DIREKTUR JENDERAL INI TIDAK PINTAR


Rumornya Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro sudah menggadang-gadang Ken Dwijugiasteadi sebagai Direktur Jenderal Pajak (Dirjen Pajak). Selama ini Ken didaulat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) mengisi kekosongan jabatan yang ditinggalkan oleh Sigit Priadi Pramudito sejak Desember tahun lalu.

Jokowi tentu akan bertanya kepada Bambang, siapa Ken? Sebuah pertanyaan yang barangkali sudah ada jawabannya sejak ia menjabat sebagai Plt. Sebuah jabatan yang menurut Mardiasmo (Wakil Menteri Keuangan) bakal diemban Ken hanya dalam jangka waktu sebulan saja. Dan saat ini—Februari 2016—Ken masih sebagai Plt, belum definitif sebagai Dirjen Pajak.

Dengan tuntutan Presiden dan Menteri Keuangan yang semakin besar terhadap kinerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dalam mengumpulkan penerimaan negara di tahun 2016 sebesar 1360 trilyun rupiah maka kekosongan jabatan yang dibiarkan lama mengisyaratkan sesuatu yang paradoksal. Seperti butuh tak butuh.

Kalau sudah demikian, saya jadi teringat sebuah catatan kecil yang dibuat oleh Frans Seda saat menjadi Menteri Keuangan di era Orde Baru, di tahun 1966-1968. Catatan kecil berupa catatan kaki tentang penunjukan Salamun AT sebagai Dirjen. Catatan ini ada di sebuah bundel stensilan bahan kuliah istri saya di program Maksi Universitas Indonesia.

Bundel yang berjudul Era Baru Kebijakan Fiskal: Pemikiran, Konsep, dan Implementasi ini merupakan kumpulan tulisan dari empu keuangan sejak zaman Frans Seda sampai era Anwar Supriyadi. Buku ini tergeletak di rak sebelah ranjang kami. Abadi dan konstan berada di sana acap kali saya terbangun dan duduk di pinggir ranjang berusaha mengumpulkan kekuatan ribuan kalori untuk membuka mata saat speaker tua milik masjid sebelah melolong-lolong memperdengarkan azan subuh.

Seraya itu, bundel yang sampulnya berwarna kuning ini mencolok mata menjulurkan gendamnya agar saya dapat merengkuhnya. Ia berhasil menghipnotis saya. Dan memang selalu itu yang saya raih saat pertama kali terbangun. Cuma buka-buka sepintas dan membukanya dengan cepat. Tapi itu membuat saya seringkali membaca dengan serius bab demi babnya ketika pagi menjelang. Refresh otak tentang fiskal dan moneter.

Nah, pada tahun 1966, Direktorat Jenderal Moneter baru dibentuk di bawah Kementerian Keuangan. Salamun Alfian Tjakradiwirja—biasa disebut Salamun AT—dilantik sebagai Direktur Jenderal. Awalnya orang Cirebon ini memang pegawai Djawatan Pajak. Sebelum dilantik menjadi Dirjen Moneter ia menjabat sebagai Kepala Biro Urusan Pendapatan Negara, Departemen Urusan Pendapatan, Pembiayaan dan Pengawasan.

Pengangkatan Salamun AT bikin heboh karena tim Frans Seda mengangkat pegawai pajak sebagai Dirjen Moneter. Frans Seda menyebut Salamun sebagai pegawai “pojok” perpajakan. Sampai-sampai Presiden Soeharto menanyakan kepadanya mengapa mantan peserta diklat siasat gerilyawan di tahun 1947 ini yang diangkat.

Frans Seda waktu itu menjawab, “Dia kami kenal. Orangnya tidak pintar, tetapi berwatak dan loyal. Dalam situasi moneter yang kacau balau begini, kami memerlukan seorang yang begitu. Dan tidak ada orang di Republik ini dan di Departemen Keuangan dapat menyatakan bahwa ada tenaga yang lebih baik. Sebab Direktorat Jenderal ini adalah baru, yang baru kami instalasikan ini. Lagipula Bapak Presiden, di Departemen Keuangan itu ada 5 “Partai Politik”.”

Suharto waktu itu kaget. Frans Seda melanjutkan, “Ada Partai Siliwangi, Partai Diponegoro, Partai Brawijaya, dan dua Partai Tentara Pelajar. Saudara Salamun AT kebetulan dari Siliwangi.” Suharto diam dan menyetujui.

Kelak “orang yang tidak pintar” ini menjadi Dirjen Pajak menggantikan Sutadi Sukarya di tahun 1981 hingga 1988. Di masanya Tax Reform I dengan pemberlakuan Self Assessment System dimulai.

Sekarang, hanya perlu orang-orang dekat Presiden yang dapat meyakinkannya untuk segera menunjuk Dirjen Pajak. Barangkali, sepulangnya Bambang P.S. Brodjonegoro dari Amerika Serikat ada kabar yang dibawa.

Iya atau tidak. Setelah itu ya selesai. Kembali fokus mau dibawa ke mana DJP ini.

**

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tjitajam, 8 Februari 2016

Gambar via alphacoders.com


Advertisements

2 thoughts on “DIREKTUR JENDERAL INI TIDAK PINTAR

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s