RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA


RIHLAH RIZA #32: PAHLAWAN ITU BUKAN SAYA

 

 

Suatu waktu kalau Anda berkunjung ke Tapaktuan datanglah sebentar di salah satu sudutnya. Ambillah barang satu atau dua gambar di sana. Itu sudah cukup dikatakan kalau Anda sudah benar-benar datang ke kota kecil ini. Ini sebuah dinding beton penahan longsor dari sebuah bukit. Di dinding itu bertuliskan ucapan selamat datang dan banyak mural sederhana yang menceritakan aktivitas penduduk Tapaktuan. Letaknya berada di ujung jalan masuk terminal atau berada di depan warung kopi terkenal: Terapung. Tempat para supir travel berisitirahat setelah usai perjalanan dari Medan atau pun Banda Aceh. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya mengangkangi sudutnya.

Suatu waktu setelah dari sana Anda juga perlu bergerak ke arah utara. Mengunjungi situs makam Tengku Syaich Tuan Tapa. Tuan yang menjadi legenda di kota ini. Tuan yang pernah bertempur dengan naga dan jejak kaki raksasanya tertancap di karang pinggiran samudera. Makamnya tidak seperti makam orang-orang biasa, bentuknya besar memanjang, dan cukup terawat. Anda bisa masuk ke dalam kompleks makam karena pintu pagarnya tak terkunci. Di sebelah kanan makam terdapat makam dengan ukuran biasa dari seorang penguasa Tapaktuan bernama Datuk Radja Amat Djintan yang wafat pada tahun 1928 M. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya terpekur memandangi rumah keabadian tempat dua manusia berkalang tanah.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi situs makam itu bergeserlah sedikit ke utara lagi. Ke sebuah rumah, tempat seorang Kapiten Belanda di tahun 1929 berfoto bersama dengan teman-temannya dan dua ekor anjing hitam. Mereka berfoto di halaman depan rumah. Rumah yang kini tak berpenghuni. Foto saat mereka mapan dan merasa berhak untuk berbuat apa saja kepada pribumi. Sedangkan di pelosok pedalaman, perlawanan itu tetaplah berlangsung sampai Jepang datang di tahun 1942. Di suatu waktu itu, di suatu pagi itu, saya menggigit dan memamah sejarah tanpa tandas karena saya sisakan sebagian untuk saya simpan di memori kepala.

Suatu waktu setelah Anda mengunjungi semuanya, beristirahatlah sebentar. Sejenak saja. Mendekatlah. Dan jangan menjauh. Duduk bersama saya di tepian pantai ini. Tempat biasa saya melabuhkan atau malah melarungkan rindu. Tempat kata-kata memungut satu per satu dirinya sendiri menjadi sajak dan gigil. Mungkin kita akan duduk di sini sampai matahari bulat di hadapan habis dilahap samudera. Tenang saja di sini, kita nikmati potongan senja, sambil memandang putih buih, mendengar gemuruh ombak, menghirup aroma asin laut, dan merasakan sepoi angin yang membelai wajah. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, saya ingin menceritakan kepada Anda sesuatu. Sudilah Anda mendengarnya.

Suatu ketika saya pulang ke Jakarta dari Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dengan menggunakan “singa terbang”, para penumpang harus transit di Bandara Kualanamu, Medan dan kami harus turun terlebih dahulu dari pesawat. Saat itu sudah jam setengah tujuh malam. Satu jam kemudian kami diminta masuk pesawat kembali. Di situlah kericuhan dimulai, ada dua orang penumpang dari Banda Aceh yang tidak mendapatkan tempat duduk. Tempat duduknya semula telah diisi penumpang dari Bandara Kualanamu. Sedangkan yang tersisa hanya satu kursi kosong dengan nomor yang berbeda.

Pramugari tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dapat dipastikan telah terjadi kesalahan dalam sistem booking mereka. Petugas “Singa Terbang” di bandara turun tangan dan meminta agar salah satu dari penumpang itu terbang dengan menggunakan pesawat lain yang—kata petugas itu—telah siap untuk terbang juga. Tapi sang penumpang tidak mau karena merasa berhak di pesawat ini. Sang penumpang tidak bisa disalahkan karena ia berangkat dari Banda Aceh. Katanya pun, kalau ia berangkat dari Bandara Kualanamu ia masih bisa memahami dan mau pindah pesawat. Tapi karena ia bayar untuk naik pesawat dengan jam dan nomor penerbangan dari Banda Aceh maka ia bersikeras berada di pesawat yang sama.

Perdebatan semakin memanas, ditambah para penumpang lain membela sang penumpang dari Banda Aceh. Sedangkan dua penumpang yang naik dari Bandara Kualanamu santai saja di tempat duduknya, merasa tidak ada masalah. Sampai-sampai kepala kru hendak melaporkannya kepada pilot karena kericuhan tanpa kejelasan akhir ini. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Saya pikir alangkah eloknya kalau petugas “Singa Terbang” menjanjikan akan memberikan kompensasi layak kepada sang penumpang ketika mau pindah pesawat. Tapi itu tidak pernah terlontar dari mulut petugas. Ujung-ujungnya perdebatan tetap berlangsung.

Di tengah suasana tidak nyaman ini, di antara wajah gelisah para penumpang yang mengharapkan pesawat segera terbang, berdirilah seorang pemuda bertubuh gempal. Tanpa basa-basi ia menawarkan diri kepada pramugari untuk menjadi volunteer. Ia bersedia pindah pesawat. Bergegas ia ambil tasnya dan langsung keluar pesawat. Usai sudah semuanya. Sang penumpang dari Banda Aceh bisa duduk. Penumpang lain ikut senang. Pesawat pun segera bisa terbang. Solusinya sederhana dan tak sulit. Mesti ada yang harus berkorban. Dan pengorbanan itu tidak ditunjukkan dari para empunya masalah. Tapi dari pemuda tidak dikenal. Pemuda yang akan terbang lebih malam dan tiba di Bandara Soekarno Hatta lebih lama dari kami semua. Sebuah solusi yang tidak pernah terlintas dalam benak saya. Di suatu waktu itu, di suatu saat itu, pemuda itu pahlawannya. Bukan saya.

Pahlawan itu adalah orang yang mengorbankan segala. Ia yang berani mewakafkan dirinya bermanfaat buat orang banyak. Di atas pengorbanan itu berdirilah prinsip yang teramat kokoh tak tergoyahkan apa pun. Prinsip tak akan tegak di atas dinar dan dirham yang hanya memuaskan perutnya saja. Maka pada malam itu sebatas kekaguman kepada sang pemuda yang hanya bisa dipersembahkan. Bukankah—mengutip Anis Matta—kekaguman adalah sebagian cara kita membalas utang budi kepada para pahlawan?

Suatu waktu usai sudah cerita ini terkisahkan kepada Anda. Malam telah jelang. Saatnya untuk pulang. Dan saya bukanlah pahlawan karena telah berjasa mengantarkan Anda berkeliling Tapaktuan. Bukan. Terlalu berlebihan soalnya. Cukuplah saya menjadi pahlawan buat kalian di Citayam yang senantiasa saya rindukan setiap malam-malam sepi di tanah seberang. Bukan untuk dikagumi, melainkan diteladani. Itu pun jika saya memilikinya, memiliki keteladanan itu. Di suatu waktu, di saat itu, semoga itu saya adanya.

 

 

Selamat Datang di Kota Naga (Foto koleksi pribadi).

 

Kompleks makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto Koleksi Pribadi)

Makam Tengku Syaich Tuan Tapa (Foto koleksi pribadi).

Makam Datuk Radja Amat Djintan (Foto koleksi pribadi).

Rumah Kapiten Hofstede Tapa Toean di tahun 1929 (Wikipedia) dan masa kini (Foto koleksi pribadi).

