MBUH…


MBUH…

     Sudah dua paragraf tulisan yang saya buat, tetapi akhirnya terhapus juga. Mau nulis ini mau nulis itu, kena blok lagi. Inilah kalau menulis sambil mengedit. Mikirnya bagus enggak, sesuai aturan enggak. Padahal sudah diajarin tentang freewriting. Ternyata saya juga sering kena writer’s block.

    Padahal tiga hari diklat banyak banget ilmu yang didapet. Tapi atasi mental itu yang rada-rada susah. Padahal sudah banyak banget pengalaman yang dicapai selama berkecimpung dalam hobi menulis ini, masih tetap kena penyakit buat para penulis. Lagi-lagi karena kena beban menulis itu: harus bagus, harus enak, dan lebih baik daripada tulisan-tulisan yang lampau. Tapi kalau banyak mikirin begini, kagak jadi nulis-nulis. Typo mulu.

    Sekarang saya lagi belajar freewriting lagi aja. Gak mikir sesuai ejaan apa kagak. Yang penting malam ini kudu nulis. Sebab ilmu yang diperoleh selama tiga hari ini kudu cepet-cepet dipraktekin supaya jangan hilang.

    Dua hari yang lalu saya nulis tentang diklat di hari pertama, sekarang saya ingin melanjutkan sedikit tentang belajar apa saja yang pada hari ini. Yang pasti saya hari ini dapat ilmu tentang teknik menulis deskriptif, pengenalan media massa, belajar lagi tentang bahasa Indonesia. Terakhir tentang penulisan esai dan opini.

    Sesuai jadwal di hari kedua harus ada editor Kompas yang mau ngasih ceramah tetapi enggak jadi. Diundur di hari ketiga kata panitia. Tetapi sampai hari ketiga pun dia tak sanggup datang karena kepentingan yang mendesak. Tapi tak mengapa, dari Pak Harri Sujadi saja saya sudah banyak dapat ilmu. Di hari ketiga, hari Kamis (28/2,) kami diajari tentang cara revisi dan editing, terus sama-sama kita mencari topik yang bisa ditulis dan dimuat di media massa.

    Bener-bener deh males banget ngelanjutin ini tulisan. Lemes. Gak nafsu. Apa karena tadi juga waktu istirahat siang maksain ngedit tulisan yang mau dikirim. Tapi mau tidak mau malam ini kudu maksa buat freewriting. Freewriting itu nulis apa aja, bebas, cepet tanpa dihalang-halangi oleh apapun. Keinginan typo kudu dijauhin bener. Katanya kalau freewriting selama dua kali sehari dan dilakukan dalam jangka waktu tiga bulan niscaya akan jadi penulis terampil. Karena sesungguhnya seperti yang sudah saya katakan di tulisan pertama: menulis itu adalah keterampilan. Dan keterampilan harus senantiasa diasah. Itu aja kali yah.

    Patut diketahui juga kalau freewriting itu adalah cuma metode atau cara latihan menulis bebas menggunakan otak kanan. Karena pada kenyataannya menulis itu harus baik sehingga perlu revisi dan edit. So, freewriting adalah sekadar latihan.

    Ohya dua tahun saya meninggalkan Pusdiklat Keuangan Umum ini banyak sekali perubahan terutama dari segi pelayanan panitia kepada kami. Sekarang untuk registrasi diklat gak perlu lagi ngisi kertas, sudah paperless, tinggal ngisi profil yang sudah disiapkan di intranet Pusdiklat.

    Fasilitas komputer yang tersambung dengan internet pun sudah tersedia. Ditambah hotspot wifi di setiap lantainya. Sertifikat pun sudah bisa didapat langsung selesai diklat. Beda banget dengan dua tahun yang lampau yang kagak tahu kapan jadinya dan tahu-tahu sudah dikirim ke kantor masing-masing. Ketersediaan makanan juga selalu terjamin. Ah…sudah ya. Tulisan mbuh iki (Gak tau, gak jelas).

    Satu lagi, kayaknya emang enak ya kalau berangkat ke kantornya jam tujuh pagi dari rumah. Lalu naik KRL Commuter Line yang rada longgar setelah KRL ekonomi. Turun tak berdesak-desakkan dan masih rapih. Pulangnya jam setengah lima dari kantor dan pergi ke stasiun yang masih belum ramai dengan para penumpang. KRLnya juga tak penuh-penuh amat. Sampai rumah belum maghrib. Wuih idaman sekali. So, inilah yang terjadi pada hari ini. Nikmat yang sungguh tak boleh diingkari.

    Done.

***

Riza Almanfaluthi

21.01 28 Februari 2013.

gak diedit lagi, jangan protes.

BUANG OTAK KIRIMU


BUANG OTAK KIRIMU

 

Dua tahun yang lalu saya diberikan kesempatan untuk mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) penulisan ilmiah populer yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Umum Kementerian Keuangan, mulai hari ini, selasa (26/2) selama tiga hari saya diikutkan kembali diklat menulis yang diberi titel Diklat Menulis untuk Media Massa.

    Tempat penyelenggaraannya juga sama, di Pancoran. Jadi saya harus turun di Stasiun Cawang untuk kemudian berjalan kaki menuju ke sana. Dan itu butuh waktu 25 menit berjalan santai.

    Pengajarnya juga ternyata sama, Pak Harri Sujadi, mantan wartawan Kompas yang sekarang jadi freelancer-journalist. Materinya juga sama. Tapi tak mengapa, karena ternyata saya merasa mendapatkan “tenaga baru” untuk menulis. Dengan mengikuti diklat ini materi yang dulu pernah saya terima dan masih sulit dimengerti jadi lebih dapat dipahami lagi.

    Seharian ini saya bersama 20 peserta diklat yang lain se-Kementerian Keuangan—dan hanya tiga orang dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP)—diajarkan bagaimana cara melepaskan diri dari belenggu otak kiri di saat menulis. Menulis itu, katanya, adalah proses kreatifitas. Bagaimana cara memunculkan dan mengasah kreatifitas itu? Tentu dengan memaksimalkan fungsi otak kanan. Otak kanan itulah yang bertanggung jawab atas munculnya ide dan proses kreatifnya.

Jadi sedari pagi sampai sore tadi kita disuruh dan dilatih melepaskan diri dari otak kiri di saat menulis. Caranya? Kita dilatih freewriting, clustering, re-creation, Inner-eye. Detil dari empat itu nanti saja saya terangkan di lain kesempatan kalau ada waktu. Pelatihan yang terakhir itu kita diajarkan bagaimana caranya otak kiri benar-benar harus tak mampu menjadi raja dalam otak kita. Otak kanan yang harus berperan besar. Caranya? Menerjemahkan puisinya Guiseppe Ungaretti yang berbahasa Spanyol itu dengan sebebas-bebasnya. Cukup dengan menangkap nuansanya lalu tulis. Itu saja.

Dan ternyata masih saja ada yang tidak bisa, masih bertanya-tanya apa arti kata-kata dari bahasa yang tidak pernah dipakainya itu, dan cuma bisa terpaku. Sampai waktu selesai tak ada satu kata pun tertulis. Kata Pak Harry, itu berarti otak kiri masih dipergunakan.

