senampan biru


senampan biru

**

 

aku taruh senampan biru

yang kupersembahkan

melalui rinai hujan yang jatuh di atasmu

atau geliat ikan yang lincah

tak hendak menangkap umpan

yang kau taburkan siang tadi

atau kelabu yang membebat diri

 

aku taruh senampan biru

untuk kau pilih

kau simpan

kau bawa

ke atas gunung

dengan tas carrier

bersama selembar matras

bersama sepotong jaket

bersama seperangkat tenda

bersama sleeping bag warna jingga

 

malamnya

kau memandang langit

mengambil segelas coklat panas

dan sepucuk biru

lalu menyentak

aku datang padamu

bersama petrichor

sampai pagi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, ruang biru

11.04 06 Maret 2011

 

 

 

 

BROWNIES


Brownies

**

 

sekotak brownies

terpotong-potong sadis

harum coklatnya menghingar bingar pagi

ada senyum menabuh sunyi

saat lidah bersua lezatnya

jika tinggal satu

bolehlah aku sampaikan sepotongnya

untukmu

 

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

08.01 7 Maret 2011

 

 

MAAF


[MONOLOG]: MAAF

Jum’at sore, tepat pukul 6 petang, jalanan di depan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak itu terlihat macet sekali. Ini pertanda kalau saya naik metromini dari tempat itu Kereta Rel Listrik (KRL) akan bangga meninggalkan saya dengan kejam, dingin, dan tanpa perasaan di Stasiun Sudirman.

Oke, saya pun berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju Bendungan Hilir. Dari sana saya dapat naik Metromini 640 menuju Stasiun Sudirman. Tak lama saya pun sampai dan menuju musholla kecil yang terletak di lantai atas.

Musholla seadanya yang dindingnya hanya berupa kain yang bisa di bongkar pasang. Tempat wudhunya terbatas dan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Tidak manusiawi memang. Yang mendisain
stasiun ini tak menghitung kapasitas pengguna jasa KRL yang muslim. Sudah jelas ada di negara mayoritas muslim sudah selayaknya berpikir masjid/musholla minded gitu loh. Atawa yang ramah dan friendly terhadap mereka.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan sholat maghrib. Lalu pergi ke peron 2 untuk menunggu KRL Bojonggede Ekspress yang akan tiba di Stasiun Sudirman untuk terlebih dahulu menuju Stasiun Tanah Abang.

Beberapa saat kemudian KRL itu tiba dan betapa terlihat begitu “crowded” orang yang berusaha masuk berebutan kursi. Sampai orang yang mau keluar tertahan beberapa detik di pintu kereta. Yang di dalam ngotot mau keluar, yang di luar ngotot tetap masuk. Hadeuhhh lucu juga sih, orang yang mau keluar itu sampai teriak-teriak kayak di manga Jepang, “haaaa…!”

Saya tak berebutan karena bagi saya sudah merupakan sebuah kesyukuran kalau sudah bisa menggelar kursi lipat di dekat pintu. Aman dan tak ada yang mengganggu. Dan setelah meletakkan tas di atas rak, saya pun membuka handphone dan lagi-lagi cring. Bunyi samurai keluar lagi. J

Kini saya akan bermonolog tentang sebuah kata: #maaf.

Berulang kali banyak disebut dalam berita-berita hikmah bahwa jiwa pemenang ada pada pihak yang dapat memberi maaf. Ya betul, ada ketenangan yang didapat. Bahkan kebahagiaan. Bukankah surga adalah milik mereka yang dapat memberi maaf atas kesalahan-kesalahan saudaranya di setiap malam?

Duhai pemberi maaf, bahkan Tuhan telah mengaflingkan surga untukmu. Tapi tak banyak memang orang yang mampu melakukan itu. Karena itu hanya milik para jiwa besar. Bukan jiwa pecundang dan pengecut.

Sering kali kita mendengar betapa seseorang tak mampu memaafkan khilaf saudaranya hatta perkara sepele, tapi karena menyangkut harga diri dia pun tak sudi memberi maaf. Aih, padahal Tuhan Maha Pemberi Maaf.

Satu lagi yang luput adalah meminta maaf. Padahal hal yang paling sulit adalah meminta maaf. Sejatinya karena harus ada harga diri yang tunduk pada kerendahhatian. Bisa tidak ia taklukkan ego diri untuk mengangkat kenyataan bahwa dirinya memang bersalah. Jika tidak, pantas Allah murka karena ia telah sombong, padahal sombong adalah hanya selendang milik-Nya semata.

