RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI


RINDU YANG TAK PERNAH SELESAI

 

Saya terbangun. Melihat jam dinding. Keluar dari kamar. Mengambil air putih hangat, duduk, dan meminumnya pelan-pelan. Sambil merenung. Dan akhirnya mandi di tengah malam tanpa kembang. Kalau pakai kembang setaman—ada mawar, anyelir, melati—oke juga, tak mengapa. Bikin wangi. Halal. Setelah itu buka laptop dan menuliskan sesuatu.

    Beberapa jam lagi ke depan saya sudah harus berangkat ke kantor. Naik commuter line ke stasiun Sudirman. Kemudian di sana saya menunggu teman, Uda Marzaini, yang membawa mobil taruna merah tuanya ke kantor pusat DJP. Saya jadi penebeng. Penebeng selain saya biasanya ada Bro Teguh Pambudi, biasa disebut TP, dan Kang Asep Wahyudin Nugraha—panggil saja dia Kang Awe.

    Kami berempat masuk ke Direktorat Keberatan dan Banding (DKB) sama-sama di bulan September 2010 dari Kantor Wilayah DJP Jakarta Khusus. Ini sudah tiga tahun berlalu. Dan Allah menakdirkan kami berempat, di bulan September 2013 ini, mendapatkan penugasan baru. Kami disebar ke daerah yang jauh. Sejauh al masyriqi wal maghribi. Sejauh timur dan barat. Kami bertiga selain Kang Awe ditempatkan di Nanggroe Aceh Darussalam, sedangkan Kang Awe di wilayah Papua.

    Tepatnya, saya di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tapaktuan, Uda Zain di KPP Pratama Langsa, dan Bro TP di KPP Pratama Meulaboh. Dan Kang Awe di Kantor Wilayah DJP Papua dan Maluku yang terletak di Jayapura.

    Perjalanan dari kota Banda Aceh menuju Tapaktuan ditempuh selama delapan jam perjalanan darat, sedangkan Meulaboh berada di tengahnya. Jadi cukup empat jam saja dari Kota Banda Aceh. Sedangkan Langsa malah lebih dekat dari kota Medan. Empat jam saja katanya. Sedangkan Kang Awe dengan delapan jam perjalanan udara dari Jakarta. Ini hampir seperti perjalanan Jakarta ke Jeddah saja. Indonesia bener-bener luas yah?

    Bertahun-tahun kami jadi tebenger di mobilnya Uda Zain. Sebentar lagi kami yang ada di mobil taruna OX nya ini akan berpisah. Dan saya yang sering banget numpang ini jelas akan kehilangan. Mobil Uda Zain ini bagi saya seperti telaga, ngademin gitu setelah berjibaku di sesaknya commuter line yang pengap. Masuk ke dalam mobilnya selalu ada sensasi nyeeeessss. Menyejukkan dan wangi. Terima kasih Uda selama ini rela ditumpangin. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan yang berlipat ganda.

    Dan kami tetap menikmati perjalanan pagi dengan taruna merah itu sampai ada keputusan kapan kami harus berpisah. Dinikmati dan disyukuri saja waktu kebersamaan yang tinggal sisa-sisa ini. Kalau disyukuri sudah jelas ada pakemnya yaitu ditambah nikmatnya lagi. Mungkin dengan bentuk kenikmatan yang lainnya. Entah apa. Biar Allah saja yang tahu yang terbaik buat hambaNya. Yang penting bagi saya Allah tidak menggolongkan kami ke dalam golongan hamba-hambaNya yang tidak bersyukur.

    Sebentar lagi kami jadi musafir. Benar-benar musafir secara hakikat. Yaitu orang yang pergi dari tempatnya tinggal menuju sebuah tempat yang jauh. Kalau berdasarkan madzhabnya Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Hambali ada ukuran jarak minimal yang ditempuh seorang musafir yaitu 80,5 km plus 140 meter. Kami ribuan kilometer.

Dan musafir itu butuh bekal. Salah satu bekalnya adalah doa. Saya pun kembali mengutip Anis Matta dalam Setiap Saat Bersama Allah:

Beginilah sang musafir, bila mulai terbangun dari tidur panjangnya. Ia mulai membersihkan wajahnya dengan wudhu dan menjalani hari-harinya dengan munajat yang tak pernah putus. Hatinya telah terbang tinggi ke langit dan terpaut di sana. Sementara kakinya beranjak dari satu tempat ke tempat lain dalam bumi, hatinya bercengkrama di ketinggian langit.

Kini sang musafir telah menyadari bahwa doa bukanlah pekerjaan yang sederhana. Doa bukanlah kumpulan kata yang kering. Doa bukanlah harapan yang dingin. Doa bukanlah sekadar menengadahkan kedua tangan ke langit.

Tidak! Kini, sang musafir menyesali mengapa ia terlambat memahami makna dan hakikat doa. Ternyata doa adalah “surat” dari sang jiwa yang senantiasa terpaut dengan langit. Doa adalah rindu kepada Allah yang tak pernah selesai. Maka setiap kata dalam doa adalah gelombang jiwa yang getarannya niscaya terdengar ke semua lapisan langit. Di sini, tiada tempat bagi kepura-puraan. Di sini, tak ada ruang bagi kebohongan. Begitulah jiwa sang musafir, terus berlari ke perhentian terakhir, ketika raganya masih berada dalam gerbong kereta waktu. Dengarlah munajat sang musafir ini:


Allaahumma a’inni ‘alaa dzikrika wasyukrika wahusni ‘ibadatik

Ya Allah bantulah aku untuk senantiasa mengingatMu, mensyukuriMu, dan menyembahMu dengan cara yang baik. (HR Abu Dawud dari Muadz bin Jabal).

Kami sejatinya akan menjadi musafir, pelaku perjalanan jauh menuju tempat penempatan baru masing-masing. Walau sejatinya harus diakui bahwa kami hidup di dunia ini pun sudah jadi musafir sejak dari lahir untuk menuju kampung akhirat.

Kami sejatinya akan menjadi musafir, seorang perindu ulung yang tak pernah selesai dengan apa yang dirindukannya. Rindu padaNya dengan pedang doa. Rindu kampung halaman. Rindu kebersamaan.