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan 22.59 03 Maret 2014

 

RIHLAH RIZA #31: SHAHRUKH DAN LIANG KUBUR


RIHLAH RIZA #31: SHAHRUKH DAN LIANG KUBUR

 

 

Shahrukh Mirza adalah anak keempat dari Timur Lenk, penakluk besar Asia. Selama 42 tahun kekuasaannya, Shahrukh berhasil mempertahankan dinasti Timurid dari perpecahan dan kebangkrutan. Di Herat, pusat pemerintahannya, ia mengumpulkan para cendekiawan untuk menjadikan kota itu sebagai corong peradaban Islam. Ia membangun perpustakaan besar untuk mendukung keilmuan. Kegiatan ilmiah dan perekonomian pun akhirnya berkembang pesat.

**

Kalau sudah hari Jumat, mess ini harus sudah siap-siap ditinggalkan penghuninya. Kebanyakan teman-teman satu mess pulang ke Medan atau Pekanbaru. Lengkap sudah sepi yang saya rasakan di Tapaktuan kalau kebetulan pas saya tidak pulang ke Citayam. Salah satu kegiatan yang biasa saya lakukan untuk membunuh sepi ini adalah dengan membaca buku. Tidak banyak buku yang saya bawa dari Citayam ke Tapaktuan ini. Namun internet memudahkan semuanya, ketika tidak ada lagi buku yang belum dibaca, mengunduh ebook menjadi jalan satu-satunya agar saya dapat terus membaca buku.


Sedikit buku itu (Foto koleksi pribadi).

 

Kebetulan membaca buku sudah menjadi tradisi keluarga kami. Profesi bapak saya yang mendukung tradisi itu. Salah satu profesi bapak adalah penjual majalah bekas, novel, dan teka-teki silang. Bapak beli majalah, buku, dan TTS itu di Pasar Senen, Jakarta. Otomatis sejak kami kecil kami sudah terbiasa membaca. Dari mulai majalah anak-anak, remaja, sampai ibu-ibu. Sampai sekarang saya masih ingat tentang sebuah cerita pendek yang biasa menjadi sisipan di majalah ibu-ibu. Saya lupa nama majalah itu, entah Femina, Kartini, atau Kartika atau yang lainnya. Garis besarnya demikian.

Ada seorang pemuda berkenalan dengan seorang perempuan di sebuah taman. Setiap hari mereka bertemu di sana. Sampai kemudian timbul benih-benih cinta di antara mereka berdua. Tapi tidak berapa lama perempuan itu menyatakan dengan sebenarnya kepada sang lelaki kalau hubungan ini harus diakhiri. Tidak bisa diteruskan. Cerita yang dituturkan dari pihak lelaki ini berakhir dengan sebuah kenyataan, sang lelaki harus menerima bahwa cinta yang mulai tumbuh ini kandas di tengah jalan karena perempuan itu sebenarnya adalah banci.

Tahun delapan puluhan masih belum ada majalah islami. Jadi jangan harap ketemu majalah Sabili dan Annida di lapak dagangan bapak. Dua majalah ini baru saya baca sewaktu kuliah di STAN bertahun-tahun kemudian. Pun, majalah Panji Masyarakat sebagai majalah islami yang penyebarannya paling luas saat itu tidak menjadi barang dagangan bapak, mungkin karena peminat dan pembelinya sedikit.

Membaca itu jendela dunia. Bisa tahu semua. Bisa tahu apa saja. Bukannya sombong, guru geografi di SMP sampai bosan melihat saya yang selalu pertama kali mengacungkan tangan setiap ada pertanyaan yang diajukannya. Kalau pak guru itu tahu, majalah intisari bekas inilah yang sebenarnya menjadi bacaan yang bergizi buat saya saat itu sehingga mampu menjawab pertanyaannya.

Bapak juga pembaca buku. Ada buku yang menjadi kitab wasiatnya. Selalu dibaca terus menerus walau sudah berulang kali khattam. Buku yang sudah lapuk dan menguning. Ditulis oleh Dale Carnegie yang berjudul Bagaimana Menghilangkan Cemas & Memulai Hidup Baru. Buku yang harus dijaga hati-hati oleh kami dan jangan bergeser dari tempatnya ditaruh kecuali oleh dirinya sendiri. Kalau tidak, seisi rumah akan dimarahinya. Sayang buku itu terbakar habis bersama kamar yang ditempati bapak waktu kejadian kebakaran rumah saya di tahun 2010 lalu.

Buku Carnegie ini menjaga pikiran bapak agar tetap positif. Saya menyetujuinya. Waktu kecil dulu saya sudah baca buku itu sampai habis. Puluhan tahun kemudian, di Tapaktuan ini, saya bawa dan baca buku yang ditulis oleh Dale Carnegie Associate. Sudah pernah saya sebutkan di tulisan saya sebelumnya. Buku sejenis lainnya adalah bukunya ‘Aidh bin Abdullah al-Qarni yang berjudul Don’t be Sad: Cara Hidup Positif Tanpa Pernah Sedih & Frustasi.

Mau tidak mau buku tersebut menjaga dan membawa nilai-nilai positif buat saya. Berusaha untuk tidak berburuk sangka, dendam, putus asa, benci, cemas, dan takut. Selalu bekerja dengan lebih baik dan berusaha sebarkan kebaikan karena saya yakin kebaikan itu akan datang kembali kepada saya dengan energi yang lebih besar lagi. Terpenting lagi adalah berusaha mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan begitu banyak kepada saya. Puas dengan apa yang diberikan Allah membuat kita menjadi orang yang terkaya di dunia. Inilah yang disebut saya, di Tapaktuan ini, di sebuah tempat yang jauh dari orang-orang yang saya cintai, sebagai upaya menjaga nalar tetap positif.

Tapi menurut saya tidak berhenti di situ, semata menjaga nalar positif, melainkan perlu juga menjaga amal tetap positif. Ketika waktu berlebih dan beban kerja tidak sedahsyat di Jakarta, sudah semestinya kalau amal-amal yang terkait dengan ruhiyah tetap juga pada kuadran positif. Maka bacaan yang sangat menunjang itu adalah Kitab Hadis Riyadhus Shalihin yang ditulis oleh Imam Nawawi. Kitab yang direkomendasikan para ulama untuk dapat dimiliki oleh setiap keluarga muslim. Membacanya pun perlu trik. Tak perlu sekaligus dibaca, melainkan baca satu hadis dalam sehari namun konsisten membacanya. Renungi lalu amalkan.

Ah, terlalu banyak cakap awak ini. Tapi memang inilah obat sepi saya dalam kesendirian. Benar, karena dalam kesendirian ada keinsafan dan kesadaran. Kesadaran tentang bahwa kita nanti pun akan sendiri. Sendiri dengan sebenar-benarnya sendiri. Siapa coba yang akan menemani kita kala dipendam dalam tanah nanti? Almutanabbi, pujangga Arab, pernah mengatakan, “Tempat duduk yang paling mulia di dunia ini adalah pelana kuda. Dan teman yang paling baik sepanjang zaman adalah buku.”

Tapi saat itu, bukan buku lagi sebagai teman melainkan amal. Yang baik atau yang buruk? Itu tergantung dari apa yang kita kumpulkan selama hidup. Amal baik itu menjelma menjadi sosok rupawan yang akan menemani kita di liang kubur sampai kiamat tiba. Tapi sebaliknya amal buruk itu menjelma menjadi sosok buruk rupa dan bau yang kita pun akan jijik didekatinya.

Sebuah syair Arab menyatakan, “Untuk medan pertempuran, prajurit-prajurit telah diciptakan baginya, dan bagi buku, penulis dan penyairlah tempatnya. Shahrukh sebagai penakluk bekerja di atas pelana kuda mengarungi medan pertempuran untuk dapat mempersatukan kembali wilayah yang pernah digenggam bapaknya. Al-Mutanabbi dan al-Hasan al-Lu’lu’i telah disediakan buat mereka buku sebagai temannya. Untuk liang kubur, saya atau kita telah disiapkan baginya. SOS, siapa teman sejati yang akan menemani kita? Amal baik atau amal buruk?

