Kisah Nyata Pegawai DJP: Dituduh Sebagai Calon Tersangka Korupsi dan Cukuplah Allah Sebagai Saksi


KISAH NYATA PEGAWAI DJP:

DITUDUH SEBAGAI CALON TERSANGKA KORUPSI

DAN CUKUPLAH ALLAH SEBAGAI SAKSI

 

Ini kisah yang dituturkan dari teman satu direktorat Gayus Tambunan pada tahun 2010. Saat Direktorat Jenderal Pajak (DJP) diterpa badai kecaman serta pemberitaan yang begitu telanjang dan tidak seimbang karena salah satu pegawainya melanggar kode etik.

Bagaimana rasanya ketika keluarga besarnya mengejek sinis setelah menyaksikan tayangan televisi yang menyebut-nyebut namanya sebagai atasan Gayus? Bagaimana rasanya diberitakan oleh salah satu televisi nasional sebagai “calon tersangka koruptor”? Bagaimana rasanya saat turun dari pesawat ia disapa oleh penumpang yang lain dengan pertanyaan: “Ibu atasannya Gayus?”

Kisah yang diceritakan dan ditulis sendiri oleh Ibu Dwi Astuti ini bisa dibaca dalam Buku Berbagi Kisah & Harapan 2: Bertahan di Tengah Badai yang diterbitkan oleh DJP di tahun 2011 lalu. Selamat membaca.

berkah2

Buku Berbagi Kisah & Harapan: Berjuang di Tengah Badai

Baca Lebih Lanjut

RENUNGAN BUAT PARA JOMBLO, MENGAPA RASULULLAH HANYA MENIKAHI SATU ORANG PERAWAN?


 

RENUNGAN BUAT PARA JOMBLO, MENGAPA RASULULLAH HANYA MENIKAHI SATU ORANG PERAWAN?


(Gambar dari islamic-literatures.com)

 

Rasulullah Muhammad Saw beristri lebih dari empat. Tepatnya dua belas orang. Mereka itu adalah Khadijah binti Khuailid, Saudah Al-A’miriyah, A’isyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar bin Khattab, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juairiyah binti Harist, Shafiyyah binti Hay, Ummu Habibah, Maimunah binti Harist, dan Mariya Al-Qibthiyyah.

Dari dua belas istri Rasulullah Saw tersebut hanya satu orang yang dinikahi dalam keadaan perawan oleh beliau, yaitu Aisyah Ra. Selebihnya janda. Lalu jika timbul pertanyaan: “Bagaimana Rasulullah Saw bisa menganjurkan untuk menikah dengan gadis, sedangkan beliau sendiri lebih banyak menikah dengan para janda?

Baca Lebih Lanjut

INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN, TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI


INI KISAH NYATA SEBUAH KEAJAIBAN,

TAS YANG SEMPAT RAIB DI KOMPLEKS MASJID ITU DITEMUKAN KEMBALI

    Waktu itu saya dan dua anak laki-laki saya sedang berada di Masjid Agung Jawa Tengah seusai melaksanakan salat zuhur berjamaah. Untuk kali keduanya saya datang ke masjid terbesar di Jawa Tengah ini. Mumpung mudik di Semarang kami sempatkan untuk singgah di sana.

Kami menikmati keteduhan di dalamnya sembari mengagumi ornamen bangunan dan kotak kayu tempat menyimpan Alquran raksasa berukuran 145×95 cm2 hasil karya anak bangsa. Tak lama kami keluar masjid sambil berteduh di sebuah bangunan kosong di depan toko suvenir.

