Sekrup-Sekrup Kecil: Empat Modus Perkaya Diri Jadi Masa Lalu


 


Pagi itu telepon berdering. Nomornya tidak dikenal. Kemudian terdengar suara seorang perempuan di ujung sana. Tak lama saya baru ngeh. Ternyata suara itu berasal dari seorang perempuan yang pernah saya kenal sewaktu saya menjadi Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat. Perempuan ini dulu pernah menjadi tax manager sebuah perusahaan di Sidoarjo. Perusahaan pembalut buat ibu setelah melahirkan ini termasuk ke dalam kategori Wajib Pajak yang taat pajak.

Walaupun saya sudah bertahun lampau meninggalkan kantor itu dan sekarang berada di ujung negeri, ia masih menyimpan nomor telepon saya. Seperti waktu dulu, ia pun bertanya-tanya kepada saya mengenai kasus perpajakan yang ditanganinya. Bedanya, sekarang ia telah menjadi seorang konsultan manajemen. Penanganan kasus perpajakan hanyalah bonus yang diberikan kepada klien yang menyewa jasa konsultasi manajemennya.

Baca Lebih Lanjut

RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA


RIHLAH RIZA #41: INI CERITA GAJAH YANG TAK TAMPAK DI PELUPUK MATA

Apa kabar, Pengelana Muda? Tak kujumpai kamu di setiap langkahku. Atau aku melangkah di jalan yang salah?

( Surat Jesse kepada Roy dalam Balada si Roy 2-Gola Gong)

Hari ini, Ahad, saya harus berangkat kembali ke Tapaktuan setelah liburan dan cuti lebaran selama dua minggu. Tapi tunggu dulu, ada sesuatu yang tertinggal. Ada dokumen yang harus saya bawa ke kota tempat kerja saya itu. Maka saya mencari dokumen tersebut dalam kantung plastik tempat saya biasa menyimpan segala sesuatu yang penting.

Sampai suatu ketika tangan saya menyentuh amplop berwarna telur asin. Saya tergerak membukanya. Ada dua lembar kertas warna putih berukuran A4. Kertas ini membawa ingatan saya kepada suatu waktu hampir empat tahun yang lalu. Kertas surat yang saya baca di atas bus Kopaja. Sebuah surat perpisahan.

Ya surat perpisahan. Namun bukan seperti surat perpisahan dari Jesse kepada anak bengal yang bernama Roy. Melainkan surat perpisahan yang bercerita banyak dan menyertai bingkisan dari teman-teman satu seksi saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Empat.

Saat itu saya memang dipindahtugaskan dari kantor tersebut ke kantor saya yang baru di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), tepatnya di Direktorat Keberatan dan Banding. Surat itu kini saya baca ulang. Tetap saja ada rasa haru yang muncul. Saya membacanya perlahan. Sahabat-sahabat saya tersebut terlalu berlebihan menilai saya. Saya belum seberapa dengan mereka sendiri. Membacanya…

Baca Lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU


RIHLAH RIZA #8: MEULABOH DAN 105 TAHUN YANG LALU

Meulaboh. Di waktu sahur. Akhir Ramadhan 1316 H (11 Februari 1899 M). Suaminya tertembak di dada dan di perutnya. Tembakan prajurit Van Heutsz merobohkan dan menyebabkan suaminya meninggal dunia. Jenazah suami keduanya ini dibawa para pengikutnya untuk dikuburkan di sebuah tempat yang dirahasiakan agar tidak diketahui Penjajah Belanda yang ingin memastikan kalau “pengkhianat” yang bernama Teuku Umar ini benar-benar tewas.

    **

Kami bertiga tiba di Bandara Kualanamu jam 8.15 pagi (27/10) dan harus menunggu tiga jam lebih agar bisa naik pesawat ke Meulaboh. Untuk ke sana kami harus ganti pesawat yang lebih kecil lagi. Dari Jakarta menuju Kualanamu kami memakai pesawat Boeing yang dioperasikan Lion Air, sedangkan ke Meulaboh kami menggunakan maskapai Wings Air dengan pesawat ATR72-500 berbaling-baling dua buatan perusahaan Perancis-Italia. Tentu dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit daripada Boeing. Berkisar 70-an penumpang.