***

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03:03 02 Oktober 2013

gambar diambil dari sini.

    

 

WAJAH YANG TERASING


WAJAH YANG TERASING

 

Wajah dan penampilan saya tidak bisa dipercaya oleh Wajib Pajak sehingga sempat “disekap” di sebuah ruangan tertutup sambil ditanya macam-macam oleh karyawan Wajib Pajak. Sedangkan karyawan yang lainnya mengonfirmasi kebenaran saya sebagai PNS di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Penanaman Modal Asing (PMA) Tiga.

    Waktu itu saya masih sebagai Jurusita Pajak Negara. Kebetulan sedang tidak memakai seragam Jurusita. Sedangkan teman saya yang lain—Jurusita senior—juga sedang memarkirkan mobilnya dan sengaja membiarkan saya sendiri belajar menghadapi Wajib Pajak.

    Yang menerima telepon dari Wajib Pajak adalah Kepala KPP sendiri. Dan ia kebetulan pas lagi tidak ingat dengan nama saya. Kebetulan pula atasan saya, Pak Mubari, Kepala Seksi Penagihan, sedang berada di depannya. Pak Kepala KPP bertanya kepada Pak Mubari apakah benar ada yang namanya Riza Almanfaluthi sebagai pegawai KPP PMA Tiga. Langsung saja Pak Mubari mengiyakan.

    Selamat. Saya bisa pulang juga pada akhirnya dengan tetap meminta kepada Wajib Pajak untuk mematuhi apa yang tersurat di dalam Surat Paksa dalam jangka waktu 2 x 24 jam. Kalau tidak? “Mbuh.”

    Itu bertahun lampau. Kisaran 2004-an. Sekarang 2013. Pada akhirnya saya bergaul lagi dengan masalah penagihan setelah ada penugasan baru sebagai Kepala Seksi Penagihan di KPP Pratama Tapaktuan Oktober 2013 nanti. Tempat baru, teman-teman baru, jabatan baru, semua baru. Seperti biasa saya cuma bisa menyandarkan kepada Sang Maha Pengatur Segalanya. Agar pada saatnya nanti saya diberikan kekuatan untuk menjalankan amanah ini.

    Jadi ingat pada kalimat dalam sebuah buku yang ditulis oleh Anis Matta dalam bukunya yang berjudul: “Setiap Saat Bersama Allah”.

    Sering, tentu, kita bepergian dan bertemu dengan daerah baru atau orang baru. Lalu kita merasa terasing. Karena Rasulullah saw ingin agar kita kuat, maka beliau mengajarkan doa ini kepada kita: A’udzu bikalimatillaahitaammah min syarri maa kholaq. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang Mahasempurna ini dari segala kejahatan yang ada (yang diciptakan-Nya). Hadits riwayat Muslim.

    Sekarang kudu belajar undang-undang penagihan pajak lagi. Belajar prosedur penagihannya, pemblokiran, penyitaan, ilmu komunikasi, ilmu negosiasi, dan banyak lagi lainnya. Untuk bisa dipelajari dari Direktorat Keberatan dan Banding (tempat kerja yang akan saya tinggalkan ini) dapat juga kiranya dibawa putusan-putusan Pengadilan Pajak tentang gugatan Wajib Pajak kepada Direktorat Jenderal Pajak karena adanya kesalahan prosedur penagihan.

Ohya tidak akan lupa baca-baca buku yang satu ini: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak. Buku yang kebetulan saya menjadi anggota tim redaksinya.

    Buku ini merupakan kumpulan 43 tulisan yang ditulis oleh para pegawai pajak dari seluruh pelosok tanah air yang sehari-harinya bergerak dan bergaul di dunia penagihan pajak. Buku ini bercerita tentang pengalaman-pengalaman mereka dalam melakukan penagihan pajak dan menghadapi banyak tipe orang yang susah ditagih utang pajaknya.

    Beberapa hari yang lalu saya sempat menanyakan tentang penyebaran bukunya kepada teman yang kebetulan tahu betul. Ternyata baru beberapa KPP yang kebagian dan dicetak sedikit karena terkendala dana. Padahal itu buku bagus buat “sharing” pengalaman ke sesama petugas di Seksi Penagihan. Semoga tak lama lagi buku ini bisa tersebar ke seluruh pegawai pajak di tanah air.

    Saya akan bawa buku ini ke Tapaktuan untuk bisa dibaca buat teman-teman Seksi Penagihan di sana. Saya juga akan belajar banyak kepada mereka: Mas Rachmad Fibrian (pelaksana di Seksi Penagihan KPP Pratama Tapaktuan), Mas Rizaldy, dan Mas Fahrul Hady (Jurusita). Semoga mereka bisa menerima saya sebagai muridnya.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Hitung mundur menuju Tapaktuan.

17:40 28 September 2013

Obituary yang kupesan seminggu lalu


Obituary yang kupesan seminggu lalu

 

sang penulis doa sedang duduk-duduk
di depan rumahnya di senja yang tipis dan tua
penanya gesit menulis obituari
tintanya pelangi, pekat
suatu detik ada hitam yang menyelip
baunya mawar menjadi merpati kemana-mana
menempel di sudut kursi
di balik daun-daun
di ujung antena televisi
bahkan di lipatan tangannya yang pesulap
ah, ada yang salah tulis
ia ambil sedikit kepingan matahari
yang biasa ia simpan di saku baju
menjadikannya penghapus
dan membiarkan kertasnya penuh bola-bola api
kian mengecil dan lincah menulis sebuah nama:
aku…….

Riza Almanfaluthi

Di lantai 19

12 September 2013

14:37

 

gambar diambil dari sebuah blog.

CERMIN: BERSIH-BERSIH TIADA AKHIR


CERMIN: BERSIH-BERSIH TIADA AKHIR

image

Sudah banyak sekali yang dilakukan oleh DJP untuk berbenah, berubah, dan menjadi institusi baru, institusi modern yang dipercaya masyarakat. Tetapi apa lacur, sepertinya semua yang telah diusahakan DJP dengan kerja keras itu sia-sia. DJP tetap menjadi bulan-bulanan.