Karena dalam kesendirian ada keinsafan dan kesadaran.

 


Patung dada Shahrukh Mirza (Wikipedia).

 


The Great Arab Poet, Abu al Tayyeb al Mutanabbi (Gambar dari sini)

 

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 15 Maret 2014

KERJA SEUMUR HIDUP


KERJA SEUMUR HIDUP

Alhamdulillah. Kerja saya di Tapaktuan ini setiap harinya ya begini. Tak ada habisnya. Tak ada berhentinya.

image

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
10 Maret 2014.

RIHLAH RIZA #30: LO SIENTO


RIHLAH RIZA #30: LO SIENTO

 
 

 
 

“Aku nyari duit seharian. Kamu di rumah aja seharian.

Rumah berantakan. Ngapain aja kamu??!!”

(Sajak suami pulang dari kerja)

 
 

Kereta rel listrik (KRL) sore ini benar-benar membuat badan saya rontok. Penumpang begitu berjubel dan berhimpit-himpitan di gerbong yang saya naiki. Pendingin udara sepertinya tidak berfungsi. Hawa panas nafas para penumpang menyebar kemana-mana. Hatta jendela KRL sudah dibuka untuk memberikan kesempatan aliran udara segar dari luar masuk. Keringat pun bercucuran. Baju sudah tidak karuan lagi lusuhnya. Pun harus bertenggang rasa kepada sesama penumpang lain yang tidak mau kesenggol sedikit saja. Perjalanan satu jam ini berasa satu abad. Capek dan lelah sekali rasanya. Lahir batin.

Dan inilah yang harus saya dan kebanyakan penumpang KRL dari Bogor dan Depok terima setiap harinya. Walau kebanyakan dari kami memaki-maki layanan kereta ini tetapi tetap saja kami membutuhkan dan menaikinya terus menerus. Karena mau tidak mau KRL adalah satu-satunya angkutan yang paling efisien mengantarkan kami berangkat dan pulang kerja.

Saya turun di Stasiun Depok Baru. Lalu menuju ke tempat penitipan motor. Saya menaiki motor ini pelan-pelan menuju rumah. Dengan mengendarainya saya merasakan angin petang yang mampu membuat panas tubuh berkurang. Nyaman. Pun, saya sudah membayangkan sampai rumah nanti saya ingin istirahat dulu sebelum bermain dengan anak perempuan yang paling cantik sedunia itu.

Lima belas menit kemudian saya sudah membuka pagar rumah. Pintu rumah tidak terkunci. “Assalaamu’alaikum,” saya ucapkan salam sebagaimana kebiasaan di rumah ini. Terdengar jawaban salam dari dalam kamar. Istri saya masih di dalam kamar rupanya. Saya memandang sekeliling ruang tamu lalu beranjak ke dapur. Semua sama keadaannya, berantakan. Tidak ada barang yang berada di tempatnya. Piring-piring kotor masih menumpuk.

Belum sempat mengganti baju saya membereskan semua yang berantakan ini. Tapi ada yang memuncak di kepala. Kejengkelan. “Ngapain saja di rumah??!!” sebuah tanya dalam hati. Tak lama ruang tamu sudah beres. Sekarang gilirannya dapur. Saya akan cuci semuanya.

“Ayah…” suara lembut dari pintu dapur menghentikan sejenak pekerjaan saya. “Besok saja yah. Biar Bunda saja yang nerusin nyucinya.”

“Tanggung,” jawab saya tanpa menoleh.

“Ayah sudah makan?”

“Nanti.”

Semua datar.

**

Sudah jam sepuluh malam. Saya duduk di meja makan. Mengambil nasi, sayur bening, dan potongan daging serta ceker ayam sebagai lauknya. Selera saya sebenarnya sudah hilang. Tetapi ini bukan karena kejengkelan itu melainkan penyesalan yang menyergap saya setelah kejadian petang tadi.

Saya mengambil hp dan menekan ikon aplikasi Whatsapp. Saya akan menghubungi seseorang. Ada tulisan “online” di bawah namanya. Jam segini ia belum tidur.

“Belum tidur?” tanya saya memulai percakapan.

“Belum.”

“Aku habis berantem sama istri. Aku menyesal.”

“Ya tidak apa-apa. Namanya juga suami istri. Itu bumbu rumah tangga. Yang penting kamu jangan main tangan. Diam saja deh.”

“Tadi sudah aku peluk waktu dia ngelonin anak.”

“Alhamdulillah. Itu bagus. Sudah minta maaf belum?”

“Aku yang suka ngomel. Istri malah yang diam saja.”

“Jangan begitu. Kasihan…”

“Aku malas lihat rumah berantakan. Jadi aku ingin beresin semua langsung. Aku jengkel. Tapi setelah itu aku kasihan. Aku menyesal. Sekarang aku lagi makan sayurnya.”

Tiba-tiba ada sebongkah penyesalan yang datang kembali menghimpit dada saya ketika chat ini berlangsung. Saya hentikan sejenak chat ini.

“Aku mau peluk istri dulu yah. Aku jahat soalnya. Aku sedih,” tulis saya kembali di layar.

Beberapa menit kemudian saya sudah memegang kembali hp dan meneruskan chat.

Terlihat ia merespon kalimat terakhir saya tadi.

“Bagus. Peluk dia.”

“Sudah tidur. Aku peluk, cium, dan selimuti istri dan anakku,” lanjut saya.

“Subhanallah.” Ada tanda jempol. “Lo Siento.”

“Apaan tuh?”

“Bahasa spanyol. Artinya forgive me. Peluk itu tanda permintaan maafmu padanya.”

“Aku lagi nerusin makan nih. Aku masih hilang selera.”

“Habiskan.”

“Sudah kenyang tinggal kuah doang. Kamu mau?”

Tanda senyum muncul darinya di layar.

“Tadi istriku waktu mencegahku mencuci, meletakkan anakku di lantai. Dan aku buru-buru mengangkatnya agar dia jangan duduk di lantai.”

It’s very nice.”

“Nah pas momen angkat anak itu aku mulai ingin menangis dan memeluk anakku sambil bilang anakku maafkan aku. Aku tuh seharusnya tadi main-main saja sama anakku karena seharian tidak bertemu.”

I am all ears.”

“Kadang kalau aku lagi mood baik, aku yang mencuci kaki tangan dan cebok kalau anakku mau tidur.”

“Aku ingin mengatakan satu hal kepadamu.”

“Apa?”

“Maafkan apa pun kesalahannya. That is it. Dan jangan ragu pula untuk bilang Lo Siento kepadanya.”

“Kayaknya tidak ada deh kesalahannya. Akunya saja yang sok perfectionist. Bayangkan saja rumah tanpa asisten, anak 10 bulan yang lagi aktif banget, menyempatkan menyetrika, masak, bikin makan anak, memandikan dan aktifitas lainnya yang tidak boleh mata meleng lihat anak. Aku yang salah.”

Great.”

“Pernah suatu ketika, di pagi hari sebelum aku berangkat kerja aku tanya padanya, “Bunda capek?” Dia bilang tidak.”

Good.”

**

 
 


Maafkan aku…

 
 

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan penuh keberanian. Karena dengan itu ia berani mengakui segala salah. Ia merendahkan dirinya bahwa ia tak sepatutnya melakukan itu. Di zaman dunia penuh para Sengkuni maka jalan keberanian ini jarang ditempuh. Mereka menyelamatkan dirinya masing-masing. Hanya para ksatria yang mau dan mampu melakukannya.

