Menyebut nama ini, saya teringat dua orang yang bernama mirip dan peristiwa yang menyertainya. Satu orang berasal dari 30 tahun lampau, satunya lagi peraih bintang dari Sri Paus di Vatican pada zaman jaya-jayanya PKI.
Senior saya di Direktorat Jenderal Pajak bernama Syaifuddin Zuhri meninggal dunia beberapa waktu lalu. Ia meninggalkan seorang istri dan empat orang anak. Saya hanya bisa berdoa semoga ia mendapatkan husnul khatimah.
Menyoal Banpres dan Bansos pada saat ini, membuat kita mengulik kembali masa lalu saat Frans Seda menghadapi Soeharto dan Ali Moertopo. Semua pemasukan dan pengeluaran negara memang harus tercatat.
Harian Kompas menurunkan artikel yang menarik pada Sabtu, 9 Mei 2020 berjudul Antara Banpres RI dan Bansos.
Dampak pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang membatasi pergerakan manusia ini memang dirasakan sekali oleh masyarakat kecil. Terutama mereka yang tidak berpenghasilan tetap.
Sigit Danang Joyo menerima Intax di ruangan kantornya yang bersahaja pada Senin, 9 Desember 2019. Itu hampir sepekan setelah acara peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di, Aula Cakti Buddhi Bhakti Kantor Pusat DJP, Jakarta.
Nama Sigit mulai dikenal masyarakat setelah ia masuk ke dalam sepuluh nama yang diserahkan oleh Pansel Capim KPK kepada Presiden Joko Widodo September 2019 lalu. “Boleh saya bilang tes yang paling berat bagi saya selama mengikuti seleksi adalah ketika wawancara dengan sembilan anggota Pansel (panitia seleksi–Red.) ditambah tiga ahli hukum yang sebagian besar adalah para guru besar,” ucapnya.
Walaupun demikian Sigit belum berhasil melaju ke Kuningan. “Mereka (anggota DPR) bilang, secara politik Mas Sigit belum cukup mendapatkan dukungan,” tutur pria pemilik hobi mancing dan pecinta alam ini.
Sosok teguh hati menyigi kesehatan dari gang sempit, pasar, sampai diskotek. Ini soal kerja kemanusiaan yang butuh napas panjang.
Perempuan itu keluar dari rumahnya yang berada di gang sempit persis ketika saya datang pada Sabtu, 9 November 2019. Ia kemudian menyilakan saya masuk ke ruang tamunya yang kecil. Ada sofa di sana dan karpet berwarna merah terhampar di lantai. Saya memilih duduk di atas karpet. Kipas yang tergantung di plafon rumah berputar dengan kecepatan normal. Sudah cukup untuk menyejukkan ruangan tak seberapa besar itu.
“Silakan diminum, Mas,” katanya. Perempuan itu, Margareta Sofyana, 47 tahun, menghidangkan segelas teh hangat yang tak elok untuk ditampik. Pagi menjelang siang itu ia tampak sederhana. Tubuhnya berbalut pakaian yang rapat mulai dari kepala sampai kaki. Wajahnya selalu dihiasi dengan senyum. Senantiasa semringah.
Binanto Suryono, 44 tahun, menyeruput kopi hitam dari cangkir yang ada di depannya. Ia menceritakan kalau dirinya baru dipindahtugaskan sebagai Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi Tiga, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman sebulan lalu.
Sebelumnya Binanto menjadi Kepala Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan, Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tuban. “Fungsi kehumasan di kantor pajak daerah ya ada di seksi ini,” kata Binanto dalam obrolan pagi itu di Yogyakarta pada Selasa, 22 Oktober 2019.
Mereka menceritakan ritual kematian sebelum tahun 1960-an di Pidgin, dengan ungkapan ”katim na kukim na kaikai”.
Kisah ini berawal di Inggris antara tahun 1700 dan 1800. Saat pertanian Inggris melakukan revolusi yang berpangkal dari temuan Robert Bakewell, wirausahawan dari Leicestershire. Bakewell menyatakan, kualitas biri-biri dan sapi dapat ditingkatkan dengan cepat melalui penangkaran selektif spesimen terbaik dengan turunan mereka sendiri.
Penemuan dengan cara perkawinan sedarah ini memang menghasilkan biri-biri yang gemuk, cepat besar, dan berbulu panjang. Namun ternyata ada efek samping tak terduga. Biri-biri penangkaran di Suffolk, khususnya, menunjukkan tanda-tanda gila. Hewan-hewan itu menggaruk-garuk, tersandung-sandung, melonjak-lonjak, gelisah, dan tampak antisosial. Setelah itu mati.
Ketika hendak menuju tempat saya bermalam sehabis berjam-jam berlari di jalanan Bandung yang ramai, saya bertemu dengan pelari dari Cibinong. Saya mengetahuinya dari nama grup lari yang tertera di bagian punggung kaos.
Mitsubishi Strada Triton 4×4 membelah jalanan Mukomuko pagi itu. Mobil berkabin ganda dengan paduan warna yang mencolok mata: kuning dan hitam. Tulisan besar mendominasi sisi kanan, kiri, dan belakang mobil: Tarif Turun!
Kendaraan dinas yang berhasil menyita perhatian masyarakat Mukomuko ini merupakan Mobile Tax Unit (MTU) milik Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Argamakmur. Beberapa Account Representative berada di dalamnya. Baca Lebih Lanjut.
Tulislah sebuah surat untuknya. Tulislah dengan memakai tangan. Tidak perlu dengan cetakan printer. Permintaan coach dari sebuah Life Academy itu aku turuti.
Aku menulis banyak dengan menggunakan pena, menggunakan tangan kananku, di atas lembaran-lembaran kertas putih. Dengan penuh kesungguhan seperti para pecinta zaman pujangga lama menulis surat.
Aris Affandi, Account Representative (AR) Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bangka, dengan menahan pilu memimpin doa di aula kantor pada Senin duha itu (29/10). Para pegawai yang ikut dalam acara doa bersama tak kuasa menambak tangis. Air mata tumpah.
Mereka masih berharap lima kawan mereka yang berada dalam pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 selamat. Pesawat itu dikabarkan hilang kontak dan jatuh di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat pada pukul 06.32 WIB.