 

 

PUKUL 10.34 WIB, saya bersama istri sudah berada di Puskesmas Bojonggede. Niatnya kami ingin meminta surat rujukan Askes untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Jakarta. Ternyata ketika sampai di loket kami ditolak dengan alasan kartu Askes kami yang baru belum bisa diaplikasikan di sistem administrasi Puskesmas. Jadi kami harus pakai kartu Askes kami yang lama. Padahal kami tidak membawanya.

Terpaksa saya harus pulang kembali ke rumah dalam jangka waktu 20 menit, karena pendaftaran Puskesmas ditutup pada pukul sebelas siang. Istri bersama Kinan, anak saya, saya tinggal di Puskesmas. Saya langsung ngebut. Alhamdulillah, ketika sampai di Puskesmas, masih ada waktu dua menit lagi menurut jam di HP saya. Tapi loket pendaftaran sudah ditutup dengan tirai. Petugas langsung mengerti bahwa saya adalah warga yang tadi sudah datang sebelum jam sebelas. Akhirnya kami dapat diterima.

Ketika mulai pemeriksaan, kami dipanggil masuk oleh dua orang dokter yang ada di dalam suatu ruangan. Lalu kami ditanyai tentang problem kesehatan kami. Sampai suatu saat, perempuan dokter yang memeriksa istri saya bertanya, “Ibu dari instansi mana?”

“Kementerian Keuangan,’ jawab istri saya.

"Dari pajak, Bu?”

“Bukan, noh… dia yang dari pajak," kata istri sambil menunjuk saya.

Dua perempuan dokter itu langsung tertawa, sambil menyindir-nyindir saya.

"Rumahnya mewah dong, Pak?” tanya salah satu dari mereka.

Istri saya langsung menjawab, “Bu, tergantung orangnya. Kalau benar ada uang miliaran sih, kami enggak mungkin tinggal di Citayam.”

“Kan bisa tinggal di sini. Untuk kamuflase gitu…’’

“Bu, kalau benar dugaan itu, tentu kami tidak akan datang ke sini untuk meminta surat rujukan Askes. Ngapain kami datang capek-capek ke mari,” kata saya menambahkan.

Oknum

Kejadian seperti itu memang tidak hanya sekali saya alami. Namun, entah mengapa saat itu saya anggap sebagai guyonan belaka. Tidak saya tanggapi dengan serius seperti biasanya. Saya hanya membalas dengan senyuman. Sembari menahan hati untuk bersabar. Saya memang sedikit pasrah, percuma saya tanggapi karena mereka lebih percaya kepada media.

Tapi, mungkin ini juga pengaruh dari suasana. Kalau saja tidak dalam suasana dikejar-kejar oleh waktu, saya mungkin akan memberikan penjelasan panjang lebar. Seperti pada sebuah seminar yang pernah saya ikuti.

Saat itu saya berteriak lantang ketika pembicaranya menyerempet-nyerempet masalah Gayus Tambunan. Katanya Gayus itu ketahuan karena apes, tertangkap cuma satu padahal masih banyak yang lainnya.

Sungguh saya tersinggung saat itu. Saya bilang di hadapan ratusan peserta seminar itu, “Perkataan Anda membuat saya tersinggung. Tidak betul apa yang Anda katakan itu. Berikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya agar tidak terjadi generalisasi yang semena-mena.”

Pada sesi tanya jawab itulah saya menerangkan dengan panjang lebar tentang permasalahan Gayus. Ya, saya berani bercerita karena saya yakin sepenuh hati DJP itu tidak sebejat yang mereka pikirkan. Permainan Gayus bukan permainan sebuah sistem tetapi permainan yang dilakukan oleh orang per orang untuk mengumpulkan harta tidak halal sebanyak-banyaknya.

Proses Seleksi

Tetapi entah kenapa Allah kemudian masih saja menunjukkan kepada masyarakat tentang masih adanya permainan yang dilakukan oleh oknum pegawai DJP selain Gayus. Akhir-akhir ini kasus pegawai pajak tertangkap KPK kembali menghiasi pemberitaan media massa.

Oh… memang ternyata masih ada juga pegawai yang seperti itu. Namun, tetap dengan sebuah keyakinan saya bahwa itu hanyalah sebagian kecil. Bukan kebanyakan dari pegawai pajak. Tetapi tetap saja kelakuan mereka seperti tusukan dari belakang. Sakit sekali. Kita berusaha menciptakan citra DJP yang bersih ternyata saudara-saudara kita yang ada di DJP masih melakukan itu. Sungguh mengecewakan. Tapi itu harus diakui, karena mereka eksis.

Lalu dengan pemikiran itu saya pun bersikap defensif saja. Hujatan dan makian saya terima walaupun dengan hati yang gondok. Manusiawi bukan?

Saya berharap bahwa ini adalah upaya Allah untuk membersihkan DJP dari oknum-oknum seperti itu. Saya terima saja. Ibarat kata ketika seorang pendulang emas ingin menemukan bongkahan emas, maka apa yang ia lakukan coba? la mengayak tanah yang mengandung emas itu dengan keras. Lalu menyortir dan menelitinya, lagi dan lagi. Ketika tidak ditemukan, segera ia kemudian mencelupkan tanah itu dengan air dan mengayaknya lagi. Apatah lagi ditambah dengan campuran zat kimia air raksa yang menyakitkan itu. Keras dan keras.

Lalu apa yang ditemukan oleh pendulang emas itu pada akhirnya? Mendapatkan emas yang ia cari lama-lama dengan sekuat tenaga itu, menyisihkannya dari tanah yang tidak punya arti itu. Lalu mengumpulkan emas itu dengan emas-emas yang lainnya. Dan apa yang terjadi dengan sisa tanah yang ada? Dibuang jauh-jauh. Karena ia tidak berguna, tak berarti apa-apa.

Ibarat itulah. Saya selalu berbaik sangka, bahwa semua hujatan, kecaman, dan kritikan yang masyarakat berikan kepada kami adalah dalam rangka memilih emas yang berharga dan mengubur dalam-dalam tanah yang tak bernilai itu. Mengumpulkan yang bersih-bersih agar yang kotor- kotor itu tidak ikut dalam sistem lagi. Sekali lagi walaupun pahit untuk dirasa oleh kita. Selama kita sendiri yakin kalau kita idealis, silakan diobok-obok.

