Klise


Kupetik bintang, untuk kau simpan.  Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan.

Lirik lagu ini klise, tapi ada yang sebaliknya, yang nyata, yang bintang itu tak sekadar hanya bisa diteropong dan dilihat dari kejauhan, namun bisa kita sentuh dan berikan.

Pagi tadi saya memesan ojek daring. Ternyata yang datang adalah seorang pemuda. Anak tetangga di RT sebelah rumah.

Pantas saja dalam pesan di aplikasi dia bilang begini, “Saya ambil sepeda motornya dulu ya, Pak Reza.” Pakai “e”, bukan pakai “i”. Padahal nama saya dalam aplikasi itu tentu pakai “i”.

Berarti dia memang kenal betul dengan saya. Yang memanggil saya dengan “e” itu kebanyakan tetangga-tetangga saya. Di peta aplikasi itu pun, gambar orang yang sedang naik sepeda motor itu tak jauh-jauh amat dari rumah saya.

Singkat cerita, berbincang-bincanglah kami di sepanjang perjalanan menuju Stasiun Citayam. Mulai dari kekagetannya mendapat orderan dari saya karena sepanjang pengetahuannya saya dikira masih di Aceh sampai bagaimana dia tetap bekerja sambil menjalani bisnis sampingan ojek daring ini.

Dia juga cerita kalau di hari Sabtu atau Minggu ia bisa dapat orderan sampai 29 kali. Suatu jumlah yang luar biasa. Katanya, mereka itu biasanya orang-orang Jakarta yang sedang liburan  yang menengok rumah mereka di Citayam yang tidak dihuni mereka. “Saya hanya sempat untuk istirahat di kala makan siang dan salat saja,” ujarnya.

“Ibu saya berpesan boleh ngojek asal makan dan salat jangan ditinggal,” katanya lagi. Mendengar itu pikiran saya langsung tercampakkan ke puluhan warsa yang lampau. Saat ibu saya selalu berpesan kepada saya ketika akan bepergian, “Jangan lupa salat. Perbanyak salawat.” Bagi saya, nasihat ibu pemuda dan ibu saya itu adalah sebuah nasihat yang intan. Sampai sekarang tak pernah mangkir dari pikiran.

Tak sampai lima belas menit kami sudah sampai di Stasiun Citayam. Saya ucapkan terima kasih kepada pemuda ulet nan saleh itu. Pintanya terakhir kepada saya adalah, “Pak, jangan lupa bintang limanya ya, Pak.”

Ya, di setiap akhir dari transaksi aplikasi ojek daring itu ada permintaan kepada kita untuk memberi “peringkat” mulai bintang satu sampai bintang lima. Bintang lima tentu yang paling teristimewa dan menentukan kredibilitas mereka sebagai pengojek daring.

 

Ah, kau pemuda. Masak sih, saya tak sudi menyentuhkan jari ini di kelir telepon genggam untuk memberikan bintang kepadamu? Sambil menuju peron stasiun, segera saya tuntaskan pemberian peringkat itu: bintang lima.

Ternyata, kawan. Sedekah itu tak mesti harus uang, loh. Banyak yang bisa kita berikan kepada sesama: senyum, berkata yang baik, menyingkirkan duri dari jalanan, dan termasuk dengan memberikan bintang lima kepada mereka yang berjasa mengantarkan kita ke tempat tujuan dengan selamat. Kalau saja yang sedikit itu kita tak mampu, apatah lagi yang besar?

Bintang itu kini tak jauh. Tak perlu teropong dan kedalaman hati. Hanya di ujung jari. Pula, menyentuh bintang kini tak sekadar klise. Ia nyata adanya. Dan ini membahagiakan. Buatnya dan buat kita. Mau bahagia?
***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Entah gerbong ke berapa

Malam Jumat, 04 Mei 2017

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s