Seberapa Dashrath-nya Kita?



What I did is there for everyone to see. When God is with you, nothing can stop you.

Dashrath Manjhi

Kalau ada orang yang ingin membuktikan seberapa besar kekuatan cinta maka banyak sejarah telah menuliskannya. Kalau ada yang ingin tahu dahsyatnya cinta menghancurkan gunung, maka Dashrath Manjhi telah membuktikannya.

Selama 22 tahun—dari tahun 1960 sampai 1982 Dashrath Manjhi seorang diri menghancurkan gunung dengan hanya berbekalkan tali, palu, dan alat tatah. Di desa miskin Gehlaur, dekat Gaya di negara bagian Bihar orang-orang telah menganggapnya gila. Tapi Dashrath dengan tekad bulat tak memedulikan semua cemooh itu karena ia tahu betul apa tujuannya.

Banyak orang menganggap pekerjaannya mustahil tapi tekad luar biasa Dashrath membuktikan sebaliknya. Gunung batu itu ia hancurkan agar terbentang jalan yang menghubungkan desanya dengan desa sebelahnya.

Apa yang membuatnya mampu melakukan semua itu? Istrinya, Falguni Devi tergelincir saat berjalan menyeberangi gunung itu ketika akan mengantarkan makanan buat Dashrath. Terlambatnya pertolongan medis karena jarak yang jauh dengan rumah sakit yang berada di desa di balik gunung itu membuat Falguni Devi tak tertolong lagi dan meninggal dunia.

Dashrath tak mau itu terulang kepada yang lainnya dan sebagai persembahan cinta kepada istrinya ia mulai memotong gunung itu. Ini serupa Taj Mahal yang dibuat oleh ribuan orang selama 25 tahun sebagai persembahan cinta dari Shah Jahan—Kaisar Mughal di India—kepada istri ketiganya, Arjumand Banu Begum.

Kegigihan The Mountain Man ini membuktikannya. Dashrath memahat jalan sepanjang 110 meter, sedalam 7,6 meter, dan selebar 9,1 meter. Gunung batu yang menghalangi kedua desa dan membuat jarak antara Atri sampai Vazirganj sepanjang 50 kilometer menjadi pendek hingga 8 kilometer saja.

Kisah nyata ini difilmkan di tahun 2015 dengan judul Manjhi: The Mountain Man. Dan menurut saya ini film india yang layak ditonton setelah 3 Idiots.

Di Indonesia ada orang seperti Dashrath. Namanya Abdul Rozak. Tinggal di daerah yang sama terpencilnya dengan desa Dashrath yaitu Kampung Pesanggrahan, Desa Neglasari, Kecamatan Panca Tengah, Kabupaten Tasikmalaya.

Kampung Pesanggrahan berada di daerah perbukitan kering dan tandus. Hanya memiliki sawah yang ditanami para penduduknya dengan sistem tadah hujan. Padi hanya ditanami setahun sekali. Tentu permasalahan utama adalah ketersediaan air.

Pada tahun 1970, sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakberdayaan, Abdul Rozak membuat bendungan di sebuah sungai kecil untuk dimanfaatkan sebagai irigasi dan pembangkit tenaga listrik. Abdul Rozak menimbun sungai dengan batang pisang dan pepohonan lain untuk menaikkan permukaan air sungai.

Sambil mencetak petak sawah Abdul Rozak terus menyempurnakan bendungan dan saluran airnya. Bahkan ia membuat saluran air melalui tebing sepanjang tiga kilometer dan dengan bantuan 15 orang membuat terowongan sepanjang 180 meter untuk memperluas distribusi air.

Setelah tujuh tahun berlalu dan menghabiskan dana swadaya sekitar Rp 14 juta disertai ancaman cerai sang istri karena menggunakan harta warisan untuk membiayai pembuatan terowongan itu, saluran air yang melingkar di tebing jurang akhirnya dapat dialiri air dan mengairi sawah seluas 30 hektar.

Masyarakat yang semula mencemoohkannya mulai menuai manfaat dengan panen padi sawah tiga kali per tahun dan rumah-rumah penduduk pun mendapat penerangan listrik.

Atas usahanya yang tak mengenal lelah Abdul Rozak diganjar dengan penghargaan Kalpataru Perintis Lingkungan di tahun 1987.

Dashrath dan Abdul Rozak sama-sama ditertawakan dan dianggap gila saat mengerjakan pekerjaan itu. Tapi kekuatan tekad mampu mengalahkan semuanya. Pekerjaan yang dianggap mustahil bisa dikerjakan. Makanya ada pepatah yang mengatakan where there will be, there is a way.

Miniatur pekerjaan Darshat dikembarkan oleh Bapurao Tajne di Desa Kalambeshwar, Distrik Washim, Negara Bagian Maharashta, India. Setelah istrinya dihina oleh pemilik sumur yang berkasta lebih tinggi karena sering mengambil air di sumur itu, Tajne akhirnya membeli peralatan menggali untuk membuat sumur. Seperti Dashrath ia dicemooh sebagai orang gila oleh penduduk kampungnya bahkan oleh istrinya sendiri.

Selama 40 hari dengan menyisihkan waktu 6 jam dalam sehari untuk menggali ia akhirnya menemukan sumber air. Sekarang, istri dan penduduk desa sudah tidak perlu berjalan lebih dari satu kilometer untuk mencari air sambil dihina dina serta tidak bergantung lagi dengan sumur dari kasta lain.

Irisan sama dari ketiga manusia luar biasa ini adalah mereka menjadi kuat ketika mereka memperjuangkan apa yang diyakininya. Apalagi kalau yang diperjuangkannya itu adalah sebuah cinta. Mereka juga tidak berputus asa dengan banyaknya hambatan yang menghalangi perjuangan itu, karena mereka sadar sejatinya perjuangan itu memang butuh pengorbanan. Ada keringat, darah, dan air mata di antaranya.

Segala sesuatu akan menjadi mungkin kalau kita memang mau mengerjakannya. Jikalau hanya dipandangi tanpa melakukan perbuatan apapun mimpi itu tidak akan pernah menjadi nyata. Mereka berusaha, mengerjakan, dan terus bekerja walau dicemooh hingga mimpi itu terwujud.

Akhirnya kalau kita punya mimpi dan ingin mewujud maka perjuangkanlah, fokus, dan konsisten. Itu pun jika kita punya mimpi. Bagaimana pula kalau mimpi saja kita tidak berani?

Sekarang, seberapa Dashrat-nya kita dalam memperjuangkan cinta? Seberapa Dashrath-nya kita dalam meraih mimpi-mimpi kita? Seberapa Dashrath-nya kita dalam dicemooh, berkeringat, dan berdarah-darah? Seberapa Dashrath-nya kita? Seberapa?

***

Riza Almanfaluthi

Dedaunan di ranting cemara

Tapaktuan, 20 September 2016

Gunung saja bisa hancur, apatah lagi tumpukan lemak.

 

Advertisements

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s