Belajar Menjadi Manusia


Ratusan orang berkelimun di tempat ini. Mereka yang berasal dari Banda Aceh sampai Merauke. Mereka yang memberikan pelayanan kepada wajib pajak. Pelayanan yang menjadi wajah instansi pengumpul pundi-pundi negara, Direktorat Jenderal Pajak.

Baik buruknya DJP seringkali diukur saat mereka sebagai Kepala Seksi Pelayanan bersama skuatnya di Seksi Pelayanan Kantor Pelayanan Pajak dapat menyerahkan kepada wajib pajak sebuah paras dengan senyum bercahaya terpasang, perangai sopan tersajikan, dan persoalan hidup yang disembunyikan.

Baca Lebih Lanjut.

Standardisasi Pelayanan Pajak Se-Indonesia, Ditjen Pajak Konsolidasi di Bali


Beleid tentang standar pelayanan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) sudah diluncurkan di akhir 2016 lalu. Aturan itu berusaha menyeragamkan dalam pemberian pelayanan prima kepada wajib pajak di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dari Aceh sampai Papua. Pemahaman yang komprehensif tentang standar pelayanan dan pengimplementasiannya penting untuk diketahui oleh seluruh Kepala Seksi Pelayanan sebagai manajer yang mengawal pelayanan Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) di TPT.

“Terutama informasi dan pengetahuan terkini berkaitan dengan standardisasi pelayanan,” kata Ketua Panitia sekaligus Kepala Subdirektorat Pelayanan Perpajakan, Direktorat Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat, Ditjen Pajak Anita Widiati dalam Acara Bimbingan Teknis Standardisasi Pelayanan pada Tempat Pelayanan Terpadu I Tahun 2017, di Kuta, Badung, Bali, (Senin, 15/5).

Baca Lebih Lanjut.

Bertekad Sempurnakan Pelayanan, Ditjen Pajak Siapkan Tantangan Baru


Di 2016, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) mendapatkan penghargaan Service Quality Award sebagai The Most Prestigious Service Quality Gold Award 2016 untuk kategori perusahaan penyedia layanan umum (Public Service Industries) yang mengungguli PT Kereta Api Indonesia, Kantor Pelayanan PLN, dan Kantor Samsat.

“Saya memberi tantangan di 2017 ini adalah bisa tidak Ditjen Pajak memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya menyamai bahkan mengungguli pelayanan yang diberikan perbankan atau perusahaan motor itu?” tantang Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama saat membuka Acara Bimbingan Teknis Standardisasi Pelayanan pada Tempat Pelayanan Terpadu I Tahun 2017, di Kuta, Badung, Bali, (Senin, 15/5).

Baca Lebih Lanjut.

Siapa Pacermu?


Eliud Khipcoge, berjaket biru, dikelilingi para pacer elit dunia.

MENGGAPAI ASA***Beberapa hari yang lalu ada proyek yang dirintis oleh Nike, sebuah perusahaan sepatu terkenal di dunia. Mereka punya proyek bagaimana dengan dukungan teknologi sepatu mereka, manusia bisa berlari maraton dengan catatan waktu di bawah dua jam. Ini proyek ambisius.

Perlu diketahui menurut catatan resmi rekor dunia lari 42,195 kilometer  versi Asosiasi Atletik International  (IAAF) yakni 2 jam 2 menit dan 57 detik yang dicatat oleh pelari Kenya Dennis Kimetto di Berlin Marathon 2014.

Baca Lebih Lanjut.

Ingin Beri Masukan untuk Reformasi Perpajakan? Ini Caranya


Roda Reformasi Perpajakan sedang bergerak. Masih panjang jalan yang ditempuh untuk menggapai adicita: menjadikan Direktorat Jenderal Pajak sebagai institusi perpajakan yang kuat, kredibel, dan akuntabel.

Rencana-rencana telah ditetapkan. Penyesuaian-penyesuaian diterima sebagai perbaikan dan pengokohan ikhtiar. Lebih asasi lagi adalah pelibatan semua pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam mendukung jalannya Reformasi Perpajakan. Ini ihwal yang mutlak.

Baca Lebih Lanjut.

Ditjen Pajak: Rasio Kepatuhan Rendah, Sense of Crisis Harus Dibangun


Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) menginginkan seluruh pegawainya memiliki “sense of crisis” terhadap kondisi organisasi terkait masih rendahnya rasio kepatuhan yang tidak mencapai 70% dari jumlah wajib pajak yang wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT).

“Kesadaran itu harus dibangun sekarang melalui Reformasi Perpajakan,” kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Hestu Yoga Saksama dalam acara Konsinyering Tim Teknis Komunikasi dan Manajemen Perubahan Reformasi Perpajakan di Hotel Aryaduta, Lippo Village, Tangerang (Senin, 8/5).

Baca Lebih Lanjut.

Awan Nurmawan Nuh: Masih Ada Persoalan Mendasar di Ditjen Pajak


Di tengah aktivitas ekonomi global yang semakin pesat, kapasitas Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) semakin hari semakin menurun. Hal ini ditandai dengan kepatuhan wajib pajak yang masih rendah. Dari 16 juta wajib pajak yang wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), hanya 11 juta yang melaporkan SPT.

