M A S T A R A


M A S T A R A

Namanya Pak Mastara. Ia adalah guru SD saya sewaktu menuntut ilmu di SD Negeri Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, puluhan tahun lampau. Pada masa muda, dalam pandangan saya, ia ganteng seperti Obbie Mesakh. Ia menikahi teman sejawatnya yang cantik, namanya Ibu Dahlia, guru saya juga.

Tubuhnya atletis. Maklum ia adalah guru olahraga. Orangnya baik. Jarang atau bahkan tak pernah marah. Tulisan latinnya bagus banget. Bisa dilihat pada raport SD saya yang sekarang masih terdokumentasikan dengan baik. Dia juga wali kelas kami di kelas VI.

Yang saya ingat betul darinya adalah ia yang mendampingi saya untuk setiap lomba. Terutama lomba baca puisi. Atau sewaktu ada acara 17 Agustusan. Dia yang buat puisinya lalu saya yang membacakannya di malam acara puncak HUT RI. Satu hal yang saya menyesal dan tak akan pernah lupa dari ingatan saya sampai sekarang dan nanti adalah saat saya lalai atas permintaannya.

“Jangan lupa bacakan siapa pencipta puisi itu,” ingatnya sambil menyerahkan teks puisinya.

“Iya Pak,“ jawab saya.

Tapi apa lacur, panggung memberikan aura gugupnya pada saya. Demam panggung pun melanda. Saya cuma membaca judulnya saja. Tak ada nama Mastara—sebagai pencipta puisi itu—saya sebut setelahnya. Barulah saya sadar waktu setelah turun panggung ketika diingatkan olehnya. Tapi ia tidak marah.

Setelah dewasa saya baru paham apa pentingnya penyebutan namanya itu. Ini sama pentingnya saat nama pencipta lagu tertulis di layar televisi saat sebuah lagu dinyanyikan oleh Sang Penyanyi. Momen itu sampai sekarang masih saya ingat. Panggungnya. Tempatnya. Suasana riuhnya. Malamnya.

Yang masih saya ingat betul juga adalah pada saat ia memimpin pemanasan waktu jam olahraga. Terus waktu dia mengajar di kelas. Terus waktu dia memberikan les pada kami. Dia menyalin dari buku teks kecilnya. Terus ingat kalau ia pernah pakai jaket yang di belakangnya tertulis Prajabatan. Dan masih banyak lainnya yang saya ingin ceritakan sih sebenarnya. Cuma saya takut ada bagian-bagian yang tidak pas karena lupa.

Nah, waktu tadi malam (Senin, 14/01) sewaktu saya menunggu maghrib dan menunggu perjalanan KRL lancar kembali setelah Stasiun Pondok Cina diblokir para pedagang kaki lima dan mahasiswa, saya sedang ingat Anis Matta. Ada kaver buku Anis Matta yang menurut saya posenya persis pose Obbie Mesakh di sampul album lawasnya. Maka saya cari di Google. Nah ketika gambar Obbie Mesakh muncul saya pun langsung teringat sama Pak Mastara.

Sekarang kan zamannya facebook, mungkin Pak Mastara ikut gabung di sana. Maka saya ketik namanya di Google. Ada. Ada satu tautan yang mengarahkan saya pada blog SD Negeri 2 Jatibarang. Ada namanya juga di sana. Saya klik. Jreng…

clip_image001

Pak Mastara paling kiri. Klik untuk memperbesar. (Sumber gambar dari sini)

Awalnya saya tak langsung mengenalnya. Tapi lama-kelamaan akhirnya saya ngeh juga. Ya Allah…Pak Mastara, kurang lebih 25 tahun lamanya tak bertemu. Waktu sudah merubah semuanya. J Saya sampai pangling. Mungkin beliau juga tak mengenal saya kali kalau ketemu.

Ini blog sudah tak mutakhir lagi. Postingan terakhir tanggal 17 Juni 2009. Saya tak tahu apakah ia masih aktif mengajar di sana atau tidak. Ia menjabat sebagai bendahara sekolah pada saat itu. Dari blog lain yang saya lacak beliau juga sebagai panitia Pembangunan Masjid Komplek Perumahan Jatibarang Baru Indah tahun 2010. Ngomong-ngomong saya ucapkan terima kasih kepada pemilik blog ini yang sudah memberikan jalan pertama terikatnya silaturahim saya dengan beliau.

Dengan menuliskan ini saya cuma mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau. Saya doakan semoga beliau sehat-sehat saja dan semoga Allah memberikan yang terbaik atas jasa-jasanya sebagai guru yang telah mendidik saya dan teman-teman yang lain. Inilah amal yang tak akan pernah putus pahalanya.

Buat teman yang tahu keberadaan beliau, sampaikan salam hormat saya kepadanya. Salim. Semoga Allah mempertemukan kami di darat di suatu saat nanti. Amin.

**

clip_image003

Bangunan kotak adalah SD Negeri Pendowo I sampai dengan Pendowo V. Bagian sebelah kiri adalah Sungai Cimanuk, tempat saya main dan berenang di waktu kecil. Ada buayanya di sana. Sekarang buayanya pindah ke Android jadi Swampy di Game Where’s My Water? ^_^

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15 Januari 2013

13:56

Tags: Mastara, SDN Jatibarang 2, SDN Pendowo I, SDN Pendowo V, Pendowo I, Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, Swampy, Where’s My Water, Cimanuk, Sungai Cimanuk, SD Negeri Pendowo V, Dahlia, Anis Matta, Obbie Mesakh, Stasiun Pondok Cina, SD Negeri Pendowo I

Hadiah Besar Pagi Ini


image

Senin pagi ini (7/1) baru saja mau duduk di kursi kerja tampak satu tas berisi banyak barang di atas meja. Alhamdulillah, isinya ada mug, jam beker, tempat post it, sertifikat, dan yang utama adalah sebuah buku yang berjudul: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak.

Terima kasih saya ucapkan kepada Direktorat Kitsda yang telah memberi semuanya ini pada saya. Apa gerangan hubungan mereka, hadiah ini, dan saya? Saya cuma diminta untuk bantu menyunting naskah-naskah terpilih tentang kisah-kisah para jurusita ataupun pegawai yang terkait dengan penagihan pajak. Cerita dari para pegawai pajak di barat sampai timur Indonesia. Sekali lagi terima kasih banyak.

