Saat Stalin Sekarat



Buku Simon Sebag Montefiore, yahudi asal Inggris , berjudul Stalin: Kisah-kisah yang Tak Terungkap ini menjelaskan secara detil saat-saat terakhir dari Iosif Vissarionovich Stalin. Seorang diktator dengan 20 juta orang telah dibunuh, 28 juta dideportasi, 18 juta diantaranya diperbudak di Gulag.

Penderitaan penzalim ini ditulis di bab terakhir buku itu. Dengan bab “Catatan Tambahan” setelah Stalin mati maka ini menjadi dua bab yang sering saya baca ulang dari buku yang meraih penghargaan History Book of the Year versi British Book Awards dan Book of The Year dari belasan media massa ternama di Barat ini.

Semua bermula di hari Sabtu, 28 Februari 1953. Stalin bersama empat serangkai abadinya: Beria, Khrushchev, Malenkov, dan Bulganin makan malam pada pukul 11 malam. Sebuah kebiasaan yang dilakukan sejak lama oleh Stalin: makan malam dan begadang sampai pagi. Sebuah acara yang dibenci di dalam hati para kameradnya. Namun apa daya mereka tak punya keberanian untuk menolak kemauan diktator itu. Mereka mabuk-mabukkan sampai pagi.

Hari Pertama

Minggu, 1 Maret 1953. Pada pukul 4 pagi acara itu selesai. Stalin,74 tahun, yang sedang menderita hipertensi dan arteriosclerosis dengan gangguan sesekali di sirkulasi otak, mengantar para kameradnya pergi. Mereka lega setelah pertemuan yang menyiksa itu.

Setelah itu Stalin tidur. Sampai tengah hari Minggu itu tidak ada yang bergerak di dalam kamarnya. Para pengawal baru lega ketika pada pukul 6 petang, lampu kamar menyala. Tapi Stalin tidak keluar dari kamarnya. Empat jam kemudian pengawalnya curiga tetapi merasa takut untuk masuk ke dalam kamar. Kemudian salah satunya memberanikan diri masuk. Ia melihat Stalin terbaring di atas karpet dengan celana piyama dan kaos dalam, miring di atas satu tangan. Stalin masih sadar tapi dalam keadaan sangat lemah untuk mengangkat tangan. Stalin hanya menggumamkan sesuatu, “Dzhhh…Dzhhh…”

Ada jam dan koran Pravda di samping tubuh Stalin. Jam yang telah mati dan jarum jamnya menunjukkan pukul 6.30 ketika stroke menyerangnya. Para ajudan memindahkannya ke atas sofa tempat biasa bertahun-tahun Stalin tidur di atasnya. Stalin mengorok. Para pengawal tidak segera memanggil dokter . Mereka hanya memberitahu Empat Serangkai Stalin.

Hari Kedua

Senin, 2 Maret 1953, pukul 3 pagi. Para pengawal masih tidak berani memanggil dokter. Beria dan Malenkov datang. Subuh kemudian tiba. Stroke sudah menyerang Stalin 12 jam yang lalu. Stalin masih mengorok di sofa dan mengompol.

Pertanyaannya mengapa para pembesar di samping Stalin tidak segera memanggil dokter. Ini bisa jadi alasan untuk menghukum para pembesar itu yang tidak segera melakukan tindakan tepat. Tapi ini wajar karena Stalin sendiri yang paranoid akut telah menciptakan plot dan pengadilan sendiri kepada para dokter. Sebelumnya para dokter pribadi Stalin terutama yang Yahudi pada saat itu sedang disiksa hanya karena menyarankan Stalin untuk istirahat.

Para pembesar ini takut kalau sakitnya Stalin ini hanya sakit biasa. Takut tiba-tiba Stalin bangun dan menganggap usaha mereka memanggil dokter adalah tindakan mengambil alih kekuasaan. Pun, selama ini, mereka begitu terbiasa dengan kendali Stalin kepada mereka, sehingga membuat mereka tidak punya inisiatif untuk bertindak apapun.

