Limenitidinae Nymphalid


Beberapa kali angin menabrakmu tapi tak membuatmu jera. Ia yang sungguh tak pernah bisa berbohong untuk mengatakan kerinduan kepadamu. Kepada sayap-sayapmu yang rapuh. Hitam, putih, coklat, kuning bercampur jelaga. Jelaga yang ingin juga dibalurkan kepada wajahnya yang tidak berbentuk sama sekali. Beberapa kali hujan menjadikanmu lemah. Ia yang sungguh tak pernah rela untuk meninggalkanmu barang sedetik saja, walaupun itu akan membuatmu terjatuh dan tak mampu melangit kelima. Bening seperti air di pelupuk mata yang tak pernah kau relakan untuk terjungkal, barangkali kalau ia hitung hanya sekali dua saja kau membuat air mata itu tak terbendung di pipimu. Angin dan hujan, kembaran yang tak pernah punya jantung, karena jantung mereka adalah jantungku yang ingin mengedau di belukar jantung senyapmu. Berisiklah. 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11 Februari 2018 

Hujan di Johor


Kita hanyalah butiran hujan
yang lupa waktu
ikhlas jatuh mencumbu tanah
mengisi ruang-ruang kosong
semarak dan semerbak rindu
di sudut-sudut Johor
di antara senda gurau
anak-anak memainkan kita
kelak, pada waktunya,
kita menjadi petrichor
semacam akhir hayat
di lubang hidung para pecinta.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Medan, 8 Februari 2015

Matanya Penuh Kenangan, Tercecer di Mana-mana


Saya tersentak. Mimpi itu membangunkan saya. Padahal pesawat terbang ini belum juga lepas landas dari Bandara Adi Sumarmo. Dalam mimpi itu saya seperti berada dalam sebuah penjara gelap.

Topeng besi dengan lubang hanya untuk kedua belah mata menutupi seluruh wajah. Tak ada lubang untuk mulut. Saya merasa seperti dibekap dan berada di ruang sempit. Perasaan takut tempat sempit itu tiba-tiba datang lagi.

Baca Leboh Lanjut.

Aku Pernah Singgah


Aku pernah singgah di depan
pintu jantungmu, lama berdiri,
mengetuk dan mengucap salam.
Namun tak ada kalam yang liyan.

Yang ada malah, di setiap ketukan
ada debar jantungku sendiri,
Aku lupa, jantungku adalah
jantungmu juga yang nian.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
4 Februari 2018
Instagram Photo by @equshay
Check out his feed for more.

Butir-butir Perasaan


Butir-butir perasaan yang terjun
di bawah lampu taman, aku menunggu

jejak-jejak cahaya yang kemarin
di pinggir jalan, aku menunggu

tidur yang melulu, mimpi yang memburu
di Sabtu yang akan berakhir, aku menunggu

detak-detak hidup yang satu lagi,
di hari-hari sisa, aku menunggu

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
3 Februari 2018
Instagram Photo by @michelphotography_ch

Mau Riset di Ditjen Pajak? 6 Hal Penting Ini Harus Jadi Perhatian


Gampangkah?

Rangga***(bukan nama sebenarnya) datang ke meja saya. Ia berkemeja warna putih dan celana panjang warna hitam. Di punggungnya menggantung tas ransel. Ada map yang dibawa dengan kedua tangannya. Ia diantar oleh pelaksana Direktorat Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat (Direktorat P2Humas).

Rangga adalah mahasiswa semester terakhir PKN STAN. Awal tahun ini ia sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Kebayoran Lama. Sembari itu ia ditugaskan untuk membuat semacam tugas akhir berupa karya tulis atau laporan PKL. Siang itu, di saat langit Jakarta masih manyun, Rangga menyodorkan Lembar Persetujuan Menjadi Lokasi Penelitian (Riset) untuk saya tandatangani.

Baca Lebih Lanjut.

Aku Sering


Aku sering menatap isi kepala para lelaki yang menjejali commuter line sore menuju bogor ini, seringnya aku dipaksa meratapi isi dompet mereka.

Aku sering melihat isi dompet para lelaki yang menjejali saku celananya sepulang kerja ini, seringnya aku dipaksa kembali mendekati isi kepala mereka.

Aku sering tak bisa membedakan antara perempuan dan plastik. Mana yang muasal, mana yang muara.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
29 Januari 2018
Photo Instagram by: @indiedo

Kau Pernah Membayangkan


Kau pernah membayangkan dirimu hanyalah selembar kertas yang ditulis hujan. Ia yang menuliskan di tubuhmu, “Selamat pagi. Apa kabar?” Tetapi setelah itu, kau hanyalah tinta yang memudar. Pelan-pelan samar. Lalu hanya bisa bersabar agar hujan datang lagi esok pagi membawa api untuk membakar. Membakar lelah dan gigilmu. Tetapi kau cuma membayangkan. Hanya membayangkan. Sekadar.

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
27 Januari 2018

Cerita-cerita Kecil: Guru Gendeng dan Pekuburan yang Sepi


Guru Freeletics
Jumat, 19 Januari 2018

Dalam dunia persilatan ada banyak orang ingin menjadi murid dari ahli silat yang gendeng itu. Tetapi saking gendengnya, dia tidak mau menerima murid untuk meneruskan kesaktiannya yang digdaya.

Ia bersikap begitu karena kebanyakan mereka yang ingin menjadi muridnya itu cuma menang di awal saja, tetapi lemah di tekad dan tak punya nafas panjang. Belajar dari pengalaman masa lalunya maka ahli silat gendeng itu mencoba untuk sangat selektif menerima murid.

Baca Lebih Lanjut.

Di Teras Rumahmu


Ketika sampai di teras rumahmu pada suatu sore. Aku tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang paling indah antara senja yang akan segera menghilang dan senyummu yang sedang mengembang?

Aku pun tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang paling cepat singgah antara malam yang jujur dan dirimu yang segera tidur?

Aku pun tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang paling niscaya antara segelas teh panas di atas meja dan masa depan untuk kita?

Aku pun tak mampu menjawab pertanyaan perihal mana yang pasti antara engkau yang terperosok di jantungku atau aku yang membusuk di jantungmu?

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
sehelai benang, 25 Januari 2018
Photo by @darwinphotography