Bomber Mafia: Bau Daging Terbakar di Langit Tokyo


Buku ini buku paling tipis yang pernah ditulis oleh Malcolm Gladwell sampai saat ini.

Ini wajar karena buku berjudul Bomber Mafia: Mimpi, Godaan, dan Malam Terpanjang pada Perang Dunia II mulanya ditulis dalam format buku audio yang kemudian diubah menjadi buku cetak.

Bomber Mafia adalah buku yang menceritakan sekelompok pemikir strategis di matra udara Amerika Serikat pada saat perang dunia kedua. Mereka memiliki idealisme bahwa perang itu harus seminimal mungkin korban. Baik di pihak sendiri maupun lawan. Ini berkaca pada perang dunia pertama yang memakan korban sampai lebih dari dari 9 juta nyawa prajurit.

Untuk itu butuh pesawat yang bisa terbang tinggi melampaui jangkauan senjata antipesawat. Butuh juga pengeboman presisi agar tidak memakan korban banyak. Supaya presisi maka di pesawat pengebom harus ada pembidik bom.

Carl L Norden, ilmuwan Amerika Serikat kelahiran Belanda menciptakan pembidik bom itu. Pembidik ini memperhitungkan antara lain ketinggian pesawat di udara, arah angin, suhu, kecepatan pesawat, getaran pesawat, kelengkungan bumi, dan kecepatan bumi berotasi. Semuanya diperhitungkan dalam alat yang kemudian ditempel di setiap pesawat pengebom Amerika Serikat.

Di palagan barat Perang Dunia II di Eropa, idealisme pertempuran gaya Amerika Serikat diuji. Berseberangan dengan gaya Britania yang mengambil gaya pintas: pengeboman serampangan, menghancurkan segala apa yang ada di tanah musuh. Tidak peduli bangunan itu tidak memiliki kaitannya dengan mesin perang dan jumlah korban warga sipil yang ditimbulkan.

Maka tidak aneh kemudian serangan juga ditujukan antara lain ke kota Munster, sebuah kota cantik zaman pertengahan yang penuh dengan warga sipil, bukan kota industri, bukan kota penghasil gotri dan minyak. Serangan dilakukan di hari Minggu siang dengan mengebom gereja selagi orang-orang keluar sesudah misa.

Di saat pengarahan sebelum berangkat mengebom, navigator pesawat yang dibesarkan di rumah penganut Metodis ketat memprotes keras rencana itu. Sang komandan hanya memberitahu navigator kalau dia tidak ikut dalam misi ini, pengadilan militer sudah siap mengadilinya.

Di Pasifik, palagan timur perang dunia II, hal lain terjadi. Pengeboman presisi tidak kunjung membuahkan hasil. Jepang tidak kunjung menyerah. Komandan Komando Pengebom Ke-21 Amerika Serikat di Pasifik Jenderal Haywood Hansell sebagai anggota Bomber Mafia dan pendukung pengeboman presisi diganti oleh Jenderal Curtis LeMay. Dua-duanya alumni perang di Eropa.

Dari Guam, LeMay mengebom kota-kota di Jepang dengan menggunakan senjata paling baru dan mematikan pada saat itu: bom napalm. Bom buatan akademisi Harvard ini adalah sejenis bom bakar berbentuk gel padat yang mudah menempel di permukaan benda, tidak mudah lepas, dan bersuhu tinggi.

Ratusan pesawat B-29 terbang dari Guam. Target mereka adalah daerah seluas 30 km persegi di Tokyo, di salah satu distrik terpadat di dunia pada saat itu dengan ribuan rumah kelas pekerja yang terbuat dari kayu dan kertas.

Armada B-29 tiba di Tokyo lewat tengah malam 9 Maret 1945 atau dini hari 10 Maret 1945. Dari ketinggian 1500 meter armada itu menjatuhkan 1665 ton napalm. Tokyo tak siap menghadapi penyerangan itu.

Bangunan-bangunan terbakar bahkan sebelum kebakaran mencapainya. Ibu-ibu lari dari api sambil menggendong bayi di punggung, tapi ketika berhenti berlari, menyadari bahwa bayinya terbakar. Orang-orang melompat ke kanal-kanal cabang Sungai Sumida, tapi tenggelam ketika air pasang datang atau tertimpa ratusan oang lain yang juga mencebur. Ada juga yang berusaha bergelantungan di jembatan baja, sampai bajanya menjadi terlalu panas, kemudian mereka juga jatuh dan tewas.

Membaca penggambaran Gladwell pada saat pengeboman itu seperti membaca buku Hiroshima yang ditulis oleh John Hersey pada 1946. Keduanya jurnalis The New Yorker beda zaman.

Lebih dari 100 ribu orang tewas dalam kebakaran yang berlangsung selama enam jam. Bau daging manusia terbakar memenuhi langit Tokyo dan ruangan pesawat, menempel di dinding-dinding pesawat.  Para pengebom pulang dengan keadaan terguncang. Sampai di landasan Kepulauan Mariana, mereka harus menyemprot pesawat agar bau itu hilang.

Itu baru awal. Setidaknya ada 67 kota hancur karena napalm dalam setengah tahun. Ada yang mencatat lima ratus ribu atau satu juta warga Jepang tewas.

Penjatuhan bom atom pertama di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 yang dikerjakan oleh pasukan lain tak menyurutkan langkah LeMay untuk terus menghujani kota-kota Jepang dengan Napalm. Bahkan mereka baru tahu kalau Jepang menyerah pada saat pesawat yang mengebom Isesaki kembali ke Kepulauan Mariana. Itu menjadi misi terakhir mereka.

Beberapa ahli sejarah Jepang mengatakan, tanpa bom napalm dan bom atom Jepang tak akan menyerah. Di medan perang timur, tidak ada invasi darat yang akan membelah Jepang seperti Jerman dan Korea.

Perang memang mengerikan dan tak semestinya terjadi lagi. “Perang itu absurd. Selama ribuan tahun, manusia telah memilih menuntaskan perselisihan dengan saling bantai. Dan jika kita tidak sedang saling bantai, kita menghabiskan banyak sekali waktu dan perhatian mencari cara lebih baik untuk saling bantai pada kesempatan berikutnya,” tulis Gladwell.

Maka absurditas yang nampak kemudian, pendekatan Curtis LeMay melalui pengeboman itu membawa dua negara menuju kemakmuran. Satu hal lagi adalah pada 1964 LeMay mendapat penghargaan tertinggi pemerintah Jepang: Kyokujitsu-sho (Lencana Matahari Terbit) kelas satu. LeMay dianggap berjasa membantu membangun kembali Angkatan Udara Jepang.

Pada masa sekarang, dari ketinggian dua belas ribu meter tanpa melihatnya, tentu dengan dipandu satelit, tanpa terdeteksi radar, pesawat bisa mengebom dan menghancurkan sasaran secara presisi. Meminimalisasi korban. Inilah yang Gladwell sebut: “Curtis LeMay memenangkan pertempuran. Haywood Hansell menang perang.”

Apa pun itu, semangat fasisme dan perang sama-sama kejinya buat manusia. Pihak menang dan kalah sama-sama bertanggung jawab dalam pembantaian manusia terbesar dalam sejarah yang pernah dicatat oleh dunia.

Kita tidak mau perang besar itu ada lagi. Membaca buku ini seperti membaca peristiwa yang baru saja terjadi kemarin.

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
10 Januari 2022

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.