    Penerbangan kami ini merupakan penerbangan connecting. Kami cukup membeli tiket sekali saja. Ada beberapa jadwal penerbangan dari Jakarta mulai dari jam lima sampai jam delapan pagi. Semua penerbangan di jam tersebut transit di Kualanamu menunggu pesawat ATR72-500 yang dijadwalkan berangkat jam 10.45 siang. Saya sarankan jangan terbang dengan pesawat yang berangkat dari Jakarta jam delapan pagi karena dikhawatirkan ditinggal oleh pesawat ke Meulaboh itu jika ada keterlambatan atau delay di Bandara Soekarno Hatta.

(Koleksi Foto Pribadi)

    Ada keterlambatan. Oleh karenanya jam 11 lebih kami baru diminta untuk segera naik pesawat. Kami naik bus yang telah disediakan menuju pesawat yang diparkir jauh dari tempat tunggu kami. Karena pesawat ATR72-500 ini masuknya melalui pintu belakang maka tak perlu ada garbarata. Perlu waktu lima puluh menit penerbangan untuk sampai ke Bandara Cut Nyak Din, Meulaboh. Kalau ditarik garis lurus kami harus menempuh perjalanan sepanjang 295 km.

    Dua teman saya bertujuan akhir Meulaboh. Tetapi Meulaboh bukan tujuan saya. Tapaktuanlah yang menjadi tujuan. Tentu banyak jalan menuju Tapaktuan. Banyak pertimbangan yang perlu dipikirkan untuk memilih jalan itu.

    Pertama, Jakarta-Banda Aceh melalui udara dilanjut dengan menempuh 439 km perjalanan darat menggunakan travel menuju Tapaktuan selama kurang lebih delapan jam. Jalanan mulus. Harga tiket pesawat dan lamanya perjalanan Jakarta-Banda Aceh tentunya lebih mahal dan lebih lama daripada Jakarta-Kualanamu apalagi kalau transit dulu.

    Kedua, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Meulaboh dengan pesawat dan masih ada 200-an km menuju Tapaktuan dengan perjalanan darat atau sekitar tiga sampai empat jam lebih. Harus ada yang menjemput di Bandara Cut Nyak Din. Jalanan mulus.

    Ketiga, Jakarta-Kualanamu melalui udara dilanjut menuju Tapaktuan dengan pesawat Susi Air berjenis Cessna Grand Caravan C 208 B berpilot dua orang dan berpenumpang dua belas orang. Tarifnya murah karena telah disubsidi pemerintah. Jadwalnya tidak setiap hari dan hanya di jam-jam tertentu. Untuk menyiasati waktu dan daripada menempuh perjalanan darat yang lama maka banyak teman di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan bila berangkat dari Jakarta ia mengambil perjalanan paling malam lalu menginap—tidur di mana saja—di Bandara Kualanamu kemudian lanjut dengan pesawat kecil menuju Bandara Kelas IV Teuku Cut Ali, Pasie Raja, Tapaktuan. Jadwalnya itu yang sering tidak bersahabat. Dari Tapaktuan sekitar jam empat sore sedangkan dari Kualanamu jam tujuh pagi. Tentu ini bikin terlambat (TLB) atau pulang cepat (PC) dalam catatan kehadiran kita.

    Keempat, Jakarta-Kualanamu melalui udara. Kemudian naik bus, kereta api, atau taksi menuju Medan. Lalu dari Medan naik travel atau bis menuju Tapaktuan. Menempuh tujuh hingga delapan jam perjalanan dengan jarak 390-an km. Jarak tempuhnya lebih pendek daripada rute dari Banda Aceh namun jalanan tidak mulus. Dengan perpindahan bandara dari Polonia, Medan ke Kualanamu, Deli Serdang menambah waktu tempuh untuk bisa sampai di Tapaktuan.

    Saran penting dari saya berdasarkan informasi dari teman-teman adalah lebih baik naik travel dari Medan ke Tapaktuan daripada naik bis jika ingin memburu waktu sampai di Tapaktuan pagi-pagi. Travel hanya ada di Medan. Belum ada di Kualanamu. Jam terakhir travel adalah jam 9 malam. Setelah itu tak ada lagi.

