AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]


AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]
[tulisan kesatu]

Pendahuluan

Dulu saya pernah bercerita, masjid kami yang belum jadi kedatangan satu keluarga dari Arab Saudi. Mereka berniat untuk menyalurkan dana yang mereka miliki untuk kelanjutan pembangunan masjid komplek yang sudah lama belum rampung.
Ketika disodorkan proposal yang sudah kami siapkan, salah seorang dari mereka menolak saat melihat sampul proposal tersebut. Lalu mengusulkan agar nama masjid yang tertera di proposal tersebut diganti saja. Dengan nama apa pun boleh asal jangan nama itu. Di sana tertulis dengan huruf besar nama masjid kami Masjid Al-Ikhwan.
Saat ditanya mengapa demikian? “Karena nama Al-Ikhwan identik dengan nama Osama,” katanya. Soalnya kalau di sana mendengar nama Osama bin Laden sudah antipati dan seringkali dicokok oleh pemerintah sana bila ada kaitan dengan nama itu. Jadi, takutnya nanti orang tidak mau pada menyumbang.
Dulu saya berpikir ada dua kemungkinan dalam masalah ini. Pertama ia menganggap bodoh kami yang tidak tahu tentang pertarungan pemikiran di tanah saudi antara salafy dengan Ikhwanul Muslimin, sehingga untuk memudahkan berbicara dengan kami maka dikaitkan dengan nama Osama Bin Laden. Atau yang kedua memang ia benar-benar tidak tahu tentang kaitan kedua jama’ah ini tapi hanya mendengar dari informasi sepihak yang membenci Al Ikhwanul Muslimin lalu mengait-ngaitkanya dengan Osama.
Setelah pertemuan tersebut saya sempat menyimpulkan bahwa nama Al Ikhwan (yang dalam bahasa Indonesia berarti persaudaraan) bagi saudara-saudara kita di tanah Arab Saudi sana menjadi bahan pertimbangan terpenting untuk jadi tidaknya berinfak. Atau karena kebencian semata nama Al-Ikhwan identik dengan ke-bid’ah-an (menurut mereka), lawan politik, dan pendukung Osama?

Al-Ikhwan
Tetapi saya barulah mengerti banyak mengapa nama Al-Ikhwan menjadi momok di Arab Saudi. Dan kaitan terdekat dari semua itu adalah masalah politik bukan pemikiran agama. Buku yang menjadi rujukan saya adalah buku lawas [1981] yang ditulis oleh Robert Lacey berjudul The Kingdom yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia.
Sebanyak 102 halaman di bagian kedua buku tersebut dengan judul Al-Ikhwan diungkap manis pahitnya hubungan antara Abdul Aziz bin Saud dengan Al-Ikhwan sebagai kesatuan tempur yang tekstualis dalam tafsir agama, penerus gerakan wahabi, militan, tangguh, dan ganas.
Tapi Robert Lacey dalam catatan kakinya di halaman 180 sudah mewanti-wanti bahwa kelompok Al-Ikhwan dari Nejd ini tidak ada kaitannya dan tak boleh dicampuradukkan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun (Persaudaraan Muslim) yang dibentuk di Mesir di tahun 1930-an dan masih aktif sampai saat ini.
Kelompok ini di tahun 1912 datang dan menempati daerah penggembalaan yang disebut Al-Artawiyah. Di sana terdapat beberapa sumur tempat kafilah-kafilah dari Nejd dan Qasim bertemu. Kalau sekarang Al-Artawiyah ini berada di jalur perjalanan antara Riyadh dengan Kuwait.
Gerakan Al-Ikhwan ini sesungguhnya adalah pembaharuan dari gerakan kemurnian beragama yang dicetuskan oleh Muhammad bin Abdulwahhab. Seperti diketahui bersama di tahun 1744 terbentuklah persekutuan antara Muhammad bin Abdulwahab dengan Muhammad bin Saud sebagai penerus dinasti Saud penguasa Dar’iyah.
Kelompok Al-Ikhwan selalu berpegang teguh akan arti harfiah yang tersurat di Qur’an, sementara Hadits mereka anggap sebagai buku petunjuk dan perintah yang harus mereka laksanakan setepat-tepatnya. Mereka tak mau memakai aghal—tali ikat kepala, hitam, karena menurut mereka nabi tak pernah memakainya. Mereka juga memotong jubah mereka setinggi lutut. Mencukur kumis dan memanjangkan jenggot.
Lacey menulis bahwa penampilan mereka selalu menunjukkan betapa mereka menjauhi keduniawian, menolak tembakau, dan pula menolak radio dan telepon, karena Nabi tak pernah memakainya. Tapi anehnya tidak menolak kehadiran senapan dan penggunaannya. Di Al-Artawiyah menyanyi, menari, dan bahkan permainan anak-anak dilarang. Mereka menganggap bahwa mereka prajurit Allah yang tugas utamanya adalah membersihkan dan memurnikan agama.
Ada satu perbedaan penting antara gerakan Al-Ikhwan di awal abad dua puluh dengan kaum Wahabi. Bahwa Muhammad bin Abdulwahhab adalah seorang yang tinggal di kota dan pesan yang disampaikan khusus diperuntukkan bagi penghuni kota sedangkan kelompok ini adalah dari kaum Badui dan tugas merekalah untuk menyebarkan pemahaman mereka di tengah masyarakat badui yang pada saat itu masih saja percaya dengan takhayul. Cuma itu saja. Dan pada saat itu mereka belum menjadi kekuatan tempur. Karena Abdul Aziz belum datang kepada mereka.