‘Ala kulli hal, hari ini pokoknya saya dapat ilmu banyak. Contohnya tips-tips menulis seperti berikut ini:

  • Tips yang salah dari menulis adalah menulis sambil mengedit.
  • Menulislah terlebih dahulu. Edit belakangan.
  • Tuliskan apa yang ada dalam pikiran.
  • Menulis itu harus tahu siapa pembaca tulisan kita.
  • Dengan inner eye, jangan hambat momen yang ada.

     

Acara besok lebih seru lagi, akan ada ceramah tentang editing media dari editor Kompas yang menangani desk-opini. Semoga besok dan besoknya lagi saya dapat mengikuti kelas dengan baik tanpa mengantuk (tadi juga sebanrnya mengantuknya cuma sedikit kok) dan gangguan gadget (masak terus-terusan melihat timeline di Twitter).

    Terima kasih kepada pihak-pihak di Kantor Pusat yang memercayakan saya untuk mengikuti kembali diklat ini. Sangat bermanfaat dan Insya Allah bisa ditularkan kepada yang lain kalau diberi kesempatan untuk menularkannya.

    ***

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dua tahun itu tak terasa lewatnya

tulisan ini hasil dari freewriting

20.40 26 Februari 2013

 

Tags: tips menulis, harri sujadi, kompas, djp, direktorat jenderal pajak, kementerian keuangan, pusdiklat keuangan umum, diklat, Penulisan Media Massa, menulis untuk media massa, pancoran, freewriting

                                                    

DIBA INGIN SUSU


DIBA INGIN SUSU

 


 

“Mi…Diba ingin susu,” kata anaknya. Permintaan yang diterimanya dengan hati trenyuh. Bagaimana tidak, sedangkan persediaan susu anaknya sudah habis tak bersisa. Ia pun tak punya uang cukup untuk membeli sekotak susu.

    “Ya sudah Diba ambil kertas dan tulis di kertas itu: Ya Allah, Diba ingin susu. Berikanlah Diba susu ya Allah,” perintah ibu dua orang anak ini kepada anak pertamanya yang baru berumur tujuh tahun. “Setelah itu tempel di dinding ya.”

    Ia pun segera membuatkan Diba segelas air teh dengan sisa gula pasir yang ada di toples. Semata sebagai pengganti susu. Lalu ia pergi ke warung tetangga sebelah untuk membeli susu kental manis kemasan yang seharga seribu perak buat anak keduanya yang duduk di bangku TK. Suaminya hanya seorang penjaga keamanan yang gaji bulanannya habis buat kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk membayar rumah kontrakan.

    Tak lama setelah ia berhasil menidurkan kedua anaknya itu suaminya pulang. Raut mukanya yang tergambar lelah membuatnya tak tega untuk menceritakan tentang susu anak mereka yang sudah habis. Ia pergi ke dapur untuk membuatkan teh tawar hangat lalu menghidangkannya.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya kecuali tatapan matanya yang tertuju pada secarik kertas yang tertempel di dinding sana. Sang Suami mengikuti arah tatapan istrinya. Menghampiri kertas itu dan membacanya. Yang ada cuma helaan nafas panjang. “Insya Allah kita dapat rezeki yang banyak,” hanya kalimat itu yang terucap.

Waktu sesaat dihiasi hening. Tapi tak lama, karena dering telepon genggam suaminya meramaikan suasana kembali. Ia hanya bisa melihat suaminya sedang berbicara dengan orang yang berada di ujung sana. Siapa lagi malam-malam begini yang menelepon?

Kata-kata seperti siap, segera ke sana, sekarang juga, dan ucapan terima kasih terdengar dari mulut suaminya. Tetapi yang membedakan kali ini dengan keadaan sebelum menelepon adalah sesungging senyum di wajah itu.

“Alhamdulillah, Allah dengar doa kita. Abi diminta datang ke rumah teman sekarang juga. Teman Abi habis pulang dari Turki. Ada sedikit oleh-oleh. Ternyata dia masih ingat sama Abi,” jelas suaminya panjang. Ia cuma bisa mengucap syukur atas rezeki yang datang tiba-tiba ini. Insya Allah pagi ini akan ada segelas susu untuk diberikan kepada Diba dan bungsunya.

*

Zakat, infak, dan shadaqah yang saya terima dari teman-teman sebagiannya untuk mereka para mustahik yang untuk memenuhi kebutuhan dasarnya saja mereka tak mampu. Salah satunya seperti cerita di atas. Sebagiannya untuk mereka yang sakit tak tertangani karena biaya masuk rumah sakit yang tinggi. Sebagiannya adalah untuk biaya pendidikan ketika memulai tahun ajaran baru.

Pangan, pendidikan, dan kesehatan menjadi kebutuhan yang sangat dasar dan harus terpenuhi segera. Oleh karena itulah bersama beberapa kawan saya berusaha menghimpun dana untuk memenuhi hak-hak dasar masyarakat seperti itu.

Saya memanfaatkan sebagian besar dana ZIS yang didapat untuk beasiswa. Karena masih banyak mereka yang ternyata masih tidak mampu untuk melanjutkan sekolahnya ke SMP. Kawan-kawan LSM di Bojonggede mendirikan proyek Podium (Pos Peduli Ummat) yaitu sebuah proyek untuk memberikan beasiswa kepada anak-anak Bojonggede yang mau sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Saya bekerjasama dengan mereka dalam hal pendanaan. Alhamdulillah puluhan orang telah tertangani.

Kerja sendiri jelas tak mungkin. Ini diperlukan kerja besar dan kerja sama. Karena ini menyangkut daya jangkau dan kualitas dari cakupan bantuannya. Sebenarnya ini merupakan tugas pemerintah tapi apa daya pemerintah pun punya keterbatasan. Walau sudah harus diapresiasi dengan adanya fasilitas kesehatan gratis buat yang tidak mampu atau adanya pendidikan dasar seperti SD dan SMP yang gratis. Tapi untuk pemenuhan pangan? Belum kiranya.

Ke depan sepertinya pemenuhan kebutuhan pangan (gizi) akan menjadi prioritas juga. Minimal tidak akan ada lagi Diba-Diba yang lain. Sungguh banyak sekali anak yang tak bisa minum susu di Bojonggede. Ada sebuah ide: membuat daftar mustahik yang masih mempunyai balita dan anak SD dan tak mampu membeli susu. Kami akan berikan kepada mereka beberapa kotak susu dalam setiap bulannya. Yang akan menjadi prirotas adalah mereka yang bapaknya TIDAK MEROKOK.

Ya, kami punya komitmen dalam pemberantasan barang sia-sia itu. Agar para bapak-bapak itu memahami bahwa bagaimana mereka dapat menyekolahkan anak-anaknya dan mendapatkan biaya kesehatan sedangkan mereka dengan sepenuh kesadaran membakar uang setiap hari yang sebenarnya bisa terkumpul banyak itu.

Terpenting pula adalah menyadarkan umat bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, zakat tidak sekadar di bulan ramadhan, serta Infak dan sedekah mesti setiap saat. Selayaknya jiwa filantropi itu harus ada di setiap dada kaum muslimin agar bisa mengentaskan saudara-saudaraya yang lain dari jurang kefakiran. Karena ia dekat dengan kekufuran.

**

“Kak, saya pengen cari kerjaan secepatnya agar tak terus bergantung sama kakak,” kata adik bungsunya itu di suatu malam.

“Sudah cari di mana saja?”

“Sudah banyak kirim lamaran, tinggal nunggu telepon.”