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan para suami keren. Karena dengan itu ia mengakui bahwa dirinya tanpa istri bukanlah apa-apa. Bukan siapa-siapa. Istri itu “separuh aku”. Istri itu yang membuat Habibie bilang, “jiwa saya kehilangan sebelah” ketika Ainun meninggalkannya. Apalagi wujud lo siento itu termanifestasikan dengan sebuah peluk. Memeluknya ketika tidur. Menyelimutinya. Dan menaburkan doa-doa di atas kepalanya. Ini benar-benar keren. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya,” kata Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan menyamakan nada agar bisa seirama dan membuat harmoni. Ini membuka lebar pintu terurainya permasalahan. Karena tidak ada ego yang meninggi. Maka ketika lo siento terucap masak sih tidak ada pemaafan? Lalu ketika sama-sama sudah mulai reda segala, mulailah muncul keinginan agar “kehidupan sebelum kesalahan itu terjadi” kembali. Di peradilan Amerika Serikat, pengingkaran terhadap kesalahan akan memperberat hukuman. Namun ketika ia mengakui kesalahan, setidaknya akan ada keringanan yang muncul.

Lo Siento. Maafkan aku. Adalah jalan menyayangi istri. Selamanya. Tak perlu ngambek, moody, jengkel. Lelaki sudah banyak salahnya, apakah mau menambah kesalahan ini dengan kesalahan-kesalahan lain? Sudahlah. Apa pun ia maafkan saja. Dan mulailah dengan mengucapkan lo siento kepadanya. Karena kamu lelaki bukan banci.

**

“Oke Za, terima kasih ya. Malam-malam sudah mendengarkanku,” kata saya mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“It’s ok no problemo.”

“Kamu di Tapaktuan kan sekarang?” tanya saya.

“Saya sedang di Banda Aceh. Insya Allah ada pernikahan anak kepala kantor besok.”

“Ok Riza, terima kasih ya. Assalaamu’alaikum,” tutup saya mengakhiri chat ini.

“Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.” Ada jempol empat di belakangnya.

Beberapa saat kemudian tampak di layar Whatsapp teman saya: Riza Almanfaluthi, last seen today 22:24.

 
 

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9 Maret 2014

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

  

Menjadi Hujan


image

RIHLAH RIZA #29: UZLAH DI MENARA


RIHLAH RIZA #29: UZLAH DI MENARA

 

Kita sama melebur menghancur jumawa diri

Kita melebur di titik nol: puncak sunyi diri sendiri.

(Nanang Cahyadi, Kosong)

Ahad pagi, saat langit Tapaktuan masih kelabu, ketika laut di depan mess masih berwarna hitam, sewaktu jarum jam sudah menunjuk angka tujuh. Saya ikatkan dengan kencang tali sepatu olahraga yang jarang dipakai ini. Sambil jalan kaki mengisi hari libur, niatnya saya ingin pergi ke suatu tempat, bukit yang bernama Gunung Lampu.

Gunung Lampu ini tempat situs tapak kaki raksasa Tuan Tapa berada. Tapi saya tidak akan ke sana. Saya akan pergi ke puncak tertingginya. Tempat banyak menara. Menara yang sering dijadikan tempat bertengger elang laut setelah berburu mangsa. Waktu kunjungan pertama ke situs tapak raksasa itu bersama teman-teman dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Meulaboh saya tidak sempat menaikinya.

Kali ini saya memang tekadkan untuk pergi ke sana. Untuk apa? Tentu sekadar melihat keindahan kota Tapaktuan dan samudra dari ketinggian. Bukan untuk menerjunkan diri dengan sebebas-bebasnya. Lalu judul headline macam mana pula di koran lokal sini bila yang terakhir terjadi? Lagi, Pegawai Pajak Stres Bunuh Diri. Na’udzubillaahimindzalik.

Jalan kaki dari mess menuju kaki bukit ini sudah cukup membuat berkeringat. Dari kaki bukit saya menyusuri jalan setapak yang sudah di semen. Sampai akhirnya menemukan sebuah persimpangan. Jalan setapak lurus akan menuntun kita ke jejak Tuan Tapa, sedangkan kalau ke kanan maka akan ke puncak Gunung Lampu. Perlu upaya keras lagi ketika menyusuri jalan setapak yang meninggi dengan kemiringan hampir 45 derajat ini.

Dedaunan kering memenuhi jalan setapak, pohon-pohon dengan daun yang menguning dan terbakar memenuhi ruang pandang. Sebagian pohon masih hidup dan hijau, tempat burung-burung entah apa namanya terbang bergerombol ketika saya berada di bawah melewati sarang mereka. Keberadaan saya mengusik mereka.

Di tengah perjalanan saya berhenti sejenak, duduk di anak tangga, dan memandang sekitar. Hening mendominasi. Sesekali terdengar kicauan burung dan debur ombak di bawah sana. Saya tidak cukup terlena dengan pemandangan yang ada. Akan banyak keindahan yang tersaji di atas sana. Tak seberapa lama kemudian saya sudah sampai di ujung anak tangga paling tinggi. Di sinilah tempatnya. Tapi saya tidak berhenti sampai di sini.

Saya menuju menara bercat putih setinggi kurang lebih 30 meter itu. Tapi ini tidak mudah karena harus menyusuri jalan setapak tanah dengan ilalang setinggi dada. Tak berapa lama, saya sudah berada di bawah menara. Di samping menara ada sebuah bangunan yang sudah rusak. Di atas bangunan tersebut berdiri menara lain yang sudah rusak dan berkarat.

Bukan menara itu yang ingin saya naiki. Tapi menara di atas kepala saya ini. Menara yang bercat putih. Seperti tempat tandon air di rumah-rumah namun untuk yang ini dalam ukuran raksasanya. Berdiri kokoh menjulang menusuk langit tapi belumlah setinggi menara BTS. Di pucuknya ada lampu stadion berwatt tinggi yang tak tahu apakah masih berfungsi atau tidak.

Saya kemudian menekadkan diri menaiki menara. Sepertinya tak perlu tinggi-tinggi dulu pada pengalaman pertama. Jadi saya cuma bisa sampai di bordes pertama saja. Bordes adalah tempat mengistirahatkan kaki sejenak ketika menaiki tangga. Mungkin ketinggiannya berkisar lima meter saja dari permukaan puncak Gunung Lampu. Tapi ini sudah membuat saya gamang. Karena terlihat betapa jauhnya permukaan laut dari atas sini.

Umur yang sudah tidak muda lagi, otak kiri yang mendominasi, suara guntur yang bersahut-sahutan, menahan langkah kaki menuju bordes berikutnya. Nyali saya kalah jauh dari Rika Adriana, gadis Pontianak, yang menaiki menara BTS setinggi 75 meter untuk melihat keindahan Bumi Laskar Pelangi di Gantung, Belitong. Padahal ketika di sekolah dasar pun, saya bersama teman bernama Rica masih bisa tidur-tiduran di puncak tertinggi menara PDAM Jatibarang. Menikmati matahari pagi dan melihat pemandangan Kali Cimanuk. Masih berani.

Papan besi bordes berukuran 50 cm x 100 cm dengan pegangan setinggi pinggang menahan saya jatuh ke bawah. Di sinilah saya berdiri dan lama memandang sekitar. Memerhatikan pelabuhan dari jauh, perahu di tengah laut, rumah-rumah di tengah kota, dan pantai di sebelah utara. Saya menunggu elang laut itu, yang ternyata tidak pernah datang.

Menuju puncak butuh keberanian dan tekad yang kuat. Tekad kuat mendorong orang untuk berani melangkah ke depan dan ini beda tipis dengan jumawa. Karakter terakhir akan menjerumuskan orang ke dalam jurang kehancuran. Karena semakin naik ke atas hambatannya semakin besar. Gravitasi, angin, kegamangan adalah contohnya. Sepertinya menuju ke atas pun harus bersama dengan yang lain. Tidak bisa sendiri, karena butuh orang yang senantiasa menguatkan kita untuk terus naik menggapai asa yang menggantung. Butuh pula orang yang berani menjadi tolok ukur ketika kita hanya bisa menjadi pengikut. Suatu saat kelak saya akan bersama teman untuk menuju puncak menara ini.