Sudah sewajarnya dalam Al-Qur’an, Allah beri keutamaan pada orang yang meminta maaf pada manusia. Pun Allah telah memerintahkan kita untuk selalu meminta ampunan pada-Nya bukan?

Malam ini, kepada semuanya, saya meminta maaf teramat sangat, dari dasar hati yang paling dalam atas segala salah saya selama ini, sengaja dan tidak sengaja. Hingga hari menjadi kelabu. Day by day. Semoga bisa memaafkan saya. Hingga tak ada lagi kata jahat yang tertulis untuk saya.

To all, semoga bisa menerima pesan—yang tak tahu apakah akan utuh diterima—ini dengan baik.

**

Selesai sudah saya menuliskan monolog ini namun kereta tak sampai-sampai juga ke tujuan. Akhirnya saya menyandarkan kepala di besi yang ada di samping. Tidur sejenak. Namun tak sampai pulas karena goyangan kereta membuat kepala saya harus beradu momentum dengan besi. Dezig…atau bletak yah…untuk mengekspresikan ini? Sudah jelas kepala saya yang kalah. Karena saya bukan orang yang memiliki kepala batu. Halah…

Semoga semuanya bisa menikmati monolog ini.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Terima kasih kepada semua yang telah mampu menyelamatkan monolog ini dari tombol delete.

09.49 06 Maret 2011

 

 

 

berapa mawar


berapa mawar

kau letakkan di jalananku

agar aku pungut

setiap pucuk yang tergeletak itu

yang mencerabih tanpa henti

memberitakan kepadaku

ada hari di ujung jalan

membawa sekeranjang penuh

merah mewangi

aku terkapar

padahal cuma sehasta lagi

beri aku satu yang terakhir

lirihku

kembali…

dia menaburkan

aku tergagap:

berapa

mawar

lagi

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

pada mawar yang tergeletak di ujung jalan kesepian

01.55 5 Maret 2011

tebal


tebal

 

jika semua kata yang pernah terucap

di muka bumi adalah engkau

maka aku ingin menjadi kamus

dan thesaurusnya

tidak lain dan tidak bukan

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dini hari

01.00 03.03.2011

Kamar Dua Anak Itu


KAMAR DUA ANAK ITU

 

Perjalanan setengah jam lamanya berjalan kaki dari Stasiun Cawang ke tempat Diklat Menulis tepatnya di Gedung Pusdiklat Keuangan Umum itu membuat saya berkeringat tapi tetap harum. J Saya tidak langsung menuju ke kelas, tetapi mampir dulu ke Warung Tegal (warteg) yang berada di luar gedung. Makan pagi dan setelah selesai langsung buka laptop.

Untuk browsing begitu? Tidaklah. Saya harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan kemarin oleh Sang Tutor. Tadi malam saya tak sempat untuk mengerjakannya. Ada “pekerjaan” yang harus saya selesaikan—dan itu lebih penting—ditambah dengan kantuk yang luar biasa.

PR-nya adalah mendeskripsikan kamar. Soal ini saya sudah pernah mendapatkannya waktu di Forum Lingkar Pena (FLP) Depok tahun 2007. Untuk ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman FLP Depok.

Pendeskripsian yang bagus, kata sang Tutor, adalah ketika pendeskripsian kita itu benar-benar tampak nyata di depan orang lain dan dipahami betul tanpa orang lain itu turut serta melihat objek yang dideskripsikan. Jadi dengan membaca pendeskripsian kita itu dia sudah merasa cukup. Nah, kalau belum, berarti pendeksripsiannya gagal.

Deskripsi itu harus punya detil, punya dominan impresi serta menuliskannya berdasarkan urutan ruang. Nah, Sang Tutor juga ingin dalam deskripsi itu ada gambaran yang berdasarkan penglihatan kita, lalu menambahkan suara di dalamnya, lalu ada detil aroma, dan sentuhan serta detil pengecapan.

Ya sudah, di warteg itu, saya tulis berdasarkan apa yang saya ingat tentang sebuah kamar yang ada di rumah. Silakan untuk dinikmati. Apakah Anda sudah merasakan dan mengetahui dengan baik penggambaran kamar ini tanpa perlu jauh-jauh datang ke Citayam? Dan perlu diketahui saja dominan impresi deskripsi ini adalah BIRU. Nah loh…

Rasakan saja. Semoga bisa dinikmati dan dipelajari buat yang lain. Maaf ini sebisanya saya saja, cuma 4 paragraf, dan waktunya pun mepet. ^_^

DESKRIPSI KAMAR

 

Ruangan kamar itu berukuran 3×3 meter. Dengan cat warna biru yang teramat dominan. Sebuah springbed bersusun teronggok begitu tepat di depan pintu namun tidak menghalangi. Dengan coverbed bertemakan tokoh kartun ternama di dunia—lagi—berwarna biru. Di sudut kiri ruangan di seberang pintu memojok sebuah lemari plastik berukuran tinggi 2 meter dengan warna yang sama menghadap ke timur. Aduhai biru nian terasa.

