KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT MURAHAN]


Tuesday, April 3, 2007 – KONTEMPLASI: MENULIS DENGAN HATI [CURHAT MURAHAN]

Setelah menimbang-nimbang apa yang terjadi pada diri saya sampai menemukan suatu kebuntuan untuk berpikir dan juga menuangkannya dalam sebuah tulisan adalah karena saya salah pergaulan. Salahnya di mana? Dulu saya sampai sanggup untuk menulis dengan mudahnya apa yang saya rasakan saat ini. Cerita apa saja. Cerita tentang kesedihan dan kegembiraan. Dan cuek bebeknya saya tentang hasil apa yang didapat dari tulisan tersebut. Bagus buruk tidak dipedulikan lagi. Yang penting menulis. Kini ada suatu keengganan kalau saya belum menemukan mood di hati dan tema yang pantas untuk diungkap maka saya berhenti menulis. Maka apa yang terjadi. Saya gagap untuk menulis.
Bahkan untuk menulis inipun hampir-hampir tidak jadi karena saya pikir ini sebuah curhatan murahan yang gak pantas untuk ditaruh di blog saya. Tapi saya tepis semua itu. Saya berusaha mengingat motivasi awal dulu untuk menulis di blog ini. Belajar menulis. Yup, betul. Senantiasa untuk belajar menulis. Dengan itu kepekaan kita akan terasah. Dengan itu akan mudah kembali mencari mood yang sempat hilang. Dengan itu saya akan mudah menyusun paragraf demi paragraf pada kehidupan kita yang paling remeh temeh sekalipun.
Kembali kepada salah pergaulan itu adalah saya sering dan gemar memelototi setiap perdebatan dalam suatu diskusi. Alhasil sebagian waktu digunakan untuk mencari mencari argumen-argumen yang tepat untuk membalas argumen-argumen ayng diajukan oleh lawan diskusi. Otomatis tiada upgrade diri. Sampai-sampai saya merasa kelelahan sendiri. Puncaknya adalah sebuah kesimpulan: Saya salah bergaul.
Dulu sewaktu saya masih memantau dengan teliti tulisan-tulisan Azimah Rahayu, Bayu Gawtama, tulisan-tulisan di Eramuslim, tulisan-tulisan penuh perenungan maka saya bisa merasakan getaran hati yang tidak kasat. Saya mudah menulis sebuah kontemplasi diri. Menulis sebuah cerita sederhana dari seorang kawan, penuh hikmah dan penuh teladan. Menulis sebuah pencerahan. Menulis dengan hati.
Dan saya terkejut, apa yang saya tulis dengan benar-benar dari hati–yah menurut saya sih demikian–adalah JANGAN SEPERTI NIRINA. Di awal Januari 2007 yang lalu. Bahkan yang sebelumnya adalah di tulisan AKU BUKAN JUFAT DAN GHULLAT SAYYID QUTHB sekitar Bulan Mei 2006 lalu. masya Allah sungguh lama sekali. Hampir satu tahun yang lalu.
Cuma satu penyebabnya. Muroqobatullah yang semakin terkikis dari diri saya. Astaghfirullahal’adzim. Ya, bagaimana bisa saya akan bisa memberikan sebuah pencerahan sedangkan diri saya sendiri bukan lagi sebagai sumber dari sebuah cahaya pencerahan. Gelap. Hitam.
Sungguh, betapa banyak saya mengemis pada-Nya agar sudi aku menggigit selandang kebesaran dan rahmat-Nya. Tapi senantiasa itu pula saya tak mampu menahannya lebih lama. Tergelincir lagi ke lubang yang sama. Duh, dosaku…Atau karena rintihan saya yang jarang terdengar di tengah malam. Untuk menghiba-hiba ampunannya. Karena Ia mengerti rintihan saya cuma rintihan palsu, tiada bermakna maka Ia biarkan saya menemukan jalan-Nya. Agar saya tersadar segera. Ah, kini saya berusaha mencari kembali jalan itu.
Maka upaya kecil untuk memulainya adalah dengan tidak salah bergaul mungkin adalah langkah tepat. Tidak mudah terpancing untuk berdebat karena itu akan mengeraskan hati. Tidak mudah mengeluarkan argumentasi-argumentasi yang cuma kesannya saja ilmiah tapi jauh dari sentuhan hati. Karena niat yang sudah salah bukan karena-Nya.
Lagi, kembali saya akan membaca banyak tulisan penuh perenungan diri, tulisan-tulisan yang jauh dari kontroversi dan perdebatan tiada henti. Kemudian sedikit demi sedikit merubah gaya blogku sebagai suatu catatan harian bukan semata tulisan yang ingin dianggap ilmiah atau sebagai cetak biru dari sebuah buku. Karena dua hal inilah yang senantiasa menghalangi saya menulis apa saja di blog ini. Apa saja tentang kehidupan yang saya temui setiap saatnya. Bahkan pada detik ini saat menulis huruf ini.
Ditambah meluangkan waktu untuk memberikan komentar pada postingan blogger di Cicadas ini mungkin bisa merampas waktuku agar tetap punya empati, peduli pada sesama. karena kalau diingat-ingat sebelum saya menemukan kembali DSH saya yang sempat hilang. Produktivitas menulis saya sangat tinggi. Tapi kalau dingat-ingat pula penurunan produktivitas itu dimulai sejak saya menjadi moderator di DSH. Memantau begitu banyak postingan agar sesuai dengan visi dan misi DSH. Ah, bagaimanapun jangan mencari kambing hitam untuk semua kelemahan saya ini.
So, saat ini saya punya komitmen untuk mengupayakan langkah-langkah kecil seperti di atas tadi agar terwujud, agar saya menemukan tulisan saya keluar dari hati, agar saya menemukan kembali jalan-Nya. Insya Allah. Terimakasih ya Allah.

ps: Alhamdulillah, saya bisa menulis ini. Setelah sempat ragu-ragu apakah saya bisa menulis dan berniat menghapusnya saat satu paragraf pertama tertulis.

dedaunan di ranting cemara
Riza Almanfaluthi
11:42 03 April 2007

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s