Langit masih kelabu. Ada hening yang menguasai di sini. Ini menenteramkan. Lalu setelah lama menatap keindahan alam dari atas ketinggian, saya putuskan untuk turun dan pulang. Uzlah (mengasingkan diri dari keramaian) ini harus segera diakhiri. Kantung bahagia saya sudah penuh. ‘Aid alQarni pernah bilang kalau aroma yang harum mewangi, makanan lezat, dan pemandangan yang membangkitkan pesona akan membawa penerangan dan kebahagiaan pada jiwa. Insya Allah.

Bagi mereka yang suntuk dengan rutinitas yang membosankan, keramaian yang melalaikan, mari pergi dari sana, menyepilah. Rihlahlah. Beruzlahlah. Pergilah ke tempat indah. Nikmati dan rasakan bahagia itu memenuhi aliran darah.

Sudilah kiranya, di akhir ini, saya seorang hamba bertanya kepada Tuan dan Nyonya, “Akan uzlah kemana setelah ini?”

 

Menara putih di atas Gunung Lampu yang gambarnya saya ambil beberapa waktu lalu. (Foto koleksi pribadi).

 

Ini jalan setapaknya (foto koleksi pribadi).

 

Lagi, jalan setapak itu (foto koleksi pribadi).

 

Pelabuhan Tapaktuan dari ketinggian di bordes pertama menara putih (Foto koleksi pribadi).

 

Sisi pantai di utara dilihat dari kejauhan (Foto koleksi pribadi).

 

Puncaknya masih jauh (Foto koleksi pribadi).

 

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 2 Maret 2014

RIHLAH RIZA #28: EVERY MOMENT WITH YOU IS MEMORABLE


RIHLAH RIZA #28: EVERY MOMENT WITH YOU IS MEMORABLE

 

Dua minggu itu sangatlah cepat. Satu jam apalagi. Ini kalau sudah di Tjitajam. Lain soal kalau sudah di Tapaktuan. Waktu berjalan seperti Three Toed Sloth, binatang yang cuma bisa jalan 15 cm per jam. Makanya kalau saja binatang itu hidup di pohon-pohon hutan Leuser saya ingin sekali memeliharanya. Gampang ditangkap. Sayang, hewan ini kebanyakan hidup di hutan hujan Amerika Selatan termasuk Amazon.

Dua minggu diklat di Gadog, Bogor, dengan dua hari sekali pulang ke rumah, bikin hidup tambah perlu disyukuri banyak-banyak. Tempat Pendidikan dan Pelatihan Anggaran dan Perbendaharaan ini tempat yang sempurna untuk belajar. Hawanya adem, suasana sepi, halaman luas dengan pepohonan tua yang rindang, koridor-koridor panjang yang meneduhi, dan sebuah ciri khas yang tiada pernah lepas darinya, dari Bogor yang julukannya terkenal ke seantero nusantara: hujan. Setiap hari.

Tak perlu berharap-harap dengan harapan mahakuat seperti di Tapaktuan di bulan Januari dan Februari ini agar turun hujan yang teramat deras. Sebuah harapan yang ditulis indah oleh D. Kemalawati dalam puisinya: Menanti Hujan.

seperti gayung

aku memohon hujan

deras

melimpah

gurun pasir

dan laba-laba

apa apa lapar terpelihara

hura hura pada nafas

atau

kalau kah tumbal

di hari senja

Banda Aceh, Maret 2003

 

Tak perlu berharap-harap dengan harapan mahakuat agar mampu menawari panas yang menyengat tubuh. Siang dan malamnya. Saya berterima kasih kepada Willis Haviland Carrier penemu Air Conditioner, hingga mampu membuat hidup saya lebih dingin di Tapaktuan.

Seperti biasa diklat menjadi awal dari sebuah banyak pertemanan. Bertemu dengan teman sekamar lalu berlanjut dengan pertanyaan “kenal dengan si ini, si anu, si ina tidak?” yang pada akhirnya menegaskan memang betul adanya petitih kalau dunia itu sempit. Apatah lagi Direktorat Jenderal Pajak dengan jumlah buruhnya yang hanya 30 ribu-an.

Membuka pertemanan di malam pertama kami di Gadog tentunya dengan sebuah keramahan. Sebuah kutipan kuno tapi efektif: mendapatkan teman dimulai dari sikap ramah. Tidak ada dalam benak sebuah prasangka. Semuanya bermula dari kemauan kita untuk memulai memberikan yang positif. Yang ada hanyalah pikiran bahwa kita itu sama berada di anak tangga yang pertama. Tidak berbeza. Kalau itu yang terjadi, tidak ada kalimat “saya menguasai kamu”, pun sebaliknya.

Ketika keramahan tanpa prasangka telah berkuasa menjadi raja di malam itu, maka mengalirlah sebuah cerita darinya. Cerita dari tanah seberang, dari petugas pajak yang memegang teguh integritasnya. Klise. Tapi ini menguatkan.

Betapa sering ia membantu Wajib Pajak tanpa pamrih sampai Wajib Pajak menemukan solusi atas setiap permasalahannya. Ini memang sudah tugas dia. Tugas negara yang diembannya. Sudah digaji penuh oleh negara plus tunjangan, kecuali kalau dia terlambat masuk kantor atau pulang cepat karena suatu sebab, tentunya dipotong.

Wajib Pajak di era di mana instansi lain masih belepotan dan DJP harus bersih sendirian—ini sistem yang tidak baik, kalau mau bersih ya harus bersih semua—merasa berhutang budi. Wajib Pajak tak sungkan-sungkan menyerahkan sesuatu yang berharga miliknya dan mungkin teramat berharga bagi petugas pajak teman saya ini yang hanya bisa pulang sebulan sekali menengok anak dan istri.

Kebetulan, saat itu hari terakhir perayaan tahun baru Cina, cap go meh, tiket penerbangan dari dan ke kota itu lagi mahal-mahalnya. Kebetulan pula, ia sedang tidak punya uang untuk pulang. Maka tawaran Wajib Pajak yang siap memberikan apa pun kepadanya, yang ia tolak dengan tegas, membuat hatinya seperti ada yang mengerat. Perih karena ia butuh. Butuh tapi tidak boleh. Tidak boleh dengan cara ini. Walau cuma seharga tiket pulang pergi saja. Walau yang tahu hanya Allah Swt, dirinya, dan Wajib Pajak itu. Tidak ada yang lain.

Tapi itu tidak sia-sia. Dalam waktu yang tidak terlalu lama dari kejadian itu, integritasnya dibalas dengan sebuah panggilan untuk mengikuti diklat selama dua minggu di Jakarta. Ini, setidaknya, berarti pulang pergi ke kampung halaman dibiayai Negara. Mendengar ceritanya semakin meyakinkan saya kalau setiap kebaikan akan mengundang kebaikan yang lain.

Satu hal yang tertinggal, selamanya, adalah sebuah kesan. Kesan yang diterima Wajib Pajak yang tidak akan pernah melupakan penolakan itu. Teman saya ini sejatinya, dengan pelayanan all out yang diberikan kepada Wajib Pajak, telah memberikan kesan yang cukup tahan lama. Seperti apa yang ditulis dalam buku How To Win Friends & Influence People in the Digital Age: menaruh minat, tersenyum, berkuasa atas nama, menyimak lebih lama, membahas apa yang penting baginya, membuat orang lain merasa lebih baik adalah enam cara kesan menjadi abadi.

Wajar kalau kemudian teman saya itu akan mendengar dari mulut Wajib Pajak, atau mendapatkan seperti yang dikatakan Elena Alcantara kepada Roberto Carvajal dalam novel Imprisoned by hope: “Every moment with you is memorable.”

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

27 Februari 2014

Tabik buat teman saya.

RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA


RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA

 

Dengarlah apa yang digemakan dari jauh, apa yang disuarakan dari bawah. Sesungguhnya kekuasaan tidak akan pernah abadi.