Kekuatan Tempur
Yang jelas gerakan ini tak akan mungkin berkembang tanpa campur tangan Abdul Aziz. Ia memberi mereka tanah, mengirimkan penyuluh ke padang pasir untuk mengumpulkan lebih banyak anggota baru untuk pemukiman mereka.
Di tahun 1912 ia menempatkan dirinya secara kukuh di pucuk pimpinan gerakan ini. Dengan memberikan sebuah bentuk keterikatan kepada kelompok ini dengan menghancurkan benda kesayangannya di depan umum berupa gramopon putar tangan yang dibawanya dari Kuwait dan sering dimainkannya di dalam tendanya. Kaum Ikhwan mengangguk setuju dengan perbuatannya.
Di tahun 1917 dengan biaya pribadinya memesan dari India sejumlah besar buku cetakan karangan Ibnu Abdulwahab, pendidikan dasar tentang iman, agar pemikirannya bisa tersebar luas di tengah padang pasir.
Bagi Abdul Aziz pengorbanan benda kesayangannya ini tak seberapa dengan hasil yang ia dapatkan dengan menggenggam kekuasaan kelompok ini. Dengan kekuatan tempur dari gerakan ini—perlu diketahui bahwa sebelumnya Abdul Aziz mempunyai kekuatan tempur lain dari suku-suku Badui liar yang hanya bisa dibeli dengan emas untuk bertempur dengan Kaum Rasyid, tetapi tidak untuk loyalitas kepadanya—sebanyak 60.000 sejak tahun 1912 ia dapat menjinakkan suku-suku Badui liar dan menunjukkan kekuatannya pada rival utamanya yaitu Penguasa Hijaz Syarif Husain bin Ali.
Di tahun 1916 mereka dapat menguasai Khurmah—suatu daerah yang disepakati oleh Abdul Aziz dengan Inggris sebagai daerah perbatasan daerahnya Nejd dengan daerah Syarif yaitu Hijaz. Bahkan mereka sanggup menguasai Turabah suatu daerah yang jaraknya ’hanya’ 150 km dari Mekah. Walaupun sempat dikuasai kembali oleh Syarif dengan pasukan dibawah kepemimpinan Abdullah bin Husain, namun tanggal 26 Mei 1919 Turabah direbut kembali.
Penuturan salah seorang yang lolos dari sergapan Al-Ikhwan ini adalah ”aku melihat darah mengalir di Turabah bagaikan anak sungai di antara batang-batang kurma. Aku melihat mayat-mayat ditumpuk di benteng sebelum aku melompat ke jendela.”
Taif geger mendengar berita tersebut. Dengan hancurnya pasukan Abdullah maka Hijaz sama sekali tak punya kekuatan lagi. Dengan mudahnya kaum Ikhwan bisa maju dan meruntuhkan Mekah. Tapi Abdul Aziz merasa belum saatnya untuk menakhlukkan Mekah karena ia ingin agar kota tersebut tidak direbut dengan kekerasan, cara itu takkan menjamin ia berkuasa lama di sana.
Terlalu dini bagi Saudi untuk bisa merebut Hijaz tanpa mendapat tentangan dari Inggris atau dunia Islam lainnya. Maka ia berusaha membujuk Al-Ikhwan untuk kembali ke pangkalan dengan alasan ia memerlukan mereka untuk menghadapi tantangan kaum Rasyid. Ini benih perpecahan Abdul Aziz dengan Al-Ikhwan. Mengapa hanya berhenti sampai di sini? Menurut kelompok ini, inilah saatnya membersihkan Mekah, Madinah, dan semua daerah di pantai Laut Merah dari segala macam khurafat.
