DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN


DIALOG IMAJINER: AKU DAN KUCING PEJANTAN

 

Lama waktu berjalan tanpa sanggup mengingatkan saya untuk melakukan obrolan santai bersama kucing jantan yang satu ini. Bulunya didominasi warna putih, ada warna hitam di telinga kiri, punggung, dan ujung ekornya.

Baru kali ini di rumah saya ada kucing pejantan yang manja, mau dielus-elus, dan tak jiperan sama manusia. Kalau disapa push push, ketika lagi jalan santai, dia berhenti lalu menengok ke arah suara, melihat sebentar yang menyapanya itu bawa daging atau enggak, kalau enggak dia jalan saja terus. Cool.

Sering masuk rumah dan hobi banget menggosok-gosokkan
badannya di kaki saya. Tapi memang satu yang kurang ajar dari binatang ini adalah menyemprotkan air seninya sembarangan. Biasalah tabiat pejantan untuk menandai daerah kekuasaannya dengan cara itu. Pun, untuk memberitahu kepada kucing betinanya kalau dia itu available, jomblo, sendiri, siap untuk kawin. Yang jenis kelamin sama, “awas loh, gue siap bertarung dengan elo,” itu yang dipikirkan oleh kucing jantan ini.

Punya nama? Ah, enggak. Saya enggak pernah menamainya. Sempat berniat untuk memberi namanya dengan kucing garong. Kelakuannya memang begitu kok. Dia itu malu-malu kucing sama kita, di depan penurut banget. Tapi kalau kita enggak ada di depan matanya. Dia siap untuk menggarong apa saja. Lauk di atas meja atau kelinci yang di kandang di depan rumah habis disikat.

Ibu-ibu tetangga saya pun komplain, “Bi… hati-hati loh Bi sama kucing itu, digebukin sama sapu juga enggak mau keluar dari rumah, tukang nyolong pula.” Kucing jantan itu kalau dengar omongan sinis dari ibu-ibu itu dengan santainya cuma bilang: “ngeong…ngeong.” Bukankah sudah dibilang, rumah saya pernah dijejali dengan semprotan air seninya, maka karena ia merasa bahwa rumah ini sudah jadi daerah kekuasaannya, bahkan istananya yang terindah, digebukin juga kagak mau keluar dia.

Herannya dia tahu betul tempat yang enak buat melingkarkan tubuhnya dan tidur pulas. Di sofa, di bawah televisi, atau di kursi belakang dekat meja dapur. Kalau sudah begitu, suara mercon juga enggak bisa membangunkannya. Lebay sih pengungkapan demikian.

Mana mungkinlah, soalnya anjing saja yang pendengarannya lima kali lebih tajam daripada manusia kalah dua kali dibandingkan kucing. Artinya manusia kalah 10 kali pendengarannya. Jadi kalau manusia jika tidur cuma bisa mendengkur dan mimpi, kucing tambah satu lagi, telinganya bisa jadi radar untuk mengetahui yang datang menghampiri dirinya itu kecoa, tikus, tokek, atau manusia yang bawa penggebuk.

Nah, hari ini dia datang lagi ke rumah saya. Enggak mengucapkan “Assalaamu’alaikum” atau “sampurasun duluur” dia masuk dan langsung ke belakang, mengorek-ngorek tong sampah. Walau kita tak mau dianggap saudara sama dia, bukanlah lebih baik mengucapkan salam jika masuk rumah, nah apabila manusia enggak salam kalau masuk rumah seperti siapa tuh?

Sebelum dia pergi karena tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan di tong sampah, saya ajak dulu ngobrol atau bahasa kerennya saya ingin berdialog dengannya, dialog imajiner.

Riza    : Push, jangan pergi dulu, saya mau bicara sama kamu. (Seperti biasa dia cool nengoknya)

Pejantan: Ada apa pak Tua?

Riza    : Hussss…kan sudah pernah saya bilang dulu, jangan memanggil saya seperti itu dong!

Pejantan: Emang sudah tua, tuh ubannya tambah banyak lagi. Depan dan samping kanan. Mau memungkiri? Kalau enggak mau, gue pergi. (enak banget dia ngomong gue-gue)

Riza    : Oke-oke, saya tak akan memaksa.

