11 Tahun The End of The Rainbow



Peraih Pulitzer tiga kali dan penulis kolom di The New York Times bernama Thomas L Friedman pernah menulis artikel yang menarik dan dipublikasikan di harian yang sama pada 29 Juni 2005.

Friedman menulis tentang Irlandia, yang menjadi negara terkaya kedua di Uni Eropa, setelah Luksemburg hanya dalam waktu satu generasi saja. Irlandia memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita lebih tinggi dari Jerman, Perancis, dan Inggris.

Perubahan dari negara sakit Eropa, menjadi negara kaya Eropa dimulai akhir 1960-an saat pemerintah menggratiskan sekolah menengah, memungkinkan anak kelas bawah bisa menyelesaikan sekolah menengah atau sekolah teknik.

Hasilnya, saat Irlandia bergabung ke Uni Eropa pada 1973, mereka dapat mengandalkan tenaga kerja berpendidikan mereka. Pada pertengahan 1980-an, Irlandia sudah mendapat keuntungan awal anggota Uni Eropa, seperti subsidi pembangunan, infrastruktur, dan pasar lebih luas. Tapi mereka masih belum memiliki produk kompetitif untuk dihasilkan. Tentu ada yang salah. Mengapa?

Ternyata ini akibat dari proteksi dan kesalahan fiskal selama bertahun-tahun. Negara itu bangkrut dan para sarjananya berimigrasi ke luar negeri. Irlandia meminjam, membelanjakan, dan meningkatkan pajak. “Itu nyaris menenggelamkan kami,” kata Deputi PM Mary Harney, “Hanya karena kami nyaris tenggelam, kami berani berubah.”

Irlandia pun berubah. Dalam perkembangan yang tidak biasa, pemerintah, serikat pekerja terbesar, petani, dan kalangan industri bersepakat melakukan langkah-langkah perubahan. Apa-apa saja?

Irlandia memperbaiki fiskal, memotong pajak korporasi sampai 12,5%, mengurangi gaji dan harga, serta merayu investasi asing. Pada 1996, Irlandia membuat pendidikan tinggi pada dasarnya gratis, sehingga tenaga kerja berpendidikan lebih banyak lagi.

Hasilnya sangat fenomenal. Sekarang, 9 dari 10 perusahaan farmasi terbesar dunia memiliki pabrik di sana, seperti 16 dari 20 peralatan pembuat medis serta 7 dari 10 perusahaan pembuat piranti lunak. Tahun lalu, Irlandia mendapat investasi Amerika lebih banyak daripada Cina.Dan secara keseluruhan, pendapatan pajak pemerintah meningkat.

Dell Computer membuat pabrik di sana. Menurut Dell, Irlandia memiliki tenaga kerja berpendidikan dan universitas bagus. Irlandia juga memiliki kebijakan industri dan pajak yang secara konsisten mendukung bisnis, siapapun yang sedang berkuasa secara politik disana. Transportasi dan logistik juga sangat baik—mudah bagi produk apapun mendistribusikan produknya di pasar utama Eropa dengan cepat. Mereka kompetitif, ingin berhasil, haus dan tahu bagaimana rasanya menang. Dengan dukungan seperti itu Dell mampu menjadi eksportir Irlandia terbesar.

Intel tak mau kalah membuka pabrik chip pertama di Irlandia pada 1993. James Jarret, wakil Presiden Intel waktu itu, mengatakan mereka tertarik dengan banyaknya orang berpendidikan di Irlandia. Pajak korporasi yang rendah dan insentif lain yang membuat Intel menghemat miliaran dollar selama lebih 10 tahun. Program kesehatan nasional juga tidak merugikan. “Kami memiliki 4.700 karyawan di empat pabrik dan kami malah merancang chip tercanggih di Shannon dengan insinyur Irlandia,” katanya.

Pada 1990, angkatan kerja Irlandia adalah 1,1 juta. Tahun ini mencapai 2 juta, tanpa ada menganggur, dan 200 ribu pekerja asing (termasuk 50 ribu Cina). Negara lain memperhatikan perubahan ini.

Nasehat Irlandia sangat sederhana. Buat agar pendidikan menengah dan tinggi gratis; buat pajak korporasi rendah, sederhana, dan transparan; aktif mencari perusahaan global; buka ekonomi untuk kompetisi; berbicara bahasa Inggris; ciptakan kebijakan fiskal yang tertib; dan ciptakan konsensus keseluruhan paket ini dengan buruh dan manajemen, dan setia di sana. Sebab Anda juga bisa menjadi negara terkaya di Eropa. “Ini bukan keajaiban, kami tidak menemukan emas,” kata Mary Harney. Demikian tulis Friedman.