Senin yang saya rasa sudah suka di awal jadi tambah suka lagi. 🙂

***

Riza Almanfaluthi

07 Januari 2013

*Langsung di tulis di hp.

MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS


MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS

Haji Salim—sebutlah namanya demikian—tak pernah menyangka alih fungsi kebun miliknya berdampak besar buat para penghuni komplek perumahan lama. Tanah berukuran 1500 meter persegi itu kini telah menjadi komplek perumahan baru yang tidak seberapa besar. Letaknya berada di dataran paling tinggi. Di atas perumahan lama yang sejak tahun 2000 saya tempati, di wilayah Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Sebelum perumahan baru berdiri, kebun itu menjadi tempat menanam buah-buahan. Ratusan batang pohon pepaya hidup dan dirawat oleh Haji Salim. Kebun itu seperti menjadi oase yang menawarkan keteduhan bagi sekitarnya. Adem, apalagi saat hujan. Petrichor, bau tanah dan tumbuhan tersiram gerimis pertama, begitu harum menyengat hidung.

Dulu, itu lahan yang tak pernah bisa dibeli oleh pengembang perumahan lama. Belasan tahun kemudian, Haji Salim tak bisa memungkiri lezatnya harga tinggi yang disodorkan kepadanya. Kebun itu kini telah menjadi kenangan. Hilang. Bersama harta karun terpendam di dalamnya yang tak pernah disadari oleh Haji Salim.

Kekeringan

Sudah dua belas tahun lamanya saya tinggal di rumah ini. Dan baru pada pertengahan tahun 2012 saya merasakan kemarau yang berdampak langsung pada keluarga saya. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan akan air, saya menyedotnya dari sumur pantek berdiameter dua
inci dan berkedalaman enam meter.

Sampai saat itu kami tak pernah merasa kekeringan. Pada saat sumur tetangga sudah mulai kering, sumur kami tidak. Dan para tetangga pun terkadang meminta air kepada kami. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.

Dua minggu lamanya saya sabar dengan mesin air yang menyala selama lebih dari lima belas jam seharinya menunggu tetes demi tetes air yang akan memenuhi tandon. Sampai pada suatu titik ketika berjam-jam saya menunggu tidak ada sama sekali air yang keluar dan mesin sudah berteriak nyaring kelelahan, akhirnya saya menyerah.

Saya panggil tukang gali sumur, meminta kepadanya untuk dibuatkan sumur baru. Kali ini dengan kedalaman sepuluh meter dan dengan luas penampang sumur seluas satu meter persegi. Syukurnya penggalian cukup dilakukan hanya pada satu titik lokasi. Tidak ada batu besar yang menghalangi dalam pencarian air ini.

Pada akhirnya, setelah tiga hari menggali, tukang gali sumur merasa cukup untuk menghentikan penggalian ketika air sudah sebatas pinggangnya. Nanti pada waktu musim penghujan ketersediaan air akan melebihi tinggi daripada saat sekarang. Saya lega walau banyak biaya yang keluar untuk mengerjakan semua ini. Tak mengapa, karena atas segala sesuatunya ada harga yang harus dibayar.

Sampah

Kita tahu bersama bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita tak bisa berbuat apa-apa jika tanpa air bersih dalam keseharian kita. Untuk minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Air menjadi kebutuhan hidup paling hakiki agar selalu tersedia setiap saat.

Bahkan jika pasokannya terhenti entah karena air dari PDAM yang berhenti mengalir, mesin air yang rusak, atau karena sumur yang kering, kita berusaha menyediakannya sedapat mungkin. Kita berkorban tenaga, uang, dan waktu untuk mendapatkannya. Para pekerja kantoran seperti saya akan rela cuti kerja untuk memastikan ketersediaannya.

Setelah kejadian itu, saya menyadari ada yang menyebabkannya. Satu sebab adalah tak ada lagi kebun Haji Salim yang selama ini menjadi resapan air. Tak ada lagi cadangan air pada pori-pori tanah di saat kemarau. Dan efeknya luar biasa sekali. Tak hanya saya yang membuat sumur baru, bahkan tetangga-tetangga saya yang lainnya juga turut menambah kedalaman sumurnya lagi. Kami kekurangan air.

Ketika kita menyadari pentingnya air sebagai sumber kehidupan itu maka barulah kita mengerti ada kerja-kerja yang harus dilakukan untuk menjaga ketersediaannya. Apalagi ditengarai bahwa dunia pada saat ini mengalami krisis air bersih sebagai konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan penduduk dunia. Masih 800 juta lebih penduduk dunia yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.

Tak perlu jauh-jauh, Kali Pesanggrahan yang berada persis beberapa meter di depan rumah saya adalah cerminan betapa sungai sebagai salah satu sumber ketersediaan air sudah mengalami pengurangan dalam daya dukungnya. Ini akibat menurunnya partisipasi masyarakat dalam menjaga sungai agar tidak tercemari. Kebiasaan membuang sampah di sungai masih sering dilakukan.


Sisi Kali Pesanggrahan depan rumah, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.

Ada dua hal penyebabnya. Pertama, kurangnya kesadaran masyarakat itu sendiri betapa sungai merupakan elemen penting dalam mendukung ketersediaan air. Ini direfleksikan dengan laku seenaknya sendiri membuang sampah di sana atau enggan membayar iuran sampah yang telah ditetapkan. Padahal nilai iurannya lebih rendah daripada harga sebungkus rokok, hanya Rp8.000,00 per bulan dengan jadwal pengambilan sampah dua kali seminggu.

Kedua, pemerintah tidak menyediakan tempat pembuangan sampah ataupun tempat pembuangan akhir yang layak, serta tidak menyasar program pengangkutan sampah itu pada masyarakat di luar komplek perumahan. Yang terjadi adalah pinggir kali menjadi tempat penimbunan sampah.

Padahal ketika sampah itu telah mencemari sungai maka yang terjadi adalah kualitas air yang jelas menurun. Air dengan kualitas buruk seperti itu menjadi salah satu penyebab dari menurunnya kualitas kehidupan, bangkitnya epidemi penyakit, dan sudah barang tentu tidak layak untuk menjadi sumber bagi lahan komoditas pertanian.

