RIHLAH RIZA #30: LO SIENTO


RIHLAH RIZA #30: LO SIENTO

 
 

 
 

“Aku nyari duit seharian. Kamu di rumah aja seharian.

Rumah berantakan. Ngapain aja kamu??!!”

(Sajak suami pulang dari kerja)

 
 

Kereta rel listrik (KRL) sore ini benar-benar membuat badan saya rontok. Penumpang begitu berjubel dan berhimpit-himpitan di gerbong yang saya naiki. Pendingin udara sepertinya tidak berfungsi. Hawa panas nafas para penumpang menyebar kemana-mana. Hatta jendela KRL sudah dibuka untuk memberikan kesempatan aliran udara segar dari luar masuk. Keringat pun bercucuran. Baju sudah tidak karuan lagi lusuhnya. Pun harus bertenggang rasa kepada sesama penumpang lain yang tidak mau kesenggol sedikit saja. Perjalanan satu jam ini berasa satu abad. Capek dan lelah sekali rasanya. Lahir batin.

Dan inilah yang harus saya dan kebanyakan penumpang KRL dari Bogor dan Depok terima setiap harinya. Walau kebanyakan dari kami memaki-maki layanan kereta ini tetapi tetap saja kami membutuhkan dan menaikinya terus menerus. Karena mau tidak mau KRL adalah satu-satunya angkutan yang paling efisien mengantarkan kami berangkat dan pulang kerja.

Saya turun di Stasiun Depok Baru. Lalu menuju ke tempat penitipan motor. Saya menaiki motor ini pelan-pelan menuju rumah. Dengan mengendarainya saya merasakan angin petang yang mampu membuat panas tubuh berkurang. Nyaman. Pun, saya sudah membayangkan sampai rumah nanti saya ingin istirahat dulu sebelum bermain dengan anak perempuan yang paling cantik sedunia itu.

Lima belas menit kemudian saya sudah membuka pagar rumah. Pintu rumah tidak terkunci. “Assalaamu’alaikum,” saya ucapkan salam sebagaimana kebiasaan di rumah ini. Terdengar jawaban salam dari dalam kamar. Istri saya masih di dalam kamar rupanya. Saya memandang sekeliling ruang tamu lalu beranjak ke dapur. Semua sama keadaannya, berantakan. Tidak ada barang yang berada di tempatnya. Piring-piring kotor masih menumpuk.

Belum sempat mengganti baju saya membereskan semua yang berantakan ini. Tapi ada yang memuncak di kepala. Kejengkelan. “Ngapain saja di rumah??!!” sebuah tanya dalam hati. Tak lama ruang tamu sudah beres. Sekarang gilirannya dapur. Saya akan cuci semuanya.

“Ayah…” suara lembut dari pintu dapur menghentikan sejenak pekerjaan saya. “Besok saja yah. Biar Bunda saja yang nerusin nyucinya.”

“Tanggung,” jawab saya tanpa menoleh.

“Ayah sudah makan?”

“Nanti.”

Semua datar.

**

Sudah jam sepuluh malam. Saya duduk di meja makan. Mengambil nasi, sayur bening, dan potongan daging serta ceker ayam sebagai lauknya. Selera saya sebenarnya sudah hilang. Tetapi ini bukan karena kejengkelan itu melainkan penyesalan yang menyergap saya setelah kejadian petang tadi.

Saya mengambil hp dan menekan ikon aplikasi Whatsapp. Saya akan menghubungi seseorang. Ada tulisan “online” di bawah namanya. Jam segini ia belum tidur.

“Belum tidur?” tanya saya memulai percakapan.

“Belum.”

“Aku habis berantem sama istri. Aku menyesal.”

“Ya tidak apa-apa. Namanya juga suami istri. Itu bumbu rumah tangga. Yang penting kamu jangan main tangan. Diam saja deh.”

“Tadi sudah aku peluk waktu dia ngelonin anak.”

“Alhamdulillah. Itu bagus. Sudah minta maaf belum?”

“Aku yang suka ngomel. Istri malah yang diam saja.”

“Jangan begitu. Kasihan…”

“Aku malas lihat rumah berantakan. Jadi aku ingin beresin semua langsung. Aku jengkel. Tapi setelah itu aku kasihan. Aku menyesal. Sekarang aku lagi makan sayurnya.”

Tiba-tiba ada sebongkah penyesalan yang datang kembali menghimpit dada saya ketika chat ini berlangsung. Saya hentikan sejenak chat ini.

“Aku mau peluk istri dulu yah. Aku jahat soalnya. Aku sedih,” tulis saya kembali di layar.

Beberapa menit kemudian saya sudah memegang kembali hp dan meneruskan chat.

