RIHLAH RIZA #42: ANTARA TAPAKTUAN DAN GAZA: DI KARNAVAL INI TERSELIP DOA UNTUK MEREKA


ANTARA TAPAKTUAN DAN GAZA:

DI KARNAVAL INI TERSELIP DOA UNTUK MEREKA

Kemarin, ada petugas datang ke rumah dinas, mengecek dan menanyakan kepada para penghuni, “Mengapa bendera merah putih belumlah berkibar?” Esok Paginya merah putih itu telah kami kibarkan. Sensitivitas di daerah bekas konflik.

(Uswan, Ulee Kareng, Banda Aceh)

Karnaval peringatan HUT RI yang ke-69 berlangsung meriah hari ini (16/8). Sebanyak 17 gampong di Kecamatan Tapaktuan menjadi peserta pawai. Selain berbusana daerah dan tampilan khas para pejuang kemerdekaan, para peserta karnaval menampilkan atraksi-atraksi hebat yang dipersembahkan kepada masyarakat.

Titik pusat karnaval berada di Jalan Merdeka, Tapaktuan. Di sana didirikan panggung tempat Bupati dan Wakil Bupati hadir dan melihat jalannya acara. Yang menarik dari panggung tersebut adalah pesan yang ditulis di atas sebuah papan dan berada di depan meja Bupati. Pesan itu berbunyi: “DOA KAMI UNTUK GAZA”. Pesan yang mengingatkan kepada dunia bahwa masyarakat Aceh Selatan yang jaraknya ribuan kilometer dari Palestina ini sungguh peduli terhadap nasib penduduk Gaza yang ditindas dan dibantai Israel.

Baca lebih lanjut

Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina


Suami Istri Ini Rela Sahur Hanya dengan Mi Rebus untuk Sumbang Palestina

 

 

Aksi solidaritas untuk Palestina yang dilakukan oleh ribuan masyarakat pada hari Ahad (13/7) di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta menyisakan kisah-kisah yang sangat mengharukan. Kisah-kisah tentang kepedulian para mustad’afin (orang-orang lemah) kepada saudara-saudaranya di bumi Palestina yang menjadi korban kebiadaban Israel.

Apa saja kisah-kisah mengharukan tersebut? Diantaranya diutarakan oleh Ririn, administrator komunitas ODOJ (One Day One Juz) 46. Komunitas yang mempunyai program memfasilitasi dan mempermudah umat Islam agar dapat membiasakan tilawah Alquran satu juz sehari. Kisah ini telah beredar melalui pesan dalam grup ODOJ pagi ini. Menarik untuk disimak.

Ceritaku sebagai tim sunduk dari ODOJ di Aksi Solidaritas untuk Palestina. Awalnya rada sungkan, namun lama kelamaan asyik juga, apalagi kalau yang dikasih berupa Garuda Merah (lembar uang dengan nominal seratus ribu rupiah—red).

Berada di antara ratusan mobil yang lalu-lalang. Bahagia banget kalau ada ada yang membunyikan klakson kemudian membuka sedikit jendelanya dan si Garuda Merah atau Biru masuk ke kantong hijau ODOJ. Senang bukan main.

Tetapi ada satu hal yang membuat aku sampai mengeluarkan air mata di antara air hujan yang membasahi bumi yaitu sepasang suami istri dengan motor butut memberikan beberapa lembar Garuda Merahnya. Setelah memberikan lembaran itu, suami tersenyum kepada istrinya seraya berkata, “Ikhlas ya Mi, sahur dengan mi rebus?” Anggukan anggun si istri membuat aku terpana. Ya Allah, itu lembar terakhir mereka. Semoga Allah ganti lembaran-lembaran Garuda Merahmu untuk saudara muslim di Palestina kita dengan surga-Nya, wahai saudara muslimku.

Kemudian ada juga pemulung yang memberikan uang recehnya untuk saudara muslim Palestinaku seraya ia berkata, “Neng, Bapak bisa gak ya ke Palestina?” Tanyanya. “Kalau mau perang ke sana harus punya hafalan 30 juz ya Neng? Aduh, Bapak mah boro-boro hafalan, salat saja bolong-bolong, tapi Bapak pengen ke sana, Bapak ingin syahid Neng.”

Bapak pemulung itu berpakaian lusuh, namun hatinya laksana mutiara. Sepanjang menjalankan kotak sunduk, air mataku mengalir. Mereka mengajarkan kedahsyatan yang luar biasa. Hari ini aku bersyukur bisa terlibat menjadi bagian hal ini.

Bagi para pembaca jangan melewatkan diri untuk membantu saudara-saudara kita yang ada di Palestina dengan memberikan infak terbaiknya. Jika tidak, minimal dengan doa yang tidak putus-putusnya. Apalagi di bulan Ramadhan ketika Allah banyak memberikan waktu mustajab buat orang yang berpuasa untuk berdoa. Doa adalah senjata kaum beriman. [Riza Almanfaluthi]

GAZA


GAZA
 

 

Maafkan aku yang terlambat 
sadari seberapa gentingnya kamu, 
sebelumnya hatiku tak bergerak 
ketika mendengar kabar dari media sosial 
 
tentang anak-anakmu yang dibakar, berdarah-darah, 
termutilasi oleh api-api laknat penjajah.
Aku baru tahu dari running text 
sebuah televisi swasta 
kalau 40 anak-anakmu telah syahid. 
Betapa menderitanya kamu Gaza.
 