Kerja-kerja Kecil

Undang-undang telah mengamanahkan kepada pemerintah untuk menyediakan air yang memenuhi kualitas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat. Tetapi dengan keterbatasan pemerintah—anggaran minim dan ketiadaan aksi—yang ada maka masyarakat tidak bisa bersikap pasif. Dan pada faktanya masyarakat memang bersikap mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

Ditambah dengan minimnya pemahaman serta partisipasi sebagian masyarakat dalam memahami pentingnya menjaga ketersediaan air yang memenuhi standar mutu maka mau tidak mau sikap pasif menjadi seteru yang wajib dihilangkan. Maka disinilah kesadaran akan adanya kerja-kerja kecil, aktif, nyata, dan dimulai dari diri sendiri diperlukan bagi setiap individu. Apa yang bisa saya lakukan?

Bagi saya, memastikan keran air di rumah ataupun di masjid telah tertutup dengan rapat dan tidak rusak; menempelkan stiker peringatan hemat air atau tutup keran air dengan rapat juga adalah kerja itu. Ini adalah langkah kecil memastikan tidak ada air yang tersia-sia.


Ilustrasi Keran Bocor

Menanam pohon di lahan tersisa depan rumah dan di bantaran kali; membuang sampah pada tempatnya; membayar iuran sampah tepat waktu; menyiram tanaman dengan air cucian beras adalah kerja itu juga.

Tapi ada kerja lain berkaitan dengan masyarakat Pabuaran yang terkenal dengan semangat religiositasnya itu. Penyadaran akan pentingnya menjaga kualitas air ini dilakukan dengan menyentuh sisi-sisi religiositas mereka dalam kerangka menebar kebaikan melalui media dakwah secara lisan dan contoh. Ini yang dilakukan melalui pengajian yang saya asuh di setiap pekannya.

Ya, salah satu materi yang disampaikan adalah menjaga kualitas ibadah shalat. Ibadah shalat yang benar adalah ibadah yang memenuhi syarat sahnya shalat yaitu suci badan, pakaian, dan tempat. Ini terpenuhi ketika air yang digunakan untuk wudhu, mandi, dan membersihkan pakaian dan tempat itu bersih dan suci. Serta merta keduanya ini memenuhi kualitas air yang baik. Mau tidak mau agar shalatnya diterima maka air harus dipastikan suci dari najis. Dengan demikian masyarakat dituntut untuk menjaga kualitas air sedemikian rupa, setiap saat.

Diharapkan dengan ini tumbuh pemahaman bahwa ketika mereka membuang sampah di sungai, ini berarti setara dengan upaya tidak menjaga shalatnya dengan benar. Setara pula dengan laku berbuat kerusakan. Dan kitab suci telah melarang hamba Allah untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Butuh waktu lama, tetapi sungguh tak ada yang sia-sia. Yang penting bergerak dan bekerja. Masalah hasil diserahkan saja kepada Allah. Bagi saya itu sudah cukup. Pun bagi saya, menjaga kualitas air adalah menjaga kualitas religiositas. Menjaga nilai-nilai kehidupan abadi di atas tanah tempat berpijak manusia. Itu harta karun yang paling berharga.

***

Riza Almanfaluthi

06 Januari 2013

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Jurnalistik 2012 dengan kategori Karya Blogger.

    

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

CARA CEPAT HENTIKAN CEGUKAN TANPA AIR


cara2bmembuat2bbubur2bmutiara2byang2benak252cbubur2bmutiara2bdiah2bdidi252cbubur2bmutiara2bsagu252cbubur2bmutiara2bncc252cbubur2bmutiara2bgula2bmerah252ccara2bmembuat2bbubur2bmu

 

Ini sudah saya twitkan tentang cegukan itu. Tapi saya narasikan agar menjadi abadi adanya ia. Tak tertelan sama kicauan yang lain. Dan semoga saja bisa manfaat buat yang lain. Iya tuh Bro, waktu pagi tadi saat mau mengeluarkan motor tahu-tahu dari mulut saya keluar bunyi-bunyian: Ceguk. Cegik. Ceguk. Cegik.

Saya pikir cegukan seperti ini tak akan bertahan lama. Eh ternyata sampai kereta datang di Stasiun Citayam cegukan itu tak berhenti. Tubuh saya sampai terangkat sedemikian rupa kalau lagi cegukan. Saya sampai tak enak sama yang lain. Makanya segera saya cari cara menyembuhkan cegukan tanpa air melalui Google. Biasanya kalau pakai air sih mudah menghentikannya. Tinggal minum air putih sebanyak-banyaknya sambil menutup hidung. Insya Allah berhasil. Lah ini pas ada di kereta bagaimana minum airnya coba?

Dan ketemu juga tips menghentikan cegukan itu tanpa air. Cuma sebelumnya saya mau kasih tahu mengapa sih terjadi cegukan pada diri kita setiap manusia. Kalau orang tua zaman dulu mah selalu bilang kalau cegukan yang dialami sama anak bayi itu tanda lagi tumbuh gede. Nah ini saya bukan anak bayi gitu loh? Jadi mau tumbuh apanya lagi?

Saya kutip secara langsung dari Wikipedia yah tanpa edit lagi. Seperti ini:

Cegukan adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja pada diafragma, dan umumnya terjadi berulang-ulang setiap menitnya. Udara yang tiba-tiba lewat ke dalam paru-paru menyebabkan glottis (ruang antara pita suara) menutup, serta menyebabkan terjadinya suara hik. Cegukan umumnya akan selesai dengan sendirinya, meskipun ada beberapa pengobatan rumah tangga (home remedy) untuk mempercepat cegukan, dan ada beberapa pengobatan yang dibutuhkan. Istilah medis untuk cegukan adalah singultus.

Cegukan seringkali berkembang dalam situasi tertentu, seperti makan terlalu cepat, minum air dingin sesaat setelah makan makanan panas, makan makanan yang sangat panas atau pedas, tertawa atau batuk terlalu keras, kelebihan minuman beralkohol, atau karena keseimbangan elektrolit. Cegukan dapat pula disebabkan karena tekanan saraf frenik oleh struktur anatomi yang lain, atau karena tumor dan penyakit ginjal lainnya, meski hal ini jarang terjadi. American Cancer Society melaporkan bahwa 30% pasien kemoterapi menderita cegukan sebagai efek samping perlakuan.

