kesempatan itu mulai terbuka. Saya mulai memilah sajak yang menurut saya terbaik dalam versi saya. Puisi dengan segala bentuk petualangan ragam format, namun menghindari pamflet. Tepatnya karena belum mampu sampai ke sana.

Akhirnya pada Januari 2022 ini Seseloki Seloka di Pinggir Selokan lahir juga. Saya adalah ibu buku ini. Teman-teman tentunya tahu bagaimana seorang ibu ketika bayi yang dikandungnya lahir ke dunia ini. Sayangnya minta ampun. Saya menyeriusi memilih puisi, memberikan ilustrasi, dan mengatur format buku bersama Mas Iqbal Dawami, CEO Maghza Pustaka sampai akhirnya kelar di percetakan dan buku-buku itu sampai di rumah saya kemarin, 1 Februari 2022.

Begitulah adanya kumpulan sajak ini hadir ke tangan pembaca. Semoga 52 puisi ini mengembuni karsa para pembaca. Insya Allah.

Buat yang hendak memesannya silakan di sini:
https://forms.gle/6PTKdTL7ht3ikZtJ7

Identitas Buku
a. Judul buku: Seseloki Seloka di Pinggir Selokan
b. Penulis: Riza Almanfaluthi
c. Jenis buku: Fiksi
d. Kategori: Sastra
e. Penerbit: Maghza Pustaka
f. Tahun terbit: Januari 2022
g. Cetakan: Pertama: Januari 2022
h. ISBN: 978-623-6106-92-1
i. Jumlah hal.: x + 58 halaman
j. Dimensi buku: 14cm x 20,5cm
k. Harga buku: Rp55.000,00 (di luar ongkos kirim).

Dalam buku ini Presiden Penyair Tegalerin Dr. Maufur berkenan memberikan kata pengantar.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.