Dan benar kekuatan mereka digunakan oleh Abdul Aziz untuk mengalahkan saingan utamanya di Nejd yaitu kaum Rasyid. Setelah menakhlukkan Jabal Syammar di musim panas 1920, di awal Nopember 1921, Hail, sebagai pusat kekuasaan kaum Rasyid ditakhlukkan. Para saudagar Hail agaknya sudah bosan dengan keluarga Bani Rasyid yang memerintah mereka dan tak mau mengundang kemarahan kaum ikhwan hingga para saudagar tersebut memutuskan untuk membukakan pintu gerbang Hail. Kini Abdul Aziz adalah penguasa Nejd sejati dengan mengganti gelar untuknya semula adalah Amir Riyadh menjadi Sultan Nejd.
Di tahun 1922, tanpa sepengetahuan Abdul Aziz sekitar 1500 prajurit Al-Ikhwan memasuki Transyordania (kini Yordania) yang saat itu dikuasai oleh Keluarga Hasyim dan sampai berada 15 km dari Amman. Setelah hampir banyak menguasai perkampungan di sekitar daerah tersebut mereka terhalang oleh patroli pesawat terbang Inggris, mereka mundur. Apalagi ditambah dengan dukungan pasukan kendaraan berlapis baja Inggris yang memang tak dapat dibandingkan dengan kuda-kuda mereka.
Abdul Aziz mendengar berita itu langsung menjebloskan pimpinan tentara Al-Ikhwan yang tersisa. Dan ia minta maaf kepada para penguasa Inggris. Tetapi sesungguhnya Abdul Aziz memaklumi keinginan dari Kaum Al-Ikhwan untuk pergi ke mana pun mereka inginkan, menjarah rayah daerah manapun yang mereka kehendaki. Ke daerah-daerah kosong yang ditinggalkan oleh Turki sejak Perang Dunia Pertama selesai.
Maka energi mereka disalurkan untuk merebut daerah Asir, sudut barat daya Arabia, daerah subur yang terjepit antara Hijaz dan Yaman. Daerah seluas 4000 mil itu pun dapat dikuasai oleh Abdul Aziz. Setelah itu mereka berniat untuk menguasai Kuwait, sekutu Abdul Aziz awalnya saat Kuwait diperintah oleh Mubarak dari keluarga Sabah. Namun saat Mubarak meninggal dan digantikan oleh anaknya, Salim, Abdul Aziz memutuskan untuk merebut daerah perbatasan yang sering menjadi sengketa yang tak kunjung padam. Menjadi sengketa karena bagi masyarakat Badui batas daerah pada saat itu cuma ada di hati manusia.
Tapi Inggris tak mau ini terjadi. Menurut Inggris, Asir bolehlah direbut, tapi Kuwait dan Irak lain ceritanya. Maka di tahun 1921 beberapa kapal perang dikirim untuk melindungi Kuwait. Pasukan Al-Ikhwan yang dipimpin oleh Faisal al-Dawisy pun harus berhadapan dengan polisi padang pasir plus dukungan Angkatan udara Inggris saat merambah Irak. Kali itu, Al-Ikhwan bertindak rasional memutuskan untuk mundur, dan ini lebih menguntungkan daripada keberanian semata. Sekarang, batas hati yang ada di manusia kadang harus mengalah pada penentuan dari Pemerintah Kerajaan Inggris.