**

Tubagus sedang bahagia kali ini. Keluarganya sudah menyiapkan beraneka macam seserahan yang akan diberikan kepada keluarga anak gadis yang akan dilamarnya. Ia sudah membayangkan akan memperistri kekasih yang teramat dicintanya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Berita lamarannya sudah tersebar ke seantero kampung. Hatinya berbunga-bunga serupa tujuh macam kembang di taman balai diklat keuangan di sebelah rumahnya yang dirawat dengan telaten. Otaknya penuh hanya dengan nama si gadis.

Sehari sebelum D-day, ada berita dari si gadis yang sangat mengejutkan. Si gadis meminta Tubagus untuk membatalkan lamaran, karena ia tidak akan pernah menikah dengan Tubagus. Jadi, mengapa harus melakukan hal yang sia-sia dengan tetap memaksakan datang melamar. Tubagus terkejut, ia berusaha mencari alasan mengapa sang pujaan hatinya tiba-tiba 180 derajat menolak dirinya. Tapi komunikasi sudah ditutup oleh si gadis dan keluarganya. Keluarga besar Tubagus kecewa apatah lagi dirinya. Malu. Menyakitkan.

Tubagus menarik diri dari pergaulan. Ia menelan malam dan siang dengan mulut kesendiriannya. Ia mengurung di kamar. Jarang keluar. Keluarganya prihatin dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berusaha untuk tidak menyerah kepada lelah dengan tetap memberikan nasihat buat Tubagus. Sampai hari-hari yang panjang itu berakhir ketika ia menjelma menjadi tokoh yang ditulis oleh Mawlana Hakim Nizhami: Qais. Qais yang tak akan pernah bisa memiliki cinta Laila. Ingatannya lumpuh. Ah, ini klise. Tapi nyata adanya.

Tubagus mengalami gangguan stres pasca trauma. Ia gila. Ia menggelandang pergi ratusan kilometer dari rumahnya. Terakhir ia terlihat di sudut Jakarta. Rambut gimbal, kulit menghitam, kain tanpa bentuk yang masih menutupi auratnya, aroma tiada tara.

**

Orang gila terpisahkan dunianya dari kegiatan dan urusan orang-orang waras. Ia sudah tidak bisa dibebani lagi dengan urusan ibadah. Karena salah satu syarat ibadah adalah sehat akalnya atau tidak gila. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak kecil hingga ia besar.” (HR. Abu Dawud).

Sebagian orang waras melecehkan dan menyingkirkan mereka. Padahal berdasarkan perkataan Nabi Saw sesungguhnya orang yang waras pun bahkan bisa gila dengan sebenar-benarnya gila. Ustaz Nandang Burhanuddin dalam sebuah tulisannya mengutip dua hadis tentang gila ini.

Dalam hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibn Najjar dikisahkan, “Pada suatu hari, Rasulullah Saw saat berkumpul bersama para sahabat, lewatlah seorang pria gila. Para sahabat berkata, “Pria ini, adalah pria gila.” Rasul Saw kemudian bersabda, “Hati-hati bicara. Orang ini bukanlah gila. Orang gila adalah yang terus-menerus berbuat maksiat. Sedangkan orang ini, ia sedang mendapat musibah (sakit).”

Dalam riwayat lain Baginda Rasul bersabda, “Tahukah kalian orang gila seperti apa?” Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasul Saw kemudian menjelaskan: “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan, yang keburukannya membuat orang tidak merasa aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya (al-majnuun haqq al-majnuun).”

Saya lama merenungi dua hadis ini. Lama sekali. Seperti baru menemukannya. Sebenarnya memang saya baru menemukannya, baru membacanya. Barulah menyadari kalau puluhan tahun belajar belum menjamin kita akan tahu segalanya. Ternyata Rasulullah Saw sudah menegaskan kepada orang-orang yang waras bahwa pelaku maksiat atau pun orang yang sombong sejatinya lebih gila daripada Tubagus. Mereka menertawakan Tubagus padahal mereka tidak menyadari bahwa mereka sendiri gila.

Orang sombong adalah orang gila. Mereka yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Mereka, orang sombong itu, yang diserang bukan pikirannya sebagaimana Tubagus, melainkan hatinya. Orang sombong mengira bahwa ia akan menemukan penghargaan manusia di dalam kesombongannya. Padahal orang bijak bilang, “Aku mencari ketinggian derajat dalam kesombongan, tetapi aku menemukannya dalam ketawadhuan.”

Mengingat ini, saya teringat sebuah kisah dalam kitab yang ditulis oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi yang biasa disebut Imam Nawawi Al Bantani, Nashoihul ‘Ibad. Saya mengutipnya dari buku terbitan Irsyad Baitus Salam yang berjudul: Nashoihul ‘Ibad, Nasihat-nasihat untuk Para Hamba, Menjadi Santun dan Bijak.

Hasan Basri berkata: “Pada suatu hari aku mengelilingi lorong kota Bashrah dan pasarnya bersama seorang pemuda ahli ibadah. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang tabib. Dia duduk di atas kursi yang di hadapannya ada banyak orang, baik laki-laki maupun wanita serta anak-anak, yang semuanya membawa botol berisikan air. Setiap seorang dari mereka bermaksud meminta obat yang tepat bagi penyakit yang mereka derita.

Selanjutnya, majulah seorang pemuda yang ahli ibadah itu kepada tabib tersebut, lalu berkata: “Wahai Tabib, apakah engkau mempunyai ramuan obat yang dapat membersihkan dosa dan mengobati penyakit hati?” Tabib tadi berkata: “Punya.” Pemuda itu berkata lagi: “Tolong berilah aku obat tersebut.” Tabib menjawab: “Ambillah sepuluh resep dariku berikut ini:

  1. Ambillah akar pohon kefakiran dan akar pohon ketawadhuan;
  2. Masukkan akar tobat ke dalamnya;
  3. Masukkan ketiga unsur itu ke dalam lesung rida;
  4. Tumbuklah sampai halus dengan alu qana’ah;
  5. Masukkan semua itu ke dalam panci takwa;
  6. Tuangkan air malu itu ke dalamnya;
  7. Didihkan semua itu dengan api mahabbah;
  8. Selanjutnya, tuangkan semua itu ke dalam mangkuk syukur;
  9. Dinginkan apa yang ada di dalam mangkuk syukur tersebut dengan kipas raja’;
  10. Minumlah semua itu dengan sendok pujian.

Jika engkau dapat melaksanakannya, maka semua itu akan menyelamatkan dirimu dari berbagai jenis penyakit dan musibah di dunia dan di akhirat.”

Saya jelaskan sedikit di sini. Qana’ah itu merasa cukup dengan apa yang ada. Sedangkan mahabbah mengutip Abu Abdullah Al-Quraisyi adalah memberikan semua yang engkau miliki kepada pihak yang engkau cintai hingga tidak bersisa sedikit pun. Dan raja’ adalah sepenuh harap, yang menurut Imam Al-Ghazali merupakan salah satu sayap selain sayap khauf (rasa takut) yang dengan kedua sayap itu orang bisa dekat dengan Allah Swt.

**

Salah satu pemicu gangguan stres pasca trauma adalah pertempuran dan konflik yang berkepanjangan. Di Aceh, melengkapi penyebab di atas yang berasal dari faktor kesengajaan manusia adalah penyebab yang lain berupa faktor bencana alam besar bernama tsunami. Dan saya berharap saya tidak menambah daftar panjang orang yang mengalami gangguan stress pasca trauma di negeri maghribi—tempat matahari terbenam ini. Entah karena menjadi Tubagus atau karena gila dalam makna konotasinya.

Di Tapaktuan, apa yang harus disombongkan? Sejatinya bahkan di mana pun kita berada. Seharusnya yang di Jakarta pun demikian adanya. Dengarlah apa yang digemakan dari jauh, apa yang disuarakan dari bawah. Sesungguhnya kekuasaan tidak akan pernah abadi.

