RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA


RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA

Apa kabar, Pengelana Muda? Tak kujumpai kamu di setiap langkahku. Atau aku melangkah di jalan yang salah?

( Surat Jesse kepada Roy dalam Balada si Roy 2-Gola Gong)

Hari ini, Ahad, saya harus berangkat kembali ke Tapaktuan setelah liburan dan cuti lebaran selama dua minggu. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang tertinggal. Ada dokumen yang harus saya bawa ke kota tempat kerja saya itu. Maka saya mencari dokumen tersebut dalam kantung plastik tempat saya biasa menyimpan segala sesuatu yang penting.

Sampai suatu ketika tangan saya menyentuh amplop berwarna telur asin. Saya tergerak membukanya. Ada dua lembar kertas warna putih berukuran A4. Kertas ini membawa ingatan saya kepada suatu waktu hampir empat tahun yang lalu. Kertas surat yang saya baca di atas bus Kopaja. Sebuah surat perpisahan.

Ya surat perpisahan. Namun bukan seperti surat perpisahan dari Jesse kepada anak bengal yang bernama Roy. Melainkan surat perpisahan yang bercerita banyak dan menyertai bingkisan dari teman-teman satu seksi saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat.

Saat itu saya memang dipindahtugaskan dari kantor tersebut ke kantor saya yang baru di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tepatnya di Direktorat Keberatan dan Banding. Surat itu kini saya baca ulang. Tetap saja ada rasa haru yang muncul. Saya membacanya perlahan. Sahabat-sahabat saya tersebut terlalu berlebihan menilai saya. Saya belum seberapa dengan mereka sendiri. Membacanya…

**

Untuk Mas Riza…Kali ini ada cerita lucu Mas. Cerita gajah yang tak tampak di pelupuk mata. Cerita waktu kami bingung mau kasih apa yang pantas untuk Mas Riza. Kami mencoba merunutkan properti yang Mas Riza butuhkan, Mas Riza suka, sampai dengan yang Mas Riza inginkan. Hasilnya?

Mulai dari atas kepala sampai alas kaki Mas Riza sudah miliki. Kami bingung, apa ya sesuatu yang pantas untuk seseorang seperti Mas Riza. Seorang teman yang selalu siap membantu kapan saja kami butuh. Seorang mas atau kakak atau abang dalam arti sebenarnya buat adik-adiknya di seksi kita. Seorang adik bagi mas dan mbak yang lainnya. Seorang sahabat, teman diskusi, teman tertawa bahkan teman di saat sedih.

Tempat kami semua bergantung jika ada kesusahan. Bagi kami level mas Riza lebih dari level kepala seksi, kepala kantor, bahkan DJP 1 sekalipun. Nah buat seseorang yang seperti ini tidak mungkin kami memberikan sesuatu yang asal-asalan. Asal cukup dengan dananya. Atau asal ada daripada enggak ada.

Tiba-tiba salah satu di antara kami mengingatkan akan niat dan rencana mas Riza. Rencana yang mana? Ya rencana Mas riza untuk menunaikan ibadah haji tahun depan. Mas, mungkin tahun depan kami tidak bisa berada di sisi Mas Riza secara konkret dan secara fisik. Tapi kami ingin Mas Riza tahu bahwa kami turut serta mengiringi langkah Mas Riza dan istri ke tanah suci. Insya Allah tahun depan kan Mas?

Akhirnya kami putuskan untuk memberikan yang menurut kami bisa bermanfaat bagi Mas Riza dalam menunaikan ibadah haji tahun depan. Jadilah kami membeli sebuah baju koko berwarna putih dan kacamata hitam. Agar Mas Riza bisa menunaikan ibadah suci dengan nyaman. Amin.

Siaplah sudah “sesuatu” itu untuk kami berikan pada Mas Riza di waktu yang telah disepakati. Kami tenang. Sampai tiba-tiba Mas Riza bercerita, “Mbak, saya tadi ke Pejaten Village,” dan seterusnya. Sampai kemudian Mas Riza bertutur tentang kewajiban berkemeja dan berdasi di tempat kerja baru Mas Riza nanti.

Oalah, kok ya kami tidak terpikir sejauh itu ya Mas. Seandainya kami bisa melihat gajah di pelupuk mata kami. Maaf ya Mas ternyata gajah tidak terlihat di pelupuk mata kami karena ukurannya terlalu besar Mas. Sehingga dia justru menghalangi pandangan mata kami. Ternyata kami tidak punya pikiran sampai ke sana.

Semoga apa yang bisa kami berikan untuk Mas Riza bisa tetap bermanfaat. Semoga Mas Riza bisa berkarya dengan lebih baik di tempat kerja baru. Sementara kami di sini tentunya juga bisa berjuang agar bisa mandiri setelah disapih dari Mas Riza.

Pengganti pembaca doa bisa dicari gantinya Mas. Banyak ternyata yang mampu melaksanakan tugas itu. Tapi sahabat dan teman seperti Mas Riza, ke mana kami mau cari penggantinya?

Kami tidak akan mencari pengganti sahabat kami. Karena sahabat tetaplah sahabat sampai kapan pun. Terima kasih buat semua kebersamaan kita selama ini ya Mas. Selamat berjuang di medan pertempuran yang baru.

 

Sahabat PK2 KPP PMA 4, awal Oktober 2010

**

Saya menghela nafas. Saya lipat surat itu. Saya masukkan kembali ke dalam amplopnya. Saya simpan dalam tas untuk saya bawa ke Tapaktuan. Untuk saya abadikan. Tak mau tersirnakan.

Membaca surat itu seperti melihat album foto-foto lawas. Memberi terapi kepada saya. Terapi untuk memaafkan, melihat banyak kebaikan orang-orang yang pernah dan selalu dekat dengan kita, dan mengumpulkan ingatan bahwa mereka adalah orang-orang yang harus selalu dijaga silaturahminya. Setidaknya dengan doa-doa yang terlantunkan untuk mereka.

Terima kasih atas semuanya buat teman-teman di Seksi Pengawasan dan Konsultasi 2 KPP PMA Empat. Ah, sepantasnya dan paling layak pula saya mengucapkan seperti ini: Jazaakumullah Khairan, karena banyaknya kebaikan yang diberikan kepada saya oleh sahabat semua. Bukankah Kanjeng Nabi Saw pernah berkata: “Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan: ‘Jazaakallahu khairan’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.” (HR.At-Tirmidzi dan An-Nasaai)

Saya sekarang ini, insya Allah, adalah doa-doa kalian yang dikabulkan Allah swt. Saya adalah tetap sahabat kalian. Pun, kalian tetap saja guru bagi saya. Guru kehidupan. Guru yang selalu mengingatkan muridnya apakah saya telah sesuai dengan harapan kalian?


Mas Hepranoto dan Mas Muhammad Ihsan.



Mbak Vera Dameria, Mbak Ari Purwanti, Mbak Yusrinah Hamid, dan Mas Fatchurohman. Yang memfoto siapa yah? Coba tebak? Alil yah? Ternyata bukan. Yang memfoto adalah Mbak Rakhmani Widyakusuma. Pak Torang Sitanggang terima kasih banyak pula nih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di tengah lapar untuk menuntaskan ini. 😀

Tapaktuan, 11 Agustus 2014

Advertisements

2 thoughts on “RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s