Pejantan: Satu lagi gue tak mau bicara politik dulu, Pak Tua. Bosaaaaan!

Riza    : Iya, iya. Lagian siapa yang mau ngajak kamu ngomong politik? Sore ini saya mau bicara tentang …

Pejantan: Tunggu, tunggu dulu! Emangnya gue dapat apa nih sore ini?

Riza    : Halah, transaksional banget sih kamu Cing, kayak politikus di istana itu. Tenang, kita makan bareng sore ini. Buka puasa bersama. Deal or no deal? No Deal? Kamu pergi saja. (Sedikit mengancam, memangnya manusia saja yang bisa ditekan?)

Pejantan    : Ngeong… (Ini pertanda dia menyerah, saya tahu betul kok, kalau bersoal tentang makanan dia keok)

Riza    : Saya mau cerita dulu tentang suatu hal Cing. Ternyata umur seseorang itu bukan penanda dari kedewasaan berpikir atau tepatnya bertambahnya wawasan kita. Jadi semakin tua kita belum tentu wawasan berpikir kita jadi banyak dan luas gitu loh.

Pejantan: Ya…sederhananya sajalah Pak Tua.

Riza    : Contohnya saya ini Cing, hampir 35 tahun saya tuh baru tahu kalau aishiteru itu artinya aku padamu.

Pejantan : Halah ada yang kurang tuh, 5 huruf lagi.

Riza    : Iya saya tahu, tapi tak perlu disebut di sini ah, malu saya. Tapi kok kamu tahu sih Cing?

Pejantan: Dari zaman jebot gue juga sudah tahu.

Riza    : Saya tahunya tuh kalau aku padamu dalam bahasa Inggrisnya ya I love you, bahasa jermannya ich liebe dich, sunda: abdi bogoh ka anjeun, jawa: aku tresno karo kowe, arab: ana uhibbuk, cinanya: wo ai ni, bahasa dermayunya: kita demen ning sira. Itu saja. Tahulah pokoknya dari SMP.

Pejantan: Terus…

Riza    : Waktu baca, saya nemu kata itu. Lalu saya tanya sama orang aishiteru itu apa? Kayaknya heboh banget gitu. Orang yang ditanya malah bilang: “di googling saja.”

Pejantan : Terus…

Riza    : Saya kira awalnya itu nama band Korea yang nyanyiin lagu nobody-nobody. Eh tahunya, itu ternyata aku padamu. Tepuk jidat saya, plak…!!! Oh itu…

Pejantan: Ha…ha…ha…katro. Pak Tua memang bukan lagi zamannya. Terus apa lagi Pak Tua. Di kita mah, di dunia kucing, enggak butuh-butuh itu. Yang penting muka badak dan kuat begadang. Semalaman mengikuti betina, tak bisa langsung diterima gitu.

Riza    : Oh gitu Cing…memangnya enggak ada tuh perasaan berdesir-desir, perasaan jatuh cinta, perasaan bergetar kalau disebut namanya, atau perasaan apapun yang mendominasi orang yang sedang jatuh cinta?

Pejantan: Itu cuma ada di manusia, kita cuma punya insting alami saja. Kalau pun ada itu cuma di walt disney pictures…

Riza    : Oh gitu yah…

Pejantan: Pak Tua, sayangnya manusia kebanyakan lupa.

Riza    : Lupa pegimane Cing?

Pejantan: Berdesir-desir, berbunga-bunga, bergetar-getar, berkebun-kebun itu saat manusia jatuh cinta pada sejenisnya. Berdesir saat disebut namanya, melihat orangnya, melihat gambarnya, saat menerima pesan-pesan darinya, panjang ataupun pendek, saat berbicara dengannya. Ada yang hilang ketika sapaan dan keberadaannya tak kunjung datang. Ada sebuah persatuan yang dicita pada orang yang dicintai. Ini sebuah kelaziman.

Riza    : Wah wise banget Cing.

Pejantan: Belum selesai gue.    

Riza    : Oke teruskan.

Pejantan: Empati menjadi sebuah keharusan. Turut merasakan apa yang dirasakan yang dicintainya. Jika sedih, ia sedih. Jika bahagia, ia pun bahagia. Semua perasaan yang pernah ada di muka bumi yang dimiliki kekasih pun menjadi sebuah perasaan yang turut ia rasakan semuanya. Muncullah tanda-tanda cinta di sana seperti banyak mengingat, banyak memimpikannya, banyak menyebut, kagum, rela, berkorban , cemas, berharap dan ta’at. Masalahnya ketika Yang Nyiptain kita menuntut begitu, manusia sebaliknya.