Di sana, saya menyempatkan diri untuk menulis di blog saya. Sedangkan Mas Haqi lagi asyik dengan tabnya. Dan Mas Ayyasy melihat-lihat pemandangan sekeliling masjid dan keramaian orang mengantri untuk menaiki Menara Asmaul Husna setinggi 99 meter.
Baca lebih lanjut

DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA


DI BAWAH NAUNGAN COLOSSEUM OF JAVA

Subhanallah, waktu berjalan tiada berhenti. Tiada melambatkan waktunya sedikit pun. Meninggalkan segalanya. Dan sekarang sudah tanggal 3 Agustus 2014 saja. Meninggalkan tanggal 24 Juli 2014–sebagai saat terakhir saya menulis di Tapaktuan–di belakang. Sekarang saya berada di Semarang. Di sebuah masjid yang teduh, Masjid Agung Jawa Tengah. Tahun ini saya kembali mudik ke kota kelahiran istri. Untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat dan berziarah ke makam mertua.

Setelah menempuh ribuan kilometer dari Tapaktuan dan hanya beristirahat sehari semalam, maka dengan tekad dan niat yang diupayakan selurus mungkin saya berangkat mudik pada hari Ahad. Satu hari menjelang lebaran. Syukurnya Allah memudahkan segalanya. Perjalanan relatif dilancarkan. Hanya menemui sedikit kemacetan di Cijelag dan Jembatan Comal. Ya, untuk tahun ini kembali kami arungi medan laga jalur permudikan melalui jalur tengah. Via Cipularang keluar Gerbang Tol Purwakarta lalu tembus ke Situ Buleud, Wanayasa, Sumedang, Cijelag, Palimanan, Kanci, Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal sampai ke Semarang.

Saya yang biasanya ‘ngantukkan’ ternyata mampu kuat mengendarai mobil sendiri tanpa istirahat tidur sampai Batang. Setelah di kota sebelah Pekalongan itu saya merasa capek dan harus berhenti. Sampai di rumah Semarang jam setengah empat pagi. Kalau ditotal maka kami telah menempuh jarak 558 KM dalam waktu 18,5 jam. Alhamdulillah kami  bisa salat Id di tempat. Padahal kami sudah tidak berharap dan tidak diupayakan dengan keras untuk segera tiba di Semarang. Mengingat kondisi jalan, situasi lebaran, dan hanya saya sendiri yang jadi supir.
Baca lebih lanjut

Di Sebuah Gerbang


Riza Almanfaluthi's avatarRiza Almanfaluthi

image

Buat orang yang berpuasa Allah sudah sediakan pintu untuk memasuki surga, pintu Arroyyan.

Buat orang yang bersilaturahim ke Selatan Jawa, sudah disediakan gerbang untuk memasuki Kota Sejuta Bunga, Magelang.

***
Riza Almanfaluthi
Di pojokan senja yang terlipat
16.09 2 Syawal 1434H
9 Agustus 2013

View original post

RIHLAH RIZA #40: BUKU, KUE , DAN TAS


RIHLAH RIZA #40: BUKU, KUE , DAN TAS

Akan dipergilirkan kepada mereka tertawa usai kesedihan. Dan akan dipergilirkan kepada mereka sedih usai tertawa.

Saya tidak tahu mau bicara atau menulis apa atas begitu banyak keberkahan yang dilimpahkan pada Ramadhan 1435 H ini. Walau dengan tertatih-tatih mengejar segala ketertinggalan amalan di bulan mulia itu. Semuanya dimudahkan oleh Allah. Sepanjang doa yang terlantun memang terselip salah satu doa: Allahumma yassir wala tu’assir. Ya Allah mudahkanlah dan jangan Engkau persulit.


(Sumber foto dari sini)

    Maka pengalaman puasa di Tapaktuan ini terasa berbeda ketika di Jakarta. Alhamdulillah saya tidak merasakan batuk yang seringkali mendera saat saya berpuasa. Makanan insya Allah senantiasa terjaga, terkendali, dan tidak berlebihan. Terutama tidak minum yang dingin-dingin di saat berbuka.

Shalat tarawih pun benar-benar dijalankan dengan penuh kekhusyukan. Apalagi rata-rata para imam salat di masjid atau meunasah bacaannya bagus-bagus seperti para masyaikh atau imam Masjidil Haram itu. Suatu saat air mata saya meleleh deras ketika mendengar bacaan imam salat magrib di masjid kompleks Gedung Keuangan Negara di Banda Aceh. Bacaannya seperti bacaan Ahmad Saud. Mungkin pada saat itu frekuensi hati lagi menyambung dengan langit.

