MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS


MENJAGA AIR MENJAGA RELIGIOSITAS

Haji Salim—sebutlah namanya demikian—tak pernah menyangka alih fungsi kebun miliknya berdampak besar buat para penghuni komplek perumahan lama. Tanah berukuran 1500 meter persegi itu kini telah menjadi komplek perumahan baru yang tidak seberapa besar. Letaknya berada di dataran paling tinggi. Di atas perumahan lama yang sejak tahun 2000 saya tempati, di wilayah Desa Pabuaran, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Sebelum perumahan baru berdiri, kebun itu menjadi tempat menanam buah-buahan. Ratusan batang pohon pepaya hidup dan dirawat oleh Haji Salim. Kebun itu seperti menjadi oase yang menawarkan keteduhan bagi sekitarnya. Adem, apalagi saat hujan. Petrichor, bau tanah dan tumbuhan tersiram gerimis pertama, begitu harum menyengat hidung.

Dulu, itu lahan yang tak pernah bisa dibeli oleh pengembang perumahan lama. Belasan tahun kemudian, Haji Salim tak bisa memungkiri lezatnya harga tinggi yang disodorkan kepadanya. Kebun itu kini telah menjadi kenangan. Hilang. Bersama harta karun terpendam di dalamnya yang tak pernah disadari oleh Haji Salim.

Kekeringan

Sudah dua belas tahun lamanya saya tinggal di rumah ini. Dan baru pada pertengahan tahun 2012 saya merasakan kemarau yang berdampak langsung pada keluarga saya. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan akan air, saya menyedotnya dari sumur pantek berdiameter dua
inci dan berkedalaman enam meter.

Sampai saat itu kami tak pernah merasa kekeringan. Pada saat sumur tetangga sudah mulai kering, sumur kami tidak. Dan para tetangga pun terkadang meminta air kepada kami. Itu dulu. Sekarang tidak lagi.

Dua minggu lamanya saya sabar dengan mesin air yang menyala selama lebih dari lima belas jam seharinya menunggu tetes demi tetes air yang akan memenuhi tandon. Sampai pada suatu titik ketika berjam-jam saya menunggu tidak ada sama sekali air yang keluar dan mesin sudah berteriak nyaring kelelahan, akhirnya saya menyerah.

Saya panggil tukang gali sumur, meminta kepadanya untuk dibuatkan sumur baru. Kali ini dengan kedalaman sepuluh meter dan dengan luas penampang sumur seluas satu meter persegi. Syukurnya penggalian cukup dilakukan hanya pada satu titik lokasi. Tidak ada batu besar yang menghalangi dalam pencarian air ini.

Pada akhirnya, setelah tiga hari menggali, tukang gali sumur merasa cukup untuk menghentikan penggalian ketika air sudah sebatas pinggangnya. Nanti pada waktu musim penghujan ketersediaan air akan melebihi tinggi daripada saat sekarang. Saya lega walau banyak biaya yang keluar untuk mengerjakan semua ini. Tak mengapa, karena atas segala sesuatunya ada harga yang harus dibayar.

Sampah

Kita tahu bersama bahwa air adalah sumber kehidupan. Kita tak bisa berbuat apa-apa jika tanpa air bersih dalam keseharian kita. Untuk minum, mandi, mencuci, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Air menjadi kebutuhan hidup paling hakiki agar selalu tersedia setiap saat.

Bahkan jika pasokannya terhenti entah karena air dari PDAM yang berhenti mengalir, mesin air yang rusak, atau karena sumur yang kering, kita berusaha menyediakannya sedapat mungkin. Kita berkorban tenaga, uang, dan waktu untuk mendapatkannya. Para pekerja kantoran seperti saya akan rela cuti kerja untuk memastikan ketersediaannya.

Setelah kejadian itu, saya menyadari ada yang menyebabkannya. Satu sebab adalah tak ada lagi kebun Haji Salim yang selama ini menjadi resapan air. Tak ada lagi cadangan air pada pori-pori tanah di saat kemarau. Dan efeknya luar biasa sekali. Tak hanya saya yang membuat sumur baru, bahkan tetangga-tetangga saya yang lainnya juga turut menambah kedalaman sumurnya lagi. Kami kekurangan air.

Ketika kita menyadari pentingnya air sebagai sumber kehidupan itu maka barulah kita mengerti ada kerja-kerja yang harus dilakukan untuk menjaga ketersediaannya. Apalagi ditengarai bahwa dunia pada saat ini mengalami krisis air bersih sebagai konsekuensi dari pesatnya pertumbuhan penduduk dunia. Masih 800 juta lebih penduduk dunia yang mengalami kesulitan dalam mengakses air bersih.

Tak perlu jauh-jauh, Kali Pesanggrahan yang berada persis beberapa meter di depan rumah saya adalah cerminan betapa sungai sebagai salah satu sumber ketersediaan air sudah mengalami pengurangan dalam daya dukungnya. Ini akibat menurunnya partisipasi masyarakat dalam menjaga sungai agar tidak tercemari. Kebiasaan membuang sampah di sungai masih sering dilakukan.