Baru pada pukul 7 pagi dokter dipanggil. Itu pun karena dua pengawal Stalin yang senantiasa menjaga Stalin panik, takut-takut Stalin mati dan mereka akan disalahkan. Para pengawal mendesak Empat Serangkai untuk memanggil dokter.

Empat Serangkai memanggil menteri kesehatan untuk memilih dokter–dokter Rusia (yang bukan Yahudi) untuk pergi melihat Stalin.

Tapi mereka bukan para dokter yang sudah terbiasa menangani Stalin. Mereka gemetar saat memeriksa Stalin. Karena salah-salah mereka akan dituduh sebagai biang dari kematian Stalin yang pada saat itu sudah bau pesing.

Stalin terbaring di sofa dengan punggung dan kepalanya menghadap kiri, matanya tertutup dengan pendarahan ringan. Urinnya terus mengalir. Detak nadinya 78, detak jantungnya sedikit, dan tekanan darahnya 190/110. Sisi kanannya lumpuh, sementara anggota badannya yang kiri kadang-kadang gemetar. Keningnya dingin. Stalin menderita serangan otak: Celebral arterial haemorrhage kiri-tengah.

Para dokter menyarankan agar Stalin istirahat total. Sebuah saran yang terlambat. Sebelumnya saran itu menjadi penyebab rekan seprofesi mereka jatuh. Para dokter memasang 8 lintah di belakang telinga Stalin, mengompres dingin di kepalanya. Stalin tak boleh makan hari itu. Silinder oksigen dipasang. Saat ia diberi makan, harus dengan sendok teh untuk memberinya cairan ketika tak ada yang ditelan. Stalin diberi injeksi kapur barus. Para dokter sudah memberikan diagnosis: kematian tak bisa dihindari.

Sekitar pukul 10 pagi Senin, para anggota Politbiro tua semuanya berkumpul di ruangan. Mereka melihat Stalin sedang sekarat.

Pukul 8.30 malam tekanan darah Stalin 210/120, nafas dan detak jantungnya tidak teratur. Enam hingga delapan lintah ditaruh di telinganya. Stalin menerima suntikan magnesium sulfat dan bersendok-sendok teh manis. Malam itu, Stalin kedatangan 4 dokter lagi. Bukan dokter top, karena dokter yang hebat-hebat sedang berada di penjara. Sedangkan Empat Serangkai sedang merencanakan pemindahan kekuasaan.

Hari Keempat

Hari Rabu, 4 Maret 1953, pukul 10.15 pagi para dokter melaporkan kondisi Stalin memburuk. Malamnya nafas Stalin pendek-pendek. Pola bernafas Cheyne-Stokes seorang pasien yang kehilangan kekuatan.

Para dokter top yang sedang di penjara Stalin tiba-tiba ditanya oleh para interogator . Bukan seputar pertanyaan konspirasi Zionis, melainkan pertanyaan yang aneh, “Pamanku sakit parah dan mengalami pernafasan Cheyne-Stokes. Menurutmu apa artinya? ”

Dokter yahudi yang biasa disiksa itu menjawabnya, “Jika kau berharap akan mendapatkan warisan dari pamanmu, anggap saja itu sudah ada di kantongmu.”

Dokter yahudi lain ditanya, “Dokter mana lagi yang bisa menangani orang yang kena penyakit seperti itu?” Mereka menyebut dua nama dokter yang ternyata nasibnya sama sedang ditahan. Ketika interogator menyebut nama dokter yang sekarang sedang menangani Stalin, dokter yahudi itu bilang, “Hanya ada satu dua yang kompeten, tapi levelnya sangat jauh ketimbang yang ditahan.” Para dokter ini tidak tahu kalau yang disebut paman oleh para interogator itu adalah Stalin.

Pukul 11.30 malam, Stalin muntah-muntah. Ada jeda panjang antara nafas yang terputus-putus. Situasinya krisis. Sebuah alat pernasafasan buatan dimasukkan ke dalam kamar namun tak pernah digunakan pada akhirnya.

