Inklusi Kesadaran Pajak: Investasi Masa Depan


Sampai kapan kepatuhan pajak Indonesia rendah? Indikator berupa rasio pajak di tahun 2016 masih di bawah 11%. Ini menjadi permasalahan besar karena menyangkut kesadaran masyarakat dalam membayar pajak.

Selama masyarakat belum sadar pajak maka seberapa pun keras usaha yang dikerahkan untuk mengumpulkan pajak maka akan sia-sia saja. Oleh karenanya perlu perubahan perilaku masyarakat dalam membayar pajak.

Baca Lebih Lanjut.

Kemenristek Dikti: Membayar Pajak Bukti Cinta Tanah Air


Pendidikan tinggi punya misi untuk menghasilkan lulusan yang tak sekadar berilmu namun juga berkarakter. Cinta tanah air adalah salah satu karakter itu dan membayar pajak bukti dari cinta tanah air.

“Hal yang terakhir itu kuncinya ada di soft skill,”  tutur Edi Mulyono, Kepala Subdirektorat Pendidikan Vokasi dan Profesi, Direktorat Pembelajaran, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) saat menjadi pembicara mewakili Direktur Pembelajaran dalam acara Training of Trainer Inklusi Kesadaran Pajak dalam Pendidikan di Hotel Grand Mulya Bogor, Rabu (12 Juli 2017).

Baca Lebih Lanjut.

Akar Masalah Rasio Pajak Rendah, Ini Kata Ditjen Pajak


Indikator rasio pajak yang masih rendah membuat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak masih terus berupaya meningkatkan penerimaan perpajakan. Muncullah kemudian Reformasi Perpajakan untuk mencari akar permasalahannya.

“Ternyata akar masalahnya ada di masyarakat kita yang belum memiliki budaya atau kesadaran membayar pajak,” kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama saat membuka acara Training of Trainers Inklusi Kesadaran Pajak dalam Pendidikan di Grand Mulya Hotel, Bogor, Rabu (12 Juli 2017).

Baca Lebih Lanjut.

Buku Puisi


Saya tak percaya diri menuliskan ini.

Suatu ketika saat saya masih di Tapaktuan, saya berlari pagi dengan jadwal yang ditetapkan di hari Minggu. Jam enam pagi waktu Tapaktuan masih gelap. Saya bergegas untuk pemanasan. Lalu tak lama saya sudah menyusuri jalanan yang sepi itu. Menyusuri beberapa toko dan warung kopi di pinggir jalan dengan mewangi biji kopi yang sedang dimasak, menaik di tanjakan tebing, dan menyusuri pantainya.

Dan pada sisi jalan yang terbuka dengan bibir pantainya yang dekat dengan jalanan itu, lari saya selalu melambat. Saya selalu tak bisa memalingkan pandangan dan pendengaran dari ombak dan derunya yang tak pernah habis. Di saat itu pace saya menurun. Hela dan hembus nafas menjadi terdengar lebih kencang, semata benar-benar untuk mengusir sepi yang menerkam. Tapi saya kembali sadar untuk segera menyelesaikan semua yang telah dimulai. Apa yang dimulai, pantang untuk kembali.

Segera ketika finis, saya minum air banyak-banyak, masak-masak ala kadarnya, dan mengambil buku untuk segera trans dan masuk ke eskapisme yang lain. Kini, saat ini, di kota yang tak pernah tidur ini, buku tetap menjadi eskapisme saya. Apa yang dimulai, pantang untuk diakhiri di tengah jalan. Halaman buku ini mesti diselesaikan semuanya. Tapi itu bukan buku puisi.

Kalau yang terakhir ini, saya hanya bisa berujar:

“Nanti tolong, buku puisi yang kaupinjam itu, kembalikan lagi kepadaku, dengan seluruh judul dan isi puisi di sana kauganti semua dengan namamu.”

 

***
Dedaunan di ranting cemara
Riza Almanfaluthi
Citayam, 15 Juli 2017

Pandai Besi di Sebuah Desa



Ada sebuah rutinitas yang mesti saya kerjakan malam ini. Freeletics Kentauros. Saya sudah menginjak ronde ketiga. Ada burpees yang mesti saya lakukan sebanyak 40 repetisi. Dengan keringat yang mengurapi sekujur tubuh, pada itungan kesebelas, ketika dada dan hidung saya menempel lantai, tiba-tiba saya berhenti. Saya tak kuasa mengangkat tubuh. Otak saya memerintahkan sekujur tubuh untuk diam dengan menyungkurkan wajah di lantai sepenuhnya. Ini lama sekitar satu menit.

Ada benang-benang, kunang-kunang, berang-berang, musang, kukang, cupang, belalang, teripang, kijang, dan congcorang memenuhi batok kepala. Ah, konotasi lagi. Denotasi setengah konotasinya adalah seperti ketika kita diajak berbicara oleh orang lain dan kita pun serius menyimaknya lalu tiba-tiba pandangan kita beralih ke tempat lain dengan kosong. Lalu ada logika saya yang menjadi Che Guevara. Ayo revolusi. Lalu saya bangkit dan menyelesaikan tuntas sampai repetisi terakhir.

Saya jadi teringat satu kalimat Haruki Murakami dalam What I Talk about When I Talk About Running. Begini kalimatnya: “Aku hanya seperti pandai besi di sebuah desa yang dengan tekun melakukan pekerjaannya.” Izinkan malam ini di tengah deru suara kereta api yang melaju ke selatan di kegelapan untuk menambahkan beberapa kalimatnya.

