Jangan Menjelaskan Ini kepada Ekonom dan Politikus


Selama satu abad terakhir atau lebih, para akademikus telah memberi umat manusia kemajuan-kemajuan ilmiah luar biasa di hampir semua bidang studi…kecuali satu.

Satu paragraf itu menjadi lead yang menarik dari Bab Pendahuluan yang ada dalam buku Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh. Peter D Schiff dan Andrew J Schiff menulis buku ini dan terbit pertama kali pada 2010. Baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2016.

Baca Lebih Lanjut

Advertisements

BERTEMU MARK TWAIN


BERTEMU MARK TWAIN

Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.

Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.

Pembaca, setelah tiga bulan hanya menjadi ‘perusuh’ yang bisanya cuma meminta pedagangnya mengambil buku yang ingin saya lihat lalu mengecewakannya karena saya tidak jadi beli, saya menemukan buku yang masih terlihat baru. Masih terbungkus dengan plastik dari sananya. Harganya 20 ribu rupiah. Saya tawar 10 ribu pedagangnya tidak mau. Akhirnya sepakat di harga 18 ribu rupiah.

Judulnya Petualangan Tom Sawyer karangan Mark Twain diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Sepengetahuan saya buku itu adalah buku cerita klasik Amerika yang ditulis oleh penulisnya di tahun 1800-an.

Setelah buku itu di tangan, saya tidak langsung membacanya. Saya baca buku itu di rumah. Dan dari catatan pengantar Kang Ajip Rosidi, Mark Twain adalah jagoan humor Amerika yang dapat memberikan kegembiraan kepada para pembacanya. Dan saya mendapatkan buktinya. Saya sudah mendapatkan keceriaan dan tawa yang tak tertahankan di setiap babnya.

Baru empat bab buku itu saya baca, saya sudah mendapatkan kesimpulan bahwa buku ini bagus sekali. Pantas saja kisah ini terkenal sekali di seluruh pelosok dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di Indonesia sudah diterjemahkan di tahun 1930-an oleh Abdoel Moeis untuk Balai Pustaka. Buku yang saya beli ini pun cetakan pertamanya di tahun 1973 diterjemahkan oleh Djokolelono.

Akhirnya saya berkeinginan, nanti setelah buku ini selesai saya baca, saya akan memburu buku Mark Twain lainnya, pasangan dari Petualangan Tom Sawyer ini yaitu buku yang berjudul Petualangan Huckleberry Finn. Atau tulisan dari Julius Verne yang terkenal seperti Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Duapuluh Ribu Mil di Bawah Laut. Karena saya yakin kalau kisah klasik itu masih bertahan berabad-abad setelah penulisnya meninggal, pasti sudah menjadi jaminan mutu bagi pembacanya.

Ada satu pelajaran buat saya. Kesabaran menunggu, tak menuruti hawa nafsu, selalu berbuah manis. Kesabaran saya untuk tidak membeli buku sampai benar-benar ada buku yang membuat saya tertarik membacanya, lalu dengan merenda asa setiap sorenya berharap ada buku bagus di lapak itu, ternyata kemarin sore berbuah hasil. Kini, saya masih tetap berharap menemukan jendela dunia yang bermutu itu di sana.

Yang pasti bagaimana kesabaran itu harus diterapkan oleh saya untuk hal lain. Yaitu menunggu KRL yang jadwalnya tidak pasti. Apatah lagi KRL Ekonomi yang kastanya lebih rendah daripada Ekonomi AC dan Ekspress. Untuk hal yang ini saya masih angkat tangan.

Ayo, membaca…!

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:21 05 Juni 2009

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari


 

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Terjemahan                                : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Asli                                  : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah

Penulis                 : Abdul Karim Zaidan, Dr.

Penerjemah       : Muhyidin Mas Rida Lc.

Penerbit              : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

Cetakan               : Pertama, Februari 2008

Tebal                     : xxxii + 280 hlm

·         Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;

·         Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;

·         Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;

·         Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;

·         Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;

·         Diperbolehkan membunuh para pemberontak;

·         Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.

(kaver depan)

***

                Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan, keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang,  atau kaedah suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya.

                Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.

                Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.

                Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna,  dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya.

                Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03).

                Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan catatan singkat yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia  merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan tsaqofah (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga.

Riza Almanfaluthi

Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008

dedaunan di ranting cemara

https://dirantingcemara.wordpress.com

               

Perkenalkan Nama Saya: HEDONIS


17.01.2006 – Perkenalkan Nama Saya: HEDONIS

Sudah menjadi Hedoniskah Kita……………..?

Dalam suatu program yang ditayangkan setiap malam minggu oleh salah satu stasiun tv, dibahas tuntas tentang kemewahan dunia yang dimiliki para pengusaha dan selebritis dunia. Di tampilkan pula tentang kehidupan mereka dari pagi hingga malam dengan surga dunianya, mulai dari istananya , perabotannya, jet pribadinya, mobil-mobilnya dan banyak lagi yang lainnya.

Salah satunya adalah seorang pengusaha keturunan Arab yang mempunyai kerajaan bisnis di Spanyol. Begitu banyak mobil mewah yang ia punyai mulai dari Lamborghini sampai Jaguar, dari yang terkuno sampai yang paling canggih. Semuanya terparkir di Istananya di selatan Spanyol bak sebuah showroom. Satu lagi ia mempunyai sebuah mobil kuno yang kini tiada duanya di dunia, tentu ini berarti betapa mahalnya mobil tersebut. Belum lagi istana dengan puluhan kamar mewahnya. Dan saya yakin mobil atau kamar itu tak semuanya terpakai.

Tak lupa di akhir acara itu dilukiskan pula bagaimana kehidupan sosialnya dengan warga masyarakat sekitar. Ia membangun sebuah masjid besar dan indah, serta menyumbang berbagai macam kepentingan publik. Pokoknya ia digambarkan sebagai sosok dermawan bagi kota itu.

Ada lagi sosok kaya lain yang berasal dari salah satu negara teluk. Ia begitu membanggakan perhiasan emasnya yang begitu berlimpah, rumahnya yang besar, isri yang cantik dan lain sebagainya. Pokoknya semua keindahan dan kenikmatan dunia ada pada orang tersebut. Yang entah kapan kita akan dapat menikmatinya, kecuali di Surga nanti (itupun kalau kita pantas mendapatkannya).

Sekarang mari kita lihat di Ethiopia, Palestina, Bangladesh, atau Indonesia, di mana kemiskinan sudah menjadi keseharian di sebagian besar penduduknya yang mayoritas muslim. Untuk memenuhi kebutuhan dasarnya—pangan, sandang, papan—saja mereka harus bersusah payah. Bila mereka tak sanggup, lalu putus asa, maka jalan pintas dengan bunuh diri menjadi solusi. Na’udzubillah.
Lalu apa hubungannya antara orang kaya yang disebut di awal tadi dengan kemiskinan yang begitu mencolok di sebagian negara tersebut? Adalah suatu ketimpangan. Ketimpangan yang seharusnya tak pernah terjadi. Yang membuat saya tambah miris lagi adalah ternyata banyak dari mereka yang bertampang Arab dan mengaku Islam.

Dalam Islam, kemiskinan merupakan tanggung tanggung kawab sosial bagi orang-orang yang mampu dan juga merupakan tanggung jawab agama. Apakah mereka tidak mempunyai kepekaan tentang keadaan umat? Sedangkan kemubadziran selalu mereka abadikan dalam setiap detak jantung mereka.

Kita bisa lihat betapa ketika negara-negara penghasil minyak tersebut mulai menghasilkan miliaran dollar dari emas hitamnya, jalanan di Paris terutama di sebuah jalan yang terkenal dengan pusat mode dunianya dipenuhi para emir berjubah dan wanita yang ber-abaya hitam.
Bank-bank di Eropa pun mulai kebanjiran dana dengan banyaknya deposito yang ditanamkan di sana dengan bunga yang tidak mereka ambil. Gaya hidup hedonisme pun bermunculan di negara-negara teluk yang sekitar sembilan puluh tahun lalu masih hidup dengan peradaban nomadennya.

