Belajar Menjadi Manusia


Ratusan orang berkelimun di tempat ini. Mereka yang berasal dari Banda Aceh sampai Merauke. Mereka yang memberikan pelayanan kepada wajib pajak. Pelayanan yang menjadi wajah instansi pengumpul pundi-pundi negara, Direktorat Jenderal Pajak.

Baik buruknya DJP seringkali diukur saat mereka sebagai Kepala Seksi Pelayanan bersama skuatnya di Seksi Pelayanan Kantor Pelayanan Pajak dapat menyerahkan kepada wajib pajak sebuah paras dengan senyum bercahaya terpasang, perangai sopan tersajikan, dan persoalan hidup yang disembunyikan.

Sebagai manajer mereka harus mengatur bagaimana pekerjaan sehari-hari melayani wajib pajak dapat berjalan dengan laju—di tengah keterbatasan sarana dan prasarana yang ada. Pula, agar gunungan berkas wajib pajak dapat tertata dengan sebaik-baiknya. Depan terlayani, belakang tak tersepelekan.

Saya jadi teringat dengan sebuah perkataan bernas dari seorang manusia mulia, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat orang lain.”

Tempat Pelayanan Terpadu di bawah pengelolaan mereka benar-benar menjadi ladang ibadah tempat persemaian pahala dan keberkahan karena menjadi sendang munculnya solusi atas segala permasalahan. Muaranya adalah kemudahan buat wajib pajak. Bukan sebaliknya.

Jangan dilupa dengan senyum yang selalu tersungging di muka. Bukankah itu adalah sedekah? Ianya manifestasi dari kebesaran jiwa dan optimisme.  Sampai di sini kita teringat sebuah adagium negeri seberang berbunyi, “Manusia yang tak mengetahui bagaimana tersenyum sebaiknya tak membuka toko.” Selama republik ini berdiri mereka tetap akan membuka ‘toko’ itu dengan sebaik-baik pelayanan.

Namun, mereka dengan sebaik-baik pelayanan yang diberikan dan seramah-ramah wajah yang diekspresikan, seringkali masih tak bisa diterima wajib pajak. Bukan tutur terima kasih terlontar sebagai balasan, melainkan amarah dan serapah. Ujungnya terkadang intimidasi. Kalau sudah begini hanya sabar menjadi bekal yang sempurna.

Istimewanya, seringkali dalam percakapan mereka kepada teman sejawat, yang bisa dikatakan: “Cukuplah suka yang dicerita dan duka yang dipendam dalam-dalam.” Bagi mereka duka bukan sesuatu yang bisa dibagi kepada sembarang orang karena tak semua orang dapat merasakan kepedihan yang serupa. Juga karena lebih mudah bagi sebagian orang untuk larut dalam kebahagiaan yang sama.

Maka sebelas huruf dalam terima kasih yang diucapkan wajib pajak serupa bahasa perdamaian. Itu saja menjadi hadiah paling hebat yang bisa diterima.

Kalaupun ada penghargaan dari dalam maka sebentuk apresiasi tertinggi kepada petugas garda depan sebuah institusi yang melayani publik adalah menjadi manusia atau dimanusiakan. Untuk menjadi manusia, ia harus memanusiakan liyan terlebih dulu karena hidup tak melulu tentang diri sendiri. Demikian juga yang diberikan kepada wajib pajak, jargon layanan cepat, tepat, pasti atau senyum sepanjang hari namun tanpa ketulusan hati, sama saja dengan dusta tak terperi.

Ah, 1001 kisah mereka yang bukan malaikat ini tak dapat diceritakan semua dalam sebuah narasi singkat. Tapi yang utama ada keyakinan dalam batin bahwa Sang Pemilik Jagat ini tak pernah tidur mencatat semua kebaikan dan keikhlasan mereka berbuat yang terbaik untuk negeri.

Uluk salam buat mereka. Kami tak dapat melampaui karya dan elan mereka selama tiga hari ini yang dikumpulkan dalam sebuah acara Bimbingan Teknis Standardisasi Pelayanan pada Tempat Pelayanan Terpadu I Tahun 2017 di sudut pulau nan elok, Kuta, Bali. Maka di sana tak semata-mata membincang tentang layan, melainkan pula tentang hidang, saji, laku, ikhlas, suguh, bantu, baik, aksi, tenaga, sabar, kirim, riuh, dan batas.

Mohon maaf tak terkira jika pelayanan yang kami–semua panitia–berikan selama tiga hari itu belumlah separipurna pelayanan yang mereka serahkan kepada wajib pajak. Karena itu, izinkan kami berguru. Menjadi pembelajar untuk dapat menganugerahkan pelayanan sebaik-baiknya kepada mereka di persuaan raya berikutnya.

Matur suksma, selamat berjumpa.
***
Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Kuta, 16 Mei 2017

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Menjadi Manusia

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s