Buku dan Kopi Pagi


Di atas pesawat Pak Muchamad Ardani membaca buku kedua saya yang berjudul Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini. Ia kemudian menulis panjang atas pembacaannya itu di akun Facebook-nya. Buat saya itu adalah sebuah kehormatan.

Maka benarlah yang William Gibson katakan kepada kita, “Ketika Anda bertemu dengan seorang penulis, Anda bukan bertemu dengan pikiran yang menulis buku. Anda bertemu dengan tempat pikiran itu tinggal.”  Berikut testimoninya.

Baca Lebih Lanjut

Jangan Terlalu Cepat Menjadi Sixpack


Berkali-kali saya dibuat tercengang. Setelah ada yang berlari untuk mengambil buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini, kini ada pula yang memang menyengaja datang jauh-jauh-jauh ke kantor saya sekadar untuk mendapatkan buku itu. Saya merasa menerima anugerah yang luar biasa besarnya.  Kali ini Pesohor Facebook Mas Wahid Nugroho menuliskan pengalamannya di laman Facebook.

Lelaki di sebelah saya ini namanya Riza Almanfaluthi. Saya biasa memanggil beliau mas Riza. Di kalangan terbatas, beliau biasa dipanggil Ki Dalang. Soal panggilan Ki Dalang ini ceritanya bisa panjang, jadi kita lewati saja lah ya, ha ha.

Baca Lebih Lanjut

Berlari Sejauh Delapan Kilometer Pulang Pergi Untuk Membaca Buku Ini


Karena saya adalah pelari hobi, maka untuk mengambil buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini, Mas Haryo Seno menggunakan kesempatan itu dengan berlari dari rumahnya yang berjarak empat kilometer saja dari rumah saya

Maka Sabtu pagi itu ia berlari. Dering teleponnya membangunkan saya yang sedang mager (males gerak). “Saya sudah di depan rumah,” katanya. Wah, ia sudah datang.

Baca Lebih Lanjut

Testimoni: Seperti Bersua Langsung


Berikut adalah testimoni dari Edmalia Rohmani saat buku Orang Miskin Jangan Mati di Kampung Ini telah tiba dalam pangkuannya:

Saya masih dalam proses menyelami buku ini. Ketika membacanya saya seakan bersua langsung dengan sang penulis. Tulisan beliau selalu segar, informatif, dan inspiratif. Beliau adalah salah satu panutan saya dalam menulis, saya tahu saya sangat beruntung.

Baca Lebih Lanjut

Jangan Menjelaskan Ini kepada Ekonom dan Politikus


Selama satu abad terakhir atau lebih, para akademikus telah memberi umat manusia kemajuan-kemajuan ilmiah luar biasa di hampir semua bidang studi…kecuali satu.

Satu paragraf itu menjadi lead yang menarik dari Bab Pendahuluan yang ada dalam buku Bagaimana Perekonomian Tumbuh dan Mengapa Runtuh. Peter D Schiff dan Andrew J Schiff menulis buku ini dan terbit pertama kali pada 2010. Baru diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2016.

Baca Lebih Lanjut

BERTEMU MARK TWAIN


BERTEMU MARK TWAIN

Pedagang buku bekas di Stasiun Kalibata itu sudah barang tentu hapal dengan muka saya. Setiap sore sambil menunggu kereta rel listrik (KRL) yang menuju Bogor datang, saya selalu berdiri di lapaknya yang menjejerkan banyak buku dan majalah.

Beberapa tahun lalu ketika saya masih melaju dengan naik motor dan hanya sesekali naik dengan KRL, saya sempat membeli buku bagus di sana. Buku cetakan tahun 1986 itu berjudul Kerajaan Petrodolar Saudi Arabia
yang ditulis oleh
Robert Lacey. Sampai kemarin buku itu masih ada satu eksemplar lagi.

Kini setelah tiga bulan lebih menjadi pengguna KRL Depok Kalibata pulang pergi, rutinitias melihat-lihat buku itu selalu saya lakukan. Memang saya cuma melihat-lihat saja. Karena sampai kemarin sore saya belum menemukan buku yang benar-benar bagus. Walaupun murah harganya—berkisar antara 10 ribu hingga 20 ribu rupiah—saya tak mau membuang uang dengan percuma. Kalau menuruti hawa nafsu, saya inginnya membeli banyak buku di sana tapi saya khawatir buku tersebut tak terbaca dan hanya jadi aksesoris lemari belaka. Makanya saya selektif sekali. Saya hanya akan membeli buku yang benar-benar menarik dan pasti dibaca sampai selesai.

