Di Tanakita, Semua Bercerita



Negeri di atas awan.

    Sebuah anugerah bisa mengunjungi tempat istimewa seperti Tanakita ini. Terletak di ketinggian 1100 di atas permukaan laut kamp ini berada. Di lereng Gunung Gede Pangrango, di dalam kompleks wana wisata Situ Gunung, Sukabumi.

    Selama tiga hari saya mendapat kesempatan menikmati keindahan alam terbuka. Diundang oleh Tim E-magazine DJP dalam sebuah acara workshop yang dikemas paling berbeda daripada acara yang biasa diselenggarakan oleh instansi saya selama ini.

    Begini ceritanya.

Macet Parah

    Hari pertama (10/2), kami berkumpul di Kantor Pusat DJP untuk berangkat secara berombongan ke Tanakita Camp. Kami berangkat jam 7.30 pagi dengan menggunakan bus burung biru. Perjalanan diperkirakan membutuhkan waktu empat sampai lima jam. Maklum jalur Ciawi-Sukabumi itu macetnya tidak kira-kira.

    Bisa dimulai dari Ciawi, Pertigaan Cikereteg, Pasar Caringin, Pasar Cicurug, Pasar Parungkuda, Pasar Cibadak, dan Cisaat. Jalur Ciawi sampai dengan Pasar Caringin saya lewatkan dengan tidur di bus. Saya sering melewati jalur ini untuk menuju Pesantren Alkahfi, dekat Lido, tempat dua anak saya sekolah.

    Di Pasar Cicurug saya terbangun. Bus sedang berhenti disebabkan kemacetan parah. Pasar Cicurug ini terkenal dengan nerakanya kemacetan di jalur Ciawi-Sukabumi ini. Parah dan benar-benar parah. Sambil sesekali melihat film yang diputar di dalam bus, saya berusaha menikmati perjalanan ini. Satu sebab, saya jarang pergi melewati jalanan setelah Pasar Cicurug ke arah Sukabumi.

    Selepas Pasar Cicurug dan Pasar Cibadak, jalanan mulai normal dari kemacetan. Di Pertigaan Cisaat, barulah bus keluar dari jalan utama dan mulai naik menuju lereng Gunung Gede-Pangrango. Jalanannya kecil tapi bus berukuran sedang ini begitu lincah melewati angkot dan kepadatan jalan. Hingga akhirnya kami sampai di pintu gerbang Wana Wisata Situ Gunung. Kami tetap tidak turun, bus kami masuk menuju Tanakita Camp yang berada di sebelah barat.

Habis-habisan di Hari Pertama

Tanakita Camp ini ada dua lokasi. DI sebelah timur dan barat. Workshop kami diadakan di kamp sebelah barat, sedangkan nanti ketika kami menginap kami pindah ke kamp sebelah timur.

Kami masuk ke halaman luas dengan rumput yang dipotong pendek sekali. Di atas halaman terdapat banyak tenda berwarna kuning dan sebuah bangunan kayu besar. Di sanalah kami berkumpul. Di halaman depan bangunan kayu terdapat atap terpal berwarna putih yang menaungi tempat makan.

Di sana, kami berada di ketinggian. Sudah pasti kami dapat melihat keindahan gunung dan pemandangan pedesaan di bawah.

Kami disambut dengan welcome drink khas Sunda. Wedang bandrek panas yang dicampur dengan daging kelapa muda. Wuih enak dan sedapnya. Saya suka sekali. Berulang kali saya penuhi gelas dengannya. Ini minuman berenergi buat saya. Manisnya gula merah menjadi asupan gizi terbaik buat saya.

Kami datang dan bersantai sejenak sambil menikmati wedang bandrek itu.

Setelah makan siang kami berkumpul di bagian bawah bangunan yang ternyata merupakan ruangan rapat lengkap dengan audio visual system-nya. Tak menyangka di ketinggian ini ada ruangan seperti ini. Sampai waktu Magrib kami mendengarkan ceramah dua narasumber dari CNN Indonesia.com dan Usee TV.

Pak Agust Supriadi yang merupakan redaktur CNN Indonesia.com ini memberi materi tentang 9 Prinsip Jurnalistik Bill Kovac dan 10 Tips Wawancara. Sedangkan Pak Bambang Elfiantono dari USee TV memberi materi yang berjudul How To Win The Reader. Menarik dan bermanfaat sekali.

