ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN


ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN

Judul: Elang Retak
Penulis: Gus Ballon
619 Hal. Cetakan I, Juli 2005
Penerbit: Q-Press (Kelompok Penerbit Pustaka Hidayah)
Alamat: Jalan Rereng Adumanis 31, Sukaluyu Bandung 40123 Jawa Barat, Indonesia

Novel ini saya temukan dalam tumpukan buku diskon yang dijual oleh toko buku terkenal di Depok. Sebuah buku cerita tebal yang dibanderol dengan harga cuma lima belas ribu rupiah. Tebal dan murah, dua parameter ini yang membuat saya membelinya setelah beberapa hari sebelumnya saya kosong dari aktivitas membaca.
Saya mungkin terlambat untuk membacanya dan untuk membuat sebuah tulisan tentang novel ini, oleh karena itu saya tidak akan membahas dengan mendalam apa isinya, karena sudah pernah dibahas oleh Alif di forum diskusi ajangkita, Jadi saya menulis apa yang saya rasakan setelah membacanya.
Pertama adalah masalah si penulisnya. Baru kali ini saya tidak melihat sebuah pengenalan pribadi dari seorang penulis novel. Di sana tak ada satu halaman pun sebagai kata pengantar atau biografi kecil dari penulis. Entah Gus Ballon ini adalah nama asli atau nama pena. Sungguh mengundang kepenasaran bagi saya karena novel ini bagus.
Baru pertama kali ini pula ada novel—yang seperti Alif katakan—sebuah novel thriller militer berlatar belakang operasi militer ABRI. Membacanya membuat saya berempati terhadap keadaan para prajurit yang hidup dengan keprihatinan tetapi penuh semangat perjuangan, polos dan dengan kepolosan tersebut mereka hanya menjadi pion dari sebuah ambisi politik dari para jenderal yang berkhianat dan tega untuk mengorbankan mereka.
Novel ini pun membuat saya tidak bisa beranjak dan melepaskannya dari tangan ini. Semakin bertambah banyak halaman yang terbaca semakin bernafsu untuk segera menuntaskannya. Karena seru, tegang, dan lucu. Ya, kelucuan dari seorang Jajang Nurjaman, prajurit urakan, ahli tempur, yang tidak mengenal medan (antara hidup dan mati) untuk selalu mengeluarkan gurauan.
Jajang hanyalah satu dari empat belas prajurit yang dikirim ke Pulau Kabilat di Pasifik utnuk sebuah misi khusus. Misi untuk menghancurkan batangan emas yang dimiliki oleh pemberontak yang akan ditukarkan dengan senjata dan amunisi yang dikirim oleh Jenderal Korea Utara yang korup.
Keempatbelas orang tersebut adalah prajurit-prajurit amburadul, urakan, cara berpakain seenaknya, terkesan tidak dispilin, yang dibuang dan tidak disenangi oleh kesatuan lain, tapi ganas dan tidak takut mati. Dan yang ada di markas hanya mereka pada saat itu untuk dikirim segera. Maka mereka adalah:
Sersan Kepala Peter Soselisa. Lahir di Ambon. Peraih medali keberanian dalam operasi”Trisula”, ”Seroja”. Berpengalaman dalam berbagai aksi khusus maupun gabungan. Jabqtan terakhir, instruktur kepala. Brevet: terjun bebas. Satu kali penangguhan pangkat karena tindakan indispliner dan satu kali penurunan pangkat karena melanggar perkawinan. Istrinya dua. Karena tidak tega untuk menceraikan salah satu istrinya maka ia menceraikan dua-duanya.