    Itulah empat rute menuju Tapaktuan. Sedangkan perjalanan dengan rute Jakarta Meulaboh ini saya tempuh karena ini merupakan perjalanan pertama, bersama teman, bawa banyak barang, dijemput juga oleh teman-teman, dan tidak mengetahui jalur langsung dari Kualanamu ke Tapaktuan. Rute ini tidak akan saya tempuh lagi Insya Allah. Yang masih masuk akal bagi saya adalah rute ketiga dan keempat.

    Ohya, penting juga diketahui, bahwa  ketika pesawat ini bertujuan Meulaboh, maka sesungguhnya pesawat ini mendaratnya di Bandara Cut Nyak Din yang berada di Kabupaten Nagan Raya. Kabupaten ini merupakan pecahan dan bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Barat yang beribu kota Meulaboh. Masih 45 km dari Bandara Cut Nyak Din menuju kota Meulaboh.

Pesawat ATR72-500 saat tiba di Bandar Udara Cut Nyak Din, Kabupaten Nagan Raya. (Foto Pribadi)

    Saya tiba di Bandara Cut Nyak Din jam 12.15. Saya berpisah dengan dua orang teman saya yang ditempatkan di KPP Pratama Meulaboh. Lalu saya melanjutkan perjalanan dengan teman-teman dari KPP Pratama Tapaktuan yang menjemput saya satu jam kemudian. Mereka adalah Mas Yan Permana, Mas Hasbul—teman lama saya di KPP Penanaman Modal Asing Empat dulu, Mas Suardjono dan Mas Oji Saeroji.

    Mulailah perjalanan panjang kami menuju Tapaktuan. Melewati perkebunan kelapa sawit, jalanan mulus yang sepi, tak bertemu dengan bis gede-gede seperti di Pantura Jawa, jarang ketemu truk, tak ada angkot, yang ada pesaing kami: motor. Perjalanan kami diselingi dengan berhenti dua kali di masjid yang berbeda, lalu makan di rumah makan Jokja (Pakai k bukan g), dan berhenti sebentar di SPBU. Saya mengira perjalanan darat ini berlangsung singkat tapi ternyata lama. Saya sampai terkantuk-kantuk karena tempat tujuan tak kunjung tiba.

    Kami banyak disuguhi pemandangan elok. Bukit-bukit lebat seperti di jalanan Garut-Tasikmalaya. Bahkan suatu saat kami melewati barisan bukit yang diatasnya ditutupi kabut dan dari kumpulan kabut itu muncul lengkung pelangi yang luar biasa indahnya. Kebetulan habis hujan saat itu. Subhanallah. Indah banget. Apalagi kalau sudah sampai di Kecamatan Sawang, Tapaktuan kita akan melihat pemandangan pantai yang eksotis. Bagian tentang keeksotisan inilah yang saya tidak sabar untuk menuliskannya segera. Tapi nanti satu per satu saya akan menyuguhkannya di bagian lain.

Plang KPP Pratama Tapaktuan (Koleksi Pribadi)

Akhirnya pada pukul 18.15 saya tiba di Tapaktuan. Mobil yang kami kendarai mampir sebentar melihat kantor kami. Kata teman agar saya tidak shock dulu sebelum benar-benar bekerja esok harinya. Mess tempat saya akan tinggal berjarak tidak jauh dari kantor ini. Kurang lebih 75 meter.

So, total jenderal 14,5 jam perjalanan Citayam menuju Tapaktuan. Dengan kecanggihan teknologi perjalanan 2400-an km itu hanya ditempuh beberapa jam saja. Saya tak bisa membayangkan berapa hari perjalanan dengan menaiki kuda. Ngapain lagi bayangin naik kuda. Dengan kecanggihan teknologi itulah setidaknya mengurangi lelah yang diderita jika perjalanan itu harus kudu naik kuda atau perjalanan darat berhari-hari.

