RIHLAH RIZA #68: Di Atas Space of Hope



Kami bertiga di atas Space of Hope.

Berkali-kali ke Banda Aceh tapi belum sempat jua untuk berkunjung ke Museum Tsunami Aceh. Melewatinya berkali-kali tapi hanya sekadar lewat. Sambil lari, sambil ngelamun, sambil tidur. Sudah hampir dua tahun setengah di sini, tidak bisa begini saja. Harus mampir dan melihat-lihatnya. Takdir mengangkangi saya akhirnya.

Mulanya ada undangan ke Lhokseumawe. Ada rapat koordinasi daerah (rakorda) se-Kantor Wilayah DJP Aceh. Tumben nih Kepala Seksi Penagihan diundang rakorda. Biasanya enggak. Atau saya yang lupa? Atau karena ini Tahun Penegakan Hukum? Entahlah.

Kabar angin, awalnya rakorda akan diselenggarakan di Takengon. Tempat yang belum pernah saya ludahi, maksudnya saya kunjungi. Saya jarang meludah kok. Tapi tidak jadi karena Jokowi mau ke sana. Di Sabang kabar lainnya. Asyik bisa ke sana, ke sebuah tempat yang orang se-Indonesia pengen banget ke titik 0 Indonesia. Saya aja belum pernah ke sana. Enggak jadi juga ternyata.

Kabar terakhir di Lhokseumawe, ini pasti jadinya. Ini kali kedua saya akan singgah di kota terbesar kedua di Provinsi Aceh setelah Banda Aceh. Terakhir saya ke sana bulan Desember dua tahun lalu. Waktu memang cepat sekali berlalu. Atau lambat? Yang bilang cepat biasanya yang tidak pernah melakukan plank. Hahaha…

Banyak jalan menuju Lhokseumawe. Dari Tapaktuan tentunya. Pertama, via Meulaboh ke Banda Aceh lalu ke Lhoksuemawe. Jaraknya 714 km. Jalannya lebar dan mulus. Kedua, via Meulaboh melalui jalur tengah Aceh lewat Tutut, Tangse, dan Tanjong. Jaraknya 540 km. Jalanannya kecil, menaiki gunung, menyusuri lembah, dan menyeberangi hutan. Jalan kedua ini tidak direkomendasikan.

Ketiga, via Subulussalam lalu ambil ke kiri dari Sidikalang, melalui Kutacane, Blangkejeren, Idi baru ke Lhokseumawe. Jaraknya 710 km. Waw, jauh juga, apalagi jalannya berkelok-kelok. Keempat, via Subulussalam, Binjai, Stabat, dan Langsa. Jaraknya 682 km. Menarik juga. Tapi pada akhirnya kami bertiga (Saya, Mas Djono, dan Mas Sigit) lebih memilih jalan pertama. Kami akan menginap semalam di Banda Aceh.

Perjalanan kami dimulai Ahad pagi dengan menggunakan double cabin plat merah. Sekali lagi, seperti yang sudah pernah saya katakan, tidak ada angkutan umu di siang dari Tapaktuan menuju Banda Aceh atau pun ke Medan. Transportasi angkutan penumpang semua bergerak pada malam hari. Ini susahnya.

Kami mampir di Meulaboh untuk makan siang dan berhenti di spot-spot indah pantai barat Aceh. Berfoto-foto sebentar lalu melanjutkan perjalanan lagi. Sampai di Banda Aceh malam hari. Besoknya kami akan berangkat menuju Lhokseumawe. Masih ada 274 km lagi. Kelakon juga makan cane kampung kesukaan saya di Canai Mamak. Amboi…

Singkat cerita, keesokan harinya setelah jalan-jalan pagi dan sarapan di Blang Padang ada niat mendadak tercetus dari kami untuk mengunjungi Museum Tsunami Aceh. Kebetulan dekat dengan Blang Padang jadi sekalian saja kami ke sana.

Akhirnya bisa masuk juga ke museum yang mulai dibangun sejak tahun 2007 dan dibuka untuk umum tahun 2009 ini. Gratis. Buka mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.30. Hari libur nasional malah tutup. Sayang sekali museum ini tidak diberi besi penghalang yang berputar sebagai penghitung jumlah wisatawan yang masuk sebagaimana adanya di pintu masuk tempat-tempat wisata lainnya.

Jadi Museum Tsunami Aceh ini untuk mengenang peristiwa tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 silam. Peristiwa dahsyat yang menelan korban jiwa sebanyak lebih dari 200.000 nyawa manusia. Apalagi dengan kehancuran infrastruktur, kepedihan, dan trauma yang berkepanjangan. Namun hikmah terbesarnya adalah perdamaian dan pembangunan setelah itu. Membungkus konflik sesama anak bangsa yang selama ini terjadi dan menguburnya dalam-dalam untuk dilupakan dan diambil pelajarannya.

