Di Resto



di resto yang melati
berteman pahit kopi
aku menunggu puisi,
ia tak juga ke sini

lalu kumenunggu
di satu bangku taman
tempat ia termangu,
tak pula kelihatan

hari hampir pagi
ia datang pelan-pelan
kupanggil ia lari
aku tinggal sendirian

di kolam renang mimpi
ia sedang bersembunyi
sembari merenangi
air matanya sendiri .

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
pinggir kali, 13 Juli 2017

Di Bawah Bayang


Seringkali aku belajar pada puisi, ia guru yang sabar mengajariku cara menempatkan gerimis yang ritmis dan jatuhnya rindu di sela-sela dedaunan pohon mangga.

​Paling jauh aku diminta puisi,  guru yang sederhana, untuk memilih, membongkar-pasang, menghapus deretan kata-kata atau sekadar baiknya menaruh titik dan koma.

​Tapi dari semua itu, aku bisa belajar pada puisi, guru yang rendah hati dan tahu bagaimana cara terindah menyembunyikan mahaduka di sela-sela rerimbunan kata.

 

​***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 11 Juli 2017

Percakapan Bubuk Kopi



kita memesan dua gelas kopi instan kepada ibu pedagang minuman di depan stasiun itu sambil melihat lalu lalang, untuk bersama menikmati butiran pahit dan menyesali gula-gulanya.
​tapi kita tahu tak ada yang kebetulan dari semua persuaan ini serupa percakapan bubuk kopi dan panasnya air di suatu gelas, kini, agar waktu tak cepat pulang ada yang terus mengiba.

:​tenggelamlah ke dasar gelas, bercengkerama dengan ampas, dan kembalilah lekas-lekas.

 

​***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Stasiun Cawang, 10 Juli 2017

Samin dan Sri Mulyani


Selama hidup Samin tidak pernah membayar apa yang dinamakan pajak. Sekarang lebih-lebih lagi. Sekali ada pejabat datang ke rumahnya.

“Kau tahu bukan apa artinya pajak?”

“Belum.”

“Pajak itu berarti pengakuan atas keberadaan negara. Mengerti? Kau mengakui tidak keberadaan negara itu?”

“Samin sudah setengah abad lebih adanya, tetapi belum pernah ada yang membayar apa yang dinamakan pajak itu.”

“O, kalau begitu kau tidak mengerti apa itu negara.”

“Negara itu jantan atau betina? Sungguh, seumur hidup aku belum pernah melihat. Heran juga, tahu saja belum, sudah disuruh membayar pajak. Apa Samin dianggap gudang uang atau buyutnya, yang sembarang waktu bisa dimintai.”

Baca Lebih Lanjut.

Jangan Pernah Ragu dan Sangsi


Apa yang kita lakukan setelah berharap dan berdoa kepada-Nya? Ini soal “No Doubt”.

Kalau sudah meminta apa saja kepada-Nya, walau sesuatu yang mustahil, ada kerja yang harus kita lakukan: jangan pernah meragukan-Nya. Jangan pernah menyangsikan-Nya.

Yang terpenting darimu–kata Ibnu Athaillah– bukanlah bentuk permohonanmu, tetapi kesadaranmu bahwa Dialah yang memenuhi kebutuhanmu. Kamu sungguh tidak sopan bila kamu memperlakukan-Nya seperti makhluk-Nya.

Jika kamu sudah meminta, berserahlah kepada pemberian-Nya. Tak perlu mempertanyakan-Nya seperti kebiasaanmu kepada makhluk-Nya. Allah menjawab semua permohonan hamba-Nya, di mana dan kapan pun hamba-Nya berada. Dia lebih dekat denganmu daripada urat lehermu sendiri.

Coba perhatikan “default” ini: Allah menjawab semua permohonan hamba-Nya. Sekarang atau nanti. Cepat atau lambat.

Di hari penghisaban, seorang hamba terkejut mendapatkan hadiah yang mahadahsyat dari Allah. Ia mendapatkan limpahan pahala yang tidak terduga dan tidak tahu dari mana ia mendapatkannya.

Hamba itu bertanya-tanya, “Ini atas kebaikan yang mana? Ini apa?” Padahal selama hidupnya di dunia ia tidak melakukan amal-amal besar.

Lalu ia diberi tahu. Itu semua atas doa-doanya yang setiap waktu ia panjatkan namun belum dikabulkan Allah di dunia. Dan sekaranglah, di waktu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya ia mendapatkan sesuatu yang tak tepermanai. Allah Mahabesar.

Jika ada karib yang meminta doa kepada kita, maka ini sebuah kesempatan besar buat kita sendiri menanam tabungan untuk kehidupan kita di sana. Dengan juga tetap berharap bahwa doa kita dikabulkan segera untuk karib kita itu.

Maka, sesungguhnya berdoa adalah ruang kecil buat kita meminta segala kepada-Nya. Lalu berserah dan tak meragukan-Nya. Jika kamu sudah bersaksi, mengapa masih sangsi?

Pada pagi ini, ada bisik-bisik doa untukmu. Doa kebaikan. Pun, apakah engkau sudah berdoa, Sayang?


***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Buitenzorg, 2 Juli 2017
Buat yang lagi perjalanan balik banyak-banyaklah doa di sepanjang perjalanan.

Top of Form

 

Di Bawah Pohon Mati


​Senja melolong perih kepada awan gelap yang ikut merintih saat satu burung terbang hinggap di dahan pohon mati yang memeluk senyap di Tarangire. Burung yang nanar menatap perempuan di bawah pohon itu masih memungut satu-satu gumpalan perih yang tercecer dari jantung sedihnya, berdegup kencang, dan berwarna darah. Terus berharap merupa angin untuk kembali menganyam waktu-waktu yang telah lewat. Ia tak berhak menjadi namanya, menjadi dirinya.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 7 Juli 2017

Tempat Keduanya Membanjir


aku membenci kenangan
karena itu akhir sebuah perjalanan

aku membenci renjana
karena itu awal jarak yang menjelma

lebih-lebih,
aku membenci syair-syair
tempat keduanya membanjir

aku penyair

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 6 Juli 2017

Sebermulanya Kau Dipelukku


​Perempuanku,
sebermulanya kau dipelukku
aku akan mendaku
engkau segala
untuk kuberi bahagia
engkau pelita
untuk kutaruh cahaya

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 5 Juli 2017

Cerita Mudik 2017: Tak mau Mengulang Brexit


Musim mudik usai. Besok Senin semua pekerja akan menjalani rutinitasnya masing-masing. Saya termasuk di antaranya. Dengan menyisakan perjalanan mudik 2017 di kepala sebagai perjalanan yang tidak memberatkan. Mudik atau baliknya. Salah satunya adalah saya akan menepi kalau saya sudah mengantuk mengendarai mobil. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lebih baik antisipasi.

Sebenarnya banyak hal dilakukan agar tidak mengantuk seperti menampar-nampar pipi, memukul-mukul paha, mengusap-usap wajah dan kepala berulang-kali, minum air putih banyak-banyak, cuci muka, dan minum kopi. Tapi kalau sudah mengantuk ya ternyata semua tidak mempan. Obatnya cuma satu: tidurlah yang nyenyak.

Continue reading Cerita Mudik 2017: Tak mau Mengulang Brexit

Burung-burung Nebraska


sebelum ke utara
di setiap musim semi
burung- burung tinggi
datang ke Nebraska,
sewaktu

sesudah masa isya
di setiap musim mimpi
bayang-bayangmu kembali
terbang di kepala,
selalu

 

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Citayam, 4 Juli 2017