Riza    : Waduh nyindir Cing.

Pejantan: Ngerasa Pak Tua?

Riza    : Kalau begini saya diam sajalah, dengerin.

Pejantan: Coba kalau ada nama Allah—yang wajib dicinta itu—disebut, gemetar enggak Lo?

Riza     : Saya tertohok.

Pejantan: Atau kalau pesan-pesan dari langit dibacakan bertambah Iman kagak Lo?

Riza    : Saya tertusuk Cing, hiks.

Pejantan: Nah, gitulah manusia. Bersyukurlah gue jadi binatang. Tidak dimintakan pertanggungjawabannya. Elo? Jangan salah ya Umar bin Khaththab saja kalau bisa memilih ingin hidup jadi binatang supaya jangan dituntut di sana.

Riza    : Cing…

Pejantan: Yup.

Riza    : Stop dulu deh sampai di sini. Saya kelu Cing.

Pejantan: Padahal ini baru awal Pak Tua. Masih banyak yang ingin gue sampaikan sama elo.

Riza     : Iya…ya, saya tahu. Tapi nanti saja dulu deh. Tuh daging ayamnya sudah siap. Lagian azan maghrib sudah mau berkumandang. Tapi terus terang Cing dialog kita, dialog kau aku, sore hari ini, menyentuh saya. Kok bisa Cing kamu tahu banyak gitu?

Pejantan: Dengerin ceramahnya ustadz di masjid dan majelis taklim gitu Pak Tua. Gue kesana bukan cuma nyari Cicak yang lagi sial doang.

Riza    : Yah sudah makan dulu aja. (Tumben nih gue baik banget sama kucing pejantan ini). Ohya Cing, sebelum kita mengakhiri ini, walau saya senang kamu, saya tak mau bilang padamu: aishiteru yah.

Pejantan: Halah, najis. Ogah gue juga.

Riza    : Wadaw….

    Akhirnya selesai sudah dialog singkat saya dan dia. Yang pada akhirnya juga dia tetap kucing yang cuma bisa mengeong-ngeong. Saya juga terbengong-bengong. Terdiam dan terlongong-longong. Seperti tersedak oleh biji kedondong. Masak saya ngomong sendiri sama kucing. Untung belum ada yang bilang: Edan!.

    Senyatanya aku gila. Cuma padamu.

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Cuma fiksi

08.13 21 Maret 2011

 

Tags: kucing pejantan, aishiteru, dialog imajiner, googling, google, deal or no deal, jepang, jerman, sunda, indramayu, jawa, inggris, korea, nobody nobody

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

supermoon


supermoon

**

 

aku ambil pisau

memotongnya sebagian

dan kuletakkan di atas nampan

kuserahkan padamu

sisanya biarlah untuk kita nikmati bersama

dengan tatapan-tatapan kita:

bulan sepotong

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

mabit di masjid almuhajirin bojonggede

12.57 20 Maret 2011

foto asli diambil pada pukul 04.31 (sepertinya)

malam likat


malam likat

**

 

ada huruf yang kutulis

merana di awal cerita:

d

lalu

ada satu yang tertinggal

di ujung cerita:

u

menjelma menjadi riak-riak kata

yang terngiang-ngiang

lalu menjadi bisik-bisik

menemanimu sepanjang perjalanan

malam itu yang likat,

sebagiannya bersembunyi malu

di balik bintang-bintang

kini setelah satu purnama lewat

tanpa permisi

dan bintang-bintang itu pudar

kelelahan

ada yang indah terlihat

ada yang merdu terdengar

aku sampaikan padamu

di siang ini yang pemberang:

di cintamu kutemui arti hidupku*

***

 

 

*mengutip satu larik lagu yang diciptakan

Oddie Agam dan dipopulerkan oleh

Mus Mujiono: Arti Kehidupan

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 9 gedung sutikno slamet pengadilan pajak

12.57 18 maret 2011

 

MENIKMATI KESENDIRIAN


MENIKMATI KESENDIRIAN

 

Sejak berada di tempat baru akhir September 2010 lalu ini, saya tak pernah sekalipun sarapan di ruangan yang memang khusus disediakan untuk itu. Tak pernah. Namun pagi ini anehnya, saya ingin menikmati betul sarapan di tempat itu. Sambil menikmati semburat cahaya pagi yang tak sopan menerobos jendela. Makan nasi uduk yang di beli di Stasiun Sudirman. Menikmati ketinggian dari lantai 19 memandang gedung pencakar langit di sebelah atau padatnya arus lalu lintas Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.

