Setiap Anjing Boleh Berbahagia, Apalagi Aku


 

Apalagi setelahnya?

Si Tokek memberinya selembar foto. Foto gadis yang sama, yang ditempel di langit-langit kabin truk. Gadis itu telah bertambah besar. Berbeda dengan foto-foto sebelumnya, yang semuanya selalu dibawakan oleh Si Tokek, kali ini di balik foto tersebut ada tulisan. Tulisan tangan si gadis kecil:

 

 

Menulis itu membaca. Maka ketika kesibukan memang telah memakan waktu yang kita punya, bahkan untuk menulis pun sampai tak sempat, bagi saya itu tidak mengapa asal waktu-waktu yang lewat itu telah diisi dengan kegiatan membaca. Ini penting buat menulis dan penulis.

Baca Lebih Lanjut.

Advertisements

Kamar Dua Anak Itu


KAMAR DUA ANAK ITU

 

Perjalanan setengah jam lamanya berjalan kaki dari Stasiun Cawang ke tempat Diklat Menulis tepatnya di Gedung Pusdiklat Keuangan Umum itu membuat saya berkeringat tapi tetap harum. J Saya tidak langsung menuju ke kelas, tetapi mampir dulu ke Warung Tegal (warteg) yang berada di luar gedung. Makan pagi dan setelah selesai langsung buka laptop.

Untuk browsing begitu? Tidaklah. Saya harus mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan kemarin oleh Sang Tutor. Tadi malam saya tak sempat untuk mengerjakannya. Ada “pekerjaan” yang harus saya selesaikan—dan itu lebih penting—ditambah dengan kantuk yang luar biasa.

PR-nya adalah mendeskripsikan kamar. Soal ini saya sudah pernah mendapatkannya waktu di Forum Lingkar Pena (FLP) Depok tahun 2007. Untuk ini saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman FLP Depok.

Pendeskripsian yang bagus, kata sang Tutor, adalah ketika pendeskripsian kita itu benar-benar tampak nyata di depan orang lain dan dipahami betul tanpa orang lain itu turut serta melihat objek yang dideskripsikan. Jadi dengan membaca pendeskripsian kita itu dia sudah merasa cukup. Nah, kalau belum, berarti pendeksripsiannya gagal.

Deskripsi itu harus punya detil, punya dominan impresi serta menuliskannya berdasarkan urutan ruang. Nah, Sang Tutor juga ingin dalam deskripsi itu ada gambaran yang berdasarkan penglihatan kita, lalu menambahkan suara di dalamnya, lalu ada detil aroma, dan sentuhan serta detil pengecapan.

Ya sudah, di warteg itu, saya tulis berdasarkan apa yang saya ingat tentang sebuah kamar yang ada di rumah. Silakan untuk dinikmati. Apakah Anda sudah merasakan dan mengetahui dengan baik penggambaran kamar ini tanpa perlu jauh-jauh datang ke Citayam? Dan perlu diketahui saja dominan impresi deskripsi ini adalah BIRU. Nah loh…

Rasakan saja. Semoga bisa dinikmati dan dipelajari buat yang lain. Maaf ini sebisanya saya saja, cuma 4 paragraf, dan waktunya pun mepet. ^_^

DESKRIPSI KAMAR

 

Ruangan kamar itu berukuran 3×3 meter. Dengan cat warna biru yang teramat dominan. Sebuah springbed bersusun teronggok begitu tepat di depan pintu namun tidak menghalangi. Dengan coverbed bertemakan tokoh kartun ternama di dunia—lagi—berwarna biru. Di sudut kiri ruangan di seberang pintu memojok sebuah lemari plastik berukuran tinggi 2 meter dengan warna yang sama menghadap ke timur. Aduhai biru nian terasa.

Di depan lemari, tak jauh darinya, sebuah meja menyudut di sisi lainnya. Meja itu terlihat bersih tanpa ada setitik debu karena selalu dibersihkan setiap harinya. Di atas meja itu terpasang seperangkat komputer lengkap dengan kabel telepon dan kabel internet. Kabel yang membuatnya tidak pernah kesepian. Di dunia yang maya itu ia punya banyak teman yang bisa diajak ngobrol untuk mengurangi rasa sepinya.

Ya, ruangan itu terasa sepi, apalagi kalau sudah tengah malam. Suara jangkrik sajalah yang terdengar diselingi dengan suara kucing jantan yang sedang birahi. Setelah itu desibel hanya menunjukkan angka rata-rata seperti di kuburan. Tapi di sini tidak ada wangi kemenyan dan bunga kamboja yang ada malah bau cat yang menyengat tapi harum sekali. Ruangan ini baru direnovasi total setelah kebakaran di tahun lalu.