Biarlah yang kotor itu tersingkir dengan proses yang alamiah. Mungkin beginilah seleksi alam yang harus dialami oleh DJP, cara halus tidak bisa sehingga harus diobok-obok dulu agar senantiasa bersih sebagaimana harapan masyarakat.

Ya, saya senantiasa berharap bahwa prahara yang dialami oleh DJP ini segera cepat berakhir. DJP lebih bisa berbenah lagi. Mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi. Lalu saya pun tak perlu disindir-sindir lagi oleh yang lain.

Saya berdoa pada Allah semoga dijauhkan dari segala fitnah. Allahumma inni a’udzubika minal fitani. Semoga siapa pun pegawai DJP yang masih memiliki keinginan untuk memperkaya diri dengan cara yang melanggar aturan, dapat memahami bahwa perbuatan mereka akan menyakiti sesama saudara-saudara mereka di DJP

***

Riza Almanfaluthi

Ini adalah tulisan lama yang dimuat di Majalah Berita Pajak No. 23/XLV/2013. Bulan Agustus dan September 2013 ini.

CHAN CHUN HWA


CHAN CHUN HWA

Di Youtube banyak sekali video tentang berbondong-bondongnya orang barat masuk Islam. Selalu saja prosesi pengucapan kalimat Syahadat itu sarat emosional dan memancing keharuan. Tak terasa mata sudah membanjir menjadi telaga. Kalau dalam Islam, ketika ada orang yang kembali kepada pangkuan Islam selalu disambut dengan gembira, takbir, dan air mata. Anda bisa mencari sendiri di sana.

Malam Ahad itu seharusnya ada ustadz yang akan mengisi pengajian pekanan kami di Masjid Al-Ikhwan. Tetapi karena mendung dan cuaca yang tidak mendukung pada akhirnya shalat maghrib itu dipimpin tanpa ustadz tersebut. Dan sebenarnya beliau berjanji akan datang karena kami—pengurus DKM—meminta dengan sangat kehadiran beliau karena akan ada orang yang masuk Islam di Masjid kami.

Ya sudah saya yang akan mengambil alih prosesi pengucapan dua kalimat syahadat itu. Tak bisa ditunda lagi. Karena hidayah bisa datang kapan saja dan ada kematian yang juga bisa datang kapan saja menghalangi hidayah itu sampai kepada orang itu.

Kali ini tetangga kami, seorang perempuan Tionghoa bernama Chan Chun Hwa. Namanya mengingatkan kepada tokoh-tokoh dunia persilatan di cerita silat Asmaraman S Kho Ping Hoo. Anak-anaknya sudah masuk ke dalam Islam. Menantunya juga. Tinggal dia saja yang belum. Yang memberatkan untuk segera masuk Islam memang teman-teman gerejanya yang intensif mendekati beliau. Tapi apa mau di kata kalau Allah sudah berkehendak ya susah. Biarpun jutaan orang menghalangi seseorang dengan membelanjakan seluruh hartanya tak akan bisa menghalangi turunnya hidayah Allah kepadanya. Tak banyak cerita dan motif tentang keinginannya masuk Islam. Itu saja yang saya ketahui.

Saya persilakan ibu-ibu mendampingi Ibu Chan Chun Hwa ke hadapan saya. Bapak-bapak duduk di bagian kiri ruangan masjid. Setelah membuka acara dengan sedikit kultum, saya bertanya kepada Ibu Chan Chun Hwa,

“Apakah Ibu benar-benar mau masuk ke dalam Islam?”

“Betul,”

“Apakah tidak ada siapapun atau apapun yang memaksa Ibu masuk ke dalam Islam? Karena dalam Islam tidak ada paksaan beragama. Laa ikrooha fiddiin.”

“Tidak ada,”

“Alhamdulillah, kalau demikian mari Ibu ikuti kata-kata saya. Ibu sebelumnya pernah belajar mengucapkan dua kalimat syahadat ini?”

“Pernah,”

“Baik mari ikuti ucapan saya ya Bu…”

Di luar hujan sangatlah deras. Rahmat Allah sedang turun ke bumi Citayam. Ia menjadi saksi atas masuk Islamnya seorang yang bernama Chan Chun Hwa. Dua kalimat syahadat telah diucapkan. Dalam bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.

Ia telah mempersaksikan bahwa tidak ada Tuhan, tidak ada ilah selain Allah yang patut disembah. Dan ia pun mempersaksikan bahwa Muhammad adalah seorang Rasul Allah, utusan Allah. Utusan yang terakhir dan tidak ada nabi dan rasul setelahnya.

Tahmid bergema di masjid Al-Ikhwan. Ibu-ibu memeluk Ibu Chan Chun Hwa. Ibu-ibu telah bersepakat untuk memberikan nama baru buatnya: Ibu Sri Sulastri Khairunnisa.

“Ibu tahu arti Khairunnisa?” tanya saya kepadanya.

“Tidak tahu,” jawabnya.

“Khairunnisa itu artinya perempuan yang baik. Nama adalah doa. Insya Allah Ibu akan menjadi perempuan baik-baik dengan hidayah Allah sampai akhir nanti. Amin.”

“Bapak-bapak, Ibu-ibu yang Insya Allah dimuliakan Allah swt, alhamdulillah petang ini kita telah mendapatkan saudara baru yang kembali ke dalam Islam, karena sesungguhnya manusia itu ketika dilahirkan dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang menjadikan mereka yahudi, nasrani, dan majusi. Syahadat itu adalah miftahul jannah, kuncinya surga, tetapi tentu tidak sekadar berhenti sampai dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung ketika menjadi seorang muslim. Yaitu melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah dan rasulNya dan meninggalkan larangan-laranganNya. Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban ibu-ibu di sini untuk memberikan pelajaran tentang Islam kepada Ibu Chan Chun Hwa ini, ajak beliau mengikuti taklim, dan kita semua yang Bapak-bapak juga mempunyai kewajiban memberikan nasihat. Sebagai perwujudan menegakkan amar makruf nahi munkar. Baik kita akhiri acara ini dengan doa bersama.”

Ada doa-doa yang terlantun pada saat itu. Apalagi pada saat hujan deras, saat Allah mengijabah doa-doa hambaNya. Maka kami meminta kepada Allah agar hidayah Islam ini tetap ada pada kami sampai kami menghembuskan nafas yang terakhir.