Nah, kayaknya salah satunya memang saya alami. Yaitu makan makanan yang sangat panas, mi instan rebus jam empat pagi tadi. Kembali kepada cara menghentikan cegukan yang saya temukan dari Google tepatnya dari blog orang itu ternyata memang tidak berhasil. Ada empat langkah yang ia tulis tapi masih belum sederhana. Masih ada pertanyaan yang mengambang atas setiap langkah itu. Kebetulan cara itu juga gatot alias gagal total diterapkan kepada saya.

Akhirnya saya modifikasikan atawa improvisasikan dengan cara saya sendiri dan syukurnya berhasil 100% dengan cepat. Seketika Insya Allah. Bagaimana caranya? Ohya saya tidak mengutip cara ini dari Wikipedia. Cara ini adalah cara yang berhasil saya terapkan. Bukan cara Wikipedia yang belum tentu keberhasilannya.

Berikut cara saya:

1. Gelembungkan mulut sebesar-besarnya;

2. Tutup hidung rapat-rapat dengan tangan;

3. Telan udara yang ada di mulut. Pokoknya ditelan.

4. Ulangi sampai tiga kali.

Sudah itu saja. Dan Alhamdulillah tak perlu menunggu lama cegukan saya ini langsung hilang. Saya pun bisa melanjutkan perjalanan naik krl ini tanpa ada hambatan yang berarti—masih bisa berdiri di atas kereta tanpa bunyi ceguk, cegik.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:44 27 Desember 2012

gambar sekadar ilustrasi saja diambil dari sini.

Kenapa yang Pertama Iwojima?


image

Sebelumnya sudah kebayang nanti kalau sudah sampai di toko buku itu saya bisa sepuasnya beli setiap buku. Tapi pada kenyataannya tetap saja yang saya beli adalah buku-buku yang benar-benar akan saya habiskan untuk satu bulan ini.

Kemarin Ayyash sudah saya bebaskan untuk beli apa saja. Eh dia cuma beli komik Naruto edisi terakhir. Dan beli mainan congklak atawa dakon atawa mancala yang dikombinasi dengan permainan kayak scrabble. Harganya diskon 50%. Kinan bagaimana?

Kinan sudah uring-uringan tak mau ke toko buku itu. Enggak ding. Awalnya mau eh pas lewat suatu mal berubah haluan dah niatnya untuk ke toko buku. Pengennya ke tempat bermain yang ada di mal itu. Tapi seberapa banyaknya tetesan airmatanya yang saya usap dari pipinya tetap tak menggoyangkan niat saya. 🙂 Maaf ya Nak…pan sudah pekan lalu kita mampir ke sana.

Setelah ngambeknya mereda seperti biasa dia jelajahi ruangan toko buku dan mengambil buku mewarnai dan buku latihan menempelkan stiker. Bahkan dia ambil tiga buku, lebih banyak daripada yang diambil kakaknya.

Beberapa buku terjemah juz 30 diambil Ummu Haqi, istri saya yang bernama Ria Dewi Ambarwati ini. Cuma itu bae. Tak ada yang lain. My beloved rose ini sudah sibuk jaga Kinan yang kemana-mana jadi tak sempat lihat-lihat buku secara mendalam.

Sekarang apa yang saya beli? Sudah saya twitkan kemarin kalau saya menemukan bukunya Malcolm Gladwell di toko buku itu. Saya tahu Malcolm Gladwell semasa saya menerima hadiah dari Direktorat Jenderal Pajak saat memenangkan juara pertama Lomba Menulis Artikel Perpajakan Tahun 2012. Dari beberapa hadiah yang saya terima itu ada buku judulnya Outliers. Ditulis oleh Gladwell itu. Langsung dah kepincut sama dia. Tak perlu berpikir dua kali untuk ambil What the Dog Saw. Eeh…pas mau bayar ketemu lagi sama bukunya yang lain: Blink. Saya Ambil juga.

Gladwell itu memberikan yang baru dalam memandang sesuatu. Cara dia bagaimana mendefinisikan sukses di Outliers itu bagus banget. Kisah-kisah nyata yang ditulis di sana dibuat dalam gaya jurnalistik investigatif. Sangat Menarik. Intinya: darinya saya mendapatkan banyak ilmu dan kisah baru. Begitu yah kalau orang sudah punya kualitas menulis yang bagus maka untuk buku selanjutnya bisa jadi jaminan mutu sampai saya borong semua bukunya.

Hal sama saat saya beli buku tentang Karmaka Surjaudaja, pendiri OCBC NISP yang berjudul Tidak Ada yang Tidak Bisa. Kalau buku itu tidak ditulis oleh Dahlan Iskan saya tak akan mungkin membelinya. Saya suka buku yang ditulis Dahlan Iskan karena cara berceritanya bagi saya yang kayak “ngedongengin”. Bikin semangat. Bikin tumbuh banyak harapan.

Dua buku lain adalah tentang Perang Dunia II. Pertempuran di salah satu “hotspot”nya: Samudra Pasifik. Saat prajurit Amerika merebut Guadalcanal dan Iwojima dari tangan serdadu Jepang penguasa pulau pada waktu itu. Saya sudah punya film dokumenter perebutan Iwojima itu. Nah saya ingin melengkapi kajian pertempuran tersadis yang pernah ada ini dari bukunya.

Buku terakhir adalah buku seputar rahasia dan skandal yang pernah terjadi di Vatikan yang dilakukan para pausnya. Sejak awal berdirinya Vatikan sampai sekarang. Harganya didiskon hingga cuma Rp27 ribu kurang sedikit.

Nah itu beberapa buku yang saya beli di bulan ini. Dan saya yakin buku-buku itu adalah buku-buku yang bisa saya baca sampai khattam. Serta manfaat buat saya. Buat apa? Yakni untuk memenuhi dahaga intelektualitas (jiaaa…) saya, menghilangkan lapar kepenasaran saya tentang sejarah dunia, dan menyerap ilmu cara menulis yang baik.

Dan ngomong-ngomong tahu tidak, dari semua buku itu buku apa yang pertama kali saya baca? Tepat sekali… Iwojima 1945. Jangan tanya kenapanya. Karena tidak semua harus ditanyakan dengan kata “why”.