Lalu kami beranjak ke atas kembali, ke bangunan kayu lagi, untuk makan malam sambil merasakan kehangatan api unggun. Udara pada waktu itu sudah mulai dingin tentunya, kabut pun turun. Memakai jaket menjadi sebuah keharusan. Dan malam itu kami tuntaskan untuk membahas penerbitan e-Magazine di tahun 2016.

Jam 23.00 kami pindah ke Kamp Timur yang jaraknya lebih dari 500 meter dari tempat kami. Antara Kamp Timur dan Barat dipisahkan oleh sebuah lembah. Saat moving, kami menaiki jip tua tanpa penerangan lampu dan sempat mogok karena kehabisan bensin.


Indah bukan?


Di suatu ketinggian.


Mendengar dengan serius tutorial dari Pak Bambang Elfiantono.


Menjelang magrib masih serius.


Makan malam di hari pertama.

Tenda Ciamik

Di Kamp Timur ada dua lokasi utama. Satu lahan luas yang berdiri di atasnya banyak tenda. Satunya lagi bangunan utama. Kami menuju tenda masing-masing yang telah dibagi oleh tim dari Tanakita.

Saya mendapatkan tenda E bersama Pak Eko Novianto. Tendanya berwarna kuning. Dibangun berjejer membentuk huruf U di lahan luas ini. Tendanya unik menurut saya—atau karena saya baru pertama kali tahu ada tenda seperti ini.

Tenda berbentuk dome itu berdiameter kurang lebih tiga meter. Mempunyai dua pintu. Pintu pertama yang terdiri dari dua lembar kain beritsleting. Kain paling luar tanpa pori-pori, ini berguna untuk menghalangi angina dingin masuk. Dan kain bagian dalamnya berpori-pori.

Di balik pintu pertama ini ada selasar, sehingga kita bisa memasukkan sandal dan sepatu ke dalamnya. Di dalamnya ada lampu neon dan colokan listrik. Operator Tanakita Camp ini tahu saja kebutuhan orang zaman sekarang. Colokan listrik buat ngecharge hp tentunya.

Barulah setelah selasar itu terdapat pintu tenda kain berpori-pori lagi. Di balik pintu itu ada tiga kasur empuk berjejer dengan sprei berwarna putih dan sleeping bag. Tentunya tenda itu menjadi tempat terbaik buat melepaskan kepenatan setelah seharian beraktivitas.

tenda

Bagian dalam tenda.


Di sini kami bermalam.


Tempat biasa kami berkumpul.

Bertubing Ria

Saya bangun di waktu Subuh dan salat berjamaah dengan Ustad Eko Novianto. Waktu itu gerimis dan masih gelap. Acara di hari kedua masih lama dimulai. Saya sempatkan untuk lari pagi sejauh 10 kilometer. Lumayan menguras tenaga. Sebelum jam tujuh pagi saya sudah sampai kembali di kamp.

    Di bangunan utama kami sarapan bersama. Bubur kacang hijau menjadi salah satu menunya. Ini kesukaan saya. Bangunan utama ini berada di ketinggian, kami dapat melihat pemandangan pedesaan dan kejauhan nan indah, nan menakjubkan. Sepi dan menenteramkan. Hawa pagi yang dihirup sangat menyegarkan. Benar-benar luar biasa suasana paginya.

    Jam 9 pagi acara hari kedua dimulai. Suasananya cerah sekali. Saya mengira acara di pagi hari itu—sebagaimana informasi dari panitia—adalah arung jeram (rafting), ternyata bukan. Kami akan tubing bersama-sama. Terus terang saja istilah tubing itu baru pertama kali saya dengar. Tubing itu sebuah permainan mengarungi sungai yang berarus deras dan berbatu-batu dengan menggunakan ban. Betul, hanya ban. Kalau begitu sih, waktu kecil saya juga sering pakai kalau sedang berenang di kali.

    Bedanya adalah ban tubing ini ada dua. Ban dalam berukuran besar yang cukup untuk dinaiki oleh satu orang berbadan besar dan di tengahnya ada ban dalam berukuran kecil. Ban kecil ini ternyata berfungsi vital sekali. Gunanya untuk melindungi pantat kita dari benturan dengan bebatuan sungai.

    Sebelum berangkat, kami diberi arahan oleh instrukturnya. Pada saat tubing, kepala mendongak merapat ke dada, kaki juga dirapatkan, tangan bersilang di depan dada. “Intinya, jangan lawan arus, ikuti saja arusnya,” kata sang instruktur. Lalu kami memakai alat-alat keselamatan seperti helm, live fest, sarung tangan kain, deker buat melindungi tangan dan kaki.

