Setelah Lolos dari Maut, Akan Berterima Kasih kepada Siapa?


Photo by cottonbro on Pexels.com.

Di tempat itu, malam-malam, menyalakan PC Desktop yang dengingnya seperti suara Gryllus Mitratus, membuka Windows 95, dan mengetik di Word for Windows 1.0 kemudian belajar menulis.

*
Mendapat pekerjaan dengan upah yang bisa memenuhi biaya hidup sehari-hari dan bahkan bisa menabung itu adalah sesuatu yang hebat.

Dipindahtugaskan ke tempat kerja yang lebih dekat dengan keluarga atau homebase tentunya sebuah kenikmatan yang luar biasa dan wajib disyukuri.

Selamat dari musibah gara-gara terlambat naik bus yang satu jam setelahnya masuk jurang tentu itu adalah anugerah karena ia diberikan kesempatan mendapatkan hidup kedua kali.

Ada lagi yang ditusuk tenggorokannya saat berlibur. Pisau itu berjarak dua milimeter saja dari arteri karotid. Ia bertahan hidup dan setelah itu tidak ada hal-hal kecil yang membuatnya risau. Menurutnya kerisauan itu tak sebanding dengan kesempatan hidupnya.

Dari keempat contoh itu, ada hal yang sama. Berusaha menjadi orang yang bersyukur atas hadiah yang diterima. Itu pada saat pertama. Namun, dengan berjalannya waktu peristiwa atau kejadian yang mengubah hidup itu menjadi sesuatu yang biasa saja. Namanya juga manusia yang diberikan sifat fujur (buruk) dan takwa.

Atau dalam bahasa lainnya adalah hedonic adaptation atau hedonic treadmill. Seperti hamster yang berjalan di atas roda berputar, berlari dan mengejar sesuatu di tempat, selalu merasa kurang puas dengan apa yang sudah dimiliki.

Tim Kreider, orang yang tenggorokannya selamat dari tusukan pisau itu, ketika disusupi hedonic adaptation merasa kemudian mengesalkan hal-hal yang kecil lagi. Seperti kita semua yang sedang membaca ini, Tim Kreider kembali menyepelekan hidup.

Tim sadar lalu berupaya untuk membuat solusi berupa merayakan hari penusukannya dengan mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekitarnya. Ini dilakukan agar ia merasa sangat beruntung masih hidup sampai detik itu. “Dulu kan saya pernah hampir mati karena ditusuk tenggorokannya,” barangkali pikiran itu yang kemudian penuh di benaknya.

Kalau orang tajir semacam Walter Green, CEO sebuah perusahaan sukses, ia keliling dunia untuk mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membawanya ke puncak kesuksesan. Ada 44 orang.

Selain dari istri dan anak-anaknya, ada asistennya yang telah menemani dirinya selama 25 tahun, mentor-mentornya, dokter keluarga yang memastikan anak-anaknya sehat, atau kawan-kawan di kampusnya dulu yang menemukan dirinya.

Kunjungan silaturahmi itu dilakukan seperti di restoran, kamar hotel, atau kantor. Saat pertemuan menjadi saat berbagi kenangan. Ia mengucapkan terima kasih dan mencurahkan perhatian kepada mereka, tidak mencatat, namun meminta izin untuk merekam perbincangan.

Setelah semua kunjungan itu, Walter mengirimkan foto mereka berdua yang diambil saat pertemuan dan sekeping compact disk yang berisi rekaman percakapan itu ke masing-masing orang sebagai hadiah. Ini mengesankan mereka semua dan menggerakkan sebagiannya untuk melakukan hal yang sama seperti yang Walter lakukan.

Tim dan Walter sekadar contoh cerita bagaimana efek dari menciptakan momen agar bisa berterima kasih dan mengingatkan betapa banyak hidup yang mesti disyukuri. “Tidak bersyukur kepada Allah bagi siapa yang tak berterima kasih pada manusia,” kata Kanjeng Muhammad saw.

Barangkali kalau saya, dari sekian banyak orang yang mesti saya beri ucapan terima kasih salah satunya adalah Ketua Komisariat Mahasiswa (KOMA) STAN tahun1995/1996 yang telah memercayai saya untuk memegang kunci sekretariat KOMA.

Dengan itu saya bisa bebas pergi ke ruang sekretariat di Gedung G Kampus STAN, di malam hari, untuk menyalakan komputer yang dengingnya seperti suara jangkrik, belajar Windows 95 dan Word for Windows versi 1.0, serta belajar menulis. Dari sana, kini terbit buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini.

Sekarang, kalau ditanya, tanpa perlu berpikir lama, Tuan Puan pembaca, akan mengucapkan terima kasih kepada siapa?

***
Riza Almanfaluthi
Dedaunan di ranting cemara
10 April 2020

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.