Ditjen Pajak Ikut Aktif dalam Pemberantasan TPPU dan Terorisme



Wakil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengikuti rapat koordinasi dalam rangka persiapan Indonesia menghadapi Indonesia Mutual Evaluation 2017 di Gedung PPATK, Jakarta Pusat, Selasa (28/2). Rapat dihadiri oleh kehumasan dari 15 instansi antara lain Badan Narkotika Nasional, Komisi Pemberantasan Korupsi, Kepolisian RI, DJP, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Kementerian Agama.

“Rapat ini merupakan rapat “kick off” yang meminta komitmen dari peserta rapat yang hadir untuk mendukung PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) dalam mengedukasi masyarakat tentang Tindak Pidana Pencucian Uang,” kata Dian Ediana Rae, Wakil Ketua PPATK dalam sambutannya. Menurutnya, edukasi ini penting dalam rangka mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. “Kampanye ini perlu didukung, oleh karena itu butuh sinergi antarlembaga untuk meningkatkan kinerja humas kita dalam menghadapi Mutual Evaluation Review nanti dan dengan saluran apa kampanye itu dilakukan,” lanjutnya.

Baca Lebih Lanjut.

Dirjen Pajak: Tak Perlu Takut Orang Pajak Bisa Buka Rekening



Dirjen Pajak, Ken Dwijugiasteadi meminta kepada masyarakat untuk tidak takut dan tidak menghebohkan isu di luar yang mengatakan bahwa orang pajak bisa buka rekening. “Sudah lama sebenarnya bisa buka rekening. Cuma sekarang itu ada aplikasi yang bisa langsung ke Bu Menteri,” kata Ken dalam Konferensi Press di Gedung Marie Muhammad, Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, kemarin (14/2).

Aplikasi yang bernama Akasia ini menurut Ken akan tersambung dengan aplikasi yang ada di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pembukaan rekening akan memangkas waktu yang awalnya 6 bulan menjadi satu minggu saja. “Mekanismenya harus izin. Sekarang juga harus izin tapi pakai aplikasi sehingga lebih cepat,” lanjut Ken.

Continue reading Dirjen Pajak: Tak Perlu Takut Orang Pajak Bisa Buka Rekening

Spotlight, Kill The Messenger, dan Panama Papers


 

Dalam seminggu terakhir saya menemukan tiga nama: Spotlight, Kill the Messenger, dan Panama Papers. Dua nama pertama adalah judul film yang diangkat berdasarkan kisah nyata. Sedangkan Panama Papers adalah kumpulan jutaan dokumen yang dibuat oleh perusahaan asal Panama: Mossack Fonseca.

Kesamaan dari ketiganya adalah mereka buah dari kerja investigasi yang dilakukan oleh wartawan. Spotlight mengungkap kasus pelecehan seksual (pedofilia)yang dilakukan bertahun-tahun lamanya oleh oknum pastur dan biarawan. Sayangnya ini didiamkan oleh pemimpin tertinggi Keuskupan Boston saat itu, Kardinal Law. Wartawan The Boston Globe dengan tim dari meja investigasi bernama Spotlight membongkarnya.  Ini terjadi di tahun 2001.

Spotlight merupakan film yang berhasil meraih penghargaan sebagai film terbaik di ajang Oscar ke-88 akhir Januari 2016. Koran Vatikan menyebut film ini “not an anti-Catholic film” dan Radio Vatikan merekomendasikan film ini untuk ditonton.

Baca Lebih Lanjut

Ups, Ketahuan 70 Persen Hasil Pajak Larinya ke Mana


Syafii Maarif di KPK (Sumber foto: inilah.com)

Dalam acara halal bihalal KPK bersama wartawan di KPK, Kamis kemarin (28/8), Syafii Maarif memberikan pernyataan berkaitan dengan pajak. Setelah itu Republika Online membuat judul berita “Maarif: 70 Persen Hasil Pajak ke Mana?”. Pernyataan Maarif yang dikutip dari laman Republika Online lengkapnya demikian.

Pemerintah dan lembaga penegak hukum harus segara mencari hasil pajak yang hilang. Untuk itu pemerintah dan lembaga penegak hukum harus bersama-sama mengawasi pemasukan dan pengeluaran sektor pajak. Sebab, penerimaan hasil dari wajib pajak belum sepenuhnya masuk ke kas negara.

Baca Lebih Lanjut.

ORANG PAJAK: DARI MISKIN HINGGA MENJADI KAYA


ORANG PAJAK: DARI MISKIN HINGGA MENJADI KAYA

 

Suatu saat saya pernah menjadi ‘gila’ karena banyak ide yang harus ditulis. Hingga tak berhenti untuk menulis. Suatu saat pula kering dari ide hingga tidak menulis berminggu-minggu lamanya. Sampai meragukan diri dan bertanya dalam hati, “saya mampu menulis tidak yah?” Untuk itu saya berdoa pada Tuhan, “berilah aku kemampuan untuk menulis.”