Baca lebih lanjut.

PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT


PATRIOTISME SAMPAI AKHIRAT

071814_0401_PATRIOTISME1.jpg

“War costs money”

Franklin D Roosevelt, Januari 1942

Wajahnya kusut tapi dengan senyum yang tak pernah lepas. Kumis yang menyambung dengan jenggot di dagu. Penampilannya tidak seberapa tinggi. Berkulit coklat. Umurnya mendekati lima puluhan. Laki-laki itu membawa secarik kertas datang ke ruangan Seksi Penagihan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan. Saya menyambut dengan tangan terbuka, menjabat erat tangan, dan mempersilakan duduk untuk menjelaskan maksud kedatangan.

Ia warga Tapaktuan. Pemilik sebuah CV yang sudah lama bangkrut. Sekarang hanya mengandalkan bisnis fotokopi. Jauh dari kondisi jayanya pada tahun 2008 ke bawah sebagai penyuplai kebutuhan kantor. Rumahnya sudah diberi plang oleh sebuah bank. Ternyata ia tiba untuk memenuhi undangan kami. Sedianya ia diminta datang membahas penyelesaian utang pajaknya pada hari Selasa pekan depan, namun dikarenakan ia punya urusan di hari itu, Rabu pekan ini ia sempatkan diri memenuhi panggilan.

“Saya tahu Pak saya masih punya utang. Dan saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan atau penghapusan. Saya akan tetap bayar semuanya. Tapi tidak bisa sekarang. Mohon kesempatannya untuk bisa mencicil,” katanya menjelaskan. “Saya tidak mau punya utang kepada siapa pun. Utang kepada orang lain ataupun kepada negara. Saya tak mau mati membawa utang. Setiap utang akan diminta pertanggungjawabannya,” tambahnya lagi.

Baca Lebih Lanjut

CARA CEPAT HENTIKAN CEGUKAN TANPA AIR


Riza Almanfaluthi's avatarRiza Almanfaluthi

Ini sudah saya twitkan tentang cegukan itu. Tapi saya narasikan agar menjadi abadi adanya ia. Tak tertelan sama kicauan yang lain. Dan semoga saja bisa manfaat buat yang lain. Iya tuh Bro, waktu pagi tadi saat mau mengeluarkan motor tahu-tahu dari mulut saya keluar bunyi-bunyian: Ceguk. Cegik. Ceguk. Cegik.

Saya pikir cegukan seperti ini tak akan bertahan lama. Eh ternyata sampai kereta datang di Stasiun Citayam cegukan itu tak berhenti. Tubuh saya sampai terangkat sedemikian rupa kalau lagi cegukan. Saya sampai tak enak sama yang lain. Makanya segera saya cari cara menyembuhkan cegukan tanpa air melalui Google. Biasanya kalau pakai air sih mudah menghentikannya. Tinggal minum air putih sebanyak-banyaknya sambil menutup hidung. Insya Allah berhasil. Lah ini pas ada di kereta bagaimana minum airnya coba?

Dan ketemu juga tips menghentikan cegukan itu tanpa air. Cuma sebelumnya saya mau kasih tahu mengapa sih terjadi cegukan pada diri kita setiap manusia. Kalau…

View original post 378 more words

5 PRINSIP UNTUK MENJADI JUARA LOMBA MENULIS


5 PRINSIP UNTUK MENJADI JUARA LOMBA MENULIS

 

(sumber gambar: udel.edu)

Ramadhan selalu memberikan keberkahan kepada saya. Banyak sekali. Tak terhitung. Salah satunya adalah kemenangan-kemenangan kecil. Di tahun 2011, saya mengikuti lomba menulis puisi Islami yang diselenggarakan oleh Masjid Alamanah Kementerian Keuangan. Alhamdulillah Allah menakdirkan saya mendapatkan juara dua. Tiga tahun kemudian, di bulan Juli 2014 ini tepatnya di Ramadhan 1435 H, saya diberikan kesempatan untuk menjadi pamungkas di Lomba Menulis Artikel “Semangat Anti Korupsi” yang diselenggarakan oleh 7G DIV Khusus Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara.