Di pantai inilah—di negeri maghribi, tempat matahari terbenam—kita sama-sama melihat senja.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citajam, 15 Februari 2014

RIHLAH RIZA #26: MEREKA YANG TAK PUNYA KUASA


RIHLAH RIZA #26: MEREKA YANG TAK PUNYA KUASA

 

 

Kamu, rasa, dan luka seperti tak berjarak, tak terpisahkan.

(Retta Pangaribuan, 22 Agustus 2013)

**

Senin siang itu, rapat yang berlangsung di gedung Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Selatan ini berjalan seru. Sang Bupati di hadapan wakil dari dua perusahaan perkebunan kelapa sawit itu sampai bilang, “Jangan berharap saya akan berada di pihak Anda. Saya dan rakyat Aceh Selatan akan bersama-sama berhadapan dengan Anda.”

Sang Bupati ini mengundang dua pengusaha perkebunan kelapa sawit karena mendengar keresahan dari masyarakat sekitar yang tidak mendapatkan keuntungan sama sekali dengan keberadaan perkebunan tersebut. Sistem plasma yang tidak berjalan, program Corporate Social Responsibility (CSR) yang tidak pernah direalisasikan, sengketa lahan, pembunuhan satwa langka, Pajak Bumi dan Bangunan terkait penentuan luas lahan dengan kabupaten tetangga adalah beberapa permasalahan  yang dibahas dalam rapat itu.

Kebetulan saya bersama DJ-Ono dan Bang Dirman sebagai wakil dari Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan bisa ikut menghadirinya. Kami diminta menjelaskan data luas lahan kebun sawit dari dua perusahaan ini apakah  sudah benar dengan penjelasan mereka. Ikut hadir dalam rapat memberikan gambaran kepada saya tentang bagaimana jalannya rapat bersama orang nomor satu di kabupaten pelosok ini.

Dua wakil perusahaan itu tidak bisa berkata-kata lagi ketika disodorkan fakta-fakta dari Bupati dan jajarannya. Mereka hanya bisa bilang semua akan diteruskan kepada direkturnya masing-masing. “Kalau saya tahu yang datang cuma sekelas manajer, bukan direkturnya langsung, saya tak akan hadiri rapat ini. Direktur Anda yang seharusnya datang ke sini, tidak diwakilkan. Kita adakan pertemuan sekali lagi.”

Wajar saja bupati bisa bilang seperti ini sampai pengusaha termehek-mehek, karena dia punya kuasa. Segala perizinan di tangannya. Saya bisa membayangkan kalau Kepala Kantor Pelayanan Pajak punya kekuasaan seperti ini. Tak ada ceritanya tuh Wajib Pajak tak datang walau sudah diundang berulang-ulang kali untuk membahas penyelesaian utang pajak.

Rapat hampir selesai ketika hp di saku bergetar. Saya intip nomor siapa yang menghubungi saya. Ternyata Ummu Kinan. Belum sempat saya matikan, hp sudah mati sendiri. Low battery. Setengah jam kemudian saya sudah ada di kantor, saya nyalakan hp, dan langsung lemas ketika membaca sms yang masuk pertama kali, “Mas, ibu gak obah meneh.”  Ibu mertua yang sudah lama sakit dan barusan saya telepon tadi malam agar ia meminum obatnya dengan teratur meninggal sekitar duha tadi.

Mendengar itu  saya langsung mengubah semua rencana. Niatnya nanti malam saya berangkat ke Banda Aceh dengan naik travel untuk mengikuti rekonsiliasi Seksi Penagihan selama hampir sepekan, sekaligus jelajah Sabang di akhir pekannya. Tapi rencana tinggal rencana, semua yang indah-indah buyar seketika.

Saya harus pulang ke Semarang sekarang. Saya harus ke Medan dulu. Tapi pakai apa? Tak ada transportasi di siang bolong seperti ini. Travel ke Medan mulai beroperasi nanti malam. Sedangkan saya sudah ketinggalan pesawat Susi Air yang berangkat jam delapan pagi tadi. Itu pun tidak setiap hari ada. Pesawat Susi Air yang ada di Blangpidie, satu setengah jam dari Tapaktuan, sudah berangkat jam sepuluh pagi tadi juga. Ngompreng pun bukan pilihan tepat, delapan jam perjalanan lebih ke Kualanamu tidak memungkinkan untuk mengejar pesawat terakhir. Barulah saya merasakan seterpencil-terpencilnya Tapaktuan ini pada saat itu. Tak bisa gerak ke mana-mana.

Jam delapan malam, travel menjemput. Alhamdulillah saya dapat tempat duduk di sebelah supir. Selain saya dan supir ada empat orang lainnya. Salah satunya mau dibawa ke rumah sakit di Medan karena sedang sakit jantung. Perjalanan darat berjam-jam itu disertai erangan yang menyedihkan.

Sampai di Stasiun Kereta Api Medan jam enam pagi pas.  Saya salat subuh dulu. Padahal kereta api yang menuju Bandara Kualanamu sebentar lagi berangkat. Sepertinya saya harus melewatkan jadwal terdekat ini. Saya menunggu kereta api berikutnya yang akan datang satu jam kemudian.

Di pagi yang sama, jenazah Almarhumah ibu telah siap-siap diberangkatkan ke Magelang untuk dikuburkan di sana. Ini sebuah tanda kalau saya tak bisa melihat ibu mertua untuk yang terakhir kali. Saya tak akan bisa ikut menyalatinya, menggotong kerandanya, mengantarkannya ke kuburan, atau menerima tubuhnya dari bawah liang kubur. Sepertinya cukup dengan mendengar suaranya saja di malam sebelumnya itu. Sedangkan Ummu Kinan dan anak-anak sudah sampai di Semarang semalam dengan menggunakan kereta api Jakarta Semarang.

Singkat cerita saya terbang dari Bandara Kualanamu menuju Jakarta dengan pesawat jam dua siang. Ini pun setelah delay berjam-jam. Sampai di Jakarta menunggu berjam-jam kembali pesawat yang akan membawa saya ke Semarang. Baru jam setengah delapan malam saya meninggalkan Jakarta.  Dua jam berikutnya barulah saya bisa sampai di rumah. Tepar sudah. Perjalanan 25 jam lebih itu membuat lelah raga dan jiwa saya. Saat itu, hanya air wudhu, selembar sajadah,  dan salat menjadi sebaik-baik sarana untuk rehat serehat-rehatnya. Menumpahkan segala. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afihi wa’fu’anha.

Di situlah saya menyadari bahwa manusia bisa berencana, tetapi Allah swt yang punya kehendak. Dia yang punya kuasa. Dia maha segala-galanya. Kita boleh saja merencanakan dengan detil apa yang akan kita lakukan lalu membayangkan kenikmatan-kenikmatan yang akan dirasakan tetapi tak akan pernah terjadi kalau Allah tidak menghendakinya. Di sanalah, perlunya sikap tawakal atas semua yang telah  dan akan terjadi.

Setelah kejadian ini, harap terbesar ketika saya berada di Tapaktuan, Ummu Kinan, anak-anak, dan Bapak sehat-sehat saja. Lahir dan batin mereka. Tidak ada luka dan pilu. Harapan sama dari semua teman-teman saya di DJP yang sedang berpisah dengan keluarganya. Entah itu pelaksana ataupun yang sudah eselon II.  Entah mereka yang sedang belajar atau bertugas. Mereka juga sama-sama manusianya.  Tidak punya kuasa sama sekali.

 

***
Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 06 Februari 2014.

* Mas, Ibu gak obah meneh = Mas Ibu sudah tidak bergerak lagi.