Terlihat ia merespon kalimat terakhir saya tadi.

“Bagus. Peluk dia.”

“Sudah tidur. Aku peluk, cium, dan selimuti istri dan anakku,” lanjut saya.

“Subhanallah.” Ada tanda jempol. “Lo Siento.”

“Apaan tuh?”

“Bahasa spanyol. Artinya forgive me. Peluk itu tanda permintaan maafmu padanya.”

“Aku lagi nerusin makan nih. Aku masih hilang selera.”

“Habiskan.”

“Sudah kenyang tinggal kuah doang. Kamu mau?”

Tanda senyum muncul darinya di layar.

“Tadi istriku waktu mencegahku mencuci, meletakkan anakku di lantai. Dan aku buru-buru mengangkatnya agar dia jangan duduk di lantai.”

It’s very nice.”

“Nah pas momen angkat anak itu aku mulai ingin menangis dan memeluk anakku sambil bilang anakku maafkan aku. Aku tuh seharusnya tadi main-main saja sama anakku karena seharian tidak bertemu.”

I am all ears.”

“Kadang kalau aku lagi mood baik, aku yang mencuci kaki tangan dan cebok kalau anakku mau tidur.”

“Aku ingin mengatakan satu hal kepadamu.”

“Apa?”

“Maafkan apa pun kesalahannya. That is it. Dan jangan ragu pula untuk bilang Lo Siento kepadanya.”

“Kayaknya tidak ada deh kesalahannya. Akunya saja yang sok perfectionist. Bayangkan saja rumah tanpa asisten, anak 10 bulan yang lagi aktif banget, menyempatkan menyetrika, masak, bikin makan anak, memandikan dan aktifitas lainnya yang tidak boleh mata meleng lihat anak. Aku yang salah.”

Great.”

“Pernah suatu ketika, di pagi hari sebelum aku berangkat kerja aku tanya padanya, “Bunda capek?” Dia bilang tidak.”

Good.”

**

 
 


Maafkan aku…

 
 

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan penuh keberanian. Karena dengan itu ia berani mengakui segala salah. Ia merendahkan dirinya bahwa ia tak sepatutnya melakukan itu. Di zaman dunia penuh para Sengkuni maka jalan keberanian ini jarang ditempuh. Mereka menyelamatkan dirinya masing-masing. Hanya para ksatria yang mau dan mampu melakukannya.

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan para suami keren. Karena dengan itu ia mengakui bahwa dirinya tanpa istri bukanlah apa-apa. Bukan siapa-siapa. Istri itu “separuh aku”. Istri itu yang membuat Habibie bilang, “jiwa saya kehilangan sebelah” ketika Ainun meninggalkannya. Apalagi wujud lo siento itu termanifestasikan dengan sebuah peluk. Memeluknya ketika tidur. Menyelimutinya. Dan menaburkan doa-doa di atas kepalanya. Ini benar-benar keren. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya,” kata Kanjeng Nabi Muhammad saw.

Lo siento. Maafkan aku. Adalah jalan menyamakan nada agar bisa seirama dan membuat harmoni. Ini membuka lebar pintu terurainya permasalahan. Karena tidak ada ego yang meninggi. Maka ketika lo siento terucap masak sih tidak ada pemaafan? Lalu ketika sama-sama sudah mulai reda segala, mulailah muncul keinginan agar “kehidupan sebelum kesalahan itu terjadi” kembali. Di peradilan Amerika Serikat, pengingkaran terhadap kesalahan akan memperberat hukuman. Namun ketika ia mengakui kesalahan, setidaknya akan ada keringanan yang muncul.

Lo Siento. Maafkan aku. Adalah jalan menyayangi istri. Selamanya. Tak perlu ngambek, moody, jengkel. Lelaki sudah banyak salahnya, apakah mau menambah kesalahan ini dengan kesalahan-kesalahan lain? Sudahlah. Apa pun ia maafkan saja. Dan mulailah dengan mengucapkan lo siento kepadanya. Karena kamu lelaki bukan banci.

**

“Oke Za, terima kasih ya. Malam-malam sudah mendengarkanku,” kata saya mengucapkan terima kasih dengan tulus.

“It’s ok no problemo.”

“Kamu di Tapaktuan kan sekarang?” tanya saya.

“Saya sedang di Banda Aceh. Insya Allah ada pernikahan anak kepala kantor besok.”

“Ok Riza, terima kasih ya. Assalaamu’alaikum,” tutup saya mengakhiri chat ini.

“Wa’alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh.” Ada jempol empat di belakangnya.

Beberapa saat kemudian tampak di layar Whatsapp teman saya: Riza Almanfaluthi, last seen today 22:24.

 
 

***

 
 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

9 Maret 2014

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

 
 

  

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s