Rabbana la tuzigh qulubana ba’da id hadaitana wa hab lana min ladunka rahmah innaka antal wahhab

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). Ali Imran (3) ayat 8.

Hujan tak mau menyelesaikan tangisnya yang sumbang walau acara itu sudah selesai. Memang rahmat Allah tak berkesudahan. Tak henti-hentinya datang kepada semua makhluk. Apalagi kepada saya. Tetapi manusia memang begitu. Dikasih banyak, bejibun, oleh Allah, tapi untuk bersyukur saja susahnya minta ampun. Hidayah Islam adalah nikmat Allah yang teramat besar, sehingga para ulama—kita pun demikian—dalam setiap memulai ceramahnya selalu mengingatkan tentang perlunya kita bersyukur atas nikmat Islam ini. Tak semua orang bisa mendapatkannya. Karena masih banyak milyaran orang di muka bumi ini yang belum mendapatkan hidayah Allah ini.

Saya bersyukur mendapatkan hidayah ini sejak lahir, tetapi terkadang yang mendapatkan hidayah ini sejak lahir malah ketaatannya kalah jauh daripada orang yang mendapatkan hidayah baru-baru saja. Ini semata untuk mengejar ketertinggalan—perkataan yang biasa sering diucapkan oleh para muallaf itu. Tetapi walaupun sekadar mengejar ketertinggalan jangan-jangan amal-amal mereka malah lebih utama, dahsyat, dan diterima Allah daripada yang sudah lama berislam tetapi miskin prioritas amal, kering keikhlasan, dan banyak yag ditolak Allah karena riya’.

Astaghfirullah…karenanya doa itu selayaknya tidak tertinggal dari mulut-mulut kita ketika sehabis shalat: ya Allah berilah petunjuk kepada kami sampai nyawa kami dicabut. Amin.

***

Riza Almanfaluthi

di lantai: glosoran

09:39 15 September 2013

Gambar diambil dari Islamedia.

Tulisan ini diunggah pertama kali oleh Islamedia. http://www.islamedia.web.id/2013/09/chan-chun-hwa.html

PEREMPUAN YANG TERLUNTA


PEREMPUAN YANG TERLUNTA

Kaki kiri perempuan itu telah dipotong separuh karena penyakit gula. Luka bekas amputasi yang telah lama mengering entah kenapa kembali basah setelah ada lecet sedikit. Malam itu ia mengerang tanpa sadar kesakitan. Entah karena diebetes atau masalah diperutnya.

Dua anaknya panik mengetok pintu rumah saya. Mereka dulunya adalah murid-murid belajar Iqra dan pengajian pekanan yang saya selenggarakan di rumah. Mereka meminta pendapat atas kondisi ibunya dan kesediaan saya mengantar mereka dengan mobil. Sepertinya memang harus dibawa ke rumah sakit karena hari ini hari ke lima sejak ibu mereka tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Kemana Sang Ayah? Pergi ke Batam, meninggalkan istri dan anak-anak , tidak pulang-pulang berkali-kali lebaran serta tak mau memberi mereka nafkah. Setelah sebelumnya sempat pergi dengan perempuan lain, balik lagi, dan diterima dengan penuh kesabaran oleh istrinya yang sekarang sakit-sakitan. Ketika malam itu dikabarkan kepadanya bahwa Sang Istri harus dibawa ke rumah sakit ia tetap bergeming tak mau pulang.

Setengah sebelas malam kami pergi ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibinong, Bogor. Sang Dokter menyarankan bahwa Sang Ibu harus dirawat di kamar isolasi. Masalahnya adalah kamar isolasi sudah penuh, tidak ada kamar kelas rakyat lagi, yang ada kelas VIP. Memang kami melihat sebelumnya ada perempuan terluka karena kecelakaan pun harus pergi kembali disebabkan tak bisa dirawat di sana. Kami lalu diberi surat rujukan ke RS lain.

Berundinglah kami bertiga tentang akan dibawa ke mana lagi Sang Ibu. Cuma RS pemerintah yang bisa kami tuju karena ketiadaan biaya. Eko, sebut saja demikian, si anak sulung, hanya bisa mengusahakan adanya Kartu Jaminan Kesehatan Masyarakat buat ibunya. Kami pergi ke RS PMI di Kota Bogor, tapi jawaban pihak rumah sakit pun sama. Empat ruang isolasi yang mereka miliki sudah penuh.

Akhirnya kami pulang. Sang Ibu yang dari semula tak mau dibawa ke RS menyarankan untuk mengetok rumah Bu Bidan di komplek kami, soalnya obat terdahulu yang pernah diberikan “cespleng” katanya. Kami sepakat untuk kembali ke rumah sambil menunggu ruang kosong di RSUD Cibinong dan mengontrol kondisi Sang Ibu apakah dengan obat sementara itu kondisinya membaik atau tidak. Jika masih tetap kondisinya mau tidak mau harus kembali ke RSUD dan mengambil kamar yang ada di sana apapun kelasnya.

Setengah tiga dini hari, saya sudah sampai di rumah. Mau tidur tetapi mata belum mengantuk. Pertandingan bola antara Chelsea dan Bayern Muenchen menjadi pilihan untuk ditonton. Tak terasa kemudian adzan Shubuh telah berkumandang. Langkah kaki menuju ke Masjid mengusir kantuk yang sudah mulai menyerang. Total jenderal, lebih dari 24 jam tidak tidur sejak pagi kemarin.

Ta’awun

Ada yang mendera dalam pikiran selama perjalanan mengantar hingga shubuh itu. Pajak dikumpulkan sebanyak-banyaknya, dikelola dengan sebaik-baiknya, untuk kemanfaatan rakyat sebesar-besarnya. Salah satunya buat penambahan ruang rawat di RSUD Cibinong yang sudah jadi keharusan walau saat ini kondisi RS tersebut telah direhab dengan baik. Tetapi tetap saja masih ada cerita tentang kurangnya kualitas layanan atau calon pasien yang ditolak karena penuhnya kamar. Ini penting agar tak ada ceritanya lagi pasien yang ditolak di mana-mana kemudian meninggal karena ketiadaan kamar rawat.