Sersan Mayor Fajar Sidik, mahir berbagai senjata, empat kali tugas khusus, satu kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberaniannya menolong yang luka sewaktu kontak senjata jarak dekat. Brevet: Pendaki Utama. Satu kali penundaaan pangkat.
Kopral Dua Jajang Nurjaman. Asal Ciamis. Mahir berbagai senjata. Empat tugas khusus, tiga kali aksi gabungan. Mendapat medali atas keberhasilannya melumpuhkan sebuah kubu musuh dalam pertempuran di sekitar Laga. Juga medali keberanian mencuri bendera di markas musuh sekitar Hiomar. Satu kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Satu Baringin Sinaga, lahir di Brastagi. Ahli senapan mesin. Tiga kali tugas khusus, satu kali tugas intelijen. Satu kali penundaan pangkat karena memukul seorang kapten dari kesatuan lain.
Prajurit Satu Eko Cahyono. Ahli peledak. Dua kali tugas khusus. Pernah meledakkan bahan bakar musuh di hutan Baucau. Brevet: Pendaki utama. Satu kali penurunan pangkat akibat berkelahi dengan polisi lalu lintas, gara-gara mengejek soal setoran surat tilang. Empat polisi dirawat di RS.
Prajurit Satu Margono Priambodo, lahir di Jetis, Muntilan. Ahli senapan mesin. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi SAR. Satu kali penurunan pangkat karena indisipliner.
Prajurit Dua Mansur Karim. Lahir di Solo dari ayah Arab dan ibu Jawa. Satu kali tugas khusus, satu kali aksi intelijen. Mendapat medali atas keberaniannya menawan perwira musuh. Dua kali penundaan pangkat.
Prajurit Dua Gerson Nelson, asal Flores. Ahli radio komunikasi dan sabotase. Satu kali tugas khusus. Satu kali penundaan pangkat beturut-turut, karena melanggar perintah.
Prajurit Dua Panji Kurnia. Anak pensiunan PM, lahir di Grsik. Guru ngaji di barak. Jago tembak (sniper). Satu kali tugas khusus. Brevet: penembak mahir. Satu kali penurunan pangkat karena menembak pantat penjual ganja tanpa bukti.
Prajurit Satu Ahmad Basso, asal Makassar. Dua kali tugas khusus. Batal mendapat medali. Ahli perkelahian satu lawan satu. Satu kali hukuman kurungan karena menjual ransum sebanyak setengah truk.
Kopral Satu Bram alias Ibrahim Ali fatoni, Jakarta asli. Satu kali operasi intelijen, dua kali tugas khusus. Dua kali lolos dari tawanan musuh. Ahli mekanik dan komunikasi. Brevet: Penyelam mahir. Satu kali penurunan pangkat—dua tingkat sekaligus—karena meledakkan lima truk pengangkut pasir milik pemborong yang mengganggu ketentraman sebuah desa di Tangerang. Satu kali lagi penundaan pangkat karena masuk rumah seorang lurah melalui atap, dan mengancam lurah tersebut agar membereskan masalah ganti-rugi tanah di daerah Sawangan.
Kopral Dua Jamal Ahman, ahli peledak asal Bangkalan Madura. Tiga kali aksi khusus, tiga kali terluka. Satu kali penindaan pangkat karena kabur selama 40 hari untuk menyepi di Gua Surowati—gua pertapaan Sunan Kalijaga—dan 21 hari bertapa di Batu Ageng—tempat bertapa Sunan Drajat di Paciran, Tuban.