Benar apa yang pernah dikatakan oleh Rosululloh bahwa satu yang dikuatirkan yang akan terjadi pada umatnya adalah kemewahan dunia yang menyilaukan. Ibnu Khaldun –rahimahulloh- dalam Mukadimah-nya berkata: ”Kehidupan mewah (jetset) merusak manusia. Ia menanamkan dalam diri manusia berbagai macam kejelekan, kebohongan, dan perilaku buruk lainnya. Nilai-nilai yang baik yang notabene merupakan tanda-tanda kebesarannya hilang dari mereka dan berganti dengan nilai-nilai buruk yang merupakan sinyal kehancurannya dan kepunahannya. Itulah di antara ketentuan Alloh yang berlaku pada makhluk-Nya yang menjadikan negara sebagai ajang kedzaliman, merusak strukturnya dan menimpakan penyakit kronis berupa ketuaan yang membawa kepada kematiannya.”(Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998:34)

Apa yang akan diperoleh dari suatu negeri yang hedonismenya begitu berurat berakar? kita lihat di Qur’an Surat Al-Isra ayat 16:
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menaati Alloh) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Kenyataan apa pula yang akan didapat oleh para hedonis itu? Wahn, ya Wahn itulah yang akan mereka peroleh. Cinta dunia dan takut mati. Dan mereka tidak , akan memperdulikan siapa pun, yang mereka pikirkan bagaimana kesenangan itu akan tetap abadi dengan mereka.
Padahal dengan segala kekayaan yang dimilikinya itu semua bisa untuk mengentaskan dan membawa maju kembali Islam dan umatnya kepada peradaban yang tinggi dan gilang gemilang. Apalagi dengan adanya dua organisasi besar umat Islam yakni OPEC dan OKI. Seharusnya dengan adanya dua organisasi itu umat bersatu dan mendapatkan manfaatnya yang lebih besar. Sungguh luar biasa.
Namun apa yang terjadi? OPEC dan OKI sekarang ini sudah tak mempunyai gigi taring lagi setelah era Faisal bin Abdul Aziz yang pernah menggunakan minyaknya sebagai alat untuk menekan Amerika dan sekutunya pada tanggal 6 Oktober 1973. Produksi minyak dikurangi dan pengirimannya ke Amerika Serikat dan Belanda dihentikan. Kebijaksanaan ini diikuti oleh beberapa negara Arab lainnya, sehingga harga minyak melonjak dan melumpuhkan banyak negara industri.(Ensiklopedi Islam Jilid I, 1999:162)

Sekarang apa yang dikatakan oleh para emir itu ketika mereka diminta untuk memboikot dan mengontrol minyaknya? “Tak semudah membalikkan telapak tangan….”, kata mereka. Padahal Raja Faisal pernah mengatakan sebuah kalimat yang sekarang amat terkenal ketika ditekan oleh Amerika Serikat untuk segera melepas aksi embargo minyaknya, kurang lebihnya demikian: “siapa yang butuh minyak, merekalah yang butuh minyak, kami tidak membutuhkannya, dan kami siap untuk kembali ke zaman onta.” Semoga Alloh memberikan kelapangan padanya.

Entahlah, ketika para penerusnya tidak bisa berbuat apa pun untuk dunia Islam ini. Entahlah mereka yang berada di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi. Dalam tataran kebijakan yang akan diambil oleh suatu negara mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika Saddam dengan seenaknya menganeksasi Quwait—sehingga mereka harus meminta bantuan Amerika Serikat dan sekutunya yang jelas-jelas tidak seiman.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara-saudara mereka di Bosnia dan Chechnya terbantai—hanya Malaysia yang jauh di ujung timur saja mau menerima para pengungsi Bosnia. Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika banyak dari mereka yang merasa terdiskriminasi ketika mereka berada di Amerika Serikat pasca 11 September.
Mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika saudara-saudara mereka dihujani berton-ton bom di Afghanistan, mereka tak bisa berbuat apa-apa ketika ratusan anak di Irak mati setiap harinya karena kelaparan, dan masih banyak lagi yang lainnya gemingnya mereka.

Sekali lagi mereka tak berbuat apa-apa dalam tataran kebijakan yang akan diambil oleh negara, dan ternyata yang berbuat nyata dari mereka adalah NGO-NGO nya, atau bahkan individual-individual mereka yang tergerak membantu saudara-saudaranya. Yang nyata adalah aksi boikot dari sebagian warganya terhadap produk Amerika Serikat dan Israel, itupun hasil dari kesadaran sendiri bukan hasil dari suatu kebijakan yang ditempuh negara mereka. Jadi apa yang terjadi pada para emir kita yang ada di tanah sana. Wahn kah mereka…?