Pembaca, setelah tiga bulan hanya menjadi ‘perusuh’ yang bisanya cuma meminta pedagangnya mengambil buku yang ingin saya lihat lalu mengecewakannya karena saya tidak jadi beli, saya menemukan buku yang masih terlihat baru. Masih terbungkus dengan plastik dari sananya. Harganya 20 ribu rupiah. Saya tawar 10 ribu pedagangnya tidak mau. Akhirnya sepakat di harga 18 ribu rupiah.

Judulnya Petualangan Tom Sawyer karangan Mark Twain diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya. Sepengetahuan saya buku itu adalah buku cerita klasik Amerika yang ditulis oleh penulisnya di tahun 1800-an.

Setelah buku itu di tangan, saya tidak langsung membacanya. Saya baca buku itu di rumah. Dan dari catatan pengantar Kang Ajip Rosidi, Mark Twain adalah jagoan humor Amerika yang dapat memberikan kegembiraan kepada para pembacanya. Dan saya mendapatkan buktinya. Saya sudah mendapatkan keceriaan dan tawa yang tak tertahankan di setiap babnya.

Baru empat bab buku itu saya baca, saya sudah mendapatkan kesimpulan bahwa buku ini bagus sekali. Pantas saja kisah ini terkenal sekali di seluruh pelosok dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Di Indonesia sudah diterjemahkan di tahun 1930-an oleh Abdoel Moeis untuk Balai Pustaka. Buku yang saya beli ini pun cetakan pertamanya di tahun 1973 diterjemahkan oleh Djokolelono.

Akhirnya saya berkeinginan, nanti setelah buku ini selesai saya baca, saya akan memburu buku Mark Twain lainnya, pasangan dari Petualangan Tom Sawyer ini yaitu buku yang berjudul Petualangan Huckleberry Finn. Atau tulisan dari Julius Verne yang terkenal seperti Mengelilingi Dunia dalam 80 Hari dan Duapuluh Ribu Mil di Bawah Laut. Karena saya yakin kalau kisah klasik itu masih bertahan berabad-abad setelah penulisnya meninggal, pasti sudah menjadi jaminan mutu bagi pembacanya.

Ada satu pelajaran buat saya. Kesabaran menunggu, tak menuruti hawa nafsu, selalu berbuah manis. Kesabaran saya untuk tidak membeli buku sampai benar-benar ada buku yang membuat saya tertarik membacanya, lalu dengan merenda asa setiap sorenya berharap ada buku bagus di lapak itu, ternyata kemarin sore berbuah hasil. Kini, saya masih tetap berharap menemukan jendela dunia yang bermutu itu di sana.

Yang pasti bagaimana kesabaran itu harus diterapkan oleh saya untuk hal lain. Yaitu menunggu KRL yang jadwalnya tidak pasti. Apatah lagi KRL Ekonomi yang kastanya lebih rendah daripada Ekonomi AC dan Ekspress. Untuk hal yang ini saya masih angkat tangan.

Ayo, membaca…!

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

08:21 05 Juni 2009

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari


 

Al-Wajiz: 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Terjemahan                                : Al-Wajiz; 100 Kaidah Fikih dalam Kehidupan Sehari-hari

Judul Buku Asli                                  : Al-Wajiz fi Syarhi Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah fi Asy-Syari’ah Al-Islamiyyah

Penulis                 : Abdul Karim Zaidan, Dr.

Penerjemah       : Muhyidin Mas Rida Lc.

Penerbit              : Pustaka Al-Kautsar, Jakarta

Cetakan               : Pertama, Februari 2008

Tebal                     : xxxii + 280 hlm

·         Seseorang yang tidak mampu membayar utang, diberi tangguh sampai mampu melunasi utangnya;

·         Seseorang dalam keadaan sangat kelaparan, kemudian dia memakan makanan orang lain, maka dia harus mengganti seharga makanan tersebut;

·         Sesuatu yang haram diterima, juga haram diberikan;

·         Tidak boleh membuat bangunan yang dapat merugikan orang lain;

·         Seseorang yang merasa dirugikan, tidak boleh membalas dengan merugikan orang lain, tetapi harus lapor ke pengadilan;

·         Diperbolehkan membunuh para pemberontak;

·         Tidak boleh menutup toko yang baru karena kehadirannya dianggap merugikan toko yang lama.