Sersan Mayor Albertus, lima belas kali tugas khusus, delapan kali aksi gabungan, lima kali tugas intelijen, dua kali oeprasi SAR. Mahir berbagai senjata dan pertarungan tangan kosong. Semua medali dicabut. Brevet: terjun bebas. Tiga kali penurunan pangkat, dua kali penundaan pangkat, dan dua kali hukuman kurungan.
Dan Harun, tokoh utama dalam novel ini, si Bajingan, sipil, yang direkrut oleh militer karena mengenal seluk beluk Pulau Kabilat. Mahasiswa yang menjadi buronan karena telah membunuh bandar judi dan melukai seorang polisi Medan saat dirinya dikeroyok. Ia bilang ia cuma dalam rangka membela diri. Veteran perang vietnam yang direkrut oleh SEAL sebagai sukarelawan melawan vietcong. Saat Saigon jatuh ia melarikan diri dan bergabung dengan penyelundup senjata dari Filipina yang bermarkas di Pulau Kabilat. Mahir M16, pisau, dan perkelahian satu lawan satu.
Mereka dipimpin secara hirarki oleh Letnan Risman Zahiri, seorang sederhana, ramah, rendah hati, prajurit tempur berpengalaman, dan disegani oleh anak buahnya. Sosoknya mirip seorang ajengan dan ia mempunyai julukan Kyai Guntur.
Dan dalam misi khusus yang bersandi Konta ini mereka dipimpin oleh Mayor Santoso, prajurit dan komandan tempur berpengalaman, tegas, tidak mudah tersenyum, dan punya satu prinsip: semua tugas harus dituntaskan sebagai Prajurit Komando.
Saat membaca novel yang bersetting akhir tahun 70-an dan pertengahan 80-an—walapun tidak dinyatakan secara tegas, saya tidak menyangka ada sebuah deskripsi seperti ini. Biasanya cuma ada di film-film holywood. Tidak menyangka bahwa kita pun sebenarnya punya kesatuan tempur yang tangguh secara professional. Gambaran ini perlu agar menyadarkan pembaca bahwa pasukan ABRI (sekarang TNI) walaupun dengan keterbatasan yang ada tidak bisa dipandang sebelah mata.
Maka dengan berbagai keahlian tempur yang dimiliki, berangkatlah mereka untuk melaksanakan misi yang tanpa disadari pula bahwa ada yang telah membocorkan pendaratan mereka. Maka berbagai masalah pun mulai bermunculan. Diakhir cerita Jajang selamat dalam misi tapi tetap saja dihukum untuk menghormat bendera di tengah lapangan karena memukul pejabat dan membuat mobil sang pejabat penyok.
Dengan Santoso yang menyadari bahwa dirinya cuma pion dari ambisi segelintir orang untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan tetap mendapatkan pelajaran penting dari seorang yang bernama Harun: sebagai apa, untuk apa, dan bagaimana ia hidup, itulah yang utama. Ia hanyalah manusia dengan kelebihan dan juga keterbatasannya.
Secara umum alurnya menarik, penuh ketegangan. Apalagi penuh perenungan diri dari sang tokoh. Terantuk pada sebuah kalimat: mati bukan masalah, hidup yang jadi persoalan. Mulai mengenal Tuhan, saat jelang maut. Tipisnya batas antara hidup dan mati. Saya memberi nilai tiga bintang untuk novel ini. Belum sedramatis JRR Tolkien yang mampu mengundang pembaca untuk membaca bukunya berulang kali. Tapi cukuplah sebagai alternatif bacaan sebagaimana penerbitnya tegaskan dalam pengantarnya.
Allohua’lam bishshowab.