Bersambung.

Maraji’:
1. Kerajaan Pertrodolar Saudi Arabia, Robert Lacey, Pustaka Jaya, 1986;
2. History of The Arabs, Philip K. Hitti, PT Serambi Ilmu Semesta, 2005;
3. Ensiklopedia Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, 1999

Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
12:54 26 Maret 2007
Kalibata Masih Membiru
http://10.9.4.215/blog/dedaunan

Advertisements

6 thoughts on “AL-IKHWAN: WAHABI PEMBERONTAK [1]

  1. orang Islam koq mengambil rujukan ttg islam dr buku2 karangan non-muslim? kl ada org yg ga suka dgn teman dekat anda, kemudian dijadikan sumber informasi, pastilah teman anda bertikutnya akan jd org yg anda benci. ga beda dgn sumber info anda.

    Like

  2. 1. Rujukan utama adalah dari Robert Lacey, yang lainnya adalah bahan pendukung dan tidak termuat dalam tulisan saya.

    2. Open your mind bro…? Jangan menjadi orang jumud. Setiap kebenaran itu bisa datangnya dari mana saja. Rasul pun bersabda kebijaksanaan adalah tongkat yang hilang dari tangan seorang muslim maka ambillah dimanapun ia berada.

    3. Sudah baca bukunya belum?

    4. Saya juga bisa membuktikan kalau teman-teman Anda pun (kalau itu dianggap sebagai sesuatu yang salah) memakainya demikian.

    5. Rujukan tentang Islam? kalau Anda bicara dengan teliti maka apa ayng saya ungkapkan adalah fakta sejarah bukan ilmu murni tentang islam sebangsa fikih dan syariat. kalau itu yang saya tulisa bolehlah Anda menghujat saya. Sebagaimana saya juga mengoreksi mereka yang belajar Islam di Amerika.

    6. Tentang pernyataan Anda bahwa saya mengabil semua dari buku nonmuslim Anda salah. KArena buku Ensiklopedia Islam ditulis oleh orang-orang Islam sendiri. Jangan tertipu dan tertegun atau melihat dari nama penerbitnya. Ini berarti anda juga belum pernah baca dan melihat apa itu Buku Ensiklopedi Islam.

    Demikian semoga bermanfaat saudaraku.

    🙂

    Like

  3. 1. “Rujukan utama dari Robert Lacey”. Apakah dia ini muslim ???
    “Yang lainnya adalah bahan pendukung.” Berarti cuma untuk pembenaran yang ada di rujukan utma nya khan ? Pas kalo gitu dengan komentar saya sebelumnya.

    Jawaban Riza:
    Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokaatuh.
    Alhamdulillah terimakasih telah berkunjung ke tempat saya ini.
    Saya tidak bisa mengerti apa yang mas yosabi katakan dengan pas “dengan komentar saya”. Tetapi pelan-pelan saya pahami, bahwa sesungguhnya salah satunya rujukan alternatif itu adalah buatan muslim. Mas Yosabi terlalu cepat untuk menyimpulkan diri bahwa semua itu bukan buatan kaum muslim.

    2. “Setiap kebenaran datang dari mana saja” ??? Kalo setiap berita, benar bisa datang dari mana saja. Tapi kalo kebenararan, jelas harus datangnya dari Allah subhanahu wata’ala. Open your mind, too…bro ! Lagipula sabda yang anda bawakan itu dari mana ? Bukankah di setiap kitab kumpulan hadits, apalagi shahih Bukhari dan Muslim ada hadits-2 yang bermakna seragam, antara lain :
    a. Barangsiapa berdusta atas (nama)ku dengan sengaja, maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dari Neraka (20 (dua puluh) Ahli Hadits, di antaranya: Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, ad-Darimy, dan lainnya )
    b. Dari ‘Ali, ia berkata: “Telah bersabda Rasulullah: ‘Janganlah kamu berdusta atas (nama)ku, karena se-sungguhnya barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka pasti ia masuk Neraka.’” [HSR. Ahmad (I/83), al-Bukhari (no. 106), Muslim (I/9) dan at-Tirmidzi (no. 2660)]
    c. dan lainnya, misal dari riwayatnya Abu Hurairah dan Aisyah radhiallauhanhuma.