Sekarang kamar ini terlihat indah dengan lantai keramik berukuran 40×40 cm dan plafon gipsum warna putih yang kontras dengan warna dominan. Warna putih itu seakan penetralisir dari warna-warna mayoritas. Biru di dinding kamar dan hijau muda pada pintu, serta coklat tua pada sisi-sisi kayu jendela kamar dan pintu. Semua ini saya persembahkan untuk anak-anak saya, Haqi dan Ayyasy. Selamat tidur nyenyak, Nak.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut warteg pancoran tanpa ada wifi

07.51 02 Maret 2011

CARILAH MODEL: DARI INDIA HINGGA MALAYSIA


CARILAH MODEL: DARI INDIA HINGGA MALAYSIA

 

Cakra saya masih setengah. Malam ini saya masih ingin menulis yang ringan-ringan saja. Ada sih di otak bahan untuk nulis nyang entu tuh…reward and punishment atau stick and carrot. Biarlah itu sih untuk hari libur saja. Besok juga masih harus rekonsiliasi dengan Wajib Pajak di Pengadilan Pajak. Masih ada hari esok. Tak perlu dipaksakan.

Sudah jam satu malam tapi masih saja ada yang corat doret di di dinding facebook (fb)–termasuk saya. Ada yang nyetatus lagu India ada juga lagu Malaysia—lagunya itu tuh Siti Nurazizah Nurhaliza. Yang lagu India diposting dari temen yang ada di Dammam Arab Saudi. Di sono masih jam 10-an malam kali.

Saya jadi teringat sesuatu nih. Masih dengan sosok ibu Guru kelas 1 SD yang ada di Sidoarjo sana. Punya semangat besar menulis. Berusaha untuk menciptakan karya. Walaupun hanya untuk ditampilkan di sebuah blog. It’s oke. Perjuangan yang patut untuk diapresiasi. Tanya ini dan itu pada saya. It’s oke juga. Saya justru senang. Itu ciri orang mau maju. Dia nganggap saya guru—dengan segala keterbatasan yang ada. Jeruk makan jeruk. Guru makan guru.

Saya jadi ingat sekitar hampir enam atau tujuh tahun lampau. Saat saya masih sama kondisinya dengan guru yang dari Sidoarjo ini dalam dunia kepenulisan. Berusaha untuk membangkitkan kemampuan menulis yang terpendam lama dengan berusaha belajar kepada sosok teman yang sudah hebat dalam proses kreatif menulis. Dia juga sudah menghasilkan buku. Salah satunya adalah: Hari Ini Aku Makin Cantik, ya betul penulisnya adalah dia, dia, dia Azimah Rahayu. Cari saja di Google atau FB ada deh nama itu.

Saya banyak belajar darinya. Saya sedang mencari model. Saya cermati betul tulisannya. Jumlah karakter. Jumlah kata. Jumlah paragaf dan jumlah halamannya. Coba lihat artikel-artikel saya zaman dulu: gaya tiga halaman adalah persis dari dia. Saya juga belajar cara dia memandang sesuatunya, cara membuka dan menutupnya, dan lain sebagainya. Pokoknya dia adalah the real model. Yang pasti dia mau berbagi. Mau memberikan saran dan masukan. Sampai pada suatu titik bahwa apapun yang diberikan guru tetap semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

Akhirnya inilah saya, pada saat ini. Yang menulis hanya untuk mencari kepuasan. Menuntaskan kegelisahan. Mengabadikan pikiran. Menentang kezaliman. Menyuarakan ketertindasan. Melawan kebohongan. Menyingkirkan kebisuan. Mengungkapkan perasaan. Tidak lain. Tidak bukan. Insya Allah.

Saya—dari hati yang paling dalam—pada malam ini mengucapkan terimakasih yang tulus kepada teman saya dan ibu guru saya, compradore di Forum Lingkar Pena: Azimah Rahayu, semoga ini menjadi amal ibadah yang tak berhenti mengalir.

Yang saat ini masih terus menerus belajar menulis, pesan saya satu: carilah model. Siapapun dia dan di mana pun dia berada. India, Malaysia, Indonesia whatever-lah. Pelajari dengan seksama. Suatu saat Anda akan menemukan gaya Anda sendiri. Yang ini sudah saya bilang berkali-kali pada ibu guru di timur sana. Tetap semangat. Terus menulis. Ungkapkan semua yang dirasa, yang dilihat, yang didengar. Siti Nurazizah Nurhaliza yang bukan seorang penulis saja dan tengah malam ini lagi nyanyi-nyanyi sampai berpesan: “kekasih tulis namaku di dalam diari hatimu”. Ayo tulislah. Apapun.

Semoga bermanpaat bermanfaat. Selamat berkarya.

***

 

Riza Almanfaluthi

ngantuk…

dedaunan di ranting cemara

02.21 WIB 28 Januari 2011.

 

Tags: forum lingkar pena, flp, azimah rahayu, siti nurhalizah, dammam, arab saudi, saudi arabia

 

MANUSIA LENGKAP


MANUSIA LENGKAP

Sore ini saya terperangah dengan banyaknya buku yang teramat menarik di rak-rak itu. Judul-judul yang terpampang di sampulnya menggoda saya untuk membelinya. Sungguh, kalau saja saya tak mengingat betapa banyak yang harus dibeli untuk si Bungsu, saya akan borong itu buku.