Deraan yang kedua di punggung pikiran saya adalah selain ketersediaan jaminan kesehatan dari pemerintah buat orang yang tidak mampu, pun soal jaminan layanan berkualitas yang digaransi akan diterima oleh yang berhak. Jangan sampai pula ada perbedaan kualitas layanan antara orang yang membayar dengan pemakai kartu jaminan kesehatan.

Deraan terakhir adalah ketika akses terhadap dua hal di atas tidak bisa didapat maka di sinilah dibutuhkan adanya dana darurat buat orang-orang yang tidak mampu agar tetap bisa dirawat secepat mungkin dan kondisinya bisa tertangani. Keluarga pun tidak berpikir terlalu lama mau dirawat di rumah sakit mana karena ketiadaan dana.

Masalahnya di RT kami, dana ta’awun (tolong menolong) itu baru sebatas iuran kematian. Tak ada dana darurat selainnya. Di sinilah kepekaan para tetangga yang mampu diasah untuk bisa berempati dan turut membantu. Karena dengan Zakat, Infak, dan Shadaqah (ZIS) yang dikumpulkan dari mereka insya Allah itu akan sangat menolong.

Alhamdulillah dana ZIS yang kami kumpulkan oleh para aktivis tarbiyah sangat efektif membantu dalam masalah ketersediaan dana pendidikan buat orang yang tidak mampu. Terakhir dana pendidikan itu mampu untuk menebus ijazah anak tetangga yang masih ditahan pihak sekolah. Kebetulan Sang Anak sudah diterima di suatu perusahaan yang mensyaratkan jaminan ijazah asli.

Perlu sekali dana-dana ZIS yang terkumpul untuk dana darurat kesehatan. Dana tersebut bisa diserahkan tanpa harus ada upaya mengembalikan atau dalam bentuk pinjaman lunak dengan waktu yang luas. Dan dalam kasus Sang Ibu ini sepertinya kami harus mengetuk pintu tetangga kembali untuk secara sukarela memberikan dana bantuan. Ini solusi sementara sebelum dana darurat itu terbentuk.

Akhirnya Sang Ibu masih dalam kondisi semula bahkan lebih berat lagi, Ahad malam kami membawanya ke RSUD Cibinong dan dimasukkan ke kelas VIP. Sambil tetap berpesan kepada pihak RSUD jika ada kelas tiga yang kosong Sang Ibu harus diprioritaskan untuk masuk.

Notifikasi dari aplikasi Whatsapp muncul di hp saya. Dari seorang teman yang memberitahukan bahwa ia telah mentransfer ke rekening saya sejumlah uang zakat dan infaknya untuk diberikan kepada yang berhak. Ia meminta didoakan agar anaknya yang sakit disembuhkan dengan perantaraan sedekah ini. Juga agar perjalanan hajinya dimudahkan Allah. Sungguh, teman saya ini paham betul kalau sedekahnya itu akan menjadi sarana penyembuhan anaknya oleh Allah SWT. Karena Rasulullah SAW pernah bersabda: obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.

Subhanallah, ini memang rizky minallah buat Sang Ibu. Insya Allah, teman. Dana ZIS itu akan diserahkan sebagiannya buat biaya perawatannya. Semoga Allah angkat penyakit Sang Ibu yang tidak mampu dan terlunta itu dan semoga Allah menyembuhkan segera anak teman saya ini.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

di sudut pagi yang dingin

06:34 08 September 2013

tags: RSUD Cibinong, Bogor, RS PMI, PMI,

MAU SEJUTA


MAU SEJUTA

Karakter Hajjah Ida di Sinetron Emak Ijak Pengen ke Mekah adalah karakter orang kaya yang sombong, sering memamerkan kekayaan dan kedermawanannya kepada orang lain. Dan itu berhasil diperankan sangat baik oleh Sang Pemeran, hingga membuat penonton hanya bisa mengelus dada dan jengkel melihat tingkah lakunya.

*

Jumlah hit yang berkunjung ke blog ini sudah hampir satu juta. Tentu karena bukan blog yang luar biasa, menempuh sejumlah angka tersebut perlu kerja keras. Karena satu pakem yang saya yakini betul dari sebuah blog dan ini hal yang terpenting adalah kontennya. Seberapa pun tampilan blognya super keren tapi isinya tidak bikin tambah manfaat buat pembaca tentunya berbanding terbalik dengan jumlah kunjungannya.

 

image

 

Seperti saya yang sering berkunjung ke blog unofficialnya Dahlan Iskan, itu karena semata kebutuhan. Bahwa di sana ada yang saya cari. Di sana ada yang saya butuhkan untuk menghilangkan dahaga intelektualitas (maaf kalau sok-sokan seperti ini) dari apa yang dia tulis di setiap pekannya.

Enam ratus hits setiap hari. Dan saya tahu apa yang mereka kunjungi di blog ini. Dan betul sesuatu yang bermanfaat buat mereka. Bukan karena celotehan saya yang tak karuan yang menyebabkan mereka datang ke blog ini. Bukan. Dan setelah saya perhatikan itu pun karena artikel-artikel lama saya. Hingga saya berpikir sudahkah membuat tulisan yang bisa dibagi buat orang lain dan bermanfaat saat –saat ini?

Jangan-jangan selama ini tulisan-tulisan baru saya tak ada manfaatnya buat mereka. Hanya sekadar ajang narsis saya. Pemikiran ini memukul telak ambang batas dari niat ikhlas yang selalu saya dawamkan ketika mau memosting sebuah tulisan. Sudah ikhlaskah? Saya cuma bisa meluruskan niat dan mengembalikannya kepada Allah SWT.

Hajjah Ida itu dermawan. Ia sangat royal kalau mau kasih duit ke orang. Satu hal tentang Hajjah Ida ini ia tak segan-segan bantu orang dan keluarkan duit banyak untuk bagi-bagi. Tapi yaitu tadi, padahal ia sudah mengumpulkan banyak pahala atas kebaikannya bagi-bagi duit, tapi langsung lenyap seketika hanya karena pamer dan sering menyakiti hati orang yang diberi duit.

