Psikologi Uang: Sabar dan Tamak


Seperti Steven Spielberg, sebagian masyarakat Indonesia tergiur investasi dengan imbal hasil tak masuk akal.

Pada pertengahan Desember 2021 lalu, terbongkar investasi bodong alat kesehatan hingga mencapai Rp1,2 triliun. Tergoda dengan keuntungan luar biasa, investor menyerahkan uangnya untuk dikelola. Bukannya untung, malah bencana yang datang. Mereka tertipu investasi yang menggunakan skema Ponzi.

Skema Ponzi itu diciptakan oleh Charles Ponzi di Amerika Serikat yang merugikan uang investor sampai US$12 miliar pada 1920. Ponzi membayar keuntungan yang dijanjikan kepada investor tidak dengan menggunakan hasil investasi, melainkan dengan menggunakan uang investor sendiri.

Pada saat krisis ekonomi 2008, produser dan sutradara Hollywood terkenal Steven Spielberg adalah salah satu korban investasi berskema ini. Ia menyetorkan uangnya kepada perusahaan pengelola investasi yang dikelola oleh Bernard Lawrence Madoff.

Tepatlah yang Morgan Housel katakan dalam buku The Psychology of Money. Housel bilang, “Mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan Anda dan lebih banyak berhubungan dengan perilaku Anda. Dan perilaku sukar diajarkan, bahkan kepada orang-orang yang sangat cerdas.”

Maka dalam buku itu kita bisa membaca cerita dua orang yang bertolak belakang. Satu sabar, satunya lagi tamak.

Ronald Read adalah petugas kebersihan sekaligus penjaga pom bensin. Hidupnya sederhana. Ia meninggal di usia 92 tahun. Ia mewariskan US$2 juta kepada anak-anak tirinya dan US$6 juta untuk rumah sakit dan perpustakaan. Yang mengenal Read kaget dan bertanya-tanya dari mana Read mendapatkan uang itu?

Read tidak memenangkan lotere. Ia hanya menabung berapa pun yang ia miliki dan menginvestasikan uangnya. Ia membeli saham perusahaan dengan kondisi keuangan prima dan sudah beroperasi lama atau biasa dikenal saham blue chip.

Itu rahasia Read yang sebenarnya bukan rahasia: menabung dan menginvestasikan dalam puluhan tahun. Sampai kemudian memiliki harta US$8 juta. Housel menulis, “Tahun 2014, 2.813.503 orang Amerika meninggal. Tak sampai 4.000 punya harta di atas $8 juta ketika meninggal. Ronald Read adalah salah satunya.”

Kemudian kita disuguhkan cerita Richard Fuscone. Ia adalah eksekutif Merrill Lynch, lulusan Harvard bergelar MBA, pemilik karir sukses di bidang keuangan, termasuk dalam daftar pebisnis sukses “40 di bawah 40”, punya peluang pensiun di umur 40 tahun kemudian menjadi seorang dermawan. Pada dasarnya banyak orang yang memuji keahlian bisnis, kepemimpinan, pertimbangan bagus, dan integritas pribadi Fuscone.

Pada pertengahan 2000-an, Fuscone meminjam uang untuk merenovasi rumah yang luasnya 1600 meter persegi. Ada 11 kamar mandi, dua lift, dua kolam, tujuh garasi, dan biaya pemeliharaan bulanannya—kalau dirupiahkan pada saat ini—di atas Rp1,27 miliar rupiah.

Krisis keuangan global pada 2008 datang. Fuscone memiliki utang besar dan aset tak likuid. Di hadapan hakim kepailitan ia menyatakan bangkrut. Dua rumahnya disita termasuk rumah mewah yang ia renovasi dulu. Dalam lelang barang sitaan, asetnya ditaksir hanya 75% saja.

Housel memberikan penjelasan masuk akal dari dua cerita tadi. Pertama, sampai batas tertentu hasil keuangan ditentukan nasib. Tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan usaha. Kedua, kesuksesan keuangan itu adalah keahlian lunak (soft skill). Perilaku Anda lebih penting daripada pengetahuan Anda.