Tiba-tiba Diba menyahut, “Makanya Paman minta sama Allah saja. Paman ambil kertas lalu keinginan Paman ditulis di kertas. Jangan lupa ditempel di dinding. Supaya ingat terus Paman minta apa.”

Mendengar itu mereka hanya bisa tersenyum.

***

 

Riza Almanfaluthi

14:11 17 Februari 2013

Citayam di sebuah selasar gerimis yang membatu.

Gambar dari sini.

Thanks to Muzakkis 4 all your support: Herlin Sulismiyarti, Indah Pujiati, Irwan Wibandoko, dan mereka yang tak mau disebut namanya.

    
 

 


 

BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER


BUKAN QARUN BUKAN PAMAN GOBER

 

George Lucas tak akan pernah bisa membuat sekuel Star Wars dan trilogi Indiana Jones-nya serta tak akan pernah ada unit usaha pengembangan grafik komputer yang akan dibeli oleh Steve Jobs dan diubah namanya menjadi Pixar, jika ia tak punya mimpi. Maka Lucas pun berkata, “Kunci kebahagiaan adalah mempunyai impian.” Tapi ini belumlah selesai.

Semua orang pasti punya mimpi dalam kehidupannya. Mimpi bahagia, bukan mimpi buruk di tengah malam. Dan karena mimpi itu tak berbayar maka tak ada salahnya untuk selalu bermimpi dan menjaga mimpi-mimpi itu selalu ada. Bahkan pameo yang tercipta: “Jangan pernah takut untuk bermimpi karena mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Mimpi saja takut lalu bagaimana akan menghadapi realita dunia yang sebenarnya?

Maka mimpi tentang harta adalah suatu mimpi yang sangat manusiawi. Adalah muda senang-senang, tua kaya raya, mati masuk surga menjadi mimpi yang manusiawi juga. Dan itu mimpi siapa pun orangnya. Tak hanya saya. Tetapi takdir memang menjadi pembeda semua itu saat ini. Namun pula, bukankah ada takdir yang bisa diubah dengan kerja keras dan doa? Kali ini, untuk semua itu, izinkanlah pula saya prosakan mimpi-mimpi.

Tak ada yang menyita di benak saya selama ini kecuali bagaimana mempersiapkan masa depan itu sendiri. Masa depan dari saya sebagai seorang PNS, berumur hampir 37 tahun, beristri satu dengan tiga orang anak. Saat ini saya bekerja di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan dan tinggal di desa Pabuaran, kecamatan Bojonggede, kabupaten Bogor.

Di instansi saya ini adalah hal yang wajar jika ada mutasi atau promosi, pegawai ditempatkan di luar Jawa dan jauh dengan keluarga. Tentu bagi yang sudah berkeluarga ada dilema pada saat itu: membawa semua keluarga dengan konsekuensi tingginya biaya pindah rumah dan sekolah anak-anak atau keluarga ditinggal saja, cukup dengan berkorban pulang pergi dalam jangka waktu tertentu, sebulan atau dua minggu sekali. Satu hal adalah semuanya sama-sama menguras tabungan. Lalu bagaimana nanti kalau sudah pensiun? Adakah yang tersisa?

Mimpi-Mimpi Itu

Adalah sebuah ingatan yang tak pernah luput yakni pada saat saya ditakdirkan untuk dapat mengunjungi tanah suci untuk menunaikan ibadah haji di tahun 2011. Dalam sebuah buku panduan doa-doa yang ada, saya menemukan doa yang baru pertama kali saya baca dan seumur hidup tak pernah terlintas di benak saya. Yaitu doa berupa: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari penderitaan masa tua.”

Dari doa ini ada makna yang tak bisa diabaikan bahwa dunia—setelah akhirat, pun tak hendak diluputkan dari pikir dan kerja kita. Maka ketika saya memimpikan segala pernak-pernik dunia ini, jangan dilepaskan bahwa itu semua adalah dalam rangka mempersiapkan yang terbaik untuk kehidupan setelah kehidupan dunia.

Lalu apa derita masa tua itu? Semua mafhum sepertinya. Semisal jatuh miskin, tidak ada tunjangan pensiun, sakit-sakitan, tidak mandiri sehingga bergantung kepada anak dan cucu, dana kesehatan yang tak pernah bisa mencukupi dan menutupi biaya pengobatan serta perawatan dan masih banyak lagi yang lainnya. Ini mimpi buruk.

Semua itu tak akan pernah menjadi mimpi saya. Mimpi saya sekarang untuk saat itu adalah tua tetaplah berjaya, sehat selalu, pensiun mencukupi, tabungan berlimpah, terkaver perlindungan asuransi jiwa dan kesehatan, mempunyai penghasilan yang terus mengalir dari passive income, hidup tenang menunggu ajal di atas tanah dan rumah luas yang dibelakangnya ada empang, dan mempunyai warisan berharga buat anak agar mereka menjadi keturunan yang kuat baik secara materi dan ruhani. Salah mimpi ini? Tidak.

Yang tak pantas adalah ketika saya mempunyai mimpi tetapi tak berniat mewujudkannya dan yang ada hanya laku diam. Maka bagaimana takdir akan bisa berubah? Dan inilah yang harus diselesaikan oleh mereka yang punya mimpi. Lucas pun melanjutkan kalimatnya yang sudah saya sebut pada paragraf paling atas dengan kalimat: “Kunci kesuksesan itu sendiri adalah mewujudkan impian.” Ini antitesis dari tidak bergerak, diam, tak bekerja.

Cara Kuno

Untuk mewujudkan mimpi-mimpi itulah tak ayal ada suatu kredo yang tak bisa dibantah oleh saya dan semua orang meyakininya: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Cara konvensional—tak perlu rumit—yang biasa saya lakukan sedari dulu adalah dengan cara menabung. Cerita bagaimana saya dan istri bisa menunaikan haji adalah bukti validnya.

Kami menabung sejak Oktober 2006 untuk bisa menutupi ongkos haji awal agar kami dapat masuk antrian pemberangkatan. Akhirnya pada tahun 2009 kami bisa mendaftar dengan menyetor uang sebesar Rp40 juta untuk dua orang. Tiga tahun kami menabung dengan menyisihkan sebagian penghasilan kami. Dan tetap terus menabung sampai tahun 2011 ketika kami diharuskan melunasi sisa ongkos naik hajinya. Semuanya bisa dilakukan dengan cara kuno itu.

Menabung bagi saya adalah langkah terencana dalam mewujudkan mimpi, walau ini terasa menyakitkan, dengan menyingkirkan nafsu-nafsu besar saya untuk memiliki sesuatu—yang merupakan naluri purba, semata agar saya siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan.

Ini terus kami lakukan sampai sekarang. Yang paling anyar adalah kerja untuk mewujudkan mimpi menyekolahkan anak-anak di sekolah favorit. Dua tahun lagi, anak saya yang kedua dan ketiga masing-masing akan lulus SD dan TK. Ini membutuhkan dana yang besar. Dan mimpi saya sekarang adalah bagaimana nanti pada saatnya saya punya kemampuan dana mendaftarkan mereka dan tak kebingungan mencari dari mana serta tak membebani keuangan saat itu.

Akhirnya saya ikut program tabungan rencana mandiri di suatu bank. Saya harus menyetorkan sejumlah dana tertentu yang tidak boleh diambil sampai waktu yang telah ditentukan. Bagi saya inilah yang bisa saya lakukan untuk membentuk anak-anak saya menjadi generasi yang kuat. Semua yang kami keluarkan bukanlah biaya tetapi investasi jangka panjang. Suatu saat saya akan memetik hasilnya. Manis tentunya.