Tinggal ke depannya perlu dipikirkan lagi moda transportasi yang mengubah benda padat menjadi partikel tak terlihat dan memindahkannya dalam sekejap ke tempat yang dituju lalu menjadikan partikel itu seperti semula. Fiksi dan Hollywood banget. Tapi semua bermula dari mimpi seperti mimpi Leonardo Da Vinci yang merancang bangun alat yang bisa menerbangkan manusia. Atau seperti pintu doraemonkah?

Alat yang mampu menuntaskan rindu kepada orang dan kampung halaman, tanpa lelah, dan bisa setiap saat. Yang akan menuntaskan rindu seperti  rindu Cut Nyak Din akan negeri tempat ia dilahirkan. Ia terbuang di masa tuanya. Ke sebuah tempat yang jaraknya ribuan kilometer dari makam suaminya. Sebab suatu alasan: keberadaannya di Aceh membuat semangat perlawanan rakyat Aceh tetap berkobar. Tentu jangankan pesawat, bus pun tak ada pada masa itu.

Gunung Puyuh, Sumedang. Di 105 tahun yang lalu dari tanggal ini, tepatnya 6 November 1908 ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Keterasingan yang dibawa sampai mati. Tapi jasanya tak pernah terasing di jiwa anak bangsa atas semangat dan perlawanannya yang tak mengenal lelah dan sakit. Dan saya hampir dekat dengan Meulaboh. Suatu saat, jika ada waktu dan kesempatan saya akan mengunjungi makam suaminya dan berdoa di sana: agar Allah menggabungkannya ke dalam golongan orang-orang yang syahid.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 5:51 6 November 2013

Tags: Jakarta-Meulaboh, Pesawat dari Jakarta ke meulaboh, Jakarta-tapaktuan, pesawat dari Jakarta ke tapaktuan, citayam, tapaktuan, kpp pratama tapaktuan, nagan raya, aceh selatan, aceh barat, bandara teuku cut ali, bandara cut nyak din, garut-tasikmalaya, garut, tasikmalaya, pesawat ke tapaktuan, pesawat ke meulaboh, jadwal ke meulaboh, jadwal ke tapaktuan, kpp pma empat, kpp penanaman modal asing empat, rumah makan jokja, pesawat atr72-500, kualanamu, banda aceh, medan, yan permana, oji saeroji, hasbul, suardjono, polonia, deli serdang, pasie raja, kpp pratama meulaboh, teuku umar, sumedang, van heutsz, gunung puyuh.

RIHLAH RIZA #6: NKRI SEBELAH MANA?


RIHLAH RIZA #6: NKRI SEBELAH MANA?

 

“Tapaktuan…!” teriak seorang teman yang sedang melihat pengumuman di SIKKA, sebuah aplikasi kepegawaian di Direktorat Jenderal Pajak. Saya yang sedang asyik menyusun daftar biaya perkara pengajuan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung sedikit terkejut. “Pengumuman apa ini?”

“Mas selamat ya…” ucapan selamat kemudian berbondong-bondong datang dari teman-teman satu ruangan atas pengangkatan saya menjadi kepala seksi. Saya jabat satu persatu tangan teman-teman. Pertanyaan lanjutannya yang saya tak tahu jawabannya.

“Ditempatkan di mana Mas?”

“Aduuh…saya juga tidak tahu. Saya belum lihat pengumumannya. Jadi pastinya di mana saya tidak tahu,” kata saya persis seperti seleb di infotainment saat ditanya wartawan gosip.

Tapi itu tak lama. Salah seorang teman yang sudah melihat pengumuman itu langsung memberitahu saya, “Tapaktuan Mas.”

Suwer…saya baru tahu ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini daerah yang bernama Tapaktuan. Di Aceh pulak.

**

Akhir September 2010 saya dipindah dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing Empat ke Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak sebagai Penelaah Keberatan. Di DKB saya masuk di Subdirektorat Banding dan Gugatan II menjadi petugas banding. Tugasnya mewakili Direktur Jenderal Pajak menghadiri persidangan di Pengadilan Pajak atas banding dan gugatan yang diajukan oleh Wajib Pajak.