Persis di depan pintu masuk museum ada rongsokan helikopter polisi yang membantu evakuasi tsunami pada saat itu. Ini salah satu spot yang banyak digunakan oleh pengunjung museum untuk berfoto-foto.

Kami memasuki sebuah gang sempit dan gelap yang di dalamnya ada jembatan dengan dinding-dinding yang dialiri oleh air dari atas. Suara gemericiknya membahana seakan-akan kami sedang dalam sebuah pusaran tsunami. Inilah kami yang sedang berada di Space of Fear (Lorong Tsunami).

Jembatan itu menghubungkan kami ke ruangan yang bernama Ruang Kenangan (Space of Memory). Ada 26 layar monitor di sana yang ditanam dalam tiang-tiang setinggi pinggang. Slide demi slide tentang bencana tsunami ditampilkan dalam layar monitor itu. Layarnya masih tampilan kuno, belumlah layar sentuh.

Dari sana kami beranjak ke Sumur doa (Space of Sorrow). Adalah sebuah ruangan berbentuk cerobong asap besar yang di atasnya ada kaca bercahaya bertuliskan asma Allah. Suara murottal Hani Arrifai berkumandang di ruangan ini. Dinding-dindingnya penuh dengan nama-nama korban tsunami. Menggidikkan.

Kemudian kami naik memutari ruangan cerobong itu melalui jalan berkelok yang disebut Space of Confuse. Setelahnya baru kita menjumpai jembatan terang benderang penuh cahaya matahari yang di bawahnya ada kolam berair dan di atasnya atap kaca dengan bendera-bendera negara donor yang membantu rehabilitasi Aceh bertuliskan kata “damai” dalam berbagai bahasa.

Museum ini sangat artistik, dirancang oleh pemenang sayembara desain museum yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh Nias yaitu tim Ridwan Kamil, walikota Bandung saat ini.

Dua jembatan yang kami lewati barusan itu sangat filosofis dan simbolik. Jembatan gelap dan jembatan penuh cahaya. Musibah itu adalah kegelapan. Pembangunan, harapan, dan kebahagiaan datang setelah musibah. Disimbolkan dengan jembatan penuh cahaya yang menembus dari atap museum yang transparan. Inilah yang disebut Space of Hope.

Di ujung jembatan kami memasuki ruangan pemutaran film dokumenter berdurasi pendek tentang kejadian tsunami. Mengharukan sih melihat tayangan itu. Mengenang saat-saat ketika nurani sebangsa tersentuh dan dari seluruh penjuru tanah air datang dan berduyun-duyun membantu korban-korban bencana itu.

Kemudian kami memasuki ruangan dokumentasi foto-foto tsunami, lalu ke bagian diorama. Ada juga ruangan yang memberikan edukasi tentang bencana tsunami, geologi, pembentukan bebatuan di bumi, penyebab gempa bumi, dan lain sebagainya. Ada alat-alat yang bisa disentuh sebagai pembelajaran namun sebagian besar sudah pada rusak. Semua ini berada di lantai dua museum. Lantai tiga ditutup.

Museum yang bangunannya berbentuk seperti perahu ini didesain memutar sehingga pengunjung bisa melihat seluruh isi museum tanpa harus bolak-balik. Ujung dari akhir pejalanan kami menyusuri museum ini adalah ruangan di depan bioskop kecil tempat pemutaran film dokumenter itu.

Kami keluar dan sempat mengabadikan diri di plang nama Museum Tsunami Aceh berukuran besar yang berwarna biru. Usai sudah. Tempat yang menarik dan tak lengkap memang kalau kita singgah di Banda Aceh namun tak mengunjungi zona perenungan akan bala masa lalu ini.

Kami pergi meninggalkan museum menjelang duha yang akan berakhir. Setelah itu akan menjemput takdir. Takdir yang lain. Menuju Lhokseumawe. Kami. Bertiga.


Di sebuah pantai dekat Meulaboh. Lagulu…lagaklu…


Museum Aceh dilihat dari kejauhan. Seperti perahu. (Foto pribadi).


In Space of Confuse.


Mas Suardjono, saya, dan Mas Sigit Indarupa. Thanks buat “yang tak bisa disebut namanya” karena telah memfoto kami.


Di depan Museum Tsunami Aceh dengan jagung manis di sebuah cup.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

3 Maret 2016

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s