MATANYA ABADI


MATANYA ABADI

 

Tahun 2006, saya sempatkan diri untuk memfoto kucing betina ini. Ini adalah kucing yang sering mampir di rumah saya. “Ngeong…ngeong,” serunya kalau saya lagi makan.

    “Tunggu sebentar, ya Cing, kamu tulangnya aja,” kata saya, “tapi enggak apa-apa ding, nih dikit dagingnya.” Saya sepertinya tidak pernah berbohong padanya dengan cara bilang pus-pus sambil bawa sesuatu yang mirip daging terus ke luar rumah dan ketika si kucing sudah di luar pintu, tangan saya ternyata kosong dan langsung , “Braakk!” tutup pintu. Si Kucing gondok dalam hati berkata, “Awas Lu ye…Bohong.” Sama binatang saja tak tega bohong apalagi sama manusia.

 

    Sampai sekarang betina ini masih hidup. Tapi tak lagi mangkal kayak angkot cari penumpang di rumah saya lagi. Di rumah tetangga kali, atau dia sudah punya rumah sendiri. Tak tahu saya. Soalnya dua anaknya sekarang gantian yang jadi preman di rumah saya. Ini betina hebat juga, sudah punya anak banyak dan cucu banyak tetap hidup sampai sekarang. Nih fotonya saya ambil beberapa pekan lampau tepatnya di bulan Februari 2011.

 

    Kelihatan sih kalau sudah tua, wajahnya tak sesegar dulu. Sudah mulai tirus. Mungkin kalau ibarat manusianya sudah mulai ada keriputnya. Tapi swer ketika saya memfoto itu kucing, gak ada tuh namanya keriput sama uban. Dan yang pasti matanya yang dicelak hitam itu, abadi bo…

 

Sendu (bukan senang duit atawa senang ndusel-bersempit-sempitan) matanya seperti ada duka lestari. Duka, kenapa gue jadi binatang harusnya jadi foto model difoto mulu soalnya.

 

Sayu matanya seperti menyiratkan sebuah keharuan. Haru lalu jadi biru. Eh ternyata ada juga yah cowok yang foto gue. Terima kasih…terima kasih.

 

Jelita? Tidaklah yau. Dia tak punya mata jelita. Manusia yang hanya punya mata jelita. Bukan binatang ini. Walau ada yang tak mau disebut jelita pada matanya, soalnya ditengarai saya “ngegombal“. Jiaaa…

    

Tahukah kamu, brother…sekarang dia—kucing ini—lagi hamil, hamil tua. Saya tak tahu siapa yang menghamilinya. Yang jelas bukan saya. Sebentar lagi melahirkan. Mungkin waktu saya menulis ini—di tengah malam—kucing itu sudah menjilat-jilati anak-anaknya.

 

Tapi yang pasti saya tidak pernah seranjang dengannya. Paling jauh hubungan kami cuma mengelus-ngelus kuduknya pakai tangan atau lehernya dengan kaki. Kalau malam saya tak pernah menyuruhnya masuk, harus di luar.

Cukup kisah gita cinta saya dengan kucing betina ada di zaman SMA dulu. Memandikannya, membedakinya dengan bedak antikutu sampai menemaninya melahirkan memelihara anak-anaknya. Lagi-lagi—sori yah—bukan karena saya dia hamil. Tidur siang ada itu si kucing di samping saya. Mendengkur, mendengkur barenglah kita. Kalau saya: “Zzzzz…zzzzz”. Dia: “Grttttt…grtttt…grtttt.”

 

Semuanya berakhir ketika Bibi saya marah-marah karena kasurnya jadi jelek. Dan kursi tamu jadi banyak kutunya. Padahal sudah dibedakin dengan bedak antikutu—kucingnya bukan kursinya. Kutunya juga sering menggigit saya ternyata. Pantas saja kenapa kalau duduk di kursi itu badan kok gatal-gatal. Air susu dibalas dengan air tuba. Kucing diusir. Saya sendiri.

 

sendiri…

menggigil,

walau secuil biru

cukup untuk sehari

 

Kucing tak mengerti puisi. Betina di foto atas pun demikian. Tak peduli dengan saya yang membaca sajak-sajak di depannya. Dia hanya peduli dengan daging. Titik. Manusia? Brother? Dia? Jelita? Peduli pada apa…?

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tetap jadi inspirasi karena menumbuhkan

03.55 pagi 16 Maret 2011

 

 

    

 

 

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s