Kalau saja tidak ada yang menampilkan pengumuman lomba itu di Forum Shalahuddin tentu saya tidak akan pernah mengikuti lomba itu. Kebetulan saya melihat sepintas pengumumannya terselip dalam ratusan tema diskusi dalam forum tersebut. Saya membacanya dan memutuskan untuk ikut. Entah teman-teman forum sudah membaca pengumuman itu atau tidak. Dan tak tahu pula apakah banyak teman saya yang ikut.

Peserta lomba adalah mahasiswa STAN dan pegawai Kementerian Keuangan. Hadiahnya uang dan sertifikat. Bukan uang yang menjadi tujuan utama saya. Setidaknya niat saya untuk ikut lomba pun sekadar mengasah kemampuan menulis saya. Kalah menang adalah hal yang biasa. Sudah sering saya ikut lomba dan sudah sering pula saya kalah. Maka tak jadi soal kalau saya kalah. Mental seperti ini harus disiapkan agar tidak pernah ada rasa kecewa yang berkepanjangan. Kecewa itu manusiawi tapi kalau terus menerus dipelihara bisa mengakibatkan frustasi dan mematikan kreasi.

-Baca lebih lanjut.->

Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina


Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina

 

 

Aksi solidaritas untuk Palestina yang dilakukan oleh ribuan masyarakat pada hari Ahad (13/7) di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta menyisakan kisah-kisah yang sangat mengharukan. Kisah-kisah tentang kepedulian para mustad’afin (orang-orang lemah) kepada saudara-saudaranya di bumi Palestina yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Apa saja kisah-kisah mengharukan tersebut? Diantaranya diutarakan oleh Ririn, administrator komunitas ODOJ (One Day One Juz) 46. Komunitas yang mempunyai program memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran satu juz sehari. Kisah ini telah beredar melalui pesan dalam grup ODOJ pagi ini. Menarik untuk disimak.

Ceritaku sebagai tim sunduk dari ODOJ di Aksi Solidaritas untuk Palestina. Awalnya rada sungkan, namun lama kelamaan asyik juga, apalagi kalau yang dikasih berupa Garuda Merah (lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah—red).

Berada di antara ratusan mobil yang lalu-lalang. Bahagia banget kalau ada ada yang membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Garuda Merah atau Biru masuk ke kantong hijau ODOJ. Senang bukan main.

Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yang membasahi bumi yaitu sepasang suami istri dengan motor butut memberikan beberapa lembar Garuda Merahnya. Setelah memberikan lembaran itu, suami tersenyum kepada istrinya seraya berkata, “Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?” Anggukan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah, itu lembar terakhir mereka. Semoga Allah ganti lembaran-lembaran Garuda Merahmu untuk saudara muslim di Palestina kita dengan surga-Nya, wahai saudara muslimku.

Kemudian ada juga pemulung yang memberikan uang recehnya untuk saudara muslim Palestinaku seraya ia berkata, “Neng, Bapak bisa gak ya ke Palestina?” Tanyanya. “Kalau mau perang ke sana harus punya hafalan 30 juz ya Neng? Aduh, Bapak mah boro-boro hafalan, salat saja bolong-bolong, tapi Bapak pengen ke sana, Bapak ingin syahid Neng.”

Bapak pemulung itu berpakaian lusuh, namun hatinya laksana mutiara. Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mataku mengalir. Mereka mengajarkan kedahsyatan yang luar biasa. Hari ini aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.

Bagi para pembaca jangan melewatkan diri untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina dengan memberikan infak terbaiknya. Jika tidak, minimal dengan doa yang tidak putus-putusnya. Apalagi di bulan Ramadhan ketika Allah banyak memberikan waktu mustajab buat orang yang berpuasa untuk berdoa. Doa adalah senjata kaum beriman. [Riza Almanfaluthi]