Di depan lemari, tak jauh darinya, sebuah meja menyudut di sisi lainnya. Meja itu terlihat bersih tanpa ada setitik debu karena selalu dibersihkan setiap harinya. Di atas meja itu terpasang seperangkat komputer lengkap dengan kabel telepon dan kabel internet. Kabel yang membuatnya tidak pernah kesepian. Di dunia yang maya itu ia punya banyak teman yang bisa diajak ngobrol untuk mengurangi rasa sepinya.

Ya, ruangan itu terasa sepi, apalagi kalau sudah tengah malam. Suara jangkrik sajalah yang terdengar diselingi dengan suara kucing jantan yang sedang birahi. Setelah itu desibel hanya menunjukkan angka rata-rata seperti di kuburan. Tapi di sini tidak ada wangi kemenyan dan bunga kamboja yang ada malah bau cat yang menyengat tapi harum sekali. Ruangan ini baru direnovasi total setelah kebakaran di tahun lalu.

Sekarang kamar ini terlihat indah dengan lantai keramik berukuran 40×40 cm dan plafon gipsum warna putih yang kontras dengan warna dominan. Warna putih itu seakan penetralisir dari warna-warna mayoritas. Biru di dinding kamar dan hijau muda pada pintu, serta coklat tua pada sisi-sisi kayu jendela kamar dan pintu. Semua ini saya persembahkan untuk anak-anak saya, Haqi dan Ayyasy. Selamat tidur nyenyak, Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut warteg pancoran tanpa ada wifi

07.51 02 Maret 2011

RIP


RIP

*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pak tua,

akhirnya kau meninggalkan kami

ada sedih yang menumpuk di ribuan mata

satunya adalah milikku

pak tua,

aku tahu, kau bukan siapanya aku

tapi ada buhul yang membelenggu

antara kau dan aku

:buhul iman

pak tua,

aku tahu, 2,68 milyar detik lebih

telah kau tempuh perjalanan hidup

sebagiannya kau panggul beban

perjuangan kejayaan islam

di penjara,

di parlemen,

di antara teriakan para penggugat

di kancah melawan musuh bersama kita:

zionisme

pak tua.

malaikat akhirnya masih peduli pada kau

mengangkatmu pada kehidupan yang lain

yang aku yakin lebih baik daripada di sini

pak tua,

aku sedih kau meninggalkan aku

tapi kau mewariskan kepadaku

warisan yang tiada tara nilainya:

semangat perjuangan tanpa henti

pak tua

aku malu padamu

kau hanya berpikir dan beramal besar

aku di sini sebaliknya

aku malu…

pak tua

necmettin erbakan

beristirahatlah dalam damai

huzur içinde yatsın

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

berita yang mengejutkan dan teramat menyedihkan

20.24 02 Maret 2011

laut dan samudra


laut dan samudra

 
 

 
 

matamu adalah laut mati

yang aku ingin merenanginya tak pernah tenggelam

matamu adalah laut merah

yang aku ingin menjadi saksi atas terbelah dirinya menyambut musa

matamu adalah samudra pasifik

yang aku ingin menjadi satu dari ribuan bangkai pesawat sisa-sisa Perang Dunia II

terkubur di dalamnya

matamu adalah samudra hindia

yang aku ingin menjadi biru untuk bersamamu

kapan?

 
 

 
 

 
 

***

 
 

 
 

riza almanfaluthi

gedung micrografik pancoran lantai 1

dedaunan di ranting cemara

11.45 01 Maret 2011

TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG


TAK MAU SEKELAS ARWAH GOYANG KARAWANG

 

Dalam Islam sastra harus dibatasi. Tak bisa bilang sastra untuk sastra. Atau berpijak pada kebebasannya semata. Bahkan seperti yang Albert Camus katakan bahwa sastra tak boleh memihak siapapun.