Hari Kelima

Hari Kamis, 5 Maret 1953. Stalin tiba-tiba pucat dan nafasnya menjadi lebih sulit dengan interval lebih panjang, nadinya cepat dan sedikit, ia mulai menggoyang-goyangkan kepalanya. Ada kejang urat di tangan dan kaki kirinya. Pada tengah hari Stalin muntah darah.

Pukul 3.35 sore nafasnya berhenti selama lima detik setiap dua atau tiga menit, ia merosot dengan cepat.

Pada pukul 9.30 malam, nafas Stalin 48 per menit. Detak jantungnya makin lemah. Pada pukul 9.40 malam dengan disaksikan semua orang dokter memberi Stalin oksigen. Nadinya hampir lenyap. Para dokter menginjeksi stalin dengan kapur barus. Stalin semakin sulit bernafas. Ia pelan-pelan mulai basah dengan cairannya sendiri.

Svetlana, putri Stalin menggambarkan kondisi Stalin pada saat itu, “Wajahnya mulai pucat. Rautnya mulai tak bisa dikenali. Ia tercekik hingga mati seperti yang kami saksikan. Penderitaan kematiannya begitu mengerikan. Pada menit terakhir, ia membuka matanya. Sebuah pemandangan menyeramkan, entah gila atau marah dan penuh ketakutan akan kematian.”

Tiba-tiba ritme nafasnya berubah. Tangan kirinya naik. Seorang perawat mengatakan tangan kiri Stalin terangkat ke udara seperti sebuah salam. Ia tampaknya menunjuk ke suatu tempat di atas atau mengancam semua. Bisa jadi ia hanya mencakar udara untuk mengambil oksigen.

Seorang dokter bertubuh besar berinisiatif memberikan nafas buatan, mengurut dadanya sampai seperti menyakitkan untuk disaksikan. Sia-sia. Jiwa itu sudah terbang.

Hari Kesembilan

Senin, 9 Maret 1953, tubuh Stalin yang dibalsem ditaruh di dalam mausoleum di samping Lenin, pendahulunya yang kejam yang mati setelah 4 kali serangan stroke.

Delapan tahun kemudian, pada tanggal 31 Oktober 1961, Khrushchev memindahkan jenazah Stalin dan menguburkannya di Kremlin Wall Necropolis dalam rangka Destalinisasi dan menghilangkan pemujaan berlebihan kepada Stalin.

Kini

Penelitian terbaru tentang meninggalnya Stalin mengatakan bahwa Lavrenty Beria membubuhi anggur Stalin dengan obat pengencer darah seperti warfarin yang selama beberapa hari mungkin menyebabkan stroke. Draf pertama catatan medis para dokter yang mengungkapkan perutnya mengalami pendarahan dihapus dari laporan akhir. Mungkin dihilangkan karena bisa mengesankan diracuni.

Dari Empat Serangkai di atas, ternyata bukan Beria yang memimpin Rusia. Apalagi karena ke-Georgia-annya. Sebuah etnis minoritas dan bahasa yang berbeda dengan bahasa Rusia. Sudah cukup Rusia dipimpin monster Georgia bernama Stalin. Dalam sebuah plot lainnya Khrushchev yang menyingkirkan Beria. Georgia merdeka dari Uni Sovyet di tahun 1991. Pada tanggal 5 Maret 2010, tepat 60 tahun kematian Stalin, patung raksasanya di Gori, tanah kelahirannya, dirobohkan.

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Citayam, 22 Januari 2017

Gambar dari about dot com.

Advertisements

2 thoughts on “Saat Stalin Sekarat

  1. Pada akhirnya tetep manusia…sebab akibat tapi kadang terasa tidak karena terlalu besar akibat yg ditimbulkan…hanya sang pencipta yang memberikan keadilan dengan penuh syukur….keren masBro….

    Liked by 1 person

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s