Oleh karenanya saya memperbanyak investasi itu. Selain dengan menabung, investasi untuk anak-anak adalah dengan mengikutkan mereka dalam program asuransi pendidikan dan kesehatan.

Sedangkan untuk saya sendiri, selain ikut dalam program asuransi kesehatan dari kantor, saya pun ikut program asuransi mandiri lainnya. Hal yang sama saat saya juga ikut program dana pensiun, walaupun sebagai PNS secara otomatis sudah terkaver program pensiunnya. Tetapi lagi-lagi hal ini semata-mata agar kami—istri saya juga seorang PNS—siap menghadapi sesuatu yang tak terbayangkan di masa tua.

Yang Belum Terwujud

Tetapi masih ada mimpi yang belum bisa terwujud dengan kerja saya sekarang: mendapatkan passive income; memiliki satu kilogram emas batangan, dan mempunyai rumah minimal dua lagi untuk saya wariskan buat anak-anak. Walau ini terasa berlebihan. Tapi sekali lagi mengapa takut untuk bermimpi?

Tentang passive income itu semestinya saya harus memikirkan masak-masak karena harus terjun ke dunia yang tak berkaitan dengan kegiatan dan keahlian saya di bidang perpajakan. Jika itu berkaitan, tentu ada konflik kepentingan dan melanggar kode etik sebagai pegawai pajak.

Bila saya tetap bersikukuh masuk, maka sudah selayaknya saya mengundurkan diri sebagai pegawai Direktorat Jenderal Pajak. Kalau langkah ini yang diambil tentunya sudah bukan lagi mendapatkan penghasilan dari passive income.

Membuka warung soto—karena kebetulan keluarga besar istri berkecimpung di dunia kuliner persotoan, membuka warung waralaba ayam goreng tepung, dan menyewakan mobil yang jarang terpakai masih menjadi mimpi yang paling detil untuk mendapatkan passive income tersebut. Saya berusaha merealisasikan semuanya itu segera. Yang pasti bukan saya yang akan mengerjakannya. Saya cukup dengan menginvestasikan aset yang ada.

Untuk dua yang terakhir bukankah ada seorang pakar keuangan yang pernah mengatakan cara terbaik mempertahankan kekayaan adalah dengan memiliki emas dan rumah? Emas yang tidak akan terpengaruh dengan inflasi dan rumah (di dalamnya ada aset bernama tanah) yang nilainya selalu naik. Sepertinya saya akan kembali ke cara kuno untuk mendapatkannya atau bisa dengan mencicilnya.

Doa dan Berbagi

Dan itulah mimpi-mimpi saya. Saya yakin menjadi nyata. Karena ada laku yang tak boleh tertinggal: berdoa. Saya bukan agnostik. Saya yakin akan adanya campur tangan Allah SWT atas semua hidup saya. Kepada siapa lagi meminta kekayaan kecuali kepada Dia Yang Mahakaya dan Yang Maha Pemberi.

Dia memberikan tahta dan harta kepada orang yang dikehendaki. Begitu pula Ia akan mengambilnya dari siapa yang dikehendakiNya. Bagi saya, doa adalah senjata utama agar mimpi-mimpi itu mewujud.

Doa adalah laku mendapatkan kekayaan. Dan untuk mempertahankannya adalah dengan berbagi. Sebuah bentuk lain dari rasa syukur. Sebuah kerja filantropi yang akan melipatgandakan serta mempertahankan kekayaan. Agar tak seperti Qarun yang tertelan bumi karena tamak dan kikirnya, atau kaya tapi gila harta seperti karakter Scrooge McDuck (Paman Gober) dalam kartun Disney.

Semoga.

**

Artikel ini telah diikutkan dalam lomba menulis yang disenggarakan oleh Cerdas Keuangan  dan terpilih  sebagai 10 artikel terbaik pilihan Cerdas Keuangan (Februari 2013).

 

Riza Almanfaluthi

11 Januari 2013

BATIK YANG TERBAKAR


Baju batik itu terbungkus kertas kado yang cantik dan dimasukkan pada tas jinjing dari bahan karton yang tebal. Diserahkan oleh seorang teman kepada saya sebagai hadiah karena selama ini telah banyak membantunya. Ah, sebuah bantuan yang tak seberapa: membuat puisi-puisi untuk dibacakan di setiap acara kantornya. Sayang baju batik itu terbakar.

Suatu ketika dalam perjalanan dinas ke Pekalongan, kota yang terkenal dengan batiknya itu, saya sempatkan mampir ke sebuah butik batik yang ada di sana. Banyak pilihan bagus tidak membuat saya bingung, saya cukup dengan kriteria warna dan ukuran yang pas dengan saya. Dua baju batik lengan panjang dan pendek terbaik saya beli. Sayang semua itu juga ikut terbakar.

image

Saya bersama teman-teman kantor dalam suatu acara, berdiri paling kanan dengan salah satu baju batik yang terbakar.

 

Pertengahan tahun 2010, bagian atas belakang rumah saya kebakaran. Api membakar habis kamar tempat tumpukan pakaian sehabis dicuci, syukurnya tidak merembet ke bagian bawah dan rumah lain. Tidak ada korban jiwa dan kebakaran dapat ditangani segera karena sigapnya para tetangga dalam memadamkan api. Penyebabnya kami tidak tahu sampai sekarang, entah karena korsleting atau obat nyamuk bakar.

Setiap musibah baik besar ataupun kecil—sekadar kaki tersadung batu—selalu saya jadikan sarana kontemplasi. Apa yang sudah saya perbuat? Dari hasil perenungan itu saya mendapatkan banyak pelajaran. Salah satunya: jika ada sesuatu yang teramat dicintai maka bersiaplah untuk kehilangan. Kebetulan baju batik pemberian teman dan yang saya beli di Pekalongan itulah batik favorit yang biasa saya pakai ke kantor.

Kebakaran itu tidak melahap semua baju batik yang saya punya. Ini melegakan, karena ini berarti saya masih punya cadangan baju batik untuk pergi ke kantor. Memang, pada waktu itu kantor saya—yang juga merupakan instansi pemerintahan—mewajibkan berbatik pada hari Rabu dan Jumat. Kebijakan berbatik di hari Rabu ini bukan merupakan kebijakan kantor pusat kami. Kantor pusat hanya mewajibkan berbatik pada hari Jum’at saja.

Tambahan hari itu sebagai bukti komitmen dan kecintaan kantor kami kepada warisan budaya leluhur yang wajib dijaga. Itu tak masalah bagi saya. Apalagi saat ini—setelah era reformasi—pandangan masyarakat terhadap batik pun mengalami pergeseran.

Dulu saya merasakan sekali persepsi tentang batik yang ada pada masyarakat, antara lain bahwa batik itu hanya dipakai oleh aparat pemerintah, baju khusus untuk resepsi, sangat tidak modis, dan ortodok. Persepsi pertama bisa dikarenakan Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada saat itu, di hari-hari tertentu diwajibkan untuk memakai baju Korpri yang kebetulan bermotif batik warna biru.

