Inilah Caranya Mengurus Ganti Faskes (Fasilitas Kesehatan) di BPJS


Sekarang saatnya membahas cara mengganti atau mengubah Fasilitas Kesehatan (Faskes) Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Terutama buat para peserta BPJS yang berdomisili di Kabupaten Bogor. Atau tepatnya yang mau mengubah data kepesertaan BPJS dan mau mengurusnya di Kantor BPJS yang terletak di Kompleks Pemda Cibinong.

Sebenarnya untuk mengubah data kepesertaan BPJS bisa datang ke kantor BPJS manapun karena sistemnya sudah online sekarang. Biasanya saya mengurusnya di Kantor BPJS Jalan Ahmad Yani No. 62 E Kota Bogor. Namun karena alasan kejauhan dan ternyata ada yang lebih dekat dari rumah saya, maka saya berusaha mengurus di Kantor BPJS Kompleks Pemda Cibinong ini.

Jadi Faskes ini merupakan tempat kita berobat dan meminta rujukan sebelum si sakit masuk rumah sakit. Faskes ini bisa berupa Puskesmas atau klinik swasta atau dokter keluarga atau balai pengobatan yang telah bekerja sama dengan BPJS.

Baca Lebih Lanjut.

Penting Buat Ibu Hamil: Kenali Bunyi-bunyian yang Mengganggu Janin Anda



Ibu Hamil (Sumber foto: muslimmums.co.za)

Dari hasil penelitian, indera pendengaran janin sudah mulai terbentuk ketika kandungan memasuki usia 8 minggu. Pembentukan indera ini berakhir pada usia kandungan 24 minggu. Barulah pada minggu ke-25 sang janin mampu mendengar suara orang-orang terdekatnya.

Selain itu janin mampu merespon bunyi-bunyian yang membuatnya tidak nyaman. Lalu seberapa besar desibel (satuan untuk mengukur intensitas suara) yang diperkenankan diperdengarkan kepada janin dalam kandungan?

Baca lebih Lanjut.

RIHLAH RIZA #43: SAAT LAPANG BARU BERBAGI, SEMPIT EUWEUH



…dan Kami lebih dekat kepadanya

daripada urat lehernya. (Alqaaf:16)

Stasiun Kereta Api Medan. Tiga hari sebelum Ramadan 1435 H usai. Saat itu menjelang waktu berbuka puasa. Saya duduk di bangku tunggu stasiun dekat musala. Sembari menunggu pengumuman keberangkatan kereta yang akan mengantarkan saya ke Bandara Kualanamu.

Tidak seberapa lama, seorang laki-laki yang membawa troli bagasi penuh tas dan kardus datang mendekat. Mungkin ia akan ke toilet yang berada di sebelah tempat salat ini, pikir saya. Memandang wajahnya seperti sangat dekat. Pernah saya kenal.

Saya berinisiatif untuk menyapa duluan, “Mas, kayaknya saya kenal. Di mana yah?” Langsung dia menjawab, “Mas Riza yah?” Ia menyebut nama. “Kita pernah satu kos dulu,” katanya lagi. Ingatan saya langsung menuju kampus STAN dulu. Setelah itu kami hanyut dalam perbincangan masa lalu dan sekarang.

Baca Lebih Lanjut.

5 Hal Penting dari Si Tuli yang Kudu Kamu Lakukan Segera



Ilustrasi ayah dan anaknya dalam suatu pernikahan (Dari sini)

Ada ulama yang dikenal sebagai seorang zuhud, warak, dan berkepribadian sederhana serta hidup dalam keprihatinan. Ia sezaman dan pernah bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal. Namanya Hatim Alasham. Nama lengkapnya Abu Abdurrahman Hatim bin Unwan Alasham. Ia dijuluki sebagai Alasham. Mengapa dijuluki sebagai Alasham (si tuli)? Ii Ruhimta dalam buku yang ditulisnya berjudul Kisah Para Salik menceritakan sosok syaikh dari Khurasan ini.

Dikatakan bahwa seorang perempuan bertanya kepada Hatim. Ketika bertanya tiba-tiba perempuan itu mengeluarkan angin. Merahlah mukanya karena malu. Hatim berkata kepadanya, “Hai, coba kamu keraskan suaramu agar dapat kudengar!” Perempuan itu bergembira sebab ia mengira bahwa Hatim itu tuli. Maka setelah peristiwa itu Hatim dikenal dengan Hatim Alasham.

Baca Lebih Lanjut.

Ups, Ketahuan 70 Persen Hasil Pajak Larinya ke Mana


Syafii Maarif di KPK (Sumber foto: inilah.com)

Dalam acara halal bihalal KPK bersama wartawan di KPK, Kamis kemarin (28/8), Syafii Maarif memberikan pernyataan berkaitan dengan pajak. Setelah itu Republika Online membuat judul berita “Maarif: 70 Persen Hasil Pajak ke Mana?”. Pernyataan Maarif yang dikutip dari laman Republika Online lengkapnya demikian.

Pemerintah dan lembaga penegak hukum harus segara mencari hasil pajak yang hilang. Untuk itu pemerintah dan lembaga penegak hukum harus bersama-sama mengawasi pemasukan dan pengeluaran sektor pajak. Sebab, penerimaan hasil dari wajib pajak belum sepenuhnya masuk ke kas negara.

Baca Lebih Lanjut.