Sastra—dalam Islam—harus memegang teguh apa yang diperbolehkan dan tidak dalam nilai-nilai yang terkandungnya. Semua muncul dari ajaran wahyu dan fitrah insani. Ini yang menjadi ukuran. Bacaan yang memancing syahwat dan tulisan yang menggedor nilai-nilai keimanan sudah jelas dilarang untuk diciptakan. Dalam puisi pun demikian.

Siang tadi, saya membuat puisi yang sekarang berjudul agar tak ada namanya. Draf awal berbeda sekali
dengan yang sekarang sudah jadi. Saya tulis di atas kertas draf itu seperti ini:

Rabb, bisukan aku agar tak ada namanya yang tersebut dalam igauanku.

Rabb, tulikan aku agar tak ada suaranya yang terdengar dalam telingaku.

Rabb, butakan aku agar tak ada rupanya yang tergambar dalam ratusan mimpiku.

Rabb, ambil pikiranku agar tak ada ruang yang ada untuk mengenangnya.

Aha…saya tinggal mengetikkannya di layar komputer. Tapi jari-jari tak mampu untuk melakukannya. Apa sebab? Nurani saya menentangnya dan dengan sekuat tenaga menghentikan apa yang akan dilakukan oleh jari-jari saya. Karena? Bait-bait itu adalah bait-bait do’a. Mengapa mendoakan keburukan untuk diri saya?

Akhirnya saya corat-coret kembali kertas putih itu. Dan kembali mengulang dari awal untuk membuatnya namun tetap dalam tema besar yang sama: tak sempat untuk memikirkan yang lain. Loh, itu kan cuma kata-kata yang bisa jadi pembacanya sendiri punya penafsiran lain. Bukankah Anda sendiri yang bilang bahwa pengarang itu telah mati?

Ya betul, saya tetap konsisten dengan pernyataan itu. Tetapi saya tak ingin penafsiran itu muncul sekalipun dalam benak para pembaca. Bahkan apalagi kalau sudah benar bahwa itu yang dimaksudkan oleh pengarangnya sendiri sebagai sebuah do’a. Maka dalam Islam tak sembarangan untuk membuat nama buat putra dan putri mereka. Karena nama adalah do’a.

Inilah yang membuat saya berpikir, sebebas-bebasnya saya berekspresi tetap ada nilai yang membatasi. Tak bisa tak. Kalau memang mengaku sebagai orang yang beriman. Mungkin ini akan berbenturan dengan proses kreatifitas yang selalu saya pegang dalam menulis, terutama bagi mereka yang berniat untuk bisa menulis yaitu menulis tanpa beban dan seliar mungkin.

Ya tanpa beban dan seliar mungkin. Itu yang selalu katakan. Semua berawal menulis dengan menggunakan otak kanan, tetapi nanti setelah selesai barulah pakai otak kiri. Dan nilai-nilai Islam inilah yang menjadi batasan saat kita menggunakan otak kiri dalam mengedit dan memperbaiki tulisan yang kita buat seliar mungkin itu.

Oleh karenanya sampai sekarang saya belum mampu untuk menyelesaikan cerita pendek “Beranak Dalam Kubur” hasil proses menulis cepat dan seliar mungkin selama 30 menit pada saat workshop menulis yang diselenggarakan oleh BP School of Writing dan DJP. Karena ada pertanyaan-pertanyaan seperti ini: Untuk apa dan mau dibawa kemana? Adakah hikmahnya?

Kalau tidak dapat menjawab pertanyaan semacam itu bisa jadi cerpen tersebut hanya sekelas film Arwah Goyang Karawang. Oh…tidak bisa. Saya tak mau.

Jadi Pak..Bu…, semua itu ada batasnya.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad malam pendek

11.42 26 Februari 2011

diunggah pertama kali di: http://bahasa.kompasiana.com/2011/02/27/tak-mau-sekelas-arwah-goyang-karawang/

tags: arwah goyang karawang, BP School of Writing, DJP, Beranak Dalam Kubur, albert camus, puisi

agar tak ada namanya


agar tak ada namanya

*

 

Rabb, beri aku sejenak

agar tak ada namanya

yang tersebut dalam setiap igauan

 

Rabb, beri aku sebentar

agar tak ada namanya

yang terdengar dalam setiap bisikan

 

Rabb, beri aku sekejap

agar tak ada namanya

yang terlihat dalam setiap mimpi

 

Rabb, beri aku selintas

agar tak ada sungkawa

yang terbangun dalam setiap kesadaran

 

jika tidak, kapan lagi aku akan bisa

mengingatMu?

 

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam setengah mendung

13.57 26 Februari 2011