Sekian.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara.

Ummulqura, Bogor.

Ditulis pada smartphone pada program thinkfree.

11.20 16 Desember 2012

HAJI KHOIR DAN SANG BANGOR


HAJI KHOIR DAN SANG BANGOR

clip_image001

 

 

Gedoran keras di pintu kamar itu membuat saya terbangun. “Bangun! bangun! Siap-siap Shubuh!” teriak paman saya. Dengan malas saya bangkit dari ranjang besi dan melongokkan kepala sambil teriak, “Iya Liiik!”

Setelah tahu kalau saya sudah bangun, maka ia beranjak pergi ke musholla tua untuk adzan. Saya yang juga tahu kalau ia sudah pergi, maka saya datangi kembali kasur untuk saya dengkuri. Tapi itu tak lama, karena bibi sudah datang menggedor, “Bangun Za! Bangun!”

Itu berarti titah tak terbantahkan. Saya pun ke kamar mandi, ambil wudhu, dan pergi ke musholla. Shubuh dilakoni dengan mata terpejam, dengan kantuk yang luar biasa akibat begadang. Maklum, karena semalam belajar matematika habis-habisan.

Setelah sholat shubuh saya punya tugas yang tak bisa dialihkan kepada siapa-siapa. Saya hampiri bibi yang tengah memasak nasi dengan kayu bakar. “Nih uangnya. Beli tahu dan tempe seperti biasa,” katanya sambil menyodorkan gumpalan uang lusuh dari dompet kecilnya. Saya terima uangnya dan mengambil sepeda ontel tua yang masih enak dipakai itu.

Saya pergi ke warung yang jaraknya 500 meter dari rumah bibi. Bibi memang jualan nasi yang dicampur dengan oreg. Tahu dan tempe goreng menjadi teman yang enak buat nasinya. Saya kesengsem sama tahu dan tempe gorengnya itu. Setelah dari warung saya harus mengisi bak kamar mandi yang ukurannya tiga meter kubik. Biasanya pada timbaan yang keseratus bak kamar mandi sudah penuh. Dan itulah aktivitas saya di pagi hari selama tiga tahun di rumah bibi, waktu masih di SMA. Antara tahun 1991 sampai dengan 1994 yang lampau.

Bibi saya ini sebenarnya saudara jauh sepupu Bapak. Tetapi karena berdasarkan catatan nasab keluarga besar, bahwa keluarga Bapak itu termasuk yang paling tua, maka saya tidak memanggil bibi—yang umurnya bahkan jauh lebih tua daripada Bapak—dengan panggilan uwak. Dalam keseharian saya juga sebenarnya tidak memanggil beliau dengan sebutan Bibi, tapi memanggilnya dengan sebutan Mimi. Mimi itu panggilan khas masyarakat Cirebon, panggilan anak kepada ibunya.

Kepada suaminya yang bernama Haji Khoir, saya tetap memanggilnya Lik (paman). Tubuh lelaki ini sudah membungkuk sebagai pertanda usia yang telah sepuh. Dia adalah guru ngaji saya setiap bakda isya setiap harinya. Mengaji kitab kuning. Salah satunya kitab safinatunnajah. Tapi khusus malam minggu ada liburnya karena beliau pergi ke pesantren Kempek, pergi ke komunitasnya untuk ngaji bareng lagi belajar kitab. Walau sudah tua semangat menuntut ilmunya juga masih tinggi.

Aktivitas bakda maghrib saya saat itu adalah belajar mengaji Alqur’an pada anaknya—ini berarti sepupu saya—yang sudah hafidz 30 juz. Kepada semua muridnya dipersyaratkan seperti ini: untuk bisa membaca kitab Alqur’an yang tebal itu—yang merupakan prestise dan level pembeda—semua muridnya harus hafal juz 30 terlebih dahulu. Mulai dari surat Alfatihah , Annaas, sampai surat Annaba.

Kalau sudah hafal Annaba lalu sudah boleh pegang Alqur’an begitu? Tidak. Harus kembali diperdengarkan (disimak) kepadanya dari Annaba sampai ke Annaas, dan Alfatihah. Satu hari satu surat. Kalau ada bacaannya yang masih salah jangan harap berpindah surat untuk esok harinya. Alfatihah saja lama banget untuk pindahnya. Butuh waktu satu bulan supaya melafalkan alfatihah dengan benar.

Ohya jangan lupa, tongkat rotannya siap menghantam paha kalau kita salah. Padahal yang tasmi’ kepadanya tidak satu orang dalam waktu bersamaan melainkan bisa sampai empat orang. Tapi kok ia tahu saja kalau saya salah lidah. Kayaknya ia punya telinga banyak deh. Enggak hanya dua. Dan tahukah kalian, dalam tiga tahun itu saya ‘sukses’ enggak pernah pindah ke Alqur’an. Masih saja menghafal juz 30. Kalah sama anak SD.

“Za, pergi ke kebun sana. Ambil setandan pisang,” kata Lik Haji pada sebuah siang. Saya ambil dan kayuh sepeda ontel kesayangannya yang berat tapi mantap itu. Sepertinya saya juga sudah sejiwa dengan sepeda itu karena ketika saya mengayuhnya saya sampai bisa lepas tangan tak pegang kemudi, jauh dan lama.

Sepeda itulah yang selalu nemenin saya pergi ke komplek perumahan pabrik semen untuk main basket, atau pergi ke Kempek setiap malam minggunya, bukan untuk ke pesantrennya, tapi untuk “main”. You know-lah.

Yang saya ingat dari diri Lik Haji ini adalah pesannya saat kami mengaji kitab di musholla, di suatu malam, di bawah lampu bohlam lima watt yang temaram, kepada dua muridnya ini, saya dan teman saya. “Jangan buku pelajaran umum saja yang dipelajari, tapi kitab juga kudu dibuka. Kudu dibaca. Buku umum saja yang bisa sampai rusak karena sering dibaca, tapi kalau kitab kuning bukunya bagus terus karena tak pernah tersentuh, tak pernah dibuka-buka.” Sebuah pesan kuno tapi benar yang hari ini kalah dan takluk dengan semarak gaya hedonisme yang abai pada hal-hal transendental.