Setelah semalamam digedor dengan sesuatu yang melelahkan fisik dan mental, saya ingin menikmati kesendirian itu. Sebelumnya saya biasa sarapan di depan komputer sambil baca-baca berita dan email. Banyak banget sebenarnya ajakan untuk sarapan bersama di ruangan itu oleh teman-teman. Tapi saya bergeming. Enakan juga makan sendiri di depan benda mati yang seolah-olah hidup ini.

    Herannya pagi ini entah kenapa nasi uduk yang saya santap tidak senikmat hari-hari kemarin? Ada yang dipikirkan? Tentunya ada. Tak perlu diungkap di sini. Walau demikian nasi uduk itu habis juga meskipun saya kunyah perlahan-lahan.

    Hari ini berat sepertinya, tidaklah seperti Kamis yang Ringan yang dulu pernah saya ungkap. Karena sisa semalam masih menumpuk, dua berkas persidangan, jadwal menunggu yang lama, dan waktu yang berjalan lambat. Apa coba yang bikin hidup elo tambah hidup hingga waktu berjalan cepat dan tidak terasa?

    Teori Relativitas Einstein menyadarkan saya tentang dimensi waktu. Sedetik memegang cawan panas seperti waktu dihentikan tak pernah bergerak, dan satu jam melakukan sesuatu atau bersama yang kita cintai seakan satu detik saja. Lebih rumit sedikit adalah tentang dimungkinkannya kita untuk bergerak lebih lambat atau lebih cepat daripada kecepatan cahaya tetapi tidak mungkin dapat bergerak sama dengan kecepatan cahaya itu sendiri. Tak mengerti? Ya sudah abaikan saja…

    Apapun itu, pagi ini saya menikmati kesendirian itu. Sampai kapan?

 

***

 

Riza Almanfaluthi

presisi yang sia-sia, giza runtuh

dedaunan di ranting cemara

07:49 17 Maret 2011

banal


banal

*

 
 

teriakku pada macan

yang ada di kebun binatang:

aku ambil lorengmu!!!

pada zebra:

aku ambil belang-belangmu!!!

pada singa:

aku ambil surai di lehermu!!!

pada buaya:

aku tak akan ambil kulitmu!!!

Bosan,

aku akan ambil matamu saja,

pada ular:

aku akan ambil lidahmu!!!

Satu-satu,

aku permisi pada semua penghuni,

setelahnya aku menjadi binatang…

banal  

 
 

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

Februari Maret 2011

 
 

  

MATANYA ABADI


MATANYA ABADI

 

Tahun 2006, saya sempatkan diri untuk memfoto kucing betina ini. Ini adalah kucing yang sering mampir di rumah saya. “Ngeong…ngeong,” serunya kalau saya lagi makan.

    “Tunggu sebentar, ya Cing, kamu tulangnya aja,” kata saya, “tapi enggak apa-apa ding, nih dikit dagingnya.” Saya sepertinya tidak pernah berbohong padanya dengan cara bilang pus-pus sambil bawa sesuatu yang mirip daging terus ke luar rumah dan ketika si kucing sudah di luar pintu, tangan saya ternyata kosong dan langsung , “Braakk!” tutup pintu. Si Kucing gondok dalam hati berkata, “Awas Lu ye…Bohong.” Sama binatang saja tak tega bohong apalagi sama manusia.

 

    Sampai sekarang betina ini masih hidup. Tapi tak lagi mangkal kayak angkot cari penumpang di rumah saya lagi. Di rumah tetangga kali, atau dia sudah punya rumah sendiri. Tak tahu saya. Soalnya dua anaknya sekarang gantian yang jadi preman di rumah saya. Ini betina hebat juga, sudah punya anak banyak dan cucu banyak tetap hidup sampai sekarang. Nih fotonya saya ambil beberapa pekan lampau tepatnya di bulan Februari 2011.