    Kami harus berjalan sekitar 750 meter dari kamp menuju tepian sungai. Di sana ada tumpukan ban yang akan kami pakai. Dan ternyata Rescue Team sudah menunggu. Terdiri dari 10 orang penduduk lokal berpakaian lengkap seperti yang kami pakai. Merekalah nanti yang menjaga kami di titik-titik sungai yang menurut mereka cukup sulit dilalui ban.

    Sungai kecil ini airnya dingin sekali. Penuh batu-batu besar. Suara air yang melewati celah-celah sempit bebatuan itu begitu keras dan menggetarkan. Dan tibalah saatnya acara seru itu dimulai. Rada takut-takut juga sih. Tapi berusaha memberanikan diri, dan berhasil terjun dengan seru, bertubing ria.


Asyik aja foto-foto.


Meidiawan, Irwan, Ratih, Uda Dendi Amrin.

Ada Yang Wow di Akhirnya

    Kami akan melalui derasnya air sungai ini sepanjang 1,5 km. Dan tentunya kami harus bersiap-siap dengan benturan-benturan yang terjadi. Rescue team sudah berjaga-jaga dan membantu kami melewati bebatuan sempit dan sulit.

Kadang kami harus terjungkal dan ban pun lepas dari tubuh. Betul kata instruktur, cukup ikuti saja arusnya, dan tak perlu melawan. Ban akan melindungi bagian tubuh kita. Banlah yang pertama kali akan berbenturan dengan batu. Bukan tangan kita. Seringkali karena khawatir batu itu akan menghantam muka kita sehingga tangan kita malah lepas dari dada dan digunakan untuk menangkis dan menghindari batu. Hal ini malah bikin tangan jadi sakit.

Di suatu titik sungai yang berarus tenang kami berhenti. Di pinggiran sungai ada kru Tanakita yang membawa teh hangat. Saya pikir sudah selesai ternyata belum. Ini baru separuh perjalanan. Wak waw… saya merasakan sekali capeknya. Dan sudah merasa kedinginan. Menggigil.

Tapi ayolah kita selesaikan saja. Freeletics sudah cukup memberikan pelajaran hidup yang berharga buat saya. Tak boleh menyerah, kerjakan saja, dan tuntaskan. Kami lanjut lagi. Betapa menyenangkan bermain air dan seru-seruan seperti ini. Sepanjang menempuh separuh perjalanan lagi itu saya berpikir kapan finisnya. Ayo, ayo selesai. Akhirnya finis juga setelah kepala ini sempat terbentur dinding batu, syukurnya helm ini sempurna melindungi kepala saya.

garis finis.jpg

Garis Finis.

Tepian sungai di garis finis ini landai dan luas. Di sana berdiri tegak bangunan kecil. Kami tak memasuki bangunan itu, kami malah berkumpul di tepian sungainya, bermandikan cahaya matahari, di alam terbuka.

Di sana ada meja yang di atasnya sudah tersedia air panas, teh, kopi, pisang goreng, dan ya Allah ini kesukaan saya: KETAN BAKAR. Wow…Nikmaat bangeet ketan bakar ini dimakan dengan serundeng kelapa dan bumbu oncomnya. Akhirnya ketemu juga dengan makanan khas Sunda ini. Di Tapaktuan enggak ada. Capek tapi puas. Entah berapa banyak ketan yang sudah masuk ke dalam perut, yang pasti ini pengganti nasi yang luar biasa.

Setelah melepas seluruh perlengkapan , kami pulang kembali ke kamp. Kami naik angkot yang sudah disediakan panitia. Jauh soalnya. Apalagi jalannya menanjak. Angkot melewati rute lari saya tadi pagi. Sampai di kamp, sudah tersedia makan siang.

Outbond dan “Rakiting”

Jam dua siang kami bergerak kembali. Kali ini outbond. Kami turun ke bawah. Ke lembah yang menuju kamp barat. Di sana sudah tersedia tim outbond dari Tanakita. Untuk yang ini tentunya kita sudah tahu semua permainannya. Bikin yel-yel, estafet bola bekel, lalu crawler (roda tank). Seru dan lucu sih.

Nah yang menariknya adalah acara setelahnya. Saya kira Flying Fox, kalau benar permainan itu saya tak ikut ah. Hahaha… ternyata bukan. Kini saatnya bikin rakit. Di mana? Di Situ Gunung tentunya. Kami harus bergerak ke telaga yang berada di lereng gunung ini, 700 meter jaraknya dari lembah tempat kami bermain outbond.

