CERMIN: BERSIH-BERSIH TIADA AKHIR


CERMIN: BERSIH-BERSIH TIADA AKHIR

image

Sudah banyak sekali yang dilakukan oleh DJP untuk berbenah, berubah, dan menjadi institusi baru, institusi modern yang dipercaya masyarakat. Tetapi apa lacur, sepertinya semua yang telah diusahakan DJP dengan kerja keras itu sia-sia. DJP tetap menjadi bulan-bulanan.

 

 

PUKUL 10.34 WIB, saya bersama istri sudah berada di Puskesmas Bojonggede. Niatnya kami ingin meminta surat rujukan Askes untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit di Jakarta. Ternyata ketika sampai di loket kami ditolak dengan alasan kartu Askes kami yang baru belum bisa diaplikasikan di sistem administrasi Puskesmas. Jadi kami harus pakai kartu Askes kami yang lama. Padahal kami tidak membawanya.

Terpaksa saya harus pulang kembali ke rumah dalam jangka waktu 20 menit, karena pendaftaran Puskesmas ditutup pada pukul sebelas siang. Istri bersama Kinan, anak saya, saya tinggal di Puskesmas. Saya langsung ngebut. Alhamdulillah, ketika sampai di Puskesmas, masih ada waktu dua menit lagi menurut jam di HP saya. Tapi loket pendaftaran sudah ditutup dengan tirai. Petugas langsung mengerti bahwa saya adalah warga yang tadi sudah datang sebelum jam sebelas. Akhirnya kami dapat diterima.

Ketika mulai pemeriksaan, kami dipanggil masuk oleh dua orang dokter yang ada di dalam suatu ruangan. Lalu kami ditanyai tentang problem kesehatan kami. Sampai suatu saat, perempuan dokter yang memeriksa istri saya bertanya, “Ibu dari instansi mana?”

“Kementerian Keuangan,’ jawab istri saya.

"Dari pajak, Bu?”

“Bukan, noh… dia yang dari pajak," kata istri sambil menunjuk saya.

Dua perempuan dokter itu langsung tertawa, sambil menyindir-nyindir saya.

"Rumahnya mewah dong, Pak?” tanya salah satu dari mereka.

Istri saya langsung menjawab, “Bu, tergantung orangnya. Kalau benar ada uang miliaran sih, kami enggak mungkin tinggal di Citayam.”

“Kan bisa tinggal di sini. Untuk kamuflase gitu…’’

“Bu, kalau benar dugaan itu, tentu kami tidak akan datang ke sini untuk meminta surat rujukan Askes. Ngapain kami datang capek-capek ke mari,” kata saya menambahkan.

Oknum

Kejadian seperti itu memang tidak hanya sekali saya alami. Namun, entah mengapa saat itu saya anggap sebagai guyonan belaka. Tidak saya tanggapi dengan serius seperti biasanya. Saya hanya membalas dengan senyuman. Sembari menahan hati untuk bersabar. Saya memang sedikit pasrah, percuma saya tanggapi karena mereka lebih percaya kepada media.

Tapi, mungkin ini juga pengaruh dari suasana. Kalau saja tidak dalam suasana dikejar-kejar oleh waktu, saya mungkin akan memberikan penjelasan panjang lebar. Seperti pada sebuah seminar yang pernah saya ikuti.

Saat itu saya berteriak lantang ketika pembicaranya menyerempet-nyerempet masalah Gayus Tambunan. Katanya Gayus itu ketahuan karena apes, tertangkap cuma satu padahal masih banyak yang lainnya.

Sungguh saya tersinggung saat itu. Saya bilang di hadapan ratusan peserta seminar itu, “Perkataan Anda membuat saya tersinggung. Tidak betul apa yang Anda katakan itu. Berikan kesempatan kepada saya untuk menjelaskannya agar tidak terjadi generalisasi yang semena-mena.”