(kaver depan)

***

                Mengikuti berbagai forum diskusi dan kajian tentang fikih maka kita akan sering mendapati para peserta diskusi, mentor, guru menyebutkan kaedah-kaedah fikih. Semisal kaedah bahaya tidak boleh dihilangkan dengan bahaya yang serupa, mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mendatangkan kemaslahatan, keadaan darurat memperbolehkan melakukan yang dilarang,  atau kaedah suatu yang wajib tidak sempurna kecuali dengannya adalah wajib dan masih banyak lagi contoh kaedah yang lainnya.

                Bagi yang ingin memahami lebih lanjut tentang berbagai kaedah ini biasanya harus merujuk pada kitab-kitab fikih yang terkenal. Terkadang yang dibahas hanya beberapa kaedah saja. Kebanyakan pula referensi tersebut tersedia dalam bahasa Arab. Ini tentu menyulitkan bagi mereka yang tidak mengerti bahasa itu. Maka buku terjemahan yang diterbitkan baru-baru saja ini, tentunya sangat membantu sekali bagi Anda, para penuntut ilmu ataupun siapapun yang ingin mendalami kajian kaedah fikih dalam kehidupan sehari-hari. Dan Anda tidak perlu membacanya dari awal sampai tuntas untuk mengetahui dengan segera kaedah yang diperlukan. Anda cukup dengan mencari di daftar isinya, lalu menuju halaman yang dituju, dibaca, dan dipahami. Anda dapat membaca buku ini dari kaedah mana saja. Praktis sekali.

                Penulis buku ini mengumpulkan sebanyak seratus kaedah fikih –yang tersebar dari berbagai kitab para ulama—yang bisa dijadikan sebagai dasar pengambilan suatu hukum. Kaedah fikih ini—sebagaimana disebutkan dalam pengantar penerbit—merupakan sesuatu yang sangat penting, mengingat nash-nash Al-Qur’an maupun hadits menggariskan hukum secara global, sementara permasalahan hukum dari waktu ke waktu semakin komplek dan semakin banyak, sehingga diperlukan metode dalam pengambilan hukum tersebut.

                Buku ini diawali dengan memberikan pengertian apa itu definisi kaedah secara bahasa serta perbedaan antara kaedah fikih dan hukum fikih itu sendiri. Yang menarik lagi dalam buku ini adalah di setiap kaedah yang dibahas diberikan makna,  dalil-dalil, cabang, pengecualian kaedah, serta contoh-contohnya. Ini tentunya lebih memudahkan dan memberikan penjelasan yang menyeluruh bagi para pembacanya.

                Bagi saya, kehadiran buku ini benar-benar merupakan taufik Allah yang diberikan-Nya kepada saya. Betapa tidak, dua atau tiga minggu sebelum saya membeli buku ini saya kesulitan dalam mencari kaedah-kaedah fikih yang diperlukan untuk memahami timbulnya suatu perkara dalam hukum fikih, baik di internet ataupun dalam buku-buku fikih yang saya miliki. Dan akhirnya Allah memudahkan saya dengan menemukan buku ini di suatu pameran buku Islam yang baru saja berakhir hari ini (9/03).

                Walaupun diakui sendiri oleh penulisnya bahwa kumpulan kaedah ini merupakan kumpulan catatan singkat yang berisi penjelasan sebagian kaedah fikih dalam syariat Islam dan belum ditulis secara luas serta komprehensif, setidaknya bagi dunia perbukuan Indonesia  merupakan penambahan harta karun referensi Islam yang amat berharga. Pun bagi saya dan Anda tentunya keberadaan buku ini memperdalam samudra perbendaharaan tsaqofah (wawasan) serta menuntaskan dahaga intelektualitas kita. Semoga.

Riza Almanfaluthi

Tengah malam, 00.01 WIB 10 Maret 2008

dedaunan di ranting cemara

https://dirantingcemara.wordpress.com