Tulisan ini saya baca dalam sebuah buku yang berjudul Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional yang ditulis oleh Ahmad Rizali, Indra Djati Sidi, dan Satria Darma. Artikel asli Friedman berjudul The End of the Rainbow dan sampai saat ini masih bisa diakses dalam bahasa Inggris di situs The New York Times.

Low Rate Regime

Berdasarkan data IMF dan Global Finance Magazine, Irlandia menduduki posisi 13 negara terkaya di dunia dengan basis data PDB per kapita tahun 2009-2013.

Kebijakan fiskal Irlandia menempatkannya sebagai negara dengan low rate regime yang mengenakan pajak sangat rendah sebesar 12,5% untuk perusahaan manufaktur dan ekspor serta perusahaan yang berkedudukan di Irlandia tetapi kendali manajemen dilakukan di luar Irlandia.

Dengan rejim pajak seperti itu maka wajar perusahaan besar seperti Facebook, Google, Apple, Twitter, Amazon, Starbucks, dan Microsoft membuka anak perusahaan di Irlandia. Dan menempatkan anggota negara persemakmuran Inggris Raya ini sebagai negara dengan tarif pajak terendah di Eropa. Sebagai perbandingan saja pajak korporasi di Inggris sebesar 26% dan Indonesia sebesar 25%.

Tapi tarif rendah ini tidak berlaku buat orang pribadi di Irlandia. Negara ini menerapkan tarif progresif Pajak Penghasilan yang cukup tinggi, yaitu maksimal 40%. Mereka yang terkena tarif 40 persen adalah orang Irlandia yang memiliki pendapatan mulai US$ 42,8 ribu per tahun.

Apple

Amerika Serikat jelas gerah dengan rezim ini. Sistem perpajakan modern di negara sekelas Paman Sam ini masih tetap tidak menarik bagi pebisnis bahkan oleh pebisnis mereka sendiri. Tanpa menafikan bahwa sejatinya memang tidak ada orang yang suka bayar pajak. Setaat-taatnya warga suatu negara atas sebuah sistem pajak tetap akan mencari sesuatu celah yang menguntungkan buat bisnisnya. Dan itu didapatkan di negara-negara semacam Irlandia dan Tax Havens lainnya.

Di tahun 2013, Senat Amerika Serikat melakukan penyelidikan terhadap Apple. Karena Apple ditengarai mengalirkan keuntungannya dari seluruh dunia kepada dua anak perusahaan Apple yang berada di Irlandia. Walaupun secara hukum terdaftar di sana, dua anak perusahaan Apple tersebut tidak mempunyai karyawan dan kantor. Semua rapat dan komando di-remote dari Cupertino, California, markas besar Apple.

Tuntutan itu diamini juga oleh Uni Eropa yang sejak tahun 2014 mendakwa Irlandia membiarkan Apple mengumpulkan keuntungan tanpa membayar pajak dengan semestinya di negara asal keuntungan itu didapat. Tapi Apple bergeming dengan segala kontroversi pajaknya. Bahkan Apple berencana untuk menambah 1000 pegawainya di Cork, Irlandia pada 2017 nanti.

Mencari Jalannya

Pintu penekanan terhadap negara-negara rezim tarif pajak rendah dan tax havens mendapatkan jalannya ketika awal April 2016 ini terbongkar jutaan data yang disebut sebagai Panama Papers.

Semua terkejut dengan hasil investigasi tersebut. Tapi hanya sebentar. Tidak ada kejutan yang membadai hingga menumbangkan suatu pemerintahan. Hanya ada sebuah kesadaran yang muncul bahwa perlu regulasi lebih keras terhadap negara-negara suaka pajak.

Kita menjadi berpikir bahwa negara-negara maju pun masih berusaha mencari jalannya untuk melawan ketidaketisan pajak yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar yang menjadi andalan mereka. Apatah lagi Indonesia dengan tingkat kepatuhan Wajib Pajak yang masih rendah dan sistem perpajakan modern yang mulai dibangun lebih dari satu dasawarsa lalu.

Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini. Indonesia bisa mencari jalan keseimbangannya. Indonesia harus sejajar dengan negara-negara maju dalam pemungutan pajak ini. Tak sekadar menjadi pemanis dalam Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) karena negara-negara besar yang menjadi anggota dalam organisasi itu punya kepentingannya masing-masing.

Yang harus dipetik dari semua itu, Irlandia mampu menjadi “sesuatu” karena sumber daya manusianya yang dilahirkan dari fokus pemerintahnya kepada pendidikan gratis dan bermutu. Tak bisa diingkari pajak menjadi darah untuk mewujudkannya. Begitu pula seharusnya Indonesia. Kita merindukan Indonesia sebagaimana Friedman tulis tentang Irlandia.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Opini ini dimuat di majalah Pinto Aceh

18 Juni 2016

Gambar berasal dari globalresearch.ca

Advertisements

2 thoughts on “11 Tahun The End of The Rainbow

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s