    Riza menjawab: Apa yang mas katakan itu betul, bahwa kebenaran itu datangnya dari Allah. Tetapi sebagai penyalur kebenaran itu bisa dari orang muslim, bahkan bisa datang dari orang kafir sekalipun, serta Iblis pernah berkata benar saat berdialog dengan Rasulullah saw. Kalau masalah periwayatan hadis tentu saja bisa kita hanya ambil dari jalur yang terpercaya saja. Dan saya lihat penulisan tentang apa yagn saya tulis tidak ada yang berkatian dengan periwayatan hadis, yang ada hanyalah tentang sejarah orang atau tokoh. Dan pengambilan angel atau sebuah sisi sejarah bisa dilihat dari siapapun yang mendengar dan menelitinya. Saya khwatir pembelaan yang mas lakukan bukan semata-mata bahwa yang nulis itu bukan tokoh muslim tetapi hanyalah karena yang dijadikan tulisan itu adalah tokoh yang teramat dipujanya yaitu syaikh Bin abdul wahab. Semoga ini bukanlah sebuah pengkultusan.

    3. Tentu belum. Karena saya selalu berdoa untuk tidak bertemu dengan berita-2 tentang Islam (sejarah, aqidah, fiqih, syariat, dll dsb) yang tidak jelas asal-usulnya, apalagi yang diriwayatkan oleh yang bukan Islam. Yang fasikh saja harus diteliti, apalagi yang bukan Islam sama sekali.
    “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepada kalian membawa berita, hendaklah kalian teliti” [QS. Al-Hujurat : 6]
    Lagipula anda pun jangan-2 juga belum membaca riwayat-2 yang lain yang bisa dipertanggungjawabkan (dengan membandingkannya dengan buku-2 yang lain yang dibuat oleh para ‘ulama lainnya). Mudah-2an saya salah.

    Riza menjawab: Oleh karena itulah saya katakan mas yosabi terlalu cepat mudah menyimpulkan bahwa semua yang dikatakan orang kafir bisa jadi salah. Tetapi suatu ambivalensi apabila ada yang diaktakan orang kafir itu menguntungkan dirinya maka dipakai. Saya menemukannya dalam tulisan dari teman-teman anda itu yang memakai Robet Lacey juga sebagai rujukan. Tetapi yang diambil adalah bagian dari buku itu yang digunakan untuk menyerang kekhlifahan turki pada saat itu. Saya jgua senantiasa berdoa bahwa Allah memberikann kemampuan untuk bisa memfilter informasi yang ada. Apabila seuatu berita yang condong untuk merugikan Islam tentu akan saya tolak. bahkan dari seorang muslim sekalipun. Tetapi yang saya tanyakan apa sih ruginya saya membahas seorang tokoh yang bernama Ibnu Abdul Wahab. Saya yakin Anda menilai saya itu karena Anda belum membaca buku tersebut dan hanya melihat seorang penulis buku yang bernama Philip K Hitti saja. Padahal kalau Anda teliti dan pernah memabca buku tersebut tak ada sekalipun hujatan-hujatan kepada Ibnu Abdul Wahab.

    4. Belum kenal, koq sudah tau bisa membuktikan. Jangan-2 anda belum kenal siapa Robert Lacey (dari biodata nya), trus langsung membuktikan. Ini sich sama aja seperti kita makan di acara undangan makan, asal comot sesuai yang kita selera.

    Riza menjawab:
    Saya tidak mengerti dengan jawaban Anda. Maaf sepertinya tidak nyambung jawaban Anda dengan tanggapan saya itu. Saya bisa membuktikan teman-teman Anda itu memakai Robert lacey sebagai rujukannya. Tetapi hanya yang menguntungkan kelompoknya saja.