Pada sesi tanya jawab itulah saya menerangkan dengan panjang lebar tentang permasalahan Gayus. Ya, saya berani bercerita karena saya yakin sepenuh hati DJP itu tidak sebejat yang mereka pikirkan. Permainan Gayus bukan permainan sebuah sistem tetapi permainan yang dilakukan oleh orang per orang untuk mengumpulkan harta tidak halal sebanyak-banyaknya.

Proses Seleksi

Tetapi entah kenapa Allah kemudian masih saja menunjukkan kepada masyarakat tentang masih adanya permainan yang dilakukan oleh oknum pegawai DJP selain Gayus. Akhir-akhir ini kasus pegawai pajak tertangkap KPK kembali menghiasi pemberitaan media massa.

Oh… memang ternyata masih ada juga pegawai yang seperti itu. Namun, tetap dengan sebuah keyakinan saya bahwa itu hanyalah sebagian kecil. Bukan kebanyakan dari pegawai pajak. Tetapi tetap saja kelakuan mereka seperti tusukan dari belakang. Sakit sekali. Kita berusaha menciptakan citra DJP yang bersih ternyata saudara-saudara kita yang ada di DJP masih melakukan itu. Sungguh mengecewakan. Tapi itu harus diakui, karena mereka eksis.

Lalu dengan pemikiran itu saya pun bersikap defensif saja. Hujatan dan makian saya terima walaupun dengan hati yang gondok. Manusiawi bukan?

Saya berharap bahwa ini adalah upaya Allah untuk membersihkan DJP dari oknum-oknum seperti itu. Saya terima saja. Ibarat kata ketika seorang pendulang emas ingin menemukan bongkahan emas, maka apa yang ia lakukan coba? la mengayak tanah yang mengandung emas itu dengan keras. Lalu menyortir dan menelitinya, lagi dan lagi. Ketika tidak ditemukan, segera ia kemudian mencelupkan tanah itu dengan air dan mengayaknya lagi. Apatah lagi ditambah dengan campuran zat kimia air raksa yang menyakitkan itu. Keras dan keras.

Lalu apa yang ditemukan oleh pendulang emas itu pada akhirnya? Mendapatkan emas yang ia cari lama-lama dengan sekuat tenaga itu, menyisihkannya dari tanah yang tidak punya arti itu. Lalu mengumpulkan emas itu dengan emas-emas yang lainnya. Dan apa yang terjadi dengan sisa tanah yang ada? Dibuang jauh-jauh. Karena ia tidak berguna, tak berarti apa-apa.

Ibarat itulah. Saya selalu berbaik sangka, bahwa semua hujatan, kecaman, dan kritikan yang masyarakat berikan kepada kami adalah dalam rangka memilih emas yang berharga dan mengubur dalam-dalam tanah yang tak bernilai itu. Mengumpulkan yang bersih-bersih agar yang kotor- kotor itu tidak ikut dalam sistem lagi. Sekali lagi walaupun pahit untuk dirasa oleh kita. Selama kita sendiri yakin kalau kita idealis, silakan diobok-obok.

Biarlah yang kotor itu tersingkir dengan proses yang alamiah. Mungkin beginilah seleksi alam yang harus dialami oleh DJP, cara halus tidak bisa sehingga harus diobok-obok dulu agar senantiasa bersih sebagaimana harapan masyarakat.

Ya, saya senantiasa berharap bahwa prahara yang dialami oleh DJP ini segera cepat berakhir. DJP lebih bisa berbenah lagi. Mendapatkan kepercayaan masyarakat lagi. Lalu saya pun tak perlu disindir-sindir lagi oleh yang lain.

Saya berdoa pada Allah semoga dijauhkan dari segala fitnah. Allahumma inni a’udzubika minal fitani. Semoga siapa pun pegawai DJP yang masih memiliki keinginan untuk memperkaya diri dengan cara yang melanggar aturan, dapat memahami bahwa perbuatan mereka akan menyakiti sesama saudara-saudara mereka di DJP

***

Riza Almanfaluthi

Ini adalah tulisan lama yang dimuat di Majalah Berita Pajak No. 23/XLV/2013. Bulan Agustus dan September 2013 ini.

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s