Bernyanyilah Semaumu, Biarlah Waktu Aku Tipu


 


 

 

Suatu malam yang jarang kita sapa dengan segala nada sontak datang mengukur pintu-pintu nadi pikir kita. Laron yang sepasang berderet mengukur sudut-sudut lantai menaburkan dingin. Gigilnya tak kepalang mengukur mata-mata yang tak mau terpicing. Dengkur halusmu seperti ratusan belati yang sengaja kau tikam dalam telinga-telinga rapuhku. Tersebab itu, waktu aku tipu. Selagi ia sibuk memaki, izinkan kata-kata rapuh melamatkan aku: “Pada siapa elegi akan tiba?”

Puluhan hari kemudian datanglah kembali suatu malam yang jarang kita sapa.

**

 

Riza Almanfaluthi

Ditulis untuk Jejak Kata Tapaktuan

25 Agustus 2014

Gambar berasal dari Kompasiana.

Untuk Para Ayah: 5 Fakta Sosial Bikin Anak Keblangsak


 


Ayah yang mengajarkan anaknya wudhu. (Ilustrasi diambil dari islamicblog.co.in)

Pemuda-pemuda akan tumbuh

sesuai dengan apa yang telah dibiasakan oleh bapaknya.

Pemuda itu tidak hidup dengan akalnya, tetapi dengan agamanya.

Maka dekatkan ia kepada agama.

Pohon yang tumbuh di taman tidak akan sama

dengan pohon yang tumbuh di tanah tandus.


(Syair dalam buku Pendidikan Anak dalam Islam)

 

Mereka para orang tua yang ditugaskan jauh dari keluarganya akan tahu betapa nikmat terbesar yang mereka miliki adalah kebersamaan dengan keluarga. Maka buat para orang tua yang demikian, janganlah menyia-nyiakan waktu kebersamaan itu.

Walau teknologi sudah mampu mendekatkan orang dalam hal berkomunikasi. Namun tetap saja tak mampu menggantikan hangatnya sebuah pelukan dan tatapan mata secara langsung. Sehebat-hebatnya mendiang Steve Jobs yang memiliki visi menjadi pelopor digitalisasi semua pekerjaan manusia, ia tetap percaya bahwa rapat itu harus bertatap muka. Menurutnya, kolaborasi dan kreativitas tak akan pernah muncul tanpa ada tatap muka. Apatah lagi dalam hal mendidik anak.

Baca lebih lanjut.

Anda Kurang Percaya Diri? Baca yang Satu Ini


Percaya diri seperti singa jantan ini? Cool Man…

Bagi sebagian orang berbicara di depan umum serupa malapetaka. Padahal kegiatan memberikan presentasi , sebagai salah satu bentuk kegiatan berbicara di depan umum, adalah sebuah pekerjaan yang sering dijumpai dan mesti dilakukan di instansi kita. Entah dalam rangka pengarahan, pemarapan rencana kerja atau pelaporan apa yang telah kita lakukan.

Sebab yang menjadikan presentasi sebagai sebuah mimpi buruk hanya ada dua yaitu kurangnya persiapan, selebihnya hanya masalah kepercayaan diri. Yang terakhir ini berkaitan dengan cara berpikir. Kali ini akan disampaikan kiat-kiat membangun rasa percaya diri agar bisa memberikan performa yang terbaik. Kiat-kiat ini—dengan sedikit penyesuaian dari Penulis—diambil dari buku Memukau Audiensi dengan Pengaruh dan Kharisma yang ditulis oleh Steve Cohen dan sudah terbukti efektif terutama bagi penulis. Berikut kiatnya.

Baca Lebih Lanjut.

Menjaring Pajak Para Penyumbang Dana Kampanye Pilpres



    Perhelatan pemilihan presiden 2014 sebagiannya telah usai. Sebagian yang lain masih berujung di Mahkamah Konstitusi. Tim kampanye masing-masing pasangan calon presiden dan wakil presiden juga sudah melaporkan penerimaan dan penggunaan dana kampanyenya. Ini kewajiban sebagaimana telah ditetapkan dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nomor 17 Tahun 2004. Selanjutnya akan dilakukan audit Laporan Dana Kampanye (LDK) melalui audit kepatuhan dan penerapan prosedur yang disepakati oleh kantor akuntan publik yang ditunjuk KPU.

    Momentum penyampaian LDK ini bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP) merupakan saat yang tepat untuk mengumpulkan bahan pengawasan pelaksanaan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Terutama Wajib Pajak yang memberikan sumbangan kepada salah satu pasangan calon. Pengumpulan bahan itu dapat dilakukan dengan mengakses secara langsung laman KPU karena KPU telah mengunggah sebagian LDK.

    Sampai dengan tanggal 6 Juli 2014 berdasarkan informasi di laman KPU pasangan calon nomor urut satu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa memeroleh dana kampanye sebesar Rp 108 milyar sedangkan pasangan calon Joko Widodo dan Jusuf Kalla sebesar Rp 295,1 milyar. Suatu jumlah yang sangat besar.

Baca Lebih Lanjut.

Buat Para TKI, Tolak Jika Ada Oknum Petugas di Bandara Minta Uang Fiskal



Sampai sekarang nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita tidak kunjung membaik. Perlakuan buruk yang diterima mereka di Bandara Soekarno Hatta masih saja terdengar. Contohnya beberapa waktu yang lalu, di pertengahan Juli 2014.

Para TKI yang baru datang dari luar negeri itu akan dipisahkan dari penumpang biasa dan dikumpulkan dengan TKI lainnya di ruang khusus. Dilakukan penggeledahan, dipaksa menyerahkan sejumlah uang, dan dipaksa untuk naik bis travel ke daerah tujuan masing-masing. Tentunya dengan membayar lagi sejumlah uang. Tidak ada yang gratis.

Baca Lebih Lanjut.