Sedekah ya sedekah tapi jangan nyakitin. Padahal kalau Hajjah Ida tahu, kalau ia sedekah tak menyebut-nyebut sedekahnya itu dan tidak menyakiti perasaan si penerima, maka Hajjah Ida akan mendapatkan banyak pahala kebaikan buatnya, tidak akan ada rasa cemas yang menjadi sumber dari segala penyakit nomor satu manusia modern, dan tentunya Hajjah Ida tak pernah bersedih hati. Itu sudah janji Allah.

Amalan Hajjah Ida itu adalah amalan serupa batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih tidak bertanah. Tidak mendapatkan sesuatu apapun, sedikitpun, dari apa yang diusahakan.

So, saya dengan Hajjah Ida jangan-jangan sama. Karakter Hajjah Ida jangan-jangan sudah melekat di dalam jiwa saya. Mengira menulisnya bermanfaat buat orang lain, eh tahunya tak dapat apa-apa. Musibah.

Ah, gak tau yaa…Soalnya saya cuma ingin menulis hari ini. Menulis apa saja. Kalau sudah kayak gini berarti memang saya sudah jadi fakir ide dalam menulis. Tabungan ide saya habis. Atau sebenarnya banyak ide tapi pengen menulis yang serius, dan gurih, gurih, gurih begitu. Eh malahan tak bisa jadi semua. Oleh karenanya menulisnya jadi tak serius seperti ini, apa adanya, sekali jadi, tanpa edit, dan langsung posting. Tak tahu apakah ini bisa manfaat buat orang lain atau tidak. Padahal kata Kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebaik-baik kamu adalah yang manpangat buat orang lain gitu….

Sudahlah. Ternyata ada satu berkas jatuh tempo yang harus saya kerjakan sekarang. Pamit dan undur diri. Mau sejuta hits? Kerja keras, beri sesuatu yang manfaat buat orang lain, dan istiqomahlah. Itu saja.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15:35 02 September 2013

Di sudut lantai 19

BULAK DALAM REMAH-REMAH SAJAK


BULAK DALAM REMAH-REMAH SAJAK

 

 

empat puluh katanya ekor monyet

yang membelit pohon-pohon

di atas nisan-nisan terbujur kaku

berdebu dan baru

aku jatuh dalam bayang-bayang

berwindu-windu lalu

di sebuah akhir ramadhan

dan syawal yang cuma segaris

dari tahun ke tahun

dengan tukang becak yang mengayuh peluh

atau kaki Werkudoro yang mendorongku ke sana

ke sebuah festival

mencumbui pasar malam

dan aku tersasar dalam kerumunan martabak, tahu petis, arum manis

bahkan aku menjadi pertapa

di bawah biduan-biduan Jakarta

moksa dengan tangan, kaki, tubuh

tersandera nada-nada dari seruling dan kendang

seketika aku tak tahu ada 40 pasang mata menatap cemburu

dari atas semak belukar yang gelap

atau dari riuh orang-orang yang memasuki gua hantu

atau dari cipratan adrenalin mesin-mesin retak

atau dari bawahku tulang-tulang

terserak gembira dalam sunyi

bermalam-malam cahaya menjadi bunting

melahirkan banyak anak

setelah matahari terbit yang ke sekian usailah pesta

pesta yang tak abadi

yang abadi cuma

empat puluh katanya ekor monyet

yang membelit pohon-pohon

***

Riza Almanfaluthi

di sebuah Bulak

di sebuah Jatibarang

22:28 25 Agustus 2013

 

Gambar diambil dari sini.

MENZALIMI SABTU


MENZALIMI SABTU

Sabtu pagi, matahari sudah duduk-duduk di pelataran. Hangat tentunya. Dan saya terbangun dengan sukses. Uh…Sabtu dan Minggu adalah waktu sangat berharga buat rehat serehat-rehatnya. Maklum Senin sampai Jum’at digunakan betul buat berjibaku mendorong, mendesak, dan menyandar, bertele-tele di antara tubuh-tubuh yang terjepit penumpang Commuter Line ketika berangkat atau pulang dari kantor. Melelahkan tentunya.

Makanya, sepertinya, oleh karenanya, Sabtu dan Minggu kayaknya ogah deh berangkat ke Jakarta. Jangan sampai deh bisa menyentuh dia. Dua hari itu dipersiapkan buat lahir dan batin untuk menggauli Jakarta di hari-hari kerja sahaja. Dua hari itu fokus buat keluarga dan masyarakat di sekitar rumah. Porsinya harus dipenuhi dengan adil seadil-adilnya. Digilir. Masing-masing ada waktunya. Ada jatahnya. Kalau enggak bisa adil, bisa celaka dunia dan akhirat. Nanti ada yang terzalimi. Kalau terzalimi, khawatir ada yang berdoa dan doanya didengar oleh Allah. Wow…

Kali ini mau tidak mau ada yang harus terzalimi, karena Sabtu ini, saya pergi ke Jakarta. Pergi ke Tanjung Barat. Ada Sarah Sechan sarasehan yang harus saya ikuti. Sarasehan menulis. Berbagi dan mendapatkan ilmu menulis seperti itulah. Jam delapan pagi langsung ke Stasiun Citayam.

Entahlah, kali ini saya tuh bongbong pergi ke Stasiun Citayam. Tahukan bongbong itu apa? Bukan bong buat ngisep ganja yang dikuadratkan yah. Bongbong itu bahasa Jawa Dermayu , artinya enggak ada beban. Ya betul enggak ada beban seperti di hari kerja. Yang harus tergesa-gesa, berjuang untuk mencari tempat di dalam Commuter Line yang penuh, desak-desakan, dan lain-lainnya.

Kali ini saya nyantai aja berangkat. Bermandikan cahaya matahari yang langka saya dapatkan—secara saya biasanya berangkat setelah shubuh tatkala matahari masih tidur di kandangnya. Pikiran pun tak galau karena pasti Commuter Line tak sepenuh seperti biasanya. Dan betul, saya masih leluasa baca koran dengan berdiri. Kosong. Ohya…jangan memakai bahasa kosong tanpa isi seperti yang biasa dipakai para pakar saintis itu. Kosong adalah bahasa relativisme yang dipakai oleh para penumpang Commuter Line ketika ia tidak menyandar pada tubuh orang lain. Itulah kosong.