“Ini persoalan mendasar di Ditjen Pajak. Di sinilah perlunya Reformasi Perpajakan,” kata Staf Ahli Menteri Keuangan bidang Peraturan dan Penegakan Hukum Pajak Awan Nurmawan Nuh dalam acara Konsinyering Tim Teknis Komunikasi dan Manajemen Perubahan Reformasi Perpajakan di Hotel Aryaduta, Lippo Village, Tangerang (Senin, 8/5).

Baca Lebih Lanjut.

Soal Kunci Sukses Reformasi Perpajakan, Ini Kata Ditjen Pajak


Reformasi Perpajakan berbicara tentang perubahan di Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) sebagai tulang punggung republik ini dalam mengumpulkan penerimaan negara. “Semua yang hadir dalam acara ini menjadi agen komunikasi yang berbicara perubahan itu kepada pihak internal dan eksternal Ditjen Pajak,” kata Kepala Subdirektorat Hubungan Masyarakat Perpajakan Ditjen Pajak Ani Natalia dalam acara Konsinyering Tim Teknis Komunikasi dan Manajemen Perubahan Reformasi Perpajakan di Hotel Aryaduta, Lippo Village, Tangerang (Senin, 5/8).

Konsinyering yang direncanakan berlangsung selama tiga hari ini dihadiri oleh peserta dari seluruh Indonesia yang terdiri dari Kepala Seksi Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Kantor Wilayah Ditjen Pajak, tim kreatif, dan tim pengajar. Menurut Ani, mereka dikumpulkan untuk merumuskan materi dan strategi komunikasi kepada para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal Ditjen Pajak.

Baca Lebih Lanjut.

Klise


Kupetik bintang, untuk kau simpan.  Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan.

Lirik lagu ini klise, tapi ada yang sebaliknya, yang nyata, yang bintang itu tak sekadar hanya bisa diteropong dan dilihat dari kejauhan, namun bisa kita sentuh dan berikan.

Pagi tadi saya memesan ojek daring. Ternyata yang datang adalah seorang pemuda. Anak tetangga di RT sebelah rumah.

Baca Lebih Lanjut.

Puisi yang Pralaya Setelah Kau Sajakkan


Nak, malam ini kita sama-sama merayakan kata-kata. Kau serupa Isa yang membangkitkan  puisi yang pralaya sampai ia bisa menari di lidah-lidahmu, lalu terjun ke dinding-dinding, dan meleleh di sudut-sudut bulan yang sabit. Dan melihat itu, kucing kuning kita berjingkrakan dengan meong yang tak henti-henti. Tabik, serunya.

Nak, lalu kau ingat, pemilik puisi yang kau hidupkan itu tiba-tiba datang menjenguk. Mencari puisinya yang hilang dan tak jelas rimbanya. Ia minta puisi itu kembali ke haribaannya. Tapi kau menolak, karena puisi itu sudah jadi bonekamu , yang kau timang-timang , kau ajak bicara, kau ganti bajunya, kau sisir rambutnya, walau sehelai dua helai kata-kata rontok tak ketulungan.

Nak, penyair itu pulang dengan kesedihan. Tanpa membawa puisinya yang bergelandangan, menjauh darinya, dan hilang. Padahal dari mulutnya yang durga itu dia bisa saja tumbuhkan benih-benih puisi yang lain. Lalu mendewasakan dan membuntingi mereka satu persatu. Dan lagi-lagi seperti biasa, kegilaan penyair menjadi sebab kehancuran hati para puisi. Lara tak terperikan. Pantas saja mereka minggat dan bunuh diri. 

Nak, kau bersama puisi itu malah tertawa kesenangan melihat penyair itu sengsara. Entah apa yang kau pikirkan sehingga kau gandrung bersamanya. Ayuklah, kita makan bakso malam ini, ajakmu. Puisi lahap memakan ribuan bakso hingga membuat buncit kata-kata sampai berbual-bual. Keringatnya menetes hampir-hampir menghapus sebagian huruf-hurufnya. Malam itu malam yang merunduk kelelahan. 

Nak, saat kau tidur. Puisi di sampingmu masih begadang. Aku masih terjaga. Dia melihatku. Aku memandangnya. Tak berkedip. Saling menatap. Di antara kami dibatasi uap kopi panas yang tadi aku buat sendiri. Sepertinya uap rela dirinya jadi wasit adu kedigdayaan ini. Kami masih saling selidik. Membaca simbol-simbol. Membaca absurditas. Membaca yang tak terdefinisikan. Membaca yang tak bisa ditulis dengan ribuan kata-kata. Sampai suatu ketika dering telepon genggam berbunyi mengganggu sepi yang binal.  Aku angkat telepon itu dan ada suara di seberang sana: aku mati, katanya.

Nak, seketika itu juga puisi di sampingmu yang sedang lahap memamah mimpi-mimpimu, mimpi-mimpiku,  terjun kata-katanya, huruf-hurufnya, ke dinding. Tak hanya dia. Rambut kataku, hidung kataku, tangan kataku, kaki kataku, semua kata-kataku, huruf-hurufku terjun ke dinding. Sama-sama meleleh di sudut-sudut bulan yang sabit. Kali ini kucing kuning kita diam disambar sunyi. 

Nak, dengkurmu saja seperti puisi. 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Semarang Lelayu, 30 April 2017