Pesan itu memang ditujukan buat saya dan untuk menyindir saya. Karena pada saat itu—ditengah bangor dan badegnya (baca: kebandelan) saya—beliau selalu melihat saya rajin belajar, selalu buka-buka dan membaca buku pelajaran. Tapi tidak untuk kitab kuning. Kalau dalam pemahaman saya waktu itu, inti pesannya adalah: sebaiknya buku pelajaran itu ditinggal saja. Biar fokus ngaji kitab kuning belaka.

Belasan tahun kemudian salah satu cucunya bisa diterima di STAN, yang saya yakini betul kalau cucunya ini selalu rajin belajar, selalu buka-buka dan membaca buku pelajaran. Kalau tidak? Enggak akan mungkin diterima di almamater saya itu.

**

Rabu pukul 20.41. Kecipak air tanda pesan japri Whatsapp masuk terdengar. Dari Ma’am, cucu Lik Haji Khoir yang telah ditempatkan di salah satu kantor pelayanan pajak di Sumatera sana.

“Assalaamu’alaikum wrwb ang rija.”

“Maap wasap bengi2, nembe kelingan ngupai kabar.”

“Mama tuwa tutup yuswa mau awan.”

Deg…Innalillaahi wainnaailaihi rooji’uun. Pesan yang mengagetkan. Paman saya, guru ngaji saya, telah berpulang ke Rahmatullah siang tadi dalam umur 87 tahun. Saya segera menelepon Bapaknya Ma’am dan meminta maaf karena tak bisa datang. Darinya saya mengetahui kalau penguburan dilangsungkan bakda isya tadi. Insya Allah khusnul khotimah. Akhir yang baik buat Lik Haji Khoir yang meninggal dengan wajah tersenyum bercahaya serta jasad yang mewangi berdasarkan persaksian banyak orang.

Saya cuma bisa berdoa semoga Lik Haji Khoir diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt, dilapangkan kuburnya, ditemani dengan amal baiknya, dan diberikan tempat yang terbaik di sisi Allah swt. Insya Allah ada pahala yang selalu mengalir karena ada ilmu yang bermanfaat yang telah diwariskan kepada saya dulu. Ya Rabb, kabulkanlah doa ini.

**

Terjemah:

“Assalaamu’alaikum wrwb Ang Riza.”

“Maaf WhatsApp malam-malam, baru teringat untuk memberi kabar.”

“Mama tua tutup usia tadi siang.”

*Mama tua panggilan Ma’am kepada kakeknya, Lik Haji Khoir.

*Bangor; badeg; bahasa sunda yang sepadan dengan bandel.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

03.30 13 Desember 2012

Gambar diambil dari situs ini.

Tags: bangor, badeg, bandel, haji khoir, stan, kantor pelayanan pajak, ma’am, ma’muroh, whatsapp, stan, safinatunnajah

BIAYA PENINGKATAN STATUS HAK GUNA BANGUNAN MENJADI HAK MILIK


BIAYA PENINGKATAN STATUS

HAK GUNA BANGUNAN MENJADI HAK MILIK

 

sertifikat tanah

 

Baca Juga  PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

Harga yang harus dibayar untuk ongkos jasa Notaris dalam pengurusan menaikkan status sertifikat dari Hak Guna Bangunan menjadi Hak Milik sebesar Rp750 ribu terdengar biasa saja. Tapi yang mencengangkan adalah harga sebenarnya yang harus dibayar di Badan Pertanahan Nasional Cibinong.

Ceritanya begini, rumah kami ini jangka waktu cicilannya berakhir di tahun 2015. Ada rezeki datang di tahun 2012, maka kami putuskan untuk membayar lunas saja. Dari Bank Tabungan Negara saya mendapatkan sertifikat banyak dokumen antara lain Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB).

Tentu keinginan dari seluruh pemilik rumah adalah agar Sertifikat HGB tersebut berubah menjadi sertifikat Hak Milik. Maka saya pun segera mengurusnya. Pertama kali saya datangi Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Cibinong untuk mendapatkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) Pajak Bumi Bangunan (PBB) dan membayar sejumlah rupiah PBB yang harus saya bayar.

Singkat cerita, setelah urusan PBB selesai saya datang ke kantor notaris untuk mendapatkan informasi persyaratan apa saja yang harus dilengkapi dalam pengurusan penaikan status tersebut. Pun untuk mengetahui berapa ongkos pengurusannya.

Mendengar harganya sebesar itu saya datang langsung ke kantor BPN. Dalam kunjungan pertama ini saya mendapat informasi dari petugas helpdesk kalau biaya pengurusannya cukup hanya membayar Rp 500 ribuan. Di sana saya diberitahu dokumen apa saja yang harus dilengkapi.

Pada kunjungan kedua dengan dokumen lengkap saya datang ke BPN pada pukul 13.55. Dan ditolak karena waktu pelayanan sudah habis. Jadi saya ingatkan bagi Anda yang berurusan dengan loket BPN Cibinong bahwa jam pelayanan di sana hanya sampai pukul 14.00. Saya mengira jam pelayanannya sama dengan di kantor pajak yang melayani Wajib Pajak sampai pukul 17.00. Ternyata tidak.

Nah pada kunjungan ketiga inilah saya datang tepat pukul 10.45. Dengan membawa dokumen lengkap berupa:

1. Map dan Lembar Permohonan. Ini dibeli di Koperasi BPN Cibinong seharga Rp10 ribu. Di dalam map ada dua lembar dokumen yang harus diisi, yaitu lembar permohonan itu sendiri dan surat pernyataan dari pemohon. Siapkan satu materai untuk ditempel di surat pernyataan;

2. Sertifikat HGB asli;

3. Fotokopi IMB;

4. Fotokopi KTP;

5. Fotokopi SPPT PBB tahun terakhir.

Langsung saja menuju Loket Dua tempat penerimaan surat. Kalau tidak tahu, tanya satpam saja. Biasanya satpam juga tanya-tanya apa yang mau diurus dan buka-buka dokumen kita. Bilang saja sudah lengkap. Supaya urusan bisa lebih resmi dan cepat.