Selama dua tahun delapan bulan saya menjadi petugas banding. Kemudian Ibu Direktur melakukan mutasi internal dan menugaskan saya di subdirektorat lain agar terjadi penyegaran. Tepatnya di Subdirektorat Peninjauan Kembali dan Evaluasi. Di subdirektorat ini saya tergabung dalam Seksi Peninjauan Kembali.

Tugas saya di seksi ini adalah membuat memori peninjauan kembali dan kontra memori peninjauan kembali ke Mahkamah Agung. Setiap putusan Pengadilan Pajak akan dievaluasi oleh Penelaah Keberatan di seksi lain yang menjadi evaluator putusan Pengadilan Pajak. Setiap evaluator akan memberikan rekomendasi dalam laporan hasil evaluasinya apakah putusan Pengadilan Pajak ini akan diajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung atau tidak.

Kalau rekomendasinya adalah diajukan PK ke Mahkamah Agung maka Seksi Peninjauan Kembali membuat memori peninjauan kembali. Selain itu kalau ada Wajib Pajak yang mengajukan memori peninjauan kembali karena kalah di Pengadilan Pajak maka kita membuat kontra memori peninjauan kembali.

Selain direktur, kepala subdirektorat, dan kepala seksi, para Penelaah Keberatan di Seksi Peninjauan Kembali ini juga diberi kuasa khusus langsung oleh Direktur Jenderal Pajak untuk membuat memori peninjauan kembali dan kontra memori peninjauan kembali dan mengajukannya ke Mahkamah Agung.

Teman-teman di Subdirektorat PKE—entah petugas evaluatornya atau petugas pembuat memori peninjauan kembali—sama-sama dikejar jatuh tempo. Makanya teori relativitas Einstein bekerja di sini. Waktu itu berjalan dengan sangat cepat. Tak terasa hari sudah jumat saja. Tak terasa pekerjaan banyak dan menuntut harus diselesaikan. Dan sampai hari itu datang, 26 September 2013…

**

Pemberkasan sudah beres. Sisa-sisa pekerjaan lainnya saya selesaikan. Tugas mengambil uang buat biaya perkara peninjauan kembali ke Mahkamah Agung sudah terlimpahkan. Tidak enaknya masih ada sebagian pekerjaan yang mau tak mau harus ditinggalkan karena saya harus pergi ke Tapaktuan. Saya khawatir ini membebankan. Tapi apa mau dikata.

Oleh karenanya saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman di Seksi Peninjauan Kembali yang selama ini membantu dan membimbing saya. Satu hal pelajaran berharga yang didapat dari sana adalah sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat yang lain. Ini bisa jadi adalah sebaik-baik Penelaah Keberatan adalah yang paling bermanfaat buat teman Penelaah Keberatan yang lain. Terima kasih pula buat teman-teman semuanya di seksi lain di Subdirektorat PKE. Maaf kalau saya terlalu banyak menagih laporan hasil evaluasinya. Kerja sama yang selama ini kita bina sungguh tiada cela.

Yang pasti tak ada lagi tagihan saya kepada teman-teman seperti ini: “Slip Mbak…slip Mas…” Slip itu slip setoran biaya perkara ke bank. Itu biasa yang saya tanyakan kepada teman-teman Penelaah Keberatan yang membuat memori peninjauan kembali. Kalau ada memori yang mereka buat, mereka wajib membuat slip setorannya dan menyerahkannya kepada saya untuk kemudian disetorkan ke bank oleh teman saya yang lain.

Dan pada waktunya itu, di sebuah acara kecil-kecilan, sedikit kata-kata yang bisa saya sampaikan kepada teman-teman atas semua yang telah mereka berikan kepada saya. Hanya maaf tak terkira termohonkan kiranya agar teman-teman bisa lapang hati dan lapang dada memaafkan segala salah.

Paling depan: Mbak Fransisca Warastuti, Mbak Wahyu Nursanty, Mbak Sary Laviningrum, dan Pak Dani Koesworo. Barisan tengah: Mbak Eka Dewi Iswanti Harahap, Mbak Ayu Endah Damastuti, dan Mbak Kusumo Pratiwiningrum. Barisan belakang: Mas Bayu Ajie Yudhatama dan Mas Anndy Dailami. Semuaitu arrizquminallah betulkan Mas Anndy?