Aku hanya seperti pandai besi di sebuah desa, yang dengan tekun melakukan pekerjaannya. Mengumpulkan logam gelora, arang kayu kehilangan, daun hijau harapan, dan pecahan kaca ingatan. Menempa logam itu dengan godam bisu dan pemalu, membakarnya dalam api pertanyaan yang menjulang-julang. Sembari melirihkan selembar doa yang putih. Bening. Cahaya. Wangi.

Jadilah ia bilah pedang puisi untuk membelah jiwa yang sembunyi.

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Pinggir kali, 14 Juli 2017.

Di Resto



di resto yang melati
berteman pahit kopi
aku menunggu puisi,
ia tak juga ke sini

lalu kumenunggu
di satu bangku taman
tempat ia termangu,
tak pula kelihatan

hari hampir pagi
ia datang pelan-pelan
kupanggil ia lari
aku tinggal sendirian

di kolam renang mimpi
ia sedang bersembunyi
sembari merenangi
air matanya sendiri .

***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
pinggir kali, 13 Juli 2017

Di Bawah Bayang


Seringkali aku belajar pada puisi, ia guru yang sabar mengajariku cara menempatkan gerimis yang ritmis dan jatuhnya rindu di sela-sela dedaunan pohon mangga.

​Paling jauh aku diminta puisi,  guru yang sederhana, untuk memilih, membongkar-pasang, menghapus deretan kata-kata atau sekadar baiknya menaruh titik dan koma.

​Tapi dari semua itu, aku bisa belajar pada puisi, guru yang rendah hati dan tahu bagaimana cara terindah menyembunyikan mahaduka di sela-sela rerimbunan kata.

 

​***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Lantai 16, 11 Juli 2017

Percakapan Bubuk Kopi



kita memesan dua gelas kopi instan kepada ibu pedagang minuman di depan stasiun itu sambil melihat lalu lalang, untuk bersama menikmati butiran pahit dan menyesali gula-gulanya.
​tapi kita tahu tak ada yang kebetulan dari semua persuaan ini serupa percakapan bubuk kopi dan panasnya air di suatu gelas, kini, agar waktu tak cepat pulang ada yang terus mengiba.

:​tenggelamlah ke dasar gelas, bercengkerama dengan ampas, dan kembalilah lekas-lekas.

 

​***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Stasiun Cawang, 10 Juli 2017

Samin dan Sri Mulyani


Selama hidup Samin tidak pernah membayar apa yang dinamakan pajak. Sekarang lebih-lebih lagi. Sekali ada pejabat datang ke rumahnya.

“Kau tahu bukan apa artinya pajak?”

“Belum.”

“Pajak itu berarti pengakuan atas keberadaan negara. Mengerti? Kau mengakui tidak keberadaan negara itu?”

“Samin sudah setengah abad lebih adanya, tetapi belum pernah ada yang membayar apa yang dinamakan pajak itu.”

“O, kalau begitu kau tidak mengerti apa itu negara.”

“Negara itu jantan atau betina? Sungguh, seumur hidup aku belum pernah melihat. Heran juga, tahu saja belum, sudah disuruh membayar pajak. Apa Samin dianggap gudang uang atau buyutnya, yang sembarang waktu bisa dimintai.”

Baca Lebih Lanjut.

Jangan Pernah Ragu dan Sangsi


Apa yang kita lakukan setelah berharap dan berdoa kepada-Nya? Ini soal “No Doubt”.

Kalau sudah meminta apa saja kepada-Nya, walau sesuatu yang mustahil, ada kerja yang harus kita lakukan: jangan pernah meragukan-Nya. Jangan pernah menyangsikan-Nya.

Yang terpenting darimu–kata Ibnu Athaillah– bukanlah bentuk permohonanmu, tetapi kesadaranmu bahwa Dialah yang memenuhi kebutuhanmu. Kamu sungguh tidak sopan bila kamu memperlakukan-Nya seperti makhluk-Nya.

Jika kamu sudah meminta, berserahlah kepada pemberian-Nya. Tak perlu mempertanyakan-Nya seperti kebiasaanmu kepada makhluk-Nya. Allah menjawab semua permohonan hamba-Nya, di mana dan kapan pun hamba-Nya berada. Dia lebih dekat denganmu daripada urat lehermu sendiri.

Coba perhatikan “default” ini: Allah menjawab semua permohonan hamba-Nya. Sekarang atau nanti. Cepat atau lambat.

Di hari penghisaban, seorang hamba terkejut mendapatkan hadiah yang mahadahsyat dari Allah. Ia mendapatkan limpahan pahala yang tidak terduga dan tidak tahu dari mana ia mendapatkannya.

Hamba itu bertanya-tanya, “Ini atas kebaikan yang mana? Ini apa?” Padahal selama hidupnya di dunia ia tidak melakukan amal-amal besar.

Lalu ia diberi tahu. Itu semua atas doa-doanya yang setiap waktu ia panjatkan namun belum dikabulkan Allah di dunia. Dan sekaranglah, di waktu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya ia mendapatkan sesuatu yang tak tepermanai. Allah Mahabesar.

Jika ada karib yang meminta doa kepada kita, maka ini sebuah kesempatan besar buat kita sendiri menanam tabungan untuk kehidupan kita di sana. Dengan juga tetap berharap bahwa doa kita dikabulkan segera untuk karib kita itu.

Maka, sesungguhnya berdoa adalah ruang kecil buat kita meminta segala kepada-Nya. Lalu berserah dan tak meragukan-Nya. Jika kamu sudah bersaksi, mengapa masih sangsi?

Pada pagi ini, ada bisik-bisik doa untukmu. Doa kebaikan. Pun, apakah engkau sudah berdoa, Sayang?


***
Riza Almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
Buitenzorg, 2 Juli 2017
Buat yang lagi perjalanan balik banyak-banyaklah doa di sepanjang perjalanan.

Top of Form