Housel membagi bukunya ke dalam 20 bab. Masing-masing bab adalah cerita pendek penjabaran apa yang paling penting dan paling kontraintuitif dalam psikologi uang. Buku Housel awalnya memang sebuah laporan yang ditulisnya pada 2018. Dibaca oleh sejuta orang, laporan tersebut dibuat menjadi buku dengan pembahasan yang lebih mendalam.

Apa yang dituangkan Housel dalam bukunya sebenarnya menegaskan pentingnya menabung karena menurutnya menabung adalah berjaga-jaga terhadap kemampuan kehidupan untuk mengagetkan kita pada waktu yang paling tidak pas.

Di sisi lain, Housel juga tidak menafikan perlunya investasi untuk melipatgandakan kekayaan. Namun, ada syaratnya. Salah satunya adalah harus bisa menerima risiko yang ada. Risiko itu adalah biaya yang memang harus dibayar dan diterima. Risiko itu bukan denda, sehingga ketika kita bisa menerima risiko, kita pasti akan bisa menghadapi naik turunnya nilai dan ketidakpastian.

Dalam setiap babnya, buku Housel memberikan banyak pelajaran. Salah satunya soal strategi investasi yang paling diandalkannya: tingkat tabungan tinggi, kesabaran, dan optimisme bahwa ekonomi global akan menciptakan nilai dalam beberapa dasawarsa ke depan. Optimisme yang harus selalu dipelihara di tengah masyarakat dan zaman yang gemar memberitakan pesimisme. Secara nalar, pesimisme itu adalah cara untuk mengurangi rasa sakit ketika jatuh, terkejut senang ketika keadaan tidak buruk.

Di bab lain ia membahas hal tentang kendali atas waktu. Housel menyatakan, “Kendali atas waktu adalah dividen tertinggi yang diberikan uang.” Banyak orang mencari uang agar ia bisa bebas secara finansial. Setelah itu kita sering mendengar celotehan seperti ini dalam kehidupan kita. Orang miskin membelanjakan waktunya untuk menghemat uang. Orang kaya membelanjakan hartanya untuk menghemat waktu. Tak bisa dimungkiri demikian adanya.

Housel membenarkan apa yang dikatakan investor bernama Bill Mann yang menginformasikan kepada banyak orang cara menjadi kaya. Menurut Bill Mann cara menjadi kaya adalah membelanjakan uang yang kita miliki dan tidak membelanjakan uang yang tak kita miliki.

Sampai di sini kepala kita dipenuhi nyala lampu, bahwa kekayaan itu bukan soal utang. Walaupun templat akuntansi secara umum dari berabad lampau adalah harta sama dengan modal ditambah utang. Namun, kita sendirilah yang hanya bisa menihilkan utang itu. Kembali lagi soal perilaku. Kita akan memilih sederhana atau banyak gaya? Kekayaan sesungguhnya bukan apa yang terlihat dari barang yang dimiliki, tetapi apa yang tersembunyi.

Sebelum tulisan ini harus diakhiri, adalah menarik bila menyodorkan pilihan ini. Jika Anda diberikan kesempatan untuk memiliki sebuah tempat tidur seharga Rp12 juta. Anda akan memilih cara mana yang paling tepat di antara dua cara ini. Anda membayarnya secara tunai langsung seketika atau mencicilnya dalam jangka waktu 12 bulan tanpa bunga dengan menggunakan kartu kredit Anda?

Cara pertama membuat Anda aman dan nyaman. Cara kedua membuat Anda aman, tetapi tidak nyaman. Tidak ada yang bisa mengetahui masa depan. Dan Housel sepakat cara pertama yang membuat kita memegang kendali atas waktu, mandiri, dan bisa tidur nyenyak di malam hari.

Terserah masing-masing orang untuk memilih.  Asalkan tidak menjadi Steven Spielberg yang kedua.

***
Riza Almanfaluthi
Artikel di atas ditulis dan dipublikasikan pertama kali untuk majalah Internal Direktorat Jenderal Pajak INTAX Edisi Pertama Tahun 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.