Yang memotret adalah Mas Sularso—Barakallah Mas semoga berkah pernikahannya—dan satu Penelaah Keberatan lagi adalah Mas Budi Rahardjo yang tidak bisa hadir karena ada memori peninjauan kembali yang harus segera diselesaikan. Thanks to all…

Terima kasih pula buat Pak Budi Christiadi yang telah memberikan pelajaran tentang arti sebuah pembelaan pada bawahan saat ditempatkan di timur sana dan yang terus menyemangati saya sampai akhir untuk tetap bisa survivedi tanah seberang. Terima kasih Pak.

 

Saya dan Pak Budi Christiadi (Foto milik Andreas Joko Putranto)

**

“Ini Seksi PDI ya Bu? Bisa bicara dengan OC-nya Bu?”

“Betul. Ini dari mana?”

“Saya Riza dari Tapaktuan.”

“Sebentar,” perempuan ini kemudian memanggil sebuah nama dengan suara keras yang saya di ujung telepon ini pun ikut mendengarnya.

“Mas…!!! Telepon dari tapak nyonyaaaaa….!!! teriak perempuan itu sambil tertawa-tawa.

Entah perempuan ini tahu tidak di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelah mana daerah itu berada. Apa perlu ditapaktuankan terlebih dahulu? :p *melet.

***

 

 

 

Keterangan:

  • Seksi PDI adalah Seksi Pengolahan Data dan Informasi di Kantor Pelayanan Pajak
  • OC adalah Operator Console, atau bisa disebut juga admin sistem kantor.

 

 

 

Riza Almanfaluthi    

dedaunan di ranting cemara

21.30 31 Oktober 2013

 

Tags: budi christiadi, farchan ilyas,taslim,dedi supriadi,sularso,anndy dailami,fransisca warastuti,eka dewi iswanti harahap,budi rahardjo,kusumo pratiwiningrum,wahyu nursanty,sary laviningrum,bayu ajie yudhatama,ayu endah damastuti,fery wibowo,dewi novita,wahyu ary wibowo,rois antoni,mangatur elvina simanjuntak,henny puspita sari,pebranto hasudungan banjarnahor,ken suryo purnomo,rajonti hutajulu,andreas joko putranto,fitri,krisman hasintongan purba,achmad sunhaji, i made nesa widiada,krishna triswara wisnu,wulandari,natalina patriani,dedy damhadi,fahmi ahmad,erwin,pasti katulistiwa kasawilaga,sudiyanto,trisna sena,tito adi suwasto,ani tri wahyuni,rizky syabana,yulis bimas sakti,bambang siswanto,anhari masrob,etik prasetiyowati,imron hidayatullah,nur endah anayanti,rudy irawan, agnes meilani,amin waluya, iwan sutrisno, direktorat jenderal pajak, direktorat keberatan dan banding, subdirektorat banding dan gugatan ii, seksi peninjauan kembali, subdirektorat peninjauan kembali dan evaluasi, subdit bg ii, subdit pke, kantor pelayanan pajak penanaman modal asing empat, kpp pma empat, kpp pma 4, mas acho, memori peninjauan kembali, kontra memori peninjauan kembali, mpk, kontra mpk, dkb, Andreas Joko Putranto

SECENTIL PROFIL DAN SESANGAR JANGKAR


SECENTIL PROFIL DAN SESANGAR JANGKAR

Saya baru saja mendudukkan diri pada bangku besi depan loket Stasiun Citayam saat HP made in China itu rada-rada bergetar. Tanda pesan pendek masuk. Perasaan saya HP itu bergetar, karena senyatanya saya tak tahu apakah HP itu bergetar atau tidak. Baik dalam profil biasa ataupun rapat, HP itu benar-benar tak bisa bunyi ataupun goyang seperti penyanyi dangdut.

Selain tombolnya juga sudah banyak yang koit dan beaksesoriskan gelang karet untuk menahan casing belakangnya tidak copot. Tak mengapalah yang penting masih bisa dipakai. Walaupun ini sering membuat jengkel para kolega saat mengontak saya karena jarang diangkat. Ya, bagaimana akan diangkat kalau saya tidak tahu ada tanda-tanda sinyal masuk.