Oh…aku baru tahu ternyata 
di antara laparku yang menyengat, 
di gempitanya menu berbuka puasa, 
di sepanjang doa-doa malam yang terburu-buru, 
di rakaat-rakaat tarawihku yang pendek, 
di sujud-sujud tahajudku yang seadanya, 
di ramainya tontonan piala dunia, 
di sahurku yang begitu berada, 
di shubuhku yang enggan terlaksana segera 
karena tidur yang menggoda, 
di puasaku yang penuh ghibah dan pura-pura lemas, 
di pesta demokrasi yang menghabiskan sebagian dayaku, 
ada sebuah kuasa yang mempertontonkan 
kesombongan dan ketamakan para monyet.
Oh…aku tak mau abai lagi. 
Kukirimkan rudal-rudal doa mengenyahkan segala angkuh. 
Ini Ramadhan, saat tubuh dan jiwaku untukmu Gaza. 
 

 

 
**

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
9 Juli 2014
dimuat pertama kali di islamedia.co

 

Aku dan Israel Memang Tanpa Nurani: Siap-siaplah Menjadi Monyet


Aku dan Israel Memang Tanpa Nurani:

Siap-siaplah Menjadi Monyet

Para pemimpin negara Timur Tengah berusaha mewujudkan daerah Timur Tengah sebagai Negara bebas nuklir. Tapi sudah pasti rencana itu ditolak oleh Israel sebagai satu-satunya negara di kawasan itu yang mempunyai senjata nuklir yang siap luncur.

Alasannya itu diperlukan untuk menghadapi kekuatan semua negara Timur Tengah yang dalam bawah alam sadarnya merupakan musuh-musuh sejatinya. Sungguh negara ini benar-benar tak punya nurani.

Kini dunia dipertontonkan oleh arogansi Israel yang dengan semena-mena menembaki kapal relawan asing di perairan Internasional. yang memuat  bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Sudah 10 relawan yang telah tewas dalam pembantaian itu.

Israel memberikan alasan bahwa kapal perang mereka dilempari dengan pisau dan kayu oleh relawan. Sehingga sudah menjadi kewajiban mereka untuk mempertahankan diri. Aih…dasar kumpulan orang-orang yang tak mempunyai nurani.

Sebuah alasan yang mengada-ada. Karena bagaikan Dawud melawan Jalut, pisau dan kayu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan baja-baja dari kapal perang Israel itu.Dan kalaupun benar, jika nurani mereka punya, mereka tentu bisa menahan diri untuk tidak terpancing. Tapi ternyata tidak. Mereka tidak punya nurani.

Maka akankah negara-negara barat kembali menutup mata dengan mengebiri kembali nurani mereka yang selama ini mereka lakukan. Tidak berbuat apa-apa?

Akankah negara-negara kaya minyak di Timur Tengah itu pun kembali mempertontonkan sikap mereka yang berlawanan dengan kehendak rakyatnya yang menginginkan para penguasanya tidak sekadar diam saja tetapi ikut berperan serta secara langsung dan efektif membantu rakyat Palestina dan mengusir rasa ketakutan mereka akan kehilangan dunianya ketika mereka melepaskan diri dari himpitan ketiak penguasa dollar?

Akankah momen ini menjadi momen menentukan bagi Umat Islam untuk kembali bersatu setelah sekian lama masih saja mempertengkarkan diri mereka dengan urusan-urusan khilafiah?

Bahkan inikah saat tepat untuk kembali memikirkan dan menyisipkan harapan kepada Allah di antara doa-doa panjang kita untuk saudara-saudara kita di Palestina sana?

Seharusnya ya. Tidak ada kata terlambat untuk itu. Allahummansur mujaahidiina wa ikhwana fi Filistin…Daripada tidak sama sekali.

Atau jika kita memang berpikir sudah tak ada urusannya kehidupan kita yang nyaman ini dengan Palestina pada saat ini, maka yang layak adalah jika kita berbicara pada diri sendiri: “ Aku dan Israel memang tak punya nurani.” Siap-siaplah untuk menjadi monyet. Karena monyet memang licik, rakus, egois, dan narsis.

Allohua’lam bishshowab.

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

21:33 31 Mei 2010.

SERAPAH UNTUK MEREKA


Aih…tanduk siapa yang menjelma pada si angkara murka,

Aih…ekor runcing siapa yang menjelma pada wajah-wajah bengis

dari keturunan para kera

hingga nyawa-nyawa berebutan keluar dari jasad

sungguh Surga untukmu Bur’i…

 

****

Syair kepedihan untuk Bayi-bayi Palestina yang jadi korban biadab Israel.

Riza Almanfaluthi 

16:32 4 Maret 2008

(Berita terkait di sini: Hafez)