Sosok Sigit Danang Joyo: Berani Berantas Korupsi


Sigit Danang Joyo menerima Intax di ruangan kantornya yang bersahaja pada Senin, 9 Desember 2019. Itu hampir sepekan setelah acara peringatan Hari Antikorupsi Sedunia di, Aula Cakti Buddhi Bhakti Kantor Pusat DJP, Jakarta.

Nama Sigit mulai dikenal masyarakat setelah ia masuk ke dalam sepuluh nama yang diserahkan oleh Pansel Capim KPK kepada Presiden Joko Widodo September 2019 lalu. “Boleh saya bilang tes yang paling berat bagi saya selama mengikuti seleksi adalah ketika wawancara dengan sembilan anggota Pansel (panitia seleksi–Red.) ditambah tiga ahli hukum yang sebagian besar adalah para guru besar,” ucapnya.

Walaupun demikian Sigit belum berhasil melaju ke Kuningan. “Mereka (anggota DPR) bilang, secara politik Mas Sigit belum cukup mendapatkan dukungan,” tutur pria pemilik hobi mancing dan pecinta alam ini.

 

Sebagai Subjek

Selama proses pemilihan Capim KPK itu, Sigit mendorong wacana penguatan DJP. Menurutnya, keuangan negara ada dua sisi yaitu penerimaan dan pengeluaran. Banyak pihak yang mengawasi soal kebocoran pada sisi pengeluaran negara yang disebut korupsi, seperti Badan Pemeriksa Keuangan, Kepolisian, Kejaksaan, dan KPK. “Sedangkan uang yang baru atau akan masuk ke kas negara (penerimaan negara) seperti pajak, yang diberi amanah hanyalah DJP,” ucap Sigit.

Sigit menilai, selama ini DJP hanya disorot sebagai objek (sasaran) dalam pemberantasan korupsi. “Seharusnya semua pihak ikut mendorong DJP sebagai subjek (pelaku) dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi,” ujarnya dengan serius. Menurutnya, sebagai subjek, DJP memiliki seperangkat kewenangan yang jauh lebih leluasa dalam mendeteksi korupsi atau setidak-tidaknya inefisiensi penggunaan anggaran negara.

DJP dapat menjadi trigger mechanism yang mendorong dan membantu penegak hukum lainnya dalam pemberantasan korupsi. “Jadikan DJP lembaga yang bermartabat, yang strategis, yang mampu menjadi ujung tombak, yang men-trigger aparat-aparat penegak hukum itu dalam konteks penyelamatan keuangan negara,” kata salah satu pendiri Indonesia Court Monitoring (ICM) ini saat ia masih menjadi senat mahasiswa di Universitas Gajah Mada pada 1998.

 

Harus Berani

Sigit menjelaskan, sampai saat ini program pencegahan dan pemberantasan korupsi di DJP masih dalam zona biru. Artinya DJP dinilai sebagai institusi yang melampaui target dalam program pencegahan dan pemberantasan korupsi. Menurut mantan Asisten Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) bidang hukum ini, pencapaian itu masih di atas kertas karena pada faktanya masih ada oknum DJP yang terlibat dalam tindak pidana korupsi.

Menurut lulusan S-2 dari Universitas Paris 9 dan Paris 1 Sorbonne ini, kampanye DJP dalam iklan layanan masyarakat berupa ajakan untuk tidak melakukan perbuatan korupsi tidaklah cukup. “Sehingga yang paling efektif untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan korupsi itu adalah dengan menggunakan tangan kita sendiri supaya tidak terjadi korupsi. Bukan hanya bicara, bukan hanya mendoakan, tetapi dengan tangan kita sendiri melakukan itu,” jelasnya.

Selama ini, banyak pengaduan mengenai oknum pegawai DJP yang terindikasi melakukan pelanggaran disampaikan langsung oleh pegawai DJP ke KPK.  Sehingga perlu diciptakan suatu kondisi agar para pegawai DJP memiliki keberanian untuk melaporkan adanya indikasi perilaku koruptif di lingkungannya kepada pihak internal DJP.

Di samping itu, perlu juga adanya perlindungan bagi pegawai DJP ketika menyampaikan laporan sehingga mereka memiliki rasa aman untuk menyampaikan ketidakbenaran yang terjadi di lingkungannya. Perlu juga diciptakan adanya suatu kepercayaan bagi pegawai bahwa laporannya akan ditindaklanjuti.

Sebenarnya DJP telah memiliki WBS (Whistleblowing System) yang merupakan WBS pertama kali dibangun di level kementerian. Oleh karena itu, DJP terus-menerus mendorong agar pegawai DJP mampu menjaga DJP melalui WBS tersebut.

Dalam hal ini tentunya juga harus diimbangi dengan adanya komitmen agar pimpinan betul-betul memberikan ketegasan terhadap praktik korupsi itu, misalnya terhadap oknum pegawai DJP yang sangat kuat terindikasi melakukan tindakan koruptif. “Pimpinannya harus berani untuk menjatuhkan sanksi administratif berupa hukuman disiplin sesuai PP 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS,” imbuh ayah dua putri ini.

Sigit setuju dengan pendapat mantan Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution yang menyatakan pegawai DJP yang benar-benar baik dan berani melakukan perubahan itu hanya sepuluh persen, yang tidak bisa diubah sepuluh persen juga. “Yang 80 persen itu floating mass, tergantung pimpinannya. Makanya kita dorong 80 persen itu supaya mereka proaktif dan berani,” kata Sigit.

 

Bekerja Efektif

Di tengah kesibukannya, Sigit berusaha menerapkan konsistensi dalam bekerja. Ia meminta anak buahnya untuk bekerja efektif sesuai jam kantor tanpa harus lembur. Menurut Sigit, tidak ada pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dari pukul 7.30 sampai 17.00. “Bisa kok. Asal kita efektif, konsentrasi, dan fokus,” ucap Sigit. “Inti dalam bekerja itu sebenarnya adalah mengetahui apa pekerjaannya, mengetahui apa yang harus dilakukan, kemudian lakukanlah. Pasti cepat selesai pekerjaan itu. Tanpa perlu ditunda-tunda,” tambah Sigit.

Pun, dalam kondisi genting dan mendesak, tugas itu bisa diselesaikan di rumah.  “Keluarga, istri dan anak-anak bagiku itu penting. Pokoknya kalau kerja itu, dua hal jangan dilupakan. Ibadah dan keluarga. Sudah,” ujar Sigit.

Sesibuk-sibuknya ia menggeluti pekerjaannya, Sigit berusaha meluangkan waktu untuk istri dan anak-anaknya. Sigit mengajari naik sepeda, mengaji, dan menjadi guru les untuk kedua putrinya yang masih kecil-kecil. “Itu hal yang tidak bisa digantikan sama yang lain-lain. Itu golden age. Nanti gede sedikit sudah lewat semuanya. Bonding-nya tidak dapat,” pungkasnya.

***

Penulis: Riza Almanfaluthi

Editor: Agung Utomo

Foto: Arif Kuswanadji

Artikel ini telah dimuat di majalah elektronik internal Direktorat Jenderal Pajak INTAX Edisi VII 2019.

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.