Ngomong-ngomong ini bicara masalah HP atau bicara apa? Ya sudahlah kita tinggalkan dulu barang buatan China yang anak SD juga sudah pada tahu kualitasnya seberapa. Kembali pada pesan pendek itu. Ini dari teman. Ngapain juga petang-petang begini dia kirim sms terkecuali pesan penting tentunya.

“Barokallah…Anda pindah jadi Penelaah Keberatan di Direktorat Keberatan dan Banding.”

Kali ini saya tidak begitu emosional. Kali ini biasa-biasa saja. Kali ini memang sering banjir. Nah loh apa hubungannya kali (sungai) dengan banjir? … Enggak, sebenarnya ini dikarenakan saya sudah siap mental untuk ditempatkan di mana saja. Jadi Account Representative di kantor pajak lain—berkasta apapun, pratama, madya, khusus, LTO—ataupun jadi pelaksana lagi, sekarang saya siap-siap saja.

Mental ini sudah saya siapkan sejak saya mendawamkan doa-doa yang pernah saya tulis di tulisan saya terdahulu (baca do’a mutasi). Apalagi pada saat bulan ramadhan, doa itu saya panjatkan betul. Agar Yang Diatas Sana memberikan keberkahan di mana pun saya berada. Dan saya yakin betul apapun yang diberikan Allah adalah tempat yang terbaik buat saya.

Keyakinan itu mewujud. Dan saya harap ini adalah berkah ramadhan. Ya, mulai mewujud, saat siang ini saya tiba di kantor baru untuk melapor. Ternyata keluar dari lift, ujug-ujug, tak jauh dengan sepelemparan batu, masjid bagus itu tampak di depan mata. Dekat banget. Hal yang patut disyukuri seperti syukurnya kita saat bangun tidur ternyata kita masih bisa bernafas. Itu pertama.

Kedua, masalah transportasi. Syukurnya masih bisa dijangkau dengan kereta rel listrik yang Oktober ini tarifnya mulai naik—alasannya biasa karena TDL naik. Bisa dari stasiun Gondangdia ataupun dari Stasiun Sudirman. Kalau dari stasiun pertama maka kudu mencari tandeman agar bisa mengirit ongkos naik taksi ke Kantor Pusat. Yang kedua lebih irit, cuma dengan selembaran uang dua ribuan.

Ohya bicara masalah lift, naik lift itu ternyata enak juga yah…Maklum sudah dari tahun 2004 saya mencoba tidak naik lift untuk menuju ruangan saya. Saya selalu naik tangga. Alhamdulillah bisa komitmen. Saya niatkan untuk olahraga memang. Walaupun cuma empat lantai. Efeknya bisa sekaligus hapal berapa jumlah anak tangga kantor dari lantai 1 sampai lantai 4.

Sekarang di kantor baru, ruangan saya berada di lantai 18. Pfhffff…kalau naik tangga kayaknya gempor juga. Akan saya coba dulu sekali-kali naik tangga 18 lantai. Gimana rasanya yah? Ada berapa anak tangga? Silakan, sekarang ini Anda bisa memiringkan jari telunjuk Anda di jidat Anda melihat saya.

Setelah pesan pendek pertama, lalu disusul yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Selanjutnya ada yang menelepon saya. Terimakasih kepada semuanya yang telah memberikan selamat dan mengingatkan amanah baru yang akan saya emban.

Terus terang saja ini adalah pekerjaan baru yang dari dulu memang saya tidak inginkan. Penelaah Keberatan gitu loh…Selalu dikejar deadline dan tekanan. Tapi lagi-lagi saat ini saya begitu lega dan legowo menerima semuanya. Sudah saya bilang di awal kalau saya siap di mana pun. Tidak masalah. Saya songsong dengan senang hati. Ini tantangan baru bagi saya bekerja di tempat Gayus dulu pernah bekerja. Ini awal yang baru.

