RIHLAH RIZA #68: Di Atas Space of Hope



Kami bertiga di atas Space of Hope.

Berkali-kali ke Banda Aceh tapi belum sempat jua untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Melewatinya berkali-kali tapi hanya sekadar lewat. Sambil lari, sambil ngelamun, sambil tidur. Sudah hampir dua tahun setengah di sini, tidak bisa begini saja. Harus mampir dan melihat-lihatnya. Takdir mengangkangi saya akhirnya.

Mulanya ada undangan ke Lhokseumawe. Ada rapat koordinasi daerah (rakorda) se-Kantor Wilayah DJP Aceh. Tumben nih Kepala Seksi Penagihan diundang rakorda. Biasanya enggak. Atau saya yang lupa? Atau karena ini Tahun Penegakan Hukum? Entahlah.

Kabar angin, awalnya rakorda akan diselenggarakan di Takengon. Tempat yang belum pernah saya ludahi, maksudnya saya kunjungi. Saya jarang meludah kok. Tapi tidak jadi karena Jokowi mau ke sana. Di Sabang kabar lainnya. Asyik bisa ke sana, ke sebuah tempat yang orang se-Indonesia pengen banget ke titik 0 Indonesia. Saya aja belum pernah ke sana. Enggak jadi juga ternyata.

Baca Lebih Lanjut.

Ekspedisi Pulau Dua: Mission Accomplished!



Jarang nelayan yang berani ke pulau satunya lagi. Apa sebab?

Pulau Dua itu terletak di Samudra Hindia. Tepatnya masuk wilayah kecamatan Bakongan, Aceh Selatan. Dinamakan Pulau Dua karena ada dua pulau kembar yang tak berpenghuni dan terpencil. Salah satu pulau di antaranya adalah pemakaman, katanya jarang nelayan yang berani ke sana. Jadi pulau lainnya itu yang kami kunjungi buat snorkeling dan saya punya misi khusus ke pulau ini.

Pulau tropis ini kecil. Keliling lingkarannya hanya 800 meter lebih. Jarak Pulau Dua dari daratan utama Sumatera sekitar 2 kilometer dengan waktu tempuh 10 menit memakai perahu nelayan yang kami sewa. Tidak banyak orang tahu dan berwisata di pulau ini. Hanya orang-orang yang paham saja yang datang ke pulau itu.

Baca lebih lengkap.

Di Tanakita, Semua Bercerita



Negeri di atas awan.

    Sebuah anugerah bisa mengunjungi tempat istimewa seperti Tanakita ini. Terletak di ketinggian 1100 di atas permukaan laut kamp ini berada. Di lereng Gunung Gede Pangrango, di dalam kompleks wana wisata Situ Gunung, Sukabumi.

    Selama tiga hari saya mendapat kesempatan menikmati keindahan alam terbuka. Diundang oleh Tim E-magazine DJP dalam sebuah acara workshop yang dikemas paling berbeda daripada acara yang biasa diselenggarakan oleh instansi saya selama ini.

    Begini ceritanya.

Baca Lebih Lanjut.

SAMBALADO



colak-colek sambalado,

ala mak oi,

dicolek sedikit,

cuma sedikit,

tapi menggigit.

Lagunya Ayu Ting Ting ini menggema dari speaker besar organ tunggal yang lagi main di sebelah mes kami. Persis benar. Barangkali teman-teman dari perumahan dinas Kejaksaan Negeri Tapaktuan ini sedang merayakan ulang tahun anak pegawainya, salah satu personelnya atau siapalah. Tapi ini sampai malam. Tak ada Wilayatul Hisbah (Satpol PP Syariah) yang akan membubarkannya. Loh kenapa dibubarkan memangnya? Emang berani? Hehehe.


Jam 23.30 masih terus. Saya berusaha tidur walau bersisian dengan speaker itu. Lagu jadul dari Exist Mencari Alasan juga ada yang menyanyikannya. Saya berusaha memejamkan mata dengan sekuat tenaga. Saya harus tidur segera karena saya punya misi besok pagi. Alhamdulillaah berhasil tidur.


Bangun pagi seperti biasa. Persiapan lari. Pemanasan dulu. Karena ini sudah minggu kedelapan Freeletics pakai Coach jadi saya pemanasan Warming Dynamic Pro yang beda dengan pemanasan biasa Freeletics.


Oh ya, tadi malam sudah carbo loading, pakai singkong dan telur rebus. Apalagi sorenya sudah minum air tebu, my favorite energy booster. Tentu juga memperbanyak minum air putih. Sudah itu saja.
Baca Lebih Lanjut.

Hati-Hati Modus Penipuan Baru Bawa-Bawa Nama Polisi


att5a2e21

Siang ini saya hampir ketipu. Ceritanya begini.

Ada telepon masuk ke nomor Telkomsel saya jam 11 siang. Biasanya yang tahu nomor ini adalah rekan-rekan kerja atau kenalan saya di Aceh. Saya tidak mengenal suaranya. Tapi dia sok akrab dengan saya.

“Masak enggak kenal saya? Emang nomornya enggak disimpan?” katanya. “Ayo coba siapa?”

Karena perasaan bersalah enggak tahu dirinya, jadi saya asal sebut nama. Dia bilang bukan. Lalu saya sebut nama yang lain, nama teman grup lari Indorunners Aceh yang kerja di kantor di Banda Aceh dan sekarang sedang bertugas dinas luar di Tapaktuan.

“Ini Muldan?”

“Nah betul.” Baca Lebih Lanjut.