Sekarang sudah berubah. Batik sudah menjadi milik bersama. PNS ataupun karyawan swasta memakai baju batik sebagai busana kantornya. Batik pun mengikuti tren. Warna yang tidak mainstream. Mode zaman dulu yang kaku sampai-sampai hampir tak bisa dibedakan mana baju batik pria dan wanita sudah tak ada lagi. Kini tak aneh pula melihat pemandangan wanita yang memakai rok batik, blus batik, blazer batik, kaos batik, gaun batik, busana muslim batik, ataupun pria yang memadupadankan batik dengan jeans.

Batik pun sudah menjadi ikon pencitraan. Ikon untuk mengirimkan pesan ke dalam pikiran bawah sadar—pikiran yang seringkali menjadi penentu pilihan—dari target komunikan. Pencitraan dari perusahaan layanan penerbangan, hotel, restoran, pasangan aspiran kepala daerah, sekolah, penggemar klub sepakbola dunia, dan masih banyak lagi lainnya.

Seiring perkembangan zaman, teknologi, gaya hidup masyarakat, serta hukum ekonomi permintaan dan penawaran yang berlaku maka batik pun menjadi komoditas yang terangkat harkatnya. Semula produk buatan tangan menjadi produk yang dihasilkan secara masif dari pabrik kain tanpa menurunkan kualitas kain dan corak motifnya. Semula hanya dijual di rumahan, toko batik berskala kecil, dan pasar tradisional, kini batik menjadi barang jualan yang laku dijual di rumah-rumah busana, ruang-ruang pamer, toko ritel modern, gerai-gerai, dan butik-butik batik ternama.

Metode penjualannya pun berkembang. Tak hanya secara offline, di era digital seperti saat ini situs-situs batik online pun bermunculan. Ini memberikan alternatif dan kemudahan cara berbelanja bagi para pembeli yang tak punya waktu luang di tengah-tengah kesibukannya. Apalagi ditengarai bahwa belanja secara online akan menjadi tren yang tak terelakkan. Karena ia memberikan sensasi belanja yang tak biasanya. Satu yang dibutuhkan untuk hal ini adalah kepercayaan.

Pembeli percaya bahwa situs batik online itu tidak pernah menipu dan selalu jujur antara deskripsi kualitas dari batik jualannya di dalam situs dengan kualitas batik dalam kenyataannya. Penjual pun percaya kalau pembeli juga tidak main-main dalam memesan dan cara pembayarannya. Kepercayaan mengikat semuanya, para pihak.

Dengan “mata uang” yang sama bernama kepercayaan itulah, pada September di tahun yang sama, saya pun dipindah ke kantor pusat. Tak lama kantor pusat juga menerapkan aturan berbatik buat seluruh pegawainya yang tersebar di seluruh Indonesia selama dua hari dalam sepekan yakni pada hari Selasa dan Jumat. Ini menyenangkan, karena bagi saya batik membuat tempat kerja semakin penuh warna. Tidak terlihat monokrom.

Sebagai hadiah perpisahan dari teman-teman di kantor lama, saya mendapatkan selembar kain batik warna biru. Saya jahit kain batik itu di penjahit langganan dan hanya saya pakai di momen-momen khusus.

image

Batik biru pada saat momen special, pertengahan Oktober 2012, bersama Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmani, Sekretaris Direktorat Jenderal Pajak Dedi Rudaedi (Kanan), dan Direktur Transformasi Proses Bisnis Wahju Karya Tumakaka (Dokumentasi Direktorat P2Humas DJP).

 

Saya berharap batik hadiah ini tidak akan terbakar lagi. Bukan untuk apa-apa. Hanya sekadar sebagai pengingat kalau saya pernah punya teman-teman sebaik mereka; sebagai upaya kecil saya melestarikan warisan adiluhung bangsa; sebagai cara sederhana saya mencintai produk dalam negeri. Itu saja.

image

Teman-teman di kantor lama: Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing Empat.

 

***

Riza Almanfaluthi

Januari 2013

image

M A S T A R A


M A S T A R A

Namanya Pak Mastara. Ia adalah guru SD saya sewaktu menuntut ilmu di SD Negeri Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, puluhan tahun lampau. Pada masa muda, dalam pandangan saya, ia ganteng seperti Obbie Mesakh. Ia menikahi teman sejawatnya yang cantik, namanya Ibu Dahlia, guru saya juga.

Tubuhnya atletis. Maklum ia adalah guru olahraga. Orangnya baik. Jarang atau bahkan tak pernah marah. Tulisan latinnya bagus banget. Bisa dilihat pada raport SD saya yang sekarang masih terdokumentasikan dengan baik. Dia juga wali kelas kami di kelas VI.

Yang saya ingat betul darinya adalah ia yang mendampingi saya untuk setiap lomba. Terutama lomba baca puisi. Atau sewaktu ada acara 17 Agustusan. Dia yang buat puisinya lalu saya yang membacakannya di malam acara puncak HUT RI. Satu hal yang saya menyesal dan tak akan pernah lupa dari ingatan saya sampai sekarang dan nanti adalah saat saya lalai atas permintaannya.

“Jangan lupa bacakan siapa pencipta puisi itu,” ingatnya sambil menyerahkan teks puisinya.

“Iya Pak,“ jawab saya.

Tapi apa lacur, panggung memberikan aura gugupnya pada saya. Demam panggung pun melanda. Saya cuma membaca judulnya saja. Tak ada nama Mastara—sebagai pencipta puisi itu—saya sebut setelahnya. Barulah saya sadar waktu setelah turun panggung ketika diingatkan olehnya. Tapi ia tidak marah.

Setelah dewasa saya baru paham apa pentingnya penyebutan namanya itu. Ini sama pentingnya saat nama pencipta lagu tertulis di layar televisi saat sebuah lagu dinyanyikan oleh Sang Penyanyi. Momen itu sampai sekarang masih saya ingat. Panggungnya. Tempatnya. Suasana riuhnya. Malamnya.

Yang masih saya ingat betul juga adalah pada saat ia memimpin pemanasan waktu jam olahraga. Terus waktu dia mengajar di kelas. Terus waktu dia memberikan les pada kami. Dia menyalin dari buku teks kecilnya. Terus ingat kalau ia pernah pakai jaket yang di belakangnya tertulis Prajabatan. Dan masih banyak lainnya yang saya ingin ceritakan sih sebenarnya. Cuma saya takut ada bagian-bagian yang tidak pas karena lupa.

Nah, waktu tadi malam (Senin, 14/01) sewaktu saya menunggu maghrib dan menunggu perjalanan KRL lancar kembali setelah Stasiun Pondok Cina diblokir para pedagang kaki lima dan mahasiswa, saya sedang ingat Anis Matta. Ada kaver buku Anis Matta yang menurut saya posenya persis pose Obbie Mesakh di sampul album lawasnya. Maka saya cari di Google. Nah ketika gambar Obbie Mesakh muncul saya pun langsung teringat sama Pak Mastara.

Sekarang kan zamannya facebook, mungkin Pak Mastara ikut gabung di sana. Maka saya ketik namanya di Google. Ada. Ada satu tautan yang mengarahkan saya pada blog SD Negeri 2 Jatibarang. Ada namanya juga di sana. Saya klik. Jreng…

clip_image001

Pak Mastara paling kiri. Klik untuk memperbesar. (Sumber gambar dari sini)

Awalnya saya tak langsung mengenalnya. Tapi lama-kelamaan akhirnya saya ngeh juga. Ya Allah…Pak Mastara, kurang lebih 25 tahun lamanya tak bertemu. Waktu sudah merubah semuanya. J Saya sampai pangling. Mungkin beliau juga tak mengenal saya kali kalau ketemu.