Pekerjaan yang belum familiar? Ya… tinggal belajar saja. Dan kalau masalah belajar, saya jadi teringat perkataan Maryamah binti Zamzami dalam Cinta di Dalam Gelas, “Berikan aku sesuatu yang paling sulit, aku akan belajar.” Tak ada yang bisa melawan kekuatan belajar, hatta sebuah ketidakmungkinan.

Well, setelah hampir 13 tahun lamanya di Kalibata, saatnya saya meninggalkannya. Meninggalkan speaker kantor untuk do’a di setiap pagi. Meninggalkan bau apek karpet masjid yang sering dijadikan tempat tidur siang. Meninggalkan bebek-bebek sedap Broer setiap selasa dan jum’atnya. Meninggalkan teduh dan rimbunnya pepohonan. Meninggalkan profil yang centil dan jangkarnya yang sangar itu… secentil dan sesangar itukah? J

Tentu dengan banyak memori yang melekat di otak. Selasa pekan depan adalah yang terakhir berada di sana. Insya Allah…

***

riza almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

22.00 23 September 2010

saat malam menjerat dingin dengan kesunyiannya

 

thanks to: yayat, mbak dewi wiwik, mbak listya, mbak titi sugiarti, bu mona junita nasution, masker, dedi murahman, mas ervan, mas suyanto, mbak eldes, mbak dewi damayanti, semua penghuni terakhir pk2 kpp pma empat, pk1-nya juga, pk3-nya juga, pk4-nya juga, pak setiyono, atik faizah…dan teman-teman yang telah berkirim kata via facebook, email, gtalk, partychapp yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu namun tapa mengurangi rasa hormat saya. Semoga Allah memberikan yang terbaik kepada Anda semua.

FUN WALK, MURAH DAN MENYEHATKAN


FUN WALK, MURAH DAN MENYEHATKAN

 

Rasanya format acara coffe morning yang itu-itu saja—berkumpul dalam suatu ruangan, sarapan bersama, lalu mendengarkan ceramah—dirasa membosankan. Oleh karenanya KPP PMA Empat telah merancang acara yang berbeda untuk bulan Juni 2010 ini.

Jum’at pagi, 11 Juni 2010, pegawai KPP PMA Empat dengan kaos seragam dominan warna kuning bersama-sama melakukan jalan santai yang dikemas dengan judul Fun Walk itu. Dari pelataran kantor, tepat pukul 07.15 WIB, acara jalan sehat itu dimulai dengan rute mengitari komplek DPR RI Kalibata, melewati Kampus STEKPI, dan berakhir 40 menit kemudian di halaman depan kantor.

Tentunya acara tersebut membuat para peserta berkeringat. Dan terasa sekali di tengah hangatnya sinar matahari pagi, acara ini menambah hangatnya suasana keakraban yang jarang terjadi karena kesibukan dalam menyelesaikan rutinitas pekerjaan masing-masing.

Lalu sebelum bersama-sama menikmati sarapan pagi, Kepala KPP PMA Empat, Edi Slamet Irianto, memberikan arahan kepada seluruh peserta jalan sehat bahwa kesehatan itu penting. Jalan santai adalah sarana yang tepat untuk itu karena murah dan tentunya menyehatkan. Oleh karenanya acara ini tentunya tidak cukup dengan sekali pelaksanaan. Acara ini perlu dirutinkan.

Tak lupa, Kepala Kantor mengingatkan kepada seluruh pegawai KPP PMA Empat untuk tetap berkomitmen melaksanakan pekerjaan dengan tertib karena tahun ini adalah tahun yang berat bagi KPP PMA Empat dalam mengumpulkan penerimaan Negara. “Lakukan kunjungan kepada Wajib Pajak dan rencanakan acara outbond,” imbuh Kepala Kantor mengakhiri arahannya.

Acara Fun Walk itu diakhiri dengan bersama-sama menyantap hidangan yang telah disediakan. Soto Mi panas, bubur kacang ijo dan ketan item, jajanan pasar, teh dan kopi menjadi bumbu sedap jalinan silaturahmi pegawai KPP PMA Empat.

***

 

 

Ditulis oleh:

Riza Almanfaluthi, 14 Juni 2010