Setelah diterima saya diminta untuk menunggu. Hampir satu jam kemudian saya dipanggil dan saya menerima Blanko Pembayaran. Blanko ini harus diserahkan ke loket pembayaran untuk dimintakan tanda tangan dari Bendahara Penerimaan. Dan tentu saya harus membayar biaya perubahan hak dari HGB menjadi HM untuk RS/RSS hanya sebesar Rp50 ribu saja. What? Iya betul cuma Rp50 ribu saja. Saya juga heran kenapa cuma sebesar itu. Jauh sekali dari apa yang disebutkan oleh petugas helpdesk dan diminta notaris dulu.

Setelah dari loket pembayaran, saya segera kembali ke loket dua, loket penerimaan surat itu. Saya menyerahkan blanko pembayaran yang telah ditera Bendahara Penerimaan. Lalu saya mendapatkan dua lembar dokumen dari petugas, yaitu:

1. Tanda Terima Dokumen;

2. Bukti Pembayaran.

Dua dokumen ini jangan sampai hilang dan harus dibawa pada saat pengambilan sertifikat. Salinan atau fotokopi dokumen ini tidak dilayani.

Satu jam lebih sedikit urusan penyerahan dokumen permohonan ini selesai. Saya akan datang kembali satu bulan kemudian untuk pengambilan sertifikatnya sebagaimana Petugas Penerimaan Surat itu katakan kepada saya. Dan yang membuat saya masih geleng-geleng kepala selama perjalanan pulang itu adalah biayanya yang murah banget. Tapi saya tak tahu apakah nanti pada saat pengambilan dokumennya ada harga yang harus dibayar lagi?

Kita tunggu saja. Kita lihat saja.

Semoga bermanfaat.

TAMBAHAN:

Pada hari Rabu, 23 Januari 2013 saya datang ke BPN untuk mengambil sertifikat Hak Milik itu. Saya datang langsung ke loket “Penerimaan Sertifikat” lalu menyerahkan Tanda Terima asli. Saya disuruh menunggu. Tidak lama, dalam jangka waktu kurang lebih 5 menit saya dipanggil. Saya disodorkan formulir untuk ditandatangani. Formulir bukti bahwa saya telah menerima sertifikat tersebut. Dan kemudian saya diberi sertifikat lama di atas yang sudah dicoret tulisan Hak Guna Bangunannya diganti dengan Hak Milik. Selesai sudah.

TIDAK ADA BIAYA SAMA SEKALI. PELAYANAN CEPAT.

Itu saja informasi tambahannya. Semoga bermanfaat. Kita tunggu dan kita lihatnya sudah terjawab. Terima kasih semoga bermanfaat.

 

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08.48 08 Desember 2012

Sumber gambar dari sini

 

BACA JUGA:

PORTOFOLIO RIZA ALMANFALUTHI

MENGURUS PENINGKATAN STATUS HGB KE HM DI BPN JAKARTA SELATAN

DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI


DIPELUKMU, ADA SAYANG YANG ABADI

 

HuG_by_1uno

 

Anak itu gagal mendapatkan bintang biru sebagai tiket ke Jakarta dalam ajang audisi Idola Cilik 2012. Tangis yang menyertainya tidak meluluhlantakkan hati seorang ibu untuk menghiburnya, untuk memeluknya. Yang ada adalah kemarahan dan kekesalan yang ditumpahkan pada sang anak. “Kamu sih…salah kostum.”

Sang suami kecewa terhadap perlakuan istri terhadap anak mereka. “Sudah…sudah! Sekarang tidak ada lagi acara libur-liburan di Bandung ini. Kita langsung pulang saja ke Jakarta,” kata sang suami. Acara senang-senang setelah audisi yang semula direncanakan itu gagal total hanya karena sang ibu salah menyikapi kegagalan sang anak. Salah yang berbuah luka.

Di waktu lain. Sebuah pesan masuk ke dalam perangkat selular seorang ayah. Dari anaknya yang tengah belajar di pesantren di suatu lembah antara Gunung Gede dan Gunung Salak. “Abi janji enggak akan marah kalau nilai merahnya banyak?” Sang ayah terdiam lalu membalas pesan pendek itu, “Kita lihat saja nanti.”

Saat liburan Idul Adha tiba, sang anak pulang ke rumah dan menyerahkan lembaran rapot sementaranya. Lebih dari tujuh mata pelajaran terbakar dengan warna merah menyala. Sang ayah menatap sang anak yang sudah ketakutan itu. Sang ayah merentangkan kedua belah tangannya lebar-lebar dan bilang, “Peluk Abi.”

Sang ayah tahu betul, di saat itu sang anak tak butuh ceramah apalagi amarah. Yang dibutuhkan adalah pelukan untuk menguatkan dan meneguhkannya. “Masih ada waktu. Ayo perbaiki,” cuma pesan itu yang terkatakan. Ada sayang yang abadi.

Di lain waktu, ia, seorang sahabat sangat karib, sudah bertekad untuk tak menceritakan apapun kesusahan dan derita kepada ayahnya, walau sudah tak tertanggungkan oleh dirinya. Apa sebab? Hanya semata-mata ayahnya pernah berkata, “pokoknya Papa tidak mau tahu urusanmu. Jangan buat Papa mati.” Tak ada komunikasi, apalagi pelukan yang menghangatkan dan membakar lara.

Pun seharusnya pelukan itu mendamaikan. Jika itu dilakukan tanpa hipokrasi. Maka adalah niscaya untuk para politikus yang berada di Senayan. Saat mereka melancarkan kekerasan verbal yang membuat gaduh negeri ini. Bagaimana tidak, kata-kata seperti “dicincang” mudah keluar dari mulut seorang Gus Choi saat mengomentari tingkah Sutan Bhatoegana yang dianggap melecehkan Gus Dur. Ayolah berpelukan.

Pelukan itu adalah hasrat memaafkan. Percaya tidak jika memaafkan orang yang bersalah itu melegakannya, sedangkan memaafkan orang yang tak bersalah itu melegakan kita? Pelukan itu mendamaikan dan perdamaian membutuhkan memaafkan.

Maka ingatkah Anda kapan pelukan terakhir itu hinggap dibahumu seperti hujan yang mengguyur kegersangan di awal musimnya? Atau ada amnesia yang menjelma karena Anda lupa kapan terakhir memeluknya?

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

Ri, aku semakin mencintaimu

12:42 06 Desember 2012

Sumber gambar dari sini.