Gede Pangrango Altitude Run



Masih ingat cerita saya gara-gara ngeper sama tanjakan jadi saya pindah rute lari eh malah ketemu herder dan anjing yang mau mengejar saya? Sekarang saya enggak mau lagi kayak begitu.

Pagi-pagi ini saya harus memilih latihan Kronos Freeletics atau running. Saya pilih berlari. Karena mumpung enggak setiap saat ada di daerah Situ Gunung Gede Pangrango ini. Sekalian juga karena acara hari ini belumlah dimulai.

Jam tiga sudah terbangun karena Ustadz Eko Novianto sudah bangun. Mungkin juga karena suara burung nokturno terdengar begitu kencang dari lembah di sebelah bawah tenda kami. Saya tidur lagi. Jam setengah lima azan Subuh di sini. Kalau di Tapaktuan satu jam lagi baru azan Subuh.

Baca Lebih Lanjut.

DIREKTUR JENDERAL INI TIDAK PINTAR


Rumornya Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro sudah menggadang-gadang Ken Dwijugiasteadi sebagai Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak). Selama ini Ken didaulat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan oleh Sigit Priadi Pramudito sejak Desember tahun lalu.

Jokowi tentu akan bertanya kepada Bambang, siapa Ken? Sebuah pertanyaan yang barangkali sudah ada jawabannya sejak ia menjabat sebagai Plt. Sebuah jabatan yang menurut Mardiasmo (Wakil Menteri Keuangan) bakal diemban Ken hanya dalam jangka waktu sebulan saja. Dan saat ini—Februari 2016—Ken masih sebagai Plt, belum definitif sebagai Dirjen Pajak.

Dengan tuntutan Presiden dan Menteri Keuangan yang semakin besar terhadap kinerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam mengumpulkan penerimaan negara di tahun 2016 sebesar 1360 trilyun rupiah maka kekosongan jabatan yang dibiarkan lama mengisyaratkan sesuatu yang paradoksal. Seperti butuh tak butuh.

Kalau sudah demikian, saya jadi teringat sebuah catatan kecil yang dibuat oleh Frans Seda saat menjadi Menteri Keuangan di era Orde Baru, di tahun 1966-1968. Catatan kecil berupa catatan kaki tentang penunjukan Salamun AT sebagai Dirjen. Catatan ini ada di sebuah bundel stensilan bahan kuliah istri saya di program Maksi Universitas Indonesia.

Baca Lebih Lanjut.

DIGERTAK ANJING


pekanbaru


Biasa mulai lari jam 6.30 pagi waktu Tapaktuan, ini berarti waktu yang terlambat di Pekanbaru. Jalanan ramai, padat, dan tidak friendly dengan pelari atau sejatinya karena saya salah arah? Kehendak awal mau susuri jalan lebar pusat kota Pekanbaru malah menyasar ke perumahan dengan jalanan yang barangkali pelari Kenya pun setidaknya akan berpikir dua kali untuk memecahkan waktu terbaiknya.

Jalanan yang menanjak itu menggetarkan saya. Mental tangguh belum ajeg terbangun. Membuat saya harus mengubah rute lari pagi di kota Madani ini. Saya masuk ke sebuah perumahan yang mayoritas penghuninya adalah Tionghoa. Menyusuri pinggiran sungai, melewati banyak kelenteng yang semarak dengan hiasan menyambut tahun baru imlek, dan tentunya makhluk berkaki empat: anjing.

Anjing pertama nongkrong di pinggiran jalan. Warnanya hitam. Dia sempat menengok kepada saya. Dia bergeming. Saya cukup waspada. Tetapi dia asyik menikmati pagi, acuh dengan keberadaan saya yang bergegas dan terengah-engah menyusuri kilometer kelima.

Baca Lebih Lanjut.

Bukti Setor Pajak Anda Hilang? Jangan Panik



Namanya Gwenz, mengirim email kepada saya. Dia menanyakan sesuatu terkait perpajakan. Berikut pertanyaannya.

Saya ingin menanyakan. Saya lapor Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 bulan November 2015, tapi saya salah lapor, seharusnya itu laporan pajak atas PPh Final 1% bulan November 2015. Berarti saya harus membuat permohonan pemindahbukuan (PBK), namun syarat PBK kan harus melampirkan bukti bayarnya, nah ada satu kendala saya atau kesulitan saya , bukti bayarnya itu hilang Pak. Bagaimana menurut Bapak baiknya?

Perlu diketahui bahwa Gwenz sudah membayar dengan memakai e-Billing melalui situs https://sse.pajak.go.id/ .

Jawab:

Baca Lebih Lanjut.

KALAU SUAMIMU ITU



Yuk kita lihat masing-masing dari suami-suamimu. Walau banyak kekurangan yang ia miliki, namun ia pun punya banyak kebaikan yang patut disyukuri.

Bersyukurlah, kalau dari mulut suamimu tak pernah keluar kata-kata kotor, membentak-bentak kamu, dan memaki-maki kamu. Apalagi sampai gaplokin kamu, hingga dari sudut bibirmu keluar cairan berwarna merah, hingga sampai membuat gigimu rontok, atau matamu membengkak kena jab-nya. Na’údzubillah (semoga kita dilindungi Allah dari hal yang demikian). Bersyukurlah…

Bersyukurlah, kalau suamimu juga sayang dan perhatian sama anak-anakmu. Emangnya banyak yang enggak sayang dan tak peduli sama anak-anaknya? Banyak Bu. Maka bersyukurlah…

Baca Lebih Lanjut.