    5. Memangnya sejarah umum yang ada embel-2 Islam nya, bukan bagian dari Islam ? Pantaslah anda gegabah mengambil sejarah tanpa menelusuri jejak sejarah lainnya. Karena kita sudah tidak bertemu dengan Rasulullah, para shahabat dan yang bersama mereka setelah Rasulullah wafat, maka perlu kita juga menelusuri jejak-2 nya dan membenturkan nya (baca : membanding-bandingkan nya) dengan jejak lainnya. Sehingga bisa tercapai kesepakatan di antara buku-2 tersebut. Sejarah adalah bagian dari Islam juga. Memangnya Islam langsung datang ke diri anda tanpa melalui proses sejarah ? ckckckckck……

    Riza menjawab: Mas yosabi yang saya hormati, saya tidak akan gegabah untuk mempelajari sejarah rasulullah dan para sahabat dari buku-buku yang tidak jelas. Ulama salafus salih sudah banyak menuliskan tentang sirah dan sejarah orang-orang mulia tersebut. Lalu buat apa saya melirik kepada yang lain. Karena ini sudah menyagkut tentang keberagamaan kita. Jadi saya juga tak akan sembrono. Tetapi untuk yang satu ini berkenaan dengan sejarah Arab Saudi yang juga terkait erat dengan Muhammad Ibnu Abdul wahab, adalah sejarah moderen yang para salafus salih sendiri tentu tidak menulis sejarah moderen arab saudi karena mereka adalah para pendahulu kita. Lalu kepada siapa saya akan merujuk. Tentu dari para para sejarawan muslim dan kafir sekalipun. sekaligus untuk memabnding-bandingkan. Islam seabgai agama yang saya anut adalah sebagai filternya. Kelakuan raja arab saudi yang zalim sekalipun tentu kita harus koreksi bukannya dibiarkan denagn menutup dan mengaburkan sejarahnya. Semoga bisa dimengerti.

    6. Cek kembali lah, apakah saya katakan semua ? Saya hanya mencoba memberi nasihat, bahwa kenapa sejarah tentang Islam diambil dari orang-2 non-Islam ? Khan anda juga yang akhirnya mengatakan bahwa rujukan utama nya adalah dari buku Robert Lacey (sekali lagi, apakah dia ini muslim?). Kalo buku ensiklopedi Islam sich udah baca. Tapi karena saya ini bukan seorang ‘ulama dan hanya pencari nafkah, tidak semua saya lahap. Jilid nya banyak…bro.
    Jadi, jangan sombonglah kalo sudah pernah baca ini dan itu….
    Seorang ahli hadits seperti Bukhari saja menjelang wafatnya berkata bahwa (makna) dalam umurnya yang menjelang ajal, masih sangat sedikit ilmu yang dia peroleh. Padahal kita tau, banyak sekali kitab-2 kumpulan hadits beserta penjelasan-2 nya (syarh) yang disusun beliau. Seorang imam Syafi’i dalam usia belia, mampu menyusun kembali isi hadits dan periwayatnya yang sebelumnya diacak oleh gurunya dalam rangka pengujian.
    sedangkan anda, baru bawa 3 buku saja, sudah ujub. astaghfirullah…..

    Riza menjawab: Surga diharamkan bagi orang-orang yang masih tumbuh di hatinya sebiji kesombongan. Iblis diusir dari surga pun karena ia ada kesembongan sehingga tidak mau sujud kepada Adam. Sebuah tuduhan yang berat jikalau Anda menuduh saya sombong dan ujub padahal itu adalah masalah hati. Biarlah Allah yang akan menjadi hakim nanti di padang mahsyar nanti. Dan Allah adalah mahaadil.
    Robert lacey saya tidak tahu apakah dia seorang muslim atau bukan. Tetapi saya pikir dia bukanlah seorang muslim. Tetapi saya berterimakasih atas nasehatnya. bagi saya jawaban itu sudah ada di depan mata. Diskusi ini taklah apple to apple karena Anda belum membaca bukunya, dan hanya melihat sepintas saja dari apa yang saya katakan. Dan Anda hanya melihat bahwa orang kafir sudah pasti salah, sehingga sudah didahului stigma bahwa mereka salah semua. Dan tak bisa dipercaya sedikitpun untuk diambil rujukan dan ilmunya. Walaupun sekarang semua ilmu dan teknologi ada pada peradaban mereka. Sebenarnya kitalah yang berhak atas peradaban itu. Tetapi karena kita jarang mencari dan mengambil hikmah yang hilang itu maka kita tetaplah menjadi yang tertinggal. Terlalu banyak saya bicara tertalu terlihat pula kebodohan saya. Saya mohon maaf. 🙂

    Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. (alangkah lebih baiknya salam ketika memasuki rumah atau tempat istirahat seseorang karena rasulullah telah mencontohkannya demikian.