Riza almanfaluthi
dedaunan di ranting cemara
11:07 26 April 2007
Gelas itu masih bening
http://10.9.4.215/blog/dedaunan
https://dirantingcemara.wordpress.com

Advertisements

10 thoughts on “ELANG RETAK: MATI BUKAN MASALAH, HIDUP YANG JADI PERSOALAN

  1. ummmh…

    Saya telah membaca novel Elang Retak,kesan pertama saya pada saat melihat buku tersebut adalah…”gilaa..ini novel atau kamus 7 bahasa???rasa-rasanya,kitab agama manapun gak seterbal ini!!hahah..”.
    Yaa…memang buku ini nampak membuat pembaca bingung tentang apa isi buku ini (karena saking tebalnya…!!),sekaligus penasaran,karena judul dan sepenggal kalimat yang membuat hati kecil pembaca,khususnya saya,semakin penasaran untuk membaca novel tersebut,sepenggal kata yang penuh dengan arti,..ELANG RETAK “Mati bukan masalah,Hidup yang jadi persoalan”.Fyuuh….jujur,saya sampai menulis kalimat tersebut di tas sekolah saya dengan menggunakn spidol marker!!

    Sekedar intermezo,saya membaca novel ini dan menyelesaikannya dalam waktu 3 hari..Pada awalnya,saya merasa kurang yakin dapat membaca novel ini sampai selesai,karena tugas sekolah yang tiap harinya menumpuk bagai sampah yang menggunung dikota Bandung(heu.heu..benar-benar intermezo!!).
    Novel ini memang benar-benar bagus,selain memperkaya industri pernovelan Indonesia,karena ceritanya nyentrik,jarang,dan BEDA,penulisnya pun sama,senada dan seirama dengan novel yang ditulisnya..nyentrik, asik,tapi lebih banyak unsur misteriusnya.saya berpendapat seperti ini,karena saya pernah bertemu,dan berbincang dengan beliau,..yaya..dia memang seniman,……….
    seniman jenius.

    Pada intinya,
    Saya sangat setuju dan saya benar-benar mengharapkan,novel Elang Retak ini di apresiasikan dalam bentuk film…
    karena saya yakin,dan sangat yakin,novel ini layak dijadikan film,dan mungkin akan menjadi film layar lebar pertama yang menceritakan tentang medan perang,di Indonesia.
    Bukan tidak mungkin,film Elang Retak nanti,tidak kalah seru dan meneggangkan,dibandingkan dengan Jarhead,Black Hawk Down,Band of brother,dan mungkin..The Pianist.

    -Aphrodhite.Desire-
    Pelajar SMA kota Bandung
    12.20,14 maret 2008
    Everything is possible if we believe

    Like

  2. Aq Sering sekali MembaCa NoVeL iNi..KaReNa SanGaT MenAriK Dan mEnYenTuh..
    “Dia SePerTi ELang YanG TerBang sNDiRi TetaPi di LanGit YanG ReTak…”
    ManTab..CeRiTa YanG KonfLiknYa sunGguH RuMiT NamUn MenGaJak KiTa MasuK Ke DaLam aLur CeRiTanYa,,,

    I LoVe iT

    Like

  3. Saya sdh 4 bulan cari buku ini… mohon bagi yang berkenan, saya bersedia untuk membelinya.. mohon hubungi saya di 081326248030.. thanks

    melinda

    Riza: semoga dapat.

    Like

  4. saya setuju banget kalo same novel ini di filmkan, bagai penghapus dahaga akan film2 yang ber genre perang, dimana di dalamnya juga terdapat konflik yang mengajak penonton berpikir, bahkan saya sendiri kadang2 berkhayal, siapa saja berperan sebagai siapa aktor yang mungkin terlibat dalam film ini, 🙂

    Like

  5. saya menilai ini adalah novel yang luar biasa karena menurut saya mampu “mendobrak sebuah trend”, dimana penulis lain menulis novel percintaan yang dibumbui dengan humor, novel ini justru menulis mengenai, patriotisme, perjuangan, kesetiakawanan, pengorbanan tak ketinggalan humor pula, yang “dibalas” pengkhianatan tapi tersisip sekelumit kisah cinta. seolah penulis ingin bicara “jangan kau tutup bangkai dengan setumpuk melati”, krn walaupun hidup di negara yg (katanya) “demokrasi. tp tetep aja “democrazy”. sy sangat setuju kl novel ini di buat filmnya, tp pasti akan berubah jauh dr apa yg di novel, krn seluruh pejabat akan menentang keras hal ini, takut akan terungkap kebobrokannya. tapi saya secara pribadi angkat jempol 10 buat novel ini. semoga akan segera bermunculan novel seperti ini. Salut buat anda Gus Ballon.

    Like

  6. saat membaca novel ini, serasa nostalgia bersama beliau *gus ballon
    novel ini yang kedua kalinya saya beli, yang pertama di pinjam sampai saat ini entah kemana hehehe….
    pak. gus semoga sehat selalu
    salam….Tria.

    Like

Tinggalkan Komentar:

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s