WHATSAPP YANG MERAMPAS?


WHATSAPP YANG MERAMPAS?

 

Tanpa disadari atau sengaja tidak menyadari kalau dunia WhatsApp mengalihkan perhatian saya. Aplikasi yang sudah diunduh lebih dari 100 juta kali itu adalah aplikasi messenger yang dapat mengirimkan teks, video, gambar, dan suara kepada teman-teman dan kontak yang ada di hp kita masing-masing. Ini juga karena saya masuk ke grupnya. Mungkin kalau tidak bergabung ke dalamnya, dunia per-whatsapp-an saya juga sepi-sepi saja.

    Saya juga berpikir inilah yang mungkin menyebabkan Blackberry digilai oleh sebagian pengguna gadget di Indonesia karena semata kehebatan dari BBM-nya. Tapi BBM ini tersaingi karena kehadiran WhatsApp yang tidak mengharuskan penggunanya untuk memakai perangkat Blackberry. Lintas smartphone, lintas operator, lintas OS. Gtalk kalau saya bandingkan dengan WhatsApp juga lewat.

    Saya tak berusaha detil untuk mengulas WhatsApp di sini, saya cuma mau mengatakan bahwa zaman sekarang orang sudah terhubung dengan berbagai macam cara. Tentu di sana selain kelebihan yang didapat ada pula kelemahan atau mudharat yang kudu diwaspadai oleh semua penggunanya. Layaknya pisau ada ditangan siapa. Atau seperti pisau karton dalam cerpen Motinggo Busye?

    Sejak kenal grup dalam WhatsApp itu jarang sekali perjalanan pulang dalam kereta menjadi perjalanan yang membosankan. Asal handphone-nya sudah dicharge terlebih dahulu tentunya. Kalau enggak, matilah gaya sudah pasti. Untuk itu, setiap jam tiga sore handphone sudah harus dicolok kabel charger. Kalau sudah jam lima teng kurang sedikit barulah dicabut. Lumayan bisa untuk satu sampai dua jam ke depan.

    Di dalam kereta, walau desak-desakkan dan sedikit panas, perhatian bisa teralihkan ke gadget. Tersenyum dan tertawa bisa muncul di saat ikutan grup WhatsApp itu. Walau harus tertawa tertahan agar tidak dilihat oleh penumpang yang lain. Apalagi kalau japri sama teman-teman di sana yang rada-rada minha. Minha itu kata teman berasal dari bahasa arab yang artinya setengah atau sebagian atau sedeng gitulah. Sebenarnya teman-teman saya tak seperti itu kok. Mereka baik-baik. Mereka tahu batas tentang bercanda dan serius. Mereka para guru. Dan sudah tentu otak mereka semua genap. Insya Allah ahli surga semua. Amin.

Kegilaan saya terhadap WhatsApp tetap ada batasnya. Dan memang harus dibatasi agar jangan merampas hidup saya. Ada waktu khusus saya yang tidak bisa diganggu gugat oleh WhatsApp. Yaitu setiap pagi saat saya naik kereta rel listrik. Ada yang harus saya kerjakan sambil berdiri yang tak bisa tergantikan olehnya. Dan Alhamdulillah masih bisa bertahan walau dering sms dan bunyi kecipak air tanda pesan WhatsApp memekik-mekik.

Dan yang kudu diperhatikan juga adalah jangan sampai hubungan kita dengan WhatsApp mengalahkan hubungan personal kita di dunia nyata. Sampai rumah ya sudah, buang itu gadget jangan dipegang terus. Kehangatan ruang grup WhatsApp tetap tak bisa mengalahkan kehangatan ruang keluarga kita. Terhadap yang mencintai kita dan kepada celoteh-celoteh riang yang memenuhi ruang itu.

Bolehlah kembali ke ruang maya itu saat mereka tidur semua tapi ingat kalau besok adalah hari yang pepat. Hari yang membutuhkan kesiapan fisik kita secara paripurna, yang tidak bisa disediakan oleh tubuh yang kekurangan tidur.

Saat menekan tombol titik setelah kata tidur di atas, saya langsung menguap. Tanda alarm kalau tubuh saya juga butuh tidur. Besok adalah hari Ahad, banyak sekali yang harus saya lakukan. Saya akhiri saja kali yah keterpesonaan saya kepada makanan baru bernama grup WhatsApp ini. Pesona yang sama saat bule-bule pertama dan berulang kali datang ke Raja Ampat.

Sebenarnya maksud saya mengungkapkan semua ini semata hanya ingin menulis. Enggak ada maksud lain. Terus terang saja, grup WhatsApp telah mengalihkan fokus saya dari menulis. Dan kalau seminggu saya tidak menulis badan saya meriang. Ada virus kegelisahan yang memenuhi pembuluh darah saya. Makanya saya paksakan menulis sekarang. Karena enggak ada tema-tema berat yang harus saya tulis, ya tentu yang ringan-ringan saja yang saya tulis. Seperti tentang WhatsApp ini.

Kalau sudah menulis kan bisa plong. Saya bisa berpikir yang lain. Saya bisa mengamati keadaan dan suasana yang berbeda. Tidak suntuk lagi. Ini sudah bagus saya bisa menulis sekali seminggu. Kalau bisa mah sehari sekali. Tetapi mungkin saya belum sampai ke taraf itu, karena setiap melakukan pergulatan ide (baca menulis) saya mengalami kelelahan setelahnya. Ah, itu cuma alasan saja kali yah. Iya memang betul cuma alasan. Jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak menulis. Kudu menulis kapan pun, setiap saat.

Agar apa? Agar bisa dipastikan bahwa otak kita masih waras. Tidak minha. Masih bisa diajak untuk berpikir. Untuk mengamati keadaan. Dan tidak dementia atau pikun. Berbagai studi telah membuktikan, supaya kita tidak mengalami kepikunan maka menulis bisa menjadi salah satu cara pencegahannya. Menulis merupakan kegiatan yang dapat menstimulasi sel-sel saraf otak

Itu aja kali yah monolog malam ahad ini. Semoga bisa bermanfaat buat yang lain. Terutama sih untuk diri saya pribadi. Semoga besok adalah hari yang menyenangkan buat kita semua. Amin. Tabik.

***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

00:06 Ahad 25 November 2012