 

    Kelihatan sih kalau sudah tua, wajahnya tak sesegar dulu. Sudah mulai tirus. Mungkin kalau ibarat manusianya sudah mulai ada keriputnya. Tapi swer ketika saya memfoto itu kucing, gak ada tuh namanya keriput sama uban. Dan yang pasti matanya yang dicelak hitam itu, abadi bo…

 

Sendu (bukan senang duit atawa senang ndusel-bersempit-sempitan) matanya seperti ada duka lestari. Duka, kenapa gue jadi binatang harusnya jadi foto model difoto mulu soalnya.

 

Sayu matanya seperti menyiratkan sebuah keharuan. Haru lalu jadi biru. Eh ternyata ada juga yah cowok yang foto gue. Terima kasih…terima kasih.

 

Jelita? Tidaklah yau. Dia tak punya mata jelita. Manusia yang hanya punya mata jelita. Bukan binatang ini. Walau ada yang tak mau disebut jelita pada matanya, soalnya ditengarai saya “ngegombal“. Jiaaa…

    

Tahukah kamu, brother…sekarang dia—kucing ini—lagi hamil, hamil tua. Saya tak tahu siapa yang menghamilinya. Yang jelas bukan saya. Sebentar lagi melahirkan. Mungkin waktu saya menulis ini—di tengah malam—kucing itu sudah menjilat-jilati anak-anaknya.

 

Tapi yang pasti saya tidak pernah seranjang dengannya. Paling jauh hubungan kami cuma mengelus-ngelus kuduknya pakai tangan atau lehernya dengan kaki. Kalau malam saya tak pernah menyuruhnya masuk, harus di luar.

Cukup kisah gita cinta saya dengan kucing betina ada di zaman SMA dulu. Memandikannya, membedakinya dengan bedak antikutu sampai menemaninya melahirkan memelihara anak-anaknya. Lagi-lagi—sori yah—bukan karena saya dia hamil. Tidur siang ada itu si kucing di samping saya. Mendengkur, mendengkur barenglah kita. Kalau saya: “Zzzzz…zzzzz”. Dia: “Grttttt…grtttt…grtttt.”

 

Semuanya berakhir ketika Bibi saya marah-marah karena kasurnya jadi jelek. Dan kursi tamu jadi banyak kutunya. Padahal sudah dibedakin dengan bedak antikutu—kucingnya bukan kursinya. Kutunya juga sering menggigit saya ternyata. Pantas saja kenapa kalau duduk di kursi itu badan kok gatal-gatal. Air susu dibalas dengan air tuba. Kucing diusir. Saya sendiri.

 

sendiri…

menggigil,

walau secuil biru

cukup untuk sehari

 

Kucing tak mengerti puisi. Betina di foto atas pun demikian. Tak peduli dengan saya yang membaca sajak-sajak di depannya. Dia hanya peduli dengan daging. Titik. Manusia? Brother? Dia? Jelita? Peduli pada apa…?

 

***

 

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

tetap jadi inspirasi karena menumbuhkan

03.55 pagi 16 Maret 2011

 

 

    

 

 

 

monolog: cinta


MONOLOG: CINTA

 

Di bangsal Unit Gawat Darurat (UGD) rumah sakit itu terlihat beberapa pasien yang sedang ditangani oleh dokter dan para perawat. Satu di antaranya dalam keadaan kritis. Selang infus dan tabung oksigen serta kabel alat monitor detak jantung sudah terjulur kemana–mana dari tubuh nenek renta. Seorang wanita separoh baya berada di sampingnya. Tak jemu-jemu mencoba memperdengarkan kalimat talkin di telinga nenek itu.

Di sudut yang lain, seorang ibu muda dengan wajah yang tampak kelelahan berada di samping ranjang beroda. Mengelus-ngelus dengan penuh kasih sayang kaki sang anak berumur 10 tahunan yang sedang terbaring sakit dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia baru saja melepas lelah setelah sendirian ke sana ke mari mengurus pendaftaran masuk UGD dan persiapan rawat inap di rumah sakit itu.