Ini blog sudah tak mutakhir lagi. Postingan terakhir tanggal 17 Juni 2009. Saya tak tahu apakah ia masih aktif mengajar di sana atau tidak. Ia menjabat sebagai bendahara sekolah pada saat itu. Dari blog lain yang saya lacak beliau juga sebagai panitia Pembangunan Masjid Komplek Perumahan Jatibarang Baru Indah tahun 2010. Ngomong-ngomong saya ucapkan terima kasih kepada pemilik blog ini yang sudah memberikan jalan pertama terikatnya silaturahim saya dengan beliau.

Dengan menuliskan ini saya cuma mau mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau. Saya doakan semoga beliau sehat-sehat saja dan semoga Allah memberikan yang terbaik atas jasa-jasanya sebagai guru yang telah mendidik saya dan teman-teman yang lain. Inilah amal yang tak akan pernah putus pahalanya.

Buat teman yang tahu keberadaan beliau, sampaikan salam hormat saya kepadanya. Salim. Semoga Allah mempertemukan kami di darat di suatu saat nanti. Amin.

**

clip_image003

Bangunan kotak adalah SD Negeri Pendowo I sampai dengan Pendowo V. Bagian sebelah kiri adalah Sungai Cimanuk, tempat saya main dan berenang di waktu kecil. Ada buayanya di sana. Sekarang buayanya pindah ke Android jadi Swampy di Game Where’s My Water? ^_^

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

15 Januari 2013

13:56

Tags: Mastara, SDN Jatibarang 2, SDN Pendowo I, SDN Pendowo V, Pendowo I, Pendowo V, Jatibarang, Indramayu, Swampy, Where’s My Water, Cimanuk, Sungai Cimanuk, SD Negeri Pendowo V, Dahlia, Anis Matta, Obbie Mesakh, Stasiun Pondok Cina, SD Negeri Pendowo I

Hadiah Besar Pagi Ini


image

Senin pagi ini (7/1) baru saja mau duduk di kursi kerja tampak satu tas berisi banyak barang di atas meja. Alhamdulillah, isinya ada mug, jam beker, tempat post it, sertifikat, dan yang utama adalah sebuah buku yang berjudul: Berbagi Kisah & Harapan: Untaian Kisah Perjuangan Penagihan Pajak.

Terima kasih saya ucapkan kepada Direktorat Kitsda yang telah memberi semuanya ini pada saya. Apa gerangan hubungan mereka, hadiah ini, dan saya? Saya cuma diminta untuk bantu menyunting naskah-naskah terpilih tentang kisah-kisah para jurusita ataupun pegawai yang terkait dengan penagihan pajak. Cerita dari para pegawai pajak di barat sampai timur Indonesia. Sekali lagi terima kasih banyak.

Senin yang saya rasa sudah suka di awal jadi tambah suka lagi. 🙂

***

Riza Almanfaluthi

07 Januari 2013

*Langsung di tulis di hp.

MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS


MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS

Haji Salim—sebutlah namanya demikian—tak pernah menyangka alih fungsi kebun miliknya berdampak besar buat para penghuni komplek perumahan lama. Tanah berukuran 1500 meter persegi itu kini telah menjadi komplek perumahan baru yang tidak seberapa besar. Letaknya berada di dataran paling tinggi. Di atas perumahan lama yang sejak tahun 2000 saya tempati, di wilayah Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Sebelum perumahan baru berdiri, kebun itu menjadi tempat menanam buah-buahan. Ratusan batang pohon pepaya hidup dan dirawat oleh Haji Salim. Kebun itu seperti menjadi oase yang menawarkan keteduhan bagi sekitarnya. Adem, apalagi saat hujan. Petrichor, bau tanah dan tumbuhan tersiram gerimis pertama, begitu harum menyengat hidung.

Dulu, itu lahan yang tak pernah bisa dibeli oleh pengembang perumahan lama. Belasan tahun kemudian, Haji Salim tak bisa memungkiri lezatnya harga tinggi yang disodorkan kepadanya. Kebun itu kini telah menjadi kenangan. Hilang. Bersama harta karun terpendam di dalamnya yang tak pernah disadari oleh Haji Salim.

Kekeringan

Sudah dua belas tahun lamanya saya tinggal di rumah ini. Dan baru pada pertengahan tahun 2012 saya merasakan kemarau yang berdampak langsung pada keluarga saya. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan akan air, saya menyedotnya dari sumur pantek berdiameter dua
inci dan berkedalaman enam meter.

Sampai saat itu kami tak pernah merasa kekeringan. Pada saat sumur tetangga sudah mulai kering, sumur kami tidak. Dan para tetangga pun terkadang meminta air kepada kami. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.

Dua minggu lamanya saya sabar dengan mesin air yang menyala selama lebih dari lima belas jam seharinya menunggu tetes demi tetes air yang akan memenuhi tandon. Sampai pada suatu titik ketika berjam-jam saya menunggu tidak ada sama sekali air yang keluar dan mesin sudah berteriak nyaring kelelahan, akhirnya saya menyerah.

Saya panggil tukang gali sumur, meminta kepadanya untuk dibuatkan sumur baru. Kali ini dengan kedalaman sepuluh meter dan dengan luas penampang sumur seluas satu meter persegi. Syukurnya penggalian cukup dilakukan hanya pada satu titik lokasi. Tidak ada batu besar yang menghalangi dalam pencarian air ini.

Pada akhirnya, setelah tiga hari menggali, tukang gali sumur merasa cukup untuk menghentikan penggalian ketika air sudah sebatas pinggangnya. Nanti pada waktu musim penghujan ketersediaan air akan melebihi tinggi daripada saat sekarang. Saya lega walau banyak biaya yang keluar untuk mengerjakan semua ini. Tak mengapa, karena atas segala sesuatunya ada harga yang harus dibayar.

Sampah

Kita tahu bersama bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita tak bisa berbuat apa-apa jika tanpa air bersih dalam keseharian kita. Untuk minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Air menjadi kebutuhan hidup paling hakiki agar selalu tersedia setiap saat.

Bahkan jika pasokannya terhenti entah karena air dari PDAM yang berhenti mengalir, mesin air yang rusak, atau karena sumur yang kering, kita berusaha menyediakannya sedapat mungkin. Kita berkorban tenaga, uang, dan waktu untuk mendapatkannya. Para pekerja kantoran seperti saya akan rela cuti kerja untuk memastikan ketersediaannya.

Setelah kejadian itu, saya menyadari ada yang menyebabkannya. Satu sebab adalah tak ada lagi kebun Haji Salim yang selama ini menjadi resapan air. Tak ada lagi cadangan air pada pori-pori tanah di saat kemarau. Dan efeknya luar biasa sekali. Tak hanya saya yang membuat sumur baru, bahkan tetangga-tetangga saya yang lainnya juga turut menambah kedalaman sumurnya lagi. Kami kekurangan air.

Ketika kita menyadari pentingnya air sebagai sumber kehidupan itu maka barulah kita mengerti ada kerja-kerja yang harus dilakukan untuk menjaga ketersediaannya. Apalagi ditengarai bahwa dunia pada saat ini mengalami krisis air bersih sebagai konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan penduduk dunia. Masih 800 juta lebih penduduk dunia yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.

