Moldova atau Islandia, Pilih Mana?


Moldova adalah negara yang rakyatnya paling tak bahagia. Islandia sebaliknya. Sebabnya adalah rakyat Moldova kurang percaya satu sama lain. Di Islandia, pertemanan adalah segalanya. Itu kesimpulan sebuah penelitian beberapa waktu lampau.

**

Hari ini, Selasa, 17 Maret 2020 adalah hari pertama kami melaksanakan Kerja dari Rumah (KDR) atau Work from Home. Sebanyak 80% pelaksana Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak melaksanakan KDR itu.

Baca Lebih Lanjut

MAAF


[MONOLOG]: MAAF

Jum’at sore, tepat pukul 6 petang, jalanan di depan Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak itu terlihat macet sekali. Ini pertanda kalau saya naik metromini dari tempat itu Kereta Rel Listrik (KRL) akan bangga meninggalkan saya dengan kejam, dingin, dan tanpa perasaan di Stasiun Sudirman.

Oke, saya pun berjalan kaki kurang lebih satu kilometer menuju Bendungan Hilir. Dari sana saya dapat naik Metromini 640 menuju Stasiun Sudirman. Tak lama saya pun sampai dan menuju musholla kecil yang terletak di lantai atas.

Musholla seadanya yang dindingnya hanya berupa kain yang bisa di bongkar pasang. Tempat wudhunya terbatas dan bercampur baur antara laki-laki dan perempuan. Tidak manusiawi memang. Yang mendisain
stasiun ini tak menghitung kapasitas pengguna jasa KRL yang muslim. Sudah jelas ada di negara mayoritas muslim sudah selayaknya berpikir masjid/musholla minded gitu loh. Atawa yang ramah dan friendly terhadap mereka.

Alhamdulillah saya dapat menyelesaikan sholat maghrib. Lalu pergi ke peron 2 untuk menunggu KRL Bojonggede Ekspress yang akan tiba di Stasiun Sudirman untuk terlebih dahulu menuju Stasiun Tanah Abang.

Beberapa saat kemudian KRL itu tiba dan betapa terlihat begitu “crowded” orang yang berusaha masuk berebutan kursi. Sampai orang yang mau keluar tertahan beberapa detik di pintu kereta. Yang di dalam ngotot mau keluar, yang di luar ngotot tetap masuk. Hadeuhhh lucu juga sih, orang yang mau keluar itu sampai teriak-teriak kayak di manga Jepang, “haaaa…!”

Saya tak berebutan karena bagi saya sudah merupakan sebuah kesyukuran kalau sudah bisa menggelar kursi lipat di dekat pintu. Aman dan tak ada yang mengganggu. Dan setelah meletakkan tas di atas rak, saya pun membuka handphone dan lagi-lagi cring. Bunyi samurai keluar lagi. J

Kini saya akan bermonolog tentang sebuah kata: #maaf.

Berulang kali banyak disebut dalam berita-berita hikmah bahwa jiwa pemenang ada pada pihak yang dapat memberi maaf. Ya betul, ada ketenangan yang didapat. Bahkan kebahagiaan. Bukankah surga adalah milik mereka yang dapat memberi maaf atas kesalahan-kesalahan saudaranya di setiap malam?

Duhai pemberi maaf, bahkan Tuhan telah mengaflingkan surga untukmu. Tapi tak banyak memang orang yang mampu melakukan itu. Karena itu hanya milik para jiwa besar. Bukan jiwa pecundang dan pengecut.

Sering kali kita mendengar betapa seseorang tak mampu memaafkan khilaf saudaranya hatta perkara sepele, tapi karena menyangkut harga diri dia pun tak sudi memberi maaf. Aih, padahal Tuhan Maha Pemberi Maaf.

Satu lagi yang luput adalah meminta maaf. Padahal hal yang paling sulit adalah meminta maaf. Sejatinya karena harus ada harga diri yang tunduk pada kerendahhatian. Bisa tidak ia taklukkan ego diri untuk mengangkat kenyataan bahwa dirinya memang bersalah. Jika tidak, pantas Allah murka karena ia telah sombong, padahal sombong adalah hanya selendang milik-Nya semata.

Sudah sewajarnya dalam Al-Qur’an, Allah beri keutamaan pada orang yang meminta maaf pada manusia. Pun Allah telah memerintahkan kita untuk selalu meminta ampunan pada-Nya bukan?

Malam ini, kepada semuanya, saya meminta maaf teramat sangat, dari dasar hati yang paling dalam atas segala salah saya selama ini, sengaja dan tidak sengaja. Hingga hari menjadi kelabu. Day by day. Semoga bisa memaafkan saya. Hingga tak ada lagi kata jahat yang tertulis untuk saya.

To all, semoga bisa menerima pesan—yang tak tahu apakah akan utuh diterima—ini dengan baik.

**

Selesai sudah saya menuliskan monolog ini namun kereta tak sampai-sampai juga ke tujuan. Akhirnya saya menyandarkan kepala di besi yang ada di samping. Tidur sejenak. Namun tak sampai pulas karena goyangan kereta membuat kepala saya harus beradu momentum dengan besi. Dezig…atau bletak yah…untuk mengekspresikan ini? Sudah jelas kepala saya yang kalah. Karena saya bukan orang yang memiliki kepala batu. Halah…

Semoga semuanya bisa menikmati monolog ini.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Terima kasih kepada semua yang telah mampu menyelamatkan monolog ini dari tombol delete.

09.49 06 Maret 2011