Ada lagi seorang ibu yang berusaha menenangkan kondisi suaminya karena tangan suaminya selalu berusaha untuk melepaskan selang infus yang terpasang rapih itu di tangan yang satunya lagi. Mata ibu itu sembab karena kesedihan luar biasa melihat suaminya terkena stroke dan melumpuhkan sebelah anggota tubuhnya.

Yang baru datang adalah seorang laki-laki dengan membawa gelas berisi air hangat. Tubuhnya menggigil. Ia berjalan sempoyongan dan ingin segera berbaring di atas ranjang yang belum dipersiapkan sama sekali oleh perawat. Hampir tubuhnya jatuh ke tanah kalau saja tidak ada adik perempuan dan suaminya yang memegang kuat tangannya. Wajah perempuan itu lagi-lagi terlihat penuh kecemasan.

Berjam-jam setelahnya, ruangan UGD itu mulai sepi, karena telah tengah malam dan semua sudah tertangani dengan baik oleh para pekerja medis rumah sakit itu. Para pendamping pasien masih bertahan untuk tetap menjaga tubuh-tubuh yang tergeletak tiada berdaya.

Ada hal yang tampak terlihat kuat di wajah-wajah mereka. Wajah dengan penuh energi cinta yang terbalut kegalauan dan kesedihan yang bercampur aduk. Sebuah energi yang mampu membuat mereka bertahan duduk berjam-jam, berdiri berjam-jam, menangis tanpa henti hingga tidak ada lagi air mata yang keluar, tanpa peduli beban berat pikiran tentang berapa biaya yang harus dikeluarkan, mondar-mandir ke sana kemari tanpa memedulikan dirinya sendiri sudah makan atau istirahat, yang mampu berkata: “biarlah semua sakit ini aku tanggung daripada engkau yang sakit.”

Tidaklah mungkin seorang tanpa cinta mampu bertahan untuk menjaga tubuh-tubuh sakit itu dan mampu melakukan semuanya. Tidaklah mungkin. Dan saya—malam itu—ingin menjadi bagian dari mereka. Ingin belajar dari mereka. Untuk sosok tubuh yang tergeletak lemah dan tanpa kesadaran di samping saya. Seorang bapak yang telah membesarkan saya dan mampu menjadikan saya seperti hari ini.

Semoga cepat sembuh Bapak…

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

unit gawat darurat rumah sakit bhakti yudha depok

08.21 12 Maret 2011

tak pernah sampai


tak pernah sampai

**

 

coba lihat pada ilalang yang tumbuh

di depan rumah kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang paling tinggi

tapi tak acuh pada air gunung

yang bersemedi dengan butirannya

membasuh daun-daun

coba lihat pada bisunya langit

yang indah di atas kita

berkejaran dengan waktu

untuk menjadi yang tercepat

tapi tak acuh pada mendung hitam

yang segera akan menelannya

dan tak perlu mencoba

melihat aku

karena aku terlepa

di atas tanah yang rindu hujan

tak bisa tak acuh

untuk setiap anak panah pesan

yang berlari dari busurnya

tak pernah sampai

di setiap detiknya

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

menunggu

10.13 12 Maret 2011

 

senampan biru


senampan biru

**

 

aku taruh senampan biru

yang kupersembahkan

melalui rinai hujan yang jatuh di atasmu

atau geliat ikan yang lincah

tak hendak menangkap umpan

yang kau taburkan siang tadi

atau kelabu yang membebat diri

 

aku taruh senampan biru

untuk kau pilih

kau simpan

kau bawa

ke atas gunung

dengan tas carrier

bersama selembar matras

bersama sepotong jaket

bersama seperangkat tenda

bersama sleeping bag warna jingga

 

malamnya

kau memandang langit

mengambil segelas coklat panas

dan sepucuk biru

lalu menyentak

aku datang padamu

bersama petrichor

sampai pagi

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

citayam, ruang biru

11.04 06 Maret 2011

 

 

 

 

BROWNIES


Brownies

**

 

sekotak brownies

terpotong-potong sadis

harum coklatnya menghingar bingar pagi

ada senyum menabuh sunyi

saat lidah bersua lezatnya

jika tinggal satu

bolehlah aku sampaikan sepotongnya

untukmu

 

 

 

***

 

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

lantai 19

08.01 7 Maret 2011