CARA DAFTAR BPJS BUAT ANAK KETIGA PNS


CARA DAFTAR BPJS BUAT ANAK KETIGA PNS

 

Mulai 1 Januari 2014 anak ketiga Pegawai Negeri Sipil (PNS) dapat diberikan jaminan kesehatan oleh PT Askes (Persero) yang kini telah bertransformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Kebetulan anak ketiga saya yang berumur hampir enam tahun belum diikutkan dalam asuransi kesehatan ini. Oleh karenanya mumpung saya cuti kerja saya menyempatkan diri untuk mengurus pendaftarannya.

Pertama, saya cari informasi terlebih dahulu ke laman BPJS yang beralamat di sini. Lalu saya telepon ke Pusat Layanan Informasi BPJS 24 Jam di 500400 untuk memastikan boleh tidaknya anak ketiga PNS dapat jaminan kesehatan. Selain itu untuk mendapatkan informasi dokumen apa yang perlu dilampirkan pada saat pendaftaran anak ketiga ini.

Dari 500400 itu juga dapat informasi kalau kartu Askes lama yang berwarna kuning masih berlaku dan untuk sementara waktu tidak perlu ditukarkan dengan yang baru. Kalau Anda datang ke kantor BPJSnya untuk menukarkan kartu ini pun Anda akan ditolak.

Berdasarkan informasi dari 500400 itu saya siapkan dokumen yang ada. Setelah lengkap saya datang ke Kantor BPJS Cabang Bogor yang ada di Jalan Ahmad Yani Nomor 62 E Bogor. Kantor cabang yang ada di Kota Bogor ini dulunya tempat saya mendaftarkan diri sebagai peserta Askes. Kantor ini mencakup tiga wilayah kerja BPJS: Kota Bogor, Kota Depok, dan Kabupaten Bogor.

Saya datang ke kantor BPJS yang sudah ramai pada waktu itu. Di halaman kantor sudah didirikan tenda dan telah disediakan kursi-kursi untuk mengantisipasi membludaknya masyarakat yang ingin melakukan pendaftaran. Saya ambil nomor antrian dengan menekan tombol nomor satu di mesin yang tersedia di pintu masuk. Sedangkan tombol nomor tiga untuk antrian surat rujukan.

Sambil menunggu antrian saya bertanya-tanya kepada petugas yang berada di depan pintu. Orangnya sudah tua dan terlihat ramah melayani pertanyaan para pengunjung. Tapi sayangnya informasi yang diberikan berbeda dengan apa yang saya dapatkan dari 500400. Malah menyaratkan dokumen macam-macam seperti Surat Keputusan PNS terakhir. Akhirnya saya bertanya kepada petugas yang ada di dalam. Barulah ketahuan kalau SK CPNS tidak diperlukan lagi, namun demikian masih ada dokumen yang kurang sebagai bukti adanya anak ketiga saya ini yaitu KP4 atau Surat Keterangan untuk Mendapatkan Pembayaran Tunjangan Keluarga.

Jadi secara lengkapnya, dokumen apa saja yang harus dipersiapkan untuk mendaftarkan anak ketiga PNS sebagai peserta BPJS adalah sebagai berikut:

  1. Mengisi Formulir Daftar Isian Tambahan Anggota Keluarga yang bisa diunduh di sini;
  2. Fotokopi Kartu Peserta Askes Kepala Keluarga (Satu lembar). Jangan lupa bawa kartu aslinya untuk jaga-jaga jika diminta untuk diperlihatkan;
  3. Fotokopi KTP Kepala Keluarga (Satu Lembar);
  4. Asli KP4 atau Surat Keterangan untuk Mendapatkan Pembayaran Tunjangan Keluarga;
  5. Daftar gaji yang ada nama kita dan telah dilegalisir;
  6. Fotokopi Kartu Keluarga yang ada nama anak ketiga (Satu lembar);
  7. Fotokopi Akta Kelahiran anak ketiga (Satu Lembar);
  8. Pasfoto anak ketiga kita dengan ukuran 3×4 (Satu lembar) dan ditempel di formulir Daftar Isian Tambahan Anggota Keluarga.

Akhirnya saya pulang dan tidak jadi daftar karena ada satu dokumen lagi yang kurang yaitu KP4 itu. Tadinya saya sudah hampir putus asa dan berniat mendaftarkan diri di kantor BPJS yang ada di Tapaktuan, Aceh Selatan. Kata petugasnya kita diperbolehkan untuk mendaftarkan diri di kantor BPJS mana pun karena sudah online.

Namun dengan bantuan dari teman-teman Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tapaktuan dan kecanggihan teknologi informasi saat ini akhirnya saya bisa mendapatkan KP4 dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Di hari berikutnya saya kembali ke Kantor BPJS Cabang Bogor. Saya datang pada jam 9.33 pagi dan mendapatkan nomor antrian 175. Waktu itu sedang dipanggil antrian dengan nomor 150. Pelayanan pendaftaran BPJS hanya dilayani oleh dua orang petugas. Jadi harus sabar mengantri. Kalau tidak mau mengantri lama maka datangnya pagi-pagi saja. Kita diperbolehkan ambil nomor antrian sejak pukul 07.30 pagi, sedangkan kantor BPJS mulai buka setengah jam setelahnya.

Hampir dua jam kemudian saya dipanggil. Tadinya hampir ditolak karena saya PNS. Petugas itu bilang kalau PNS pendaftarannya dilakukan secara kolektif, saya setengah protes karena kata petugas di loket sebelah tidak pernah dikatakan seperti itu. Pusat Layanan Informasi 500400 itu pun tidak bilang seperti itu juga. Akhirnya petugas itu memasukkan berkas saya ke dalam sistemnya setelah memeriksa kelengkapannya. Bahkan kartunya langsung dicetak oleh petugas tersebut tanpa perlu banyak cingcong lagi. Di sistemnya mungkin sudah lengkap ada nomor keanggotaan saya sehingga tidak perlu susah buat memasukkan data baru.

Berbeda dengan PNS, peserta Non-PNS setelah mendaftarkan berkasnya, mereka mendapatkan tanda terima bukti pendaftaran, lalu pergi ke bank untuk setor iuran keanggotaan, kemudian datang kembali untuk ditukarkan dengan kartu BPJS. Jadi butuh waktu lama dan mengantri kembali. Saya tidak. Cepat sekali malah. Alhamdulillah. Kenapa PNS tidak perlu membayar ke bank? Jawabannya karena untuk PNS iurannya akan dipotong langsung dari gaji bulanannya.

Kartu BPJS (Foto koleksi pribadi).

Setelah menerima kartu BPJS, saya mengucapkan terima kasih kepada mbak-mbak petugas atas bantuannya dan upaya memudahkan prosedur ini. Saya sebelumnya bilang kalau saya sudah jauh-jauh datang dari Tapaktuan untuk mengurus hal beginian. Mbak itu tidak ngeh Tapaktuan itu di mana, tapi ketika saya bilang Aceh Selatan, dia rada-rada paham dah di mana daerah terpencil itu berada. Yang penting ada nama Acehnya. *Melet.

Akhirnya saya pulang dengan hati plong, tidak sia-sia cuti saya ini. Semua demi anak. Hujan, gerimis, sakit diterabas saja agar semua urusan selesai. Ini semua karena bantuan Allah yang telah memudahkan segala urusan saya dan teman-teman KPP Pratama Tapaktuan seperti Pak Dodik Krido Rahardjo, Fabianus Gita Ariswara, dan Rachmad Fibrian. Thanks a lot Bro…

Ohya pendaftaran sebagai peserta BPJS ini tidak dipungut biaya sepeser pun kecuali untuk membayar iuran bulanannya. Itu pun dibayarnya ke bank, sebagaimana bayar atau setor pajak pun tidak ke kantor pajak melainkan ke bank juga. Segala informasi dan syarat pendaftaran di sini bisa juga untuk mendaftarkan anak pertama dan kedua PNS. Demikian. Semoga bermanfaat.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citajam, 30 Januari 2014

Diunggah pertama kali di Kompasiana.