MENZALIMI SABTU


MENZALIMI SABTU

Sabtu pagi, matahari sudah duduk-duduk di pelataran. Hangat tentunya. Dan saya terbangun dengan sukses. Uh…Sabtu dan Minggu adalah waktu sangat berharga buat rehat serehat-rehatnya. Maklum Senin sampai Jum’at digunakan betul buat berjibaku mendorong, mendesak, dan menyandar, bertele-tele di antara tubuh-tubuh yang terjepit penumpang Commuter Line ketika berangkat atau pulang dari kantor. Melelahkan tentunya.

Makanya, sepertinya, oleh karenanya, Sabtu dan Minggu kayaknya ogah deh berangkat ke Jakarta. Jangan sampai deh bisa menyentuh dia. Dua hari itu dipersiapkan buat lahir dan batin untuk menggauli Jakarta di hari-hari kerja sahaja. Dua hari itu fokus buat keluarga dan masyarakat di sekitar rumah. Porsinya harus dipenuhi dengan adil seadil-adilnya. Digilir. Masing-masing ada waktunya. Ada jatahnya. Kalau enggak bisa adil, bisa celaka dunia dan akhirat. Nanti ada yang terzalimi. Kalau terzalimi, khawatir ada yang berdoa dan doanya didengar oleh Allah. Wow…

Kali ini mau tidak mau ada yang harus terzalimi, karena Sabtu ini, saya pergi ke Jakarta. Pergi ke Tanjung Barat. Ada Sarah Sechan sarasehan yang harus saya ikuti. Sarasehan menulis. Berbagi dan mendapatkan ilmu menulis seperti itulah. Jam delapan pagi langsung ke Stasiun Citayam.

Entahlah, kali ini saya tuh bongbong pergi ke Stasiun Citayam. Tahukan bongbong itu apa? Bukan bong buat ngisep ganja yang dikuadratkan yah. Bongbong itu bahasa Jawa Dermayu , artinya enggak ada beban. Ya betul enggak ada beban seperti di hari kerja. Yang harus tergesa-gesa, berjuang untuk mencari tempat di dalam Commuter Line yang penuh, desak-desakan, dan lain-lainnya.

Kali ini saya nyantai aja berangkat. Bermandikan cahaya matahari yang langka saya dapatkan—secara saya biasanya berangkat setelah shubuh tatkala matahari masih tidur di kandangnya. Pikiran pun tak galau karena pasti Commuter Line tak sepenuh seperti biasanya. Dan betul, saya masih leluasa baca koran dengan berdiri. Kosong. Ohya…jangan memakai bahasa kosong tanpa isi seperti yang biasa dipakai para pakar saintis itu. Kosong adalah bahasa relativisme yang dipakai oleh para penumpang Commuter Line ketika ia tidak menyandar pada tubuh orang lain. Itulah kosong.

Jarak Citayam-Tanjung Barat pun menjadi tak seberapa. Perjalanan berasa singkat bae. Ini jadi tambah bombongin ati. Baru baca enam artikel di koran saja sudah sampai. Stasiun Tanjung Barat masih sepi. Lalu saya susuri jalan setapak pinggiran relnya. Kolong jembatan layangnya. Sudah lama saya tak melewati kolong yang pada beberapa pekan sebelum ini memakan korban mobil situs berita tertabrak kereta.

Commuter Line dan jalan setapak. Serupa duit dan dompet.

Dan…di tempat tujuan sudah ada teman dari Semarang, bahkan dari Johor, Malaysia pun datang. Kali ini saatnya saya menyelesaikan tulisan ini. Seperti sudah pernah saya bilang kalau kita kudu tahu kapan kita harus keluar. Kapan kita harus berhenti. Di pohon gak ada ikan patin, mohon maaf lahir batin. Meksiko
Mekso…

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di rangting cemara

11.09 24 Agustus 2013

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s