    Like

  4. Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

    1. Mas Riza selalu menjawab dengan kalimat “teman-teman anda” yang dihubungkan dengan saya. Siapakah yang dimaksud itu ??? Karena saya tidak pernah membawa siapapun dalam kalimat saya. Nampaknya itu hanya permainan tebak-2an mas Riza dari awal hingga akhir di komentar balasannya. (seperti hal nya saya ditebak baca buku karangan ini dan itu…)

    2. Walaupun sejarah Islam (tentang Arab Saudi misalnya) yang mana para shahabat sebagai ‘ulama salafusshalih ridwanullah ajmain, tetap saja tidak berhak orang kafir dijadikan rujukan utama. Apalagi untuk mengorek aib saudara sesama muslim. Kalo mas Riza biasa untuk mengkritik pemerintah TIDAK di hadapan beliau langsung (muka ketemu muka / berhadapan), maka mas Riza sudah biasa pula mencoba membongkar aib sesama muslim. Bukankah katanya kita bersaudara (di topik-2 lain di blog ini) ???

    3. Aqidah Islam dan segala cabangnya hingga sejarahnya (bahkan hadits sendiri adalah sejarah, uraian kata-2 dan sikap dari Rasulullah yang disampaikan secara beruntaian hingga sampai kepada kita. Silakan baca buku2 tentang tata cara periwayatan hadits, kalau ada waktu.) adalah beda dengan teknologi. Apakah mempunyai mobil atau komputer versi terbaru trus aqidah mas Riza langsung berubah 100 % ???

    4. Saya tidak kultus dengan siapapun, kecuali kepada Allah dan Rasul-Nya (semoga Allah menjaga aqidah saya demikian.) Tidak ada yang lolos dari dosa (makshum) di dunia ini. Beda dengan tulisan mas Riza di thread lain….. coba cek saja lah.

    5. Saya tidak akan melanjutkan komentar saya lagi, karena mas Riza sepertinya sudah mengerti apa yang dimaksud.

    Like

  5. Wa’alaikum salam. Terimakasih atas komentarnya. Adalah sebuah kesalahan bila sejarah dipandang sebagai upaya untuk membuka aib dari para pelaku sejarah. Sejarah pada hakikatnya adalah upaya pembelajaran bagi kita semua untuk bisa mengambil segala kebaikan dari masa lalu dan membuang keburukan masa lalu untuk tidak mengulanginya lagi dan bisa mencegah para pelaku kekinian untuk tidak melakukannya. Sejarah fir’aun, sejarah iblis, dan sejarah sahabat Mu’awiyah serta kekhalifahan Ummayah, abbaisyah hingga turki Utsmani yang sebagiannya bersimbah darah memang tidak bisa luput dari genangan darah yang membanjiri peradabannya masing-masing di waktu itu. Dan itu tak bisa ditutupi bahkan oleh sejarah muslim saat itu dengan alasan menututpi aib seorang muslim. Maka sungguh naif jikalau kita menginginkan sejarah hanya dari satu sisi pandang diri kita sendiri.
    Semoga kita bisa mengambil ibrah dari sejarah ini dan semoga kita tidak mengkultuskan orang-orang yang dikira makshum itu. karena sesungguhnya tidak ada yang makshum di dunia ini pada saat ini. Kita mengira pembelaan kita adalah bentuk ihtiram kepada mereka yang ditulis dalam sejarah ini, tetapi kita khwatir yang ada hanyalah pembelaan yang membabi buta. Alih-alih menghitung diri bahwa diri ini tak berupaya mengkultuskan diri tetapi pula lisan tak bisa berhenti untuk menuduh yang lain melakukan upaya pengkultusan diri. Aih….
    Semoga kita bisa mendapatkan banyak pencerahan dari sejarah ini.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s