Tak perlu jauh-jauh, Kali Pesanggrahan yang berada persis beberapa meter di depan rumah saya adalah cerminan betapa sungai sebagai salah satu sumber ketersediaan air sudah mengalami pengurangan dalam daya dukungnya. Ini akibat menurunnya partisipasi masyarakat dalam menjaga sungai agar tidak tercemari. Kebiasaan membuang sampah di sungai masih sering dilakukan.


Sisi Kali Pesanggrahan depan rumah, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.

Ada dua hal penyebabnya. Pertama, kurangnya kesadaran masyarakat itu sendiri betapa sungai merupakan elemen penting dalam mendukung ketersediaan air. Ini direfleksikan dengan laku seenaknya sendiri membuang sampah di sana atau enggan membayar iuran sampah yang telah ditetapkan. Padahal nilai iurannya lebih rendah daripada harga sebungkus rokok, hanya Rp8.000,00 per bulan dengan jadwal pengambilan sampah dua kali seminggu.

Kedua, pemerintah tidak menyediakan tempat pembuangan sampah ataupun tempat pembuangan akhir yang layak, serta tidak menyasar program pengangkutan sampah itu pada masyarakat di luar komplek perumahan. Yang terjadi adalah pinggir kali menjadi tempat penimbunan sampah.

Padahal ketika sampah itu telah mencemari sungai maka yang terjadi adalah kualitas air yang jelas menurun. Air dengan kualitas buruk seperti itu menjadi salah satu penyebab dari menurunnya kualitas kehidupan, bangkitnya epidemi penyakit, dan sudah barang tentu tidak layak untuk menjadi sumber bagi lahan komoditas pertanian.

Kerja-kerja Kecil

Undang-undang telah mengamanahkan kepada pemerintah untuk menyediakan air yang memenuhi kualitas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat. Tetapi dengan keterbatasan pemerintah—anggaran minim dan ketiadaan aksi—yang ada maka masyarakat tidak bisa bersikap pasif. Dan pada faktanya masyarakat memang bersikap mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

Ditambah dengan minimnya pemahaman serta partisipasi sebagian masyarakat dalam memahami pentingnya menjaga ketersediaan air yang memenuhi standar mutu maka mau tidak mau sikap pasif menjadi seteru yang wajib dihilangkan. Maka disinilah kesadaran akan adanya kerja-kerja kecil, aktif, nyata, dan dimulai dari diri sendiri diperlukan bagi setiap individu. Apa yang bisa saya lakukan?

Bagi saya, memastikan keran air di rumah ataupun di masjid telah tertutup dengan rapat dan tidak rusak; menempelkan stiker peringatan hemat air atau tutup keran air dengan rapat juga adalah kerja itu. Ini adalah langkah kecil memastikan tidak ada air yang tersia-sia.


Ilustrasi Keran Bocor

Menanam pohon di lahan tersisa depan rumah dan di bantaran kali; membuang sampah pada tempatnya; membayar iuran sampah tepat waktu; menyiram tanaman dengan air cucian beras adalah kerja itu juga.

Tapi ada kerja lain berkaitan dengan masyarakat Pabuaran yang terkenal dengan semangat religiositasnya itu. Penyadaran akan pentingnya menjaga kualitas air ini dilakukan dengan menyentuh sisi-sisi religiositas mereka dalam kerangka menebar kebaikan melalui media dakwah secara lisan dan contoh. Ini yang dilakukan melalui pengajian yang saya asuh di setiap pekannya.

Ya, salah satu materi yang disampaikan adalah menjaga kualitas ibadah shalat. Ibadah shalat yang benar adalah ibadah yang memenuhi syarat sahnya shalat yaitu suci badan, pakaian, dan tempat. Ini terpenuhi ketika air yang digunakan untuk wudhu, mandi, dan membersihkan pakaian dan tempat itu bersih dan suci. Serta merta keduanya ini memenuhi kualitas air yang baik. Mau tidak mau agar shalatnya diterima maka air harus dipastikan suci dari najis. Dengan demikian masyarakat dituntut untuk menjaga kualitas air sedemikian rupa, setiap saat.

Diharapkan dengan ini tumbuh pemahaman bahwa ketika mereka membuang sampah di sungai, ini berarti setara dengan upaya tidak menjaga shalatnya dengan benar. Setara pula dengan laku berbuat kerusakan. Dan kitab suci telah melarang hamba Allah untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Butuh waktu lama, tetapi sungguh tak ada yang sia-sia. Yang penting bergerak dan bekerja. Masalah hasil diserahkan saja kepada Allah. Bagi saya itu sudah cukup. Pun bagi saya, menjaga kualitas air adalah menjaga kualitas religiositas. Menjaga nilai-nilai kehidupan abadi di atas tanah tempat berpijak manusia. Itu harta karun yang paling berharga.

***

Riza Almanfaluthi

06 Januari 2013

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Jurnalistik 2012 dengan kategori Karya Blogger.

    

THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY


THE HOBBIT: AN EXPECTED JOURNEY

Waktu Ahad lalu (23/12) yang liburan panjang itu, kami berempat—saya dengan my beloved rose, Kinan Chubby, dan Ayyasy The Writer—malam-malam pergi ke Margo City, Depok. Niatnya mau nonton film The Hobbit An Expected Journey. Jam masuknya 21.45.

Saya tak tertarik sama Habibie Ainun. Pokoknya mah mau lihat prekuel Lord of The Rings itu. Setelah trilogi hebat sebelumnya itu tak pernah saya nikmati atas kegarangan sound systemnya atau secara visual pada keindahan gambar negeri peri serta kebengisan perangnya.

Kini mumpung ada waktu dan anak-anak mau, kami sempatkan untuk tak melewatkan yang satu itu. Dan sungguh saya beri jempol buat Peter Jackson yang meramu film itu. Setaralah dengan novelnya yang sudah saya baca dua kali lebih itu. Ohya film ini untuk segala umur loh ya.

The Hobbit ini kalau difilmnya akan dibagi tiga bagian. Sesi pertama ini di film The Hobbit An Expected Journey, kisah Bilbo Baggins bersama 13 kurcaci dan Gandalf Penyihir Kelabu sampai pada mereka diselamatkan dari sergapan orc wajah pucat dan diterbangkan oleh para elang raksasa.

Saya membayangkan kalau di film kedua The Hobbit nanti yang akan diputar di tahun 2013 ceritanya berkisar saat mereka ketemu “siluman” beruang Beorn, bertarung dengan laba-laba di hutan lebat, dan cerita para peri yang menawan Bilbo Baggins.

Kalau di film ketiganya tentu ini yang lebih seru. Tapi sayang masih dua tahun lagi tayangnya. Soalnya di bagian akhir trilogi baru ini akan ada pertempuran besar antara pasukan kurcaci dan peri dengan para orc. Tentu di sana akan ada akhir dari Smaug Sang Naga yang mengamuk setelah lama tidur panjang mengangkangi harta rampasan di bekas istana Kurcaci dulu. Seru.

Kembali ke The Hobbit An Expected Journey, yang bagus darinya adalah peran Thorin yang dimainkan cukup apik. Cool. Sangat Ningrat. Dihormati karena ia adalah sang pemimpin, pejuang, putra mahkota, dan pemberani. Punya obsesi dan dendam 24 karat pada orc dan Smaug.

