RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA


RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA

 

Dengarlah apa yang digemakan dari jauh, apa yang disuarakan dari bawah. Sesungguhnya kekuasaan tidak akan pernah abadi.

**

Tubagus sedang bahagia kali ini. Keluarganya sudah menyiapkan beraneka macam seserahan yang akan diberikan kepada keluarga anak gadis yang akan dilamarnya. Ia sudah membayangkan akan memperistri kekasih yang teramat dicintanya dalam waktu yang tidak terlalu lama. Berita lamarannya sudah tersebar ke seantero kampung. Hatinya berbunga-bunga serupa tujuh macam kembang di taman balai diklat keuangan di sebelah rumahnya yang dirawat dengan telaten. Otaknya penuh hanya dengan nama si gadis.

Sehari sebelum D-day, ada berita dari si gadis yang sangat mengejutkan. Si gadis meminta Tubagus untuk membatalkan lamaran, karena ia tidak akan pernah menikah dengan Tubagus. Jadi, mengapa harus melakukan hal yang sia-sia dengan tetap memaksakan datang melamar. Tubagus terkejut, ia berusaha mencari alasan mengapa sang pujaan hatinya tiba-tiba 180 derajat menolak dirinya. Tapi komunikasi sudah ditutup oleh si gadis dan keluarganya. Keluarga besar Tubagus kecewa apatah lagi dirinya. Malu. Menyakitkan.

Tubagus menarik diri dari pergaulan. Ia menelan malam dan siang dengan mulut kesendiriannya. Ia mengurung di kamar. Jarang keluar. Keluarganya prihatin dan tak bisa berbuat apa-apa. Hanya berusaha untuk tidak menyerah kepada lelah dengan tetap memberikan nasihat buat Tubagus. Sampai hari-hari yang panjang itu berakhir ketika ia menjelma menjadi tokoh yang ditulis oleh Mawlana Hakim Nizhami: Qais. Qais yang tak akan pernah bisa memiliki cinta Laila. Ingatannya lumpuh. Ah, ini klise. Tapi nyata adanya.

Tubagus mengalami gangguan stres pasca trauma. Ia gila. Ia menggelandang pergi ratusan kilometer dari rumahnya. Terakhir ia terlihat di sudut Jakarta. Rambut gimbal, kulit menghitam, kain tanpa bentuk yang masih menutupi auratnya, aroma tiada tara.

**

Orang gila terpisahkan dunianya dari kegiatan dan urusan orang-orang waras. Ia sudah tidak bisa dibebani lagi dengan urusan ibadah. Karena salah satu syarat ibadah adalah sehat akalnya atau tidak gila. Berdasarkan hadis yang diriwayatkan dari Aisyah Ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda, “Diangkat pena dari tiga golongan: orang yang tidur sampai ia bangun, orang gila sampai kembali akalnya atau sadar, dan anak kecil hingga ia besar.” (HR. Abu Dawud).

Sebagian orang waras melecehkan dan menyingkirkan mereka. Padahal berdasarkan perkataan Nabi Saw sesungguhnya orang yang waras pun bahkan bisa gila dengan sebenar-benarnya gila. Ustaz Nandang Burhanuddin dalam sebuah tulisannya mengutip dua hadis tentang gila ini.

Dalam hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibn Najjar dikisahkan, “Pada suatu hari, Rasulullah Saw saat berkumpul bersama para sahabat, lewatlah seorang pria gila. Para sahabat berkata, “Pria ini, adalah pria gila.” Rasul Saw kemudian bersabda, “Hati-hati bicara. Orang ini bukanlah gila. Orang gila adalah yang terus-menerus berbuat maksiat. Sedangkan orang ini, ia sedang mendapat musibah (sakit).”

Dalam riwayat lain Baginda Rasul bersabda, “Tahukah kalian orang gila seperti apa?” Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasul Saw kemudian menjelaskan: “Orang gila ialah orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan pandangan yang merendahkan, yang keburukannya membuat orang tidak merasa aman, dan kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya (al-majnuun haqq al-majnuun).”

Saya lama merenungi dua hadis ini. Lama sekali. Seperti baru menemukannya. Sebenarnya memang saya baru menemukannya, baru membacanya. Barulah menyadari kalau puluhan tahun belajar belum menjamin kita akan tahu segalanya. Ternyata Rasulullah Saw sudah menegaskan kepada orang-orang yang waras bahwa pelaku maksiat atau pun orang yang sombong sejatinya lebih gila daripada Tubagus. Mereka menertawakan Tubagus padahal mereka tidak menyadari bahwa mereka sendiri gila.

Orang sombong adalah orang gila. Mereka yang menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Mereka, orang sombong itu, yang diserang bukan pikirannya sebagaimana Tubagus, melainkan hatinya. Orang sombong mengira bahwa ia akan menemukan penghargaan manusia di dalam kesombongannya. Padahal orang bijak bilang, “Aku mencari ketinggian derajat dalam kesombongan, tetapi aku menemukannya dalam ketawadhuan.”

Mengingat ini, saya teringat sebuah kisah dalam kitab yang ditulis oleh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Jawi yang biasa disebut Imam Nawawi Al Bantani, Nashoihul ‘Ibad. Saya mengutipnya dari buku terbitan Irsyad Baitus Salam yang berjudul: Nashoihul ‘Ibad, Nasihat-nasihat untuk Para Hamba, Menjadi Santun dan Bijak.