Sisi Kali Pesanggrahan depan rumah, Pabuaran, Bojonggede, Bogor.

Ada dua hal penyebabnya. Pertama, kurangnya kesadaran masyarakat itu sendiri betapa sungai merupakan elemen penting dalam mendukung ketersediaan air. Ini direfleksikan dengan laku seenaknya sendiri membuang sampah di sana atau enggan membayar iuran sampah yang telah ditetapkan. Padahal nilai iurannya lebih rendah daripada harga sebungkus rokok, hanya Rp8.000,00 per bulan dengan jadwal pengambilan sampah dua kali seminggu.

Kedua, pemerintah tidak menyediakan tempat pembuangan sampah ataupun tempat pembuangan akhir yang layak, serta tidak menyasar program pengangkutan sampah itu pada masyarakat di luar komplek perumahan. Yang terjadi adalah pinggir kali menjadi tempat penimbunan sampah.

Padahal ketika sampah itu telah mencemari sungai maka yang terjadi adalah kualitas air yang jelas menurun. Air dengan kualitas buruk seperti itu menjadi salah satu penyebab dari menurunnya kualitas kehidupan, bangkitnya epidemi penyakit, dan sudah barang tentu tidak layak untuk menjadi sumber bagi lahan komoditas pertanian.

Kerja-kerja Kecil

Undang-undang telah mengamanahkan kepada pemerintah untuk menyediakan air yang memenuhi kualitas kehidupan dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat. Tetapi dengan keterbatasan pemerintah—anggaran minim dan ketiadaan aksi—yang ada maka masyarakat tidak bisa bersikap pasif. Dan pada faktanya masyarakat memang bersikap mandiri dalam pemenuhan kebutuhan dasar tersebut.

Ditambah dengan minimnya pemahaman serta partisipasi sebagian masyarakat dalam memahami pentingnya menjaga ketersediaan air yang memenuhi standar mutu maka mau tidak mau sikap pasif menjadi seteru yang wajib dihilangkan. Maka disinilah kesadaran akan adanya kerja-kerja kecil, aktif, nyata, dan dimulai dari diri sendiri diperlukan bagi setiap individu. Apa yang bisa saya lakukan?

Bagi saya, memastikan keran air di rumah ataupun di masjid telah tertutup dengan rapat dan tidak rusak; menempelkan stiker peringatan hemat air atau tutup keran air dengan rapat juga adalah kerja itu. Ini adalah langkah kecil memastikan tidak ada air yang tersia-sia.


Ilustrasi Keran Bocor

Menanam pohon di lahan tersisa depan rumah dan di bantaran kali; membuang sampah pada tempatnya; membayar iuran sampah tepat waktu; menyiram tanaman dengan air cucian beras adalah kerja itu juga.

Tapi ada kerja lain berkaitan dengan masyarakat Pabuaran yang terkenal dengan semangat religiositasnya itu. Penyadaran akan pentingnya menjaga kualitas air ini dilakukan dengan menyentuh sisi-sisi religiositas mereka dalam kerangka menebar kebaikan melalui media dakwah secara lisan dan contoh. Ini yang dilakukan melalui pengajian yang saya asuh di setiap pekannya.

Ya, salah satu materi yang disampaikan adalah menjaga kualitas ibadah shalat. Ibadah shalat yang benar adalah ibadah yang memenuhi syarat sahnya shalat yaitu suci badan, pakaian, dan tempat. Ini terpenuhi ketika air yang digunakan untuk wudhu, mandi, dan membersihkan pakaian dan tempat itu bersih dan suci. Serta merta keduanya ini memenuhi kualitas air yang baik. Mau tidak mau agar shalatnya diterima maka air harus dipastikan suci dari najis. Dengan demikian masyarakat dituntut untuk menjaga kualitas air sedemikian rupa, setiap saat.

Diharapkan dengan ini tumbuh pemahaman bahwa ketika mereka membuang sampah di sungai, ini berarti setara dengan upaya tidak menjaga shalatnya dengan benar. Setara pula dengan laku berbuat kerusakan. Dan kitab suci telah melarang hamba Allah untuk berbuat kerusakan di muka bumi.

Butuh waktu lama, tetapi sungguh tak ada yang sia-sia. Yang penting bergerak dan bekerja. Masalah hasil diserahkan saja kepada Allah. Bagi saya itu sudah cukup. Pun bagi saya, menjaga kualitas air adalah menjaga kualitas religiositas. Menjaga nilai-nilai kehidupan abadi di atas tanah tempat berpijak manusia. Itu harta karun yang paling berharga.

***

Riza Almanfaluthi

06 Januari 2013

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba Anugerah Jurnalistik 2012 dengan kategori Karya Blogger.

    

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s