Suasana situ sepi. Tidak banyak pengunjung selain kami, bahkan bisa dihitung dengan jari. Ada beberapa warung kecil yang menjual minuman dan makanan. Di pinggir situ sudah ada tenda terpal warna jingga tempat tim Tanakita sudah berada. Hebatnya sudah tersedia makanan ringan buat kami, teh panas, kopi panas, combro, klepon, dan nagasari.

Persis 20 tahun yang lampau saya pernah mengunjungi tempat ini. Waktu masih kuliah di STAN. Ketika ada acara daurah yang diselenggarakan oleh rohis kampus. Sepertinya sudah beda. Sekarang tidak ada lagi dermaga kayu yang menjorok ke tengah telaga.

Kami dibagi tiga kelompok. Setiap kelompok diberi enam ban dalam besar dan bambu sebanyak 10 batang. Di sana kami ditantang untuk membuat rakit dalam waktu yang singkat lalu menaiki rakit tersebut untuk mengambil bendera yang berada di tengah telaga.

Setiap kelompok dibimbing oleh satu panitia. Dari sana saya jadi tahu cara membuat simpul dan mengikat ban dan bambu menjadi rakit. Tim kami yang pertama menyelesaikan rakit. Kami memakai live fest dan sarung tangan. Lalu diajarkan cara memegang dayung yang benar, mengayuh dayung, dan memandu rakit.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore ketika kami menyelesaikan acara “rakiting” ini. Tim kami urutan buncit dalam perlombaan mengambil bendera. Tim kami masih perlu banyak belajar untuk menyelaraskan cara mendayung. Tak apalah.

Kami segera kembali ke kamp dengan berjalan kaki. Apalagi halimun pekat sudah mulai turun. Gerimis pun tiba. Kamp kami sudah diselimuti kabut tebal. Benar-benar tebal. Saya hirup pelan-pelan hawa kabut ini. Segarnya memenuhi rongga dada.


Sebelum outbond kami berfoto bersama.


Outbond, deuu yang di depan serius amat yak…


Gagal maning-gagal maning.


Situ Gunung, tempat kami membuat rakit.

Rakiting.jpg

Siap-siap berlomba.


Lagi, Situ Gunung.

berkabut.jpg

Tenda yang berkabut pekat.

Malam-Malam Larut

Setelah berganti pakaian dan salat magrib kami berkumpul di bangunan utama. Di sana telah tersedia makan malam dan tim akustik yang menemani kami dengan lagu-lagunya. Di bawah tenda terpal besar terdapat bangku-bangku panjang, kami duduk melingkar. Di tengahnya ada api unggun. Kami mengobrol bahkan ada yang bernyanyi bersama. Herannya tim akustik bergeming saat kami teriak-teriak meminta lagu ciptaan Ismail Marzuki yang melegenda ini dimainkan: Aryati. Entah kenapa. Jadul?

tempat kita berkumpul.jpg

Kami melingkar di sini.

Malam semakin larut, bukannya berhenti, hidangan terus bertambah. Ada jagung bakar, sosis bakar, cumi bakar, ikan bakar, ayam bakar, wedang bandrek, dan lain sebagainya. It’s enough for me. Terlalu banyak kalori yang masuk nih. Btw, Tanakita panitianya hebat. Dia mampu menyentuh hati kliennya dengan tempatnya yang cozy, acara yang bagus, dan kulinernya yang tradisional khas Sunda, sederhana tapi mantap. Ini yang saya suka.

Pelan-pelan saya tinggalkan acara ketika jam telah menunjukkan pukul 22.30. Mata sudah mulai memberat. Tinggal satu acara lagi. Tinggal satu hari lagi. Besok pulang. Pelan-pelan saya merebahkan tubuh di tenda. Mulai merenda mimpi. Mimpi yang abadi. Lamat-lamat Cakra Khan menghilang dari telinga saya.

Semua cerita berakhir di sini.

Saya pulas.


Kami (Saya, Erin, Makhfal) STAN Pajak Angkatan 1997 dalam kehangatan.


Menjelang penutupan.


Iya, ini kami bersama.


Di Hari Ketiga, Menjelang Kepulangan. Epic…!!!

Special thanks to Kak Ani Winn, Uda Dendi Amrin, Mbak Ariyati Dianita, Mas Irwan Hermawan, Mas Arif Nur Rokhman, Mas Bima Pradana Putra dan semua kru Emagz DJP dan teman-teman yang belum disebutkan satu persatu di sini.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

23 Februari 2016

Foto-foto di atas merupakan koleksi teman eMagz DJP


Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s