Kita tak bisa menuduh mereka tanpa kita mengoreksi terlebih dahulu tentang keadaan kita di sini . Di negara yang kaya akan sumber daya alamnya, firdausnya bumi yang kini tetap bertahan untuk tetap hidup setelah lebih dari setengah abad yang lalu merdeka, setelah hampir delapan tahun berlalu dari pesta akbar terakhirnya, yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Apakah hedonisme itu ada di negara kita ini…?
Tak usah jauh-jauh melihatnya, tonton acara televisi kita, sepertinya tak ada krisis di negeri ini, atau bagi yang setiap harinya berkeliling di Jakarta sering melihat begitu banyaknya mobil yang harganya di atas satu milyar berseliweran di jalanan. Atau di sekitar segitiga emas Jakarta, restoran mahal sepertinya tak pernah sepi dari pengunjung di setiap siang atau malamnya. Sekali lagi terasa tidak ada krisis.

Apa salahnya mereka membelanjakan hartanya untuk kesenangan dunia mereka setelah bekerja keras untuk mendapatkan semuanya. Tidak ada yang salah. Kita sebagai muslim tak ada salahnya pula menikmati hidup mewah. Islam tidak menganjurkan untuk selalu hidup menderita dan melarat serta tidak berpakaian trendi.

Ibnu Jauzi meriwayatkan dari Yazid bin Harun yang berkata bahwa Asma’ pernah mengeluarkan jubah yang di border dengan dibaj dan berkata: “Dengan jubah inilah dulu Rosululloh sholallohu alaihi wa sallam menemui musuh-musuhnya”. HR Ahmad dan Abu Daud. Jadi penampilan dengan sedikit mewah dibenarkan untuk tujuan menerima tamu undangan dan psy war terhadap musuh-musuhnya. Yang dilarang ialah hanyut dalam kemewahan sebagai gaya hidup dan dasar negara. (Muhammad Sayyid Al-Wakil, 1998: 36-37).

Apakah hedonisme ada pada sebagian pemimpin kita? Apakah tidak cukup bukti dengan adanya pesta tahun baruan di Bali yang menghabiskan uang 10 miliyar dan ulang tahun sebuah partai politik dengan dana 1,4 miliyar, atau konser-konser mahal lainnya? (Sabili 14 Th.X:112), atau penyelenggaraan pesta pernikahan super mewah di hotel? Kalaupun hedonisme itu tak masalah, tapi layakkah itu semuanya dilakukan pada saat anak bangsa ini begitu menderita dengan banyaknya kenaikan harga bahan kebutuhan dasar? Ketika kemiskinan sudah menjalar ke semua sendi kehidupan.

Sekarang kita nilai diri kita sendiri, yang bekerja di sebuah direktorat di departemen ternama di republik ini. Jangan-jangan gaya hidup itu sudah menjangkiti kita. Apakah kita sering berganti-ganti handphone seiring dengan perkembangan trendnya? Atau kita sudah merasa tidak cukup untuk memiliki satu handphone?
Atau dengan mobil yang mentereng itu yang kayaknya sudah bosan untuk kita pakai. Atau dengan pakaian dan ikat pinggang yang kesemuanya harus bermerek? Atau dengan gaya hidup kita yang harus selalu makan siang di luar kota dan kembali pada saat jam kantor sudah menunjukkan jam empat sore?
Atau dengan gaya hidup kita yang malu untuk memakai pakaian yang sama di setiap resepsi sehingga memaksa kita untuk mempunyai pakaian yang harus baru?—sedangkan jika dipikir-pikir kalau memaksakan demikian kayaknya kita layak disebut orang yang simpatik (simpanse pakai batik, maaf), karena tidak mau tahu akan keterbatasan yang kita miliki.
Jadi, pikirkan gaya hidup yang manakah yang sering kita lakukan tanpa memikirkan keadaan sekeliling kita. Gaya hidup yang sering menimbulkan kemubadziran dan kesia-siaan, gaya hidup yang memaksakan diri, gaya hidup yang pada akhirnya lupa akan kesyukuran kita, gaya hidup yang membawa kita pada kufur nikmat, gaya hidup yang menjauh dari sifat qona’ah, gaya hidup materialisme, gaya hidup yang memandang dunia sebagai ukuran, gaya hidup yang bersumber dari harta yang tidak jelas; gaya hidup yang melupakan kematian, dan semua gaya hidup yang melupakan cinta-Nya.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu; sampai kamu masuk ke dalam kubur; janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu); dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui; janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin; niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahim; dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin; kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). QS At-Takaatsur:1-8.