Jarak Citayam-Tanjung Barat pun menjadi tak seberapa. Perjalanan berasa singkat bae. Ini jadi tambah bombongin ati. Baru baca enam artikel di koran saja sudah sampai. Stasiun Tanjung Barat masih sepi. Lalu saya susuri jalan setapak pinggiran relnya. Kolong jembatan layangnya. Sudah lama saya tak melewati kolong yang pada beberapa pekan sebelum ini memakan korban mobil situs berita tertabrak kereta.

Commuter Line dan jalan setapak. Serupa duit dan dompet.

Dan…di tempat tujuan sudah ada teman dari Semarang, bahkan dari Johor, Malaysia pun datang. Kali ini saatnya saya menyelesaikan tulisan ini. Seperti sudah pernah saya bilang kalau kita kudu tahu kapan kita harus keluar. Kapan kita harus berhenti. Di pohon gak ada ikan patin, mohon maaf lahir batin. Meksiko
Mekso…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di rangting cemara

11.09 24 Agustus 2013

FESTIVALISASI KEMUNAFIKAN


FESTIVALISASI KEMUNAFIKAN


Isi perutnya terburai. Tubuhnya berlumuran darah. Clurit perampok itu telah menghabisi nyawa keturunan Tionghoa yang terkenal kaya di desa Jatibarang puluhan tahun lampau itu. Selentingan kabar korban dibacok karena kukuh tidak mau menyerahkan hartanya. Harta bisa dicari lagi, nyawa cuma satu, lalu mengapa tidak menyerah saja? Sejatinya ini bukan sekadar masalah harta yang tak seberapa dan bisa dicari lagi itu. Sungguh.

*

Ini sebuah pembantaian. Ribuan nyawa demonstran damai melayang oleh tangan-tangan besi militer dan polisi Mesir. Dibidik, diasap, ditembak, dibakar, dibunuh, dilindas adalah cara-cara barbar yang digunakan aparat untuk membubarkan demonstran yang sedang menuntut haknya untuk mengembalikan Mursi ke kursi kepresidenannya.

    “Ternyata semua ini tentang kursi kepresidenan,” cuit seorang ustadz. Tidak sesederhana itu wahai Ustadz yang terhormat. Kursi itu diraih dengan cara yang menurut orang zaman sekarang adalah cara yang paling beradab, moderen, sesuai kesopanan dan etika dunia abad 21: pemilihan umum. Diperoleh dengan cara yang sedemokratis mungkin. Maka ketidaksetujuan terhadap kebijakan presiden terpilih, selayaknya disalurkan dengan cara yang telah diatur pula sesuai dengan etika orang-orang yang beradab itu: tidak memilihnya lagi di pemilihan umum selanjutnya.

    Maka wajar ketika kudeta yang dilakukan militer dan didukung oleh antek-antek Mubarak dan para liberalis itu dilawan dengan demonstrasi damai oleh para pendukung Mursi. Sebuah demo untuk melawan perampokan di siang bolong di sebuah tatanan dunia yang begitu mengagung-agungkan demokrasi.

    Ini bukan sekadar kursi kepresidenan, melainkan sebuah perjuangan menuntut hak yang telah dirampas itu dengan demo marathon yang membutuhkan nafas esktra panjang. Dan ini sah. Bahkan sekalipun terbunuh dalam rangka mempertahankan haknya itu. Hadits riwayat Abdullah bin Amru Radhiallaahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu’alaihiwasallam bersabda: Barang siapa yang terbunuh demi mempertahankan hartanya, maka ia mati syahid. (Hadits Marfu’, Mutawatir).

    Akankah mereka para pendemo itu tidak tahu syariat daripada orang Cina di atas yang tidak tahu Islam tetapi mampu untuk mati dalam rangka mempertahankan hartanya? Tidak. Mereka beda. Mereka mencintai kematian. Dan tidak ada sesuatu apapun yang bisa mengalahkan orang-orang yang mencintai kematian. Tidak Fir’aun atau Assisi sekalipun. Bahkan dunia yang sedang diam ini.

Festivalisasi Kemunafikan

    Ya, dengan dunia yang diam, dengan Amerika Serikat (AS) sebagai pengasong dan penjaga demokrasi yang bermuka dua. Ini sebuah festivalisasi kemunafikan negara adidaya itu. Berderet panjang ambivalensi AS ketika demokrasi dimenangkan oleh partai-partai berlabel Islam. Jadi sebenarnya tidak ada ruang leluasa buat umat Islam ketika demokrasi sebagai alat perjuangan umat dimenangkan kecuali ia harus menjadi jongos AS terlebih dahulu.

    Kemunafikan ini dijaga agar tetap eksis karena ini menyangkut eksistensi Israel sebagai satelit AS, belanja senjata trilyunan dolar AS oleh para raja Timur Tengah. Dus, sumber daya alam yang begitu berlimpah di sana. Maka kekacauan dibuat sedemikian rupa agar wilayah panas itu tak pernah jeda sejenak untuk mengambil nafas kedamaian.

    Ditambah para penguasa diktator dan despotis itu membiarkan lenyapnya nyawa saudara sebangsanya itu selama berdekade AS mengambil peran di sana. Tak ada kegetiran sedikit pun bahwa mereka hanya jadi boneka yang bisa dipermainkan setiap saat oleh dalangnya. Tak heran anggapan ini marak: nyawa orang Arab itu murah. Tidak ada harganya. Satu dua mati, prihatin. Banyak yang mati cuma jadi statistik.

    Peran kekhalifahan dengan eranya yang begitu mencengangkan sejarah tidak diambil oleh para raja itu karena mereka sadar, sekali mereka muncul akan dibabat habis oleh para diktator lain yang menginginkan peran yang sama tapi nirkerja dan nirmandat. Sampai kapan kemunafikan ini terus difestivalisasi?

Lalu sampai kapan pembantaian ini didiamkan saja? Wahai para raja, muslim di seluruh dunia, dan para manusia di kolong jagat raya ini, letakkan dalam hati—jika kalian masih memilikinya—perkataan Erdogan ini: “Anda tak perlu menjadi rakyat Mesir untuk bersimpati, Anda hanya perlu menjadi manusia.”

    ***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Di satu hari menjelang kemerdekaan

08:37 16 Agustus 2013