    Sudah lama saya tak menginjakkan kaki di toko buku terkenal ini. Dan sekali datang sungguh langsung menyesakkan dada kalau saya tak sanggup untuk membeli semua buku yang diincar. Saya pikir saya harus punya target untuk dapat memilikinya. Dengan mencicil satu dua buku di setiap bulan misalnya.

    Ah, kalau saja saya tak mengingat waktu yang ada, tentu saja saya akan berlama-lama di sana hingga toko itu tutup. Membaca dan banyak membaca. Hingga dahaga akan ilmu itu terpuaskan. Bukannya sok pintar atau dianggap berilmu, tapi itu memang sudah menjadi kebutuhan. Minimal saat buku itu termiliki, keberadaannya dapat mengusir bosan ketika naik kereta rek listrik. Lebih berguna daripada sekadar menebak-nebak tak karuan berapa lama lagi kereta ini sampai di stasiun terdekat.

    Banyak buku yang ingin saya miliki. Temanya juga banyak. Tentang dunia perwayangan beserta tokoh-tokohnya. Ini gara-gara “racun” Gunawan Mohammad dalam catatan pinggirnya yang banyak mengisahkan jagat para dewa dan ksatria itu.

Tema tentang sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara pun menarik minat saya. Terutama berkaitan dengan Mataram Islam dan format mutakhirnya yang terpecah menjadi empat, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, dan Praja Mangkunegaran.

Ada lagi buku bagus lagi, tapi harganya tak kira-kira. Atlas Perang Salib, Fikih Jihad Syaikh Yusuf al-Qaradhawy, Antara Mekkah & Madinah harganya di atas rongatus ewuan (dua ratus ribuan). Hanya Kitab Shalat Fikih Empat Mazhab yang harganya di bawah itu.

Pada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang tidak saya bidik. Tapi membeli buku yang kebetulan sempat tertangkap oleh mata. Bukunya Jonru—pegiat Forum Lingkar Pena pastinya sudah tahu tentang orang yang satu ini. Buku berjudul Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat itu menarik perhatian saya. Kayaknya renyah untuk disantap otak saya. Ringan dan gurih. Enggak perlu mikir banyak. Itu konklusi sementara saya.

Tidak berhenti di situ. Sebelum meninggalkan toko buku itu, saya sempatkan diri ke bagian buku murah. Yang kisaran harganya mulai dari goceng (lima ribu rupiah) sampai ceban-go (15 ribu rupiah). Ternyata…wow. Bagus-bagus banget. Tebal-tebal lagi. Terutama novel-novel terbitan Penerbit Hikmah.

Suer…kalau enggak ingat Kinan, saya ambil semua. Saking bingungnya saya sempat lama mikir. Buku mana yang harus dipilih. Tentu ada kriterianya. Buku yang benar-benar bisa habis dibaca. Selain itu. No way…nanti saja!

Pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Laskar Pelangi The Phenomenon, buku yang sempat saya idam-idamkan tapi tidak jadi dibeli karena relatif mahal pada waktu itu. Yang kedua adalah Evo Morales:
Presiden Bolivia Menantang Arogansi Amerika. Terus terang saja, buku murah itu kondisinya bagus sekali. Masih dalam plastik. Bukunya Jonru saja masih kalah—tidak dibungkus plastik.

Tiga buku murah lainnya yang bercerita tentang Blackberry, Facebook, dan Google saya abaikan. “Lain kali saya akan beli kalian,” pikir saya dengan tekad membaja dan semangat 45. Maklum duit di dompet cuma tinggal 14 ribu rupiah. Mepet banget untuk sampai ke rumah.

Di sepanjang perjalanan saya gelisah, karena tak sabar untuk segera membaca ketiga buku yang saya beli itu. Lebih gelisah lagi karena saya ingin membagi perasaan saya ini kepada Anda semua Pembaca. Oleh karenanya saya tulis ini untuk Anda.

Teringat dengan ucapan Francois Bacon—membaca menciptakan manusia lengkap—saya menginginkan Anda untuk banyak membaca. Saya juga. Membaca adalah langkah awal untuk menulis. Pun, dengan itu kita akan merasa betapa ilmu yang kita miliki teramatlah sedikit. Sedikit sekali…

Ayo…membaca.

***

 

Tags: facebook, google, blackberry, penerbit hikmah, francois bacon, goenawan mohamad, catatan pinggir, evo morales, jonru, jonriah ukur, laskar pelangi, laskar pelangi the phenomenon, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, Kasunanan Surakarta, Praja Mangkunegaran, forum lingkar pena, flp, yusuf al qaradhawy

diunggah pertama kali di: http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/11/manusia-lengkap/

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

malam ahad bukan malam panjang

21.17 11 Desember 2010