Jadi ketika hati kita sudah tak tersentuh dengan segala ketidakadilan yang dialami umat di seluruh penjuru bumi ini, maka kita perlu instrospeksi diri kita, jangan-jangan hedonisme itu sudah menjadi darah daging kita, jangan-jangan wahn itu telah menjadi sumsum tulang kita. Kita berlindung dari semuanya itu.

Sekarang apa yang kita harus lakukan untuk memerangi hedonisme itu? Apakah cukup dengan perintah petinggi kita kepada bawahannya untuk memboikot acara pesta pernikahan—yang juga termasuk anak buahnya—karena diselenggarakan di sebuah ballroom hotel berbintang ? (memenuhi undangan pernikahan itu wajib, tapi kita berhak juga untuk tidak datang ketika di pesta itu diperkirakan banyak kemaksiatan, dan kalaupun kita berniat tidak datang, niatkan karena itu, bukan karena takut tidak memenuhi perintah atasan dan nantinya DP3 kita akan jelek).

Contoh di atas sudah cukup baik—karena mulai dari yang di atas terlebih dahulu—tetapi akan lebih baik lagi ketika para atasan juga secara makro menciptakan sistem yang anti hedonisme, sistem yang tidak menjadikan setoran sebagai alat ukur dari keberhasilan seseorang.
Yang paling penting adalah diri kita sendiri untuk mulai saat ini tidak berlaku hedonisme. Sering memandang ke bawah dalam hal keduniawian, dan selalu memandang ke atas dalam prestasi kerja dan keakhiratan. Atau kejarlah duniawimu seakan-akan kau akan hidup selamanya dan kejarlah akhiratmu seakan-akan kau akan mati esok hari.

Dengan berintrospeksi ini, kiranya Alloh memudahkan kita menyingkirkan hedonisme itu, dan menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang peka terhadap keberadaan umat ini. Sadar tentang akibat yang akan diperoleh bagi orang-orang yang mempunyai wahn dalam dirinya, dan sadar tentang nikmatnya berjihad—karena orang yang wahn boro-boro memikirkan jihad, memikirkan perut saudaranya sendiri pun tak kan pernah terlintas dalam benaknya.

Oh….dunia,
Indahnya engkau selalu menghalangi aku bercinta dengan-Nya
Oh…dunia,
Gemerlapmu sering melupakanku kepada-Nya
Oh…dunia,
Kapankah aku memegangmu hanya dalam genggamanku, tidak dalam hatiku
Oh…dunia,
engkau sesungguhnya tak sebanding dengan setitik debu akhirat sekalipun
tapi mengapa banyak yang masih terpesona olehmu….?
Ya Alloh aku berserah diri padamu, dan hindarkanlah aku dari kebencianmu karena aku mengatakan apa yang tidak aku lakukan, sebagaimana Engkau telah firmankan:
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?; amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. Q.S. Ash-Shaff: 2-3.
****
(untuk dua anakku yang tercinta yang sedikit tersia-sia karena aku menulis ini di sepanjang Ahad, di gerimisnya sore, di pinggiran Bojonggede, 2 Pebruari 2003).

Maroji’:
1. Alqur’anul karim;
2. DR. Muhammad Sayyid Al-Wakil, Wajah Dunia Islam: dari Dinasti Bani Umayyah hingga Imperialisme Modern, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 1998;
3. Ensiklopedia Islam Jilid I, PT Ichtiar Baru van Hoeve, 1999;
4. Sabili Edisi 14 Tahun X, 30 Januari 2003.

riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
ditulis di tahun 2003
diedit 12:52 14 Januari 2006