Apalagi mendengar lagu yang jadi soundtracknya: Misty Mountains (Cold). Mereka—para kurcaci—menyanyikan lagu itu di rumahnya Bilbo Baggins saat merindukan istana-istana bawah tanah mereka yang hilang. Misty Mountains (Cold) menjadi ilustrasi musik sepanjang film itu. Sepadan.

Saat film itu selesai, Kinan sudah tertidur di pangkuan Ria Dewi Ambarwati—perempuan yang telah menjadi istri saya sejak 1999. Saya bopong Kinan waktu menuju tempat parkiran. Jarum jam sudah menuding angka 00.30. Angka yang dituding menolak dan menampik jarum jam itu hingga terus saja berputar-putar. Memang waktu tak akan pernah ada yang mampu menghentikannya untuk berjalan. (Hayyah enggak nyambung). Sampai rumah kurang lebih jam 01.00 pagi. Jalanan Depok sampai Citayam sepi banget nget nget. Ya iyalah jam segitu. Kontras dengan lima jam setelah itu.

Besoknya sempat buka-buka lagi buku The Hobbit. Mau baca lagi dari awal. Ramai. Seru. Saya kumpulkan kembali buku trilogi Lord of The Rings. Mulai dari The Fellowship of The Rings, The Two Towers, sampai The Return of The King.

Ayyasy mulai tertarik novel JRR Tolkien, ia mulai bertanya-tanya.

“Emang mau baca?”

“Iya.”

Eh pada akhirnya tetap saja buku itu tergeletak di tempat tidurnya. Tak pernah dibuka lagi.

Pada saat proses mengumpulkan itu saya menemukan buku Isildur, masih bertema Dunia Tengah tapi tak dikarang oleh JRR Tolkien. Menemukan juga buku proses kreatif bagaimana para pengarang memulai menulis, serta buku-bukunya Malcolm Gladwell. Saya foto dah tuh buku. Ceklik….

clip_image001

(Untuk memperbesar foto ini klik saja)

Sudah cukup segitu saja dulu ceritanya. Inilah “me time”-nya kami. Sayang Mas Haqi enggak ikut (fotonya jadi latar belakang foto di atas). Pesantrennya baru libur mulai Sabtu besok tanggal 29 Desember 2012. Insya Allah Nak kita jalan-jalan lagi kayak dulu. Pengen kemana? Ragunan? Hayyah Ragunan mulu. Mancing? Lihat dulu dah. J Kami semua merindukanmu Nak. Apalagi Abi.

Jalan-jalan ke Cipatujah, ketemuan sama pak Polisi.

Di sini kita berpisah, sekian dan terima kasih.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:16 28 Desember 2012

Tanpa diedit lagi

CARA CEPAT HENTIKAN CEGUKAN TANPA AIR


cara2bmembuat2bbubur2bmutiara2byang2benak252cbubur2bmutiara2bdiah2bdidi252cbubur2bmutiara2bsagu252cbubur2bmutiara2bncc252cbubur2bmutiara2bgula2bmerah252ccara2bmembuat2bbubur2bmu

 

Ini sudah saya twitkan tentang cegukan itu. Tapi saya narasikan agar menjadi abadi adanya ia. Tak tertelan sama kicauan yang lain. Dan semoga saja bisa manfaat buat yang lain. Iya tuh Bro, waktu pagi tadi saat mau mengeluarkan motor tahu-tahu dari mulut saya keluar bunyi-bunyian: Ceguk. Cegik. Ceguk. Cegik.

Saya pikir cegukan seperti ini tak akan bertahan lama. Eh ternyata sampai kereta datang di Stasiun Citayam cegukan itu tak berhenti. Tubuh saya sampai terangkat sedemikian rupa kalau lagi cegukan. Saya sampai tak enak sama yang lain. Makanya segera saya cari cara menyembuhkan cegukan tanpa air melalui Google. Biasanya kalau pakai air sih mudah menghentikannya. Tinggal minum air putih sebanyak-banyaknya sambil menutup hidung. Insya Allah berhasil. Lah ini pas ada di kereta bagaimana minum airnya coba?

Dan ketemu juga tips menghentikan cegukan itu tanpa air. Cuma sebelumnya saya mau kasih tahu mengapa sih terjadi cegukan pada diri kita setiap manusia. Kalau orang tua zaman dulu mah selalu bilang kalau cegukan yang dialami sama anak bayi itu tanda lagi tumbuh gede. Nah ini saya bukan anak bayi gitu loh? Jadi mau tumbuh apanya lagi?

Saya kutip secara langsung dari Wikipedia yah tanpa edit lagi. Seperti ini:

Cegukan adalah kontraksi tiba-tiba yang tak disengaja pada diafragma, dan umumnya terjadi berulang-ulang setiap menitnya. Udara yang tiba-tiba lewat ke dalam paru-paru menyebabkan glottis (ruang antara pita suara) menutup, serta menyebabkan terjadinya suara hik. Cegukan umumnya akan selesai dengan sendirinya, meskipun ada beberapa pengobatan rumah tangga (home remedy) untuk mempercepat cegukan, dan ada beberapa pengobatan yang dibutuhkan. Istilah medis untuk cegukan adalah singultus.

Cegukan seringkali berkembang dalam situasi tertentu, seperti makan terlalu cepat, minum air dingin sesaat setelah makan makanan panas, makan makanan yang sangat panas atau pedas, tertawa atau batuk terlalu keras, kelebihan minuman beralkohol, atau karena keseimbangan elektrolit. Cegukan dapat pula disebabkan karena tekanan saraf frenik oleh struktur anatomi yang lain, atau karena tumor dan penyakit ginjal lainnya, meski hal ini jarang terjadi. American Cancer Society melaporkan bahwa 30% pasien kemoterapi menderita cegukan sebagai efek samping perlakuan.

Nah, kayaknya salah satunya memang saya alami. Yaitu makan makanan yang sangat panas, mi instan rebus jam empat pagi tadi. Kembali kepada cara menghentikan cegukan yang saya temukan dari Google tepatnya dari blog orang itu ternyata memang tidak berhasil. Ada empat langkah yang ia tulis tapi masih belum sederhana. Masih ada pertanyaan yang mengambang atas setiap langkah itu. Kebetulan cara itu juga gatot alias gagal total diterapkan kepada saya.

Akhirnya saya modifikasikan atawa improvisasikan dengan cara saya sendiri dan syukurnya berhasil 100% dengan cepat. Seketika Insya Allah. Bagaimana caranya? Ohya saya tidak mengutip cara ini dari Wikipedia. Cara ini adalah cara yang berhasil saya terapkan. Bukan cara Wikipedia yang belum tentu keberhasilannya.

Berikut cara saya:

1. Gelembungkan mulut sebesar-besarnya;

2. Tutup hidung rapat-rapat dengan tangan;

3. Telan udara yang ada di mulut. Pokoknya ditelan.

4. Ulangi sampai tiga kali.

Sudah itu saja. Dan Alhamdulillah tak perlu menunggu lama cegukan saya ini langsung hilang. Saya pun bisa melanjutkan perjalanan naik krl ini tanpa ada hambatan yang berarti—masih bisa berdiri di atas kereta tanpa bunyi ceguk, cegik.

Semoga bermanfaat.

***

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

14:44 27 Desember 2012

gambar sekadar ilustrasi saja diambil dari sini.