Hasan Basri berkata: “Pada suatu hari aku mengelilingi lorong kota Bashrah dan pasarnya bersama seorang pemuda ahli ibadah. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan seorang tabib. Dia duduk di atas kursi yang di hadapannya ada banyak orang, baik laki-laki maupun wanita serta anak-anak, yang semuanya membawa botol berisikan air. Setiap seorang dari mereka bermaksud meminta obat yang tepat bagi penyakit yang mereka derita.

Selanjutnya, majulah seorang pemuda yang ahli ibadah itu kepada tabib tersebut, lalu berkata: “Wahai Tabib, apakah engkau mempunyai ramuan obat yang dapat membersihkan dosa dan mengobati penyakit hati?” Tabib tadi berkata: “Punya.” Pemuda itu berkata lagi: “Tolong berilah aku obat tersebut.” Tabib menjawab: “Ambillah sepuluh resep dariku berikut ini:

  1. Ambillah akar pohon kefakiran dan akar pohon ketawadhuan;
  2. Masukkan akar tobat ke dalamnya;
  3. Masukkan ketiga unsur itu ke dalam lesung rida;
  4. Tumbuklah sampai halus dengan alu qana’ah;
  5. Masukkan semua itu ke dalam panci takwa;
  6. Tuangkan air malu itu ke dalamnya;
  7. Didihkan semua itu dengan api mahabbah;
  8. Selanjutnya, tuangkan semua itu ke dalam mangkuk syukur;
  9. Dinginkan apa yang ada di dalam mangkuk syukur tersebut dengan kipas raja’;
  10. Minumlah semua itu dengan sendok pujian.

Jika engkau dapat melaksanakannya, maka semua itu akan menyelamatkan dirimu dari berbagai jenis penyakit dan musibah di dunia dan di akhirat.”

Saya jelaskan sedikit di sini. Qana’ah itu merasa cukup dengan apa yang ada. Sedangkan mahabbah mengutip Abu Abdullah Al-Quraisyi adalah memberikan semua yang engkau miliki kepada pihak yang engkau cintai hingga tidak bersisa sedikit pun. Dan raja’ adalah sepenuh harap, yang menurut Imam Al-Ghazali merupakan salah satu sayap selain sayap khauf (rasa takut) yang dengan kedua sayap itu orang bisa dekat dengan Allah Swt.

**

Salah satu pemicu gangguan stres pasca trauma adalah pertempuran dan konflik yang berkepanjangan. Di Aceh, melengkapi penyebab di atas yang berasal dari faktor kesengajaan manusia adalah penyebab yang lain berupa faktor bencana alam besar bernama tsunami. Dan saya berharap saya tidak menambah daftar panjang orang yang mengalami gangguan stress pasca trauma di negeri maghribi—tempat matahari terbenam ini. Entah karena menjadi Tubagus atau karena gila dalam makna konotasinya.

Di Tapaktuan, apa yang harus disombongkan? Sejatinya bahkan di mana pun kita berada. Seharusnya yang di Jakarta pun demikian adanya. Dengarlah apa yang digemakan dari jauh, apa yang disuarakan dari bawah. Sesungguhnya kekuasaan tidak akan pernah abadi.

Di pantai inilah—di negeri maghribi, tempat matahari terbenam—kita sama-sama melihat senja.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Citajam, 15 Februari 2014

Advertisements

2 thoughts on “RIHLAH RIZA #27: GILA KARENA DITOLAK CINTA

  1. gw juga pusing gara gara cewek. gw nembak cewek ditolak. gw nembak cewek yg lain ditolak. gw nembak cewek yg lain lg ditolak juga. pusing. lbh parah lg gw bukan cuma ditolak cewek, tp dihina cewek, diejek cewek, dimanfaatkan cewek, dipermainkan cewek. gw juga ditipu dan difitnah teman yg akan bantu gw nyari cewek, diancam dan dipukul org yg jadi saingan gw nyari cewek. yg bikin gw ngalamin nasib kayak gini krn gw cupu dan letoy. gw beberapa thn terpuruk gk pernah nyari cewek lg, akhir nya gw bangkit dan memulai sesuatu yg baru dari 0 lg. tp apa yg terjadi.. hampir sama dg kejadian di atas. yaitu ditolak cewek dan dijahati teman. dulu gw nyari cewek mengandalkan jimat, susuk, pelet.. gagal. skrng gw nyari cewek mengandalkan tahajud, puasa, dzikir.. tetep gagal juga. KESIALAN TDK PERNAH BERAKHIR!

    Like

    1. Mau beruntung? uk.mari sama sama tegakkan sholatnya dengan benar. luruskan ibadah hanya karena Allah. Dan bukan karena mau cari cewek. Kalau niatnya semata Allah insya Allah dunia akan ikut. Yakin ya prasangka Allah tergantung prasangka hambaNya. Jangan pernah mengatakan hidup kita sial nanti akan sial selamanya. Positif saja bahwa penolakan penolakan itu semua agar Anda sadar kalau Allah akan memberikan yang terbaik buat Anda nanti. dan tidak sekarang. Selalu ada hikmah di balik semuanya. Solusi:nikah aja langsung kenapa sih? 🙂

      Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s