Selain doa, saya berikhtiar untuk menjejali isi kepala saya dengan banyak bacaan. Mulai dari membaca puisi, cerita pendek, novel, hingga koran. Setiap hari. Saya biarkan isi bacaan itu masuk dalam memori. Berita apapun saya amati. Perkataan orang saya dengar seksama. Mata saya eksplorasi ke mana-mana. Setelah itu biarlah apa yang di dalam kepala ini bekerja. Hanya demi untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit ide.

Saya percaya kepala kita ibarat teko. Terus menerus dipenuhi air maka teko itu akan meluber. Luberan inilah yang akan menjadi ide dan mencari tempat penyaluran. Dan saluran itu adalah menulis. Ini sudah sering saya ungkap beberapa waktu yang lampau.

Lebih-lebih lagi jika disokong dengan usaha pengomporan berupa pelatihan-pelatihan. Maka air itu akan semakin panas. Hingga tak terbendung lagi dan meluberlah banyak ide. Ini terbukti. Masalahnya adalah bagaimana mempertahankan agar ide itu tak menguap begitu saja?

Saya disarankan untuk mencatatnya dalam kertas-kertas kecil yang dapat ditempel. Atau menulisnya dalam buku kecil yang mudah dibawa ke mana-mana. Jadi, kalau ada ide yang terlintas dalam pikiran langsung dicatat dalam buku itu. Saran yang bagus.

Saya kemudian berangan-angan untuk menyetorkan ide yang terkumpul itu ke Bank Gagasan. Sebelumnya saya harus membuat rekening tabungan ide terlebih dahulu. Lalu saldo rekening ide saya bertambah. Pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit terbukti. Ide saya menggunung.

Di sini tak akan ada sejenis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPTAK) yang mengawasi darimana datangnya ide yang masuk ke rekening tabungan ide. Mencurigakan atau tidak aliran ide itu. Tidak. Tidak ada. Seberapun banyaknya. Seberapa gila dan liarnya. Biarkan semuanya masuk dan tercatat menambah saldo rekening.

Sampai suatu titik di mana saya teramat membutuhkan sekali ide itu untuk memenuhi nafkah batin dan kepuasan diri, saya ambil tabungan ide itu. Barulah akan ada pengawas yang akan menyeleksi dan menyaringnya. Mana yang perlu dan tepat pada saat itu. Dialah hati nurani yang tak bisa dibohongi. Dia adalah pengawal alami. Biarkan dia bekerja.

Dengan itu sudah pasti saldo rekening ide saya pun berkurang. Tapi tak mengapa. Kalau rajin bekerja (baca: bereksplorasi), saya akan mendapatkan banyak ide yang hendak ditabung. Pendek kata, saya tak takut untuk menghadapi masa depan yang ‘suram’ dengan miskin dari ide.

Anehnya, Bank Gagasan ini hanya akan memberikan bagi hasil kepada saya jika rekening saldo ide berkurang. Ini lain dari kenyataan bank yang di dunia bahana. Mereka hanya akan memberikan bagi hasil jika saya menumpuk begitu banyak uang di rekening.

Nah, di Bank Gagasan ini, bagi hasil itu berupa kepuasan batin yang merajalela di jiwa. Semakin banyak ide yang diambil, akan semakin puas jiwa saya. Tentunya dengan syarat mutlak bahwa ide itu harus bermuara pada sebuah tulisan. Selain itu, jangan harap akan mendapatkan bagi hasil. Bank Gagasan akan memantau dengan cermat perkembanganya melalui sistem teknologi informasinya yang canggih.

Tentu ada pajak yang harus dibayar dari bagi hasil yang didapat. Pajak itu berupa waktu. Memang, segala sesuatu di dunia ada harga yang harus ditaur. Tapi tak mengapa karena hasilnya adalah sesuatu yang bermanfaat.

Maka dari itu, agar mendapatkan banyak bagi hasil berupa kepuasan batin, saya harus rajin untuk mengambil ide sebanyak mungkin dari rekening itu. Dan tak mungkin saya melakukannya jika saldo tabungan ide sedikit. Oleh karenanya saya pun harus tekun mengumpulkan ide-ide itu dari mana saja datangnya. Itu sudah saya lakukan, Insya Allah.

Anda tahu seberapa bengkaknya saldo rekening ide saya kini? Ia sejumlah kata-kata bahasa Indonesia yang pernah terdengar di muka bumi ini.

Saya—orang pajak—yakin betul Anda pun memilikinya.

***

Tags: ppatk, bank gagasan, saldo rekening, saldo rekening orang pajak, ide, gagasan, tema, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan, orang pajak, pns, djp

 

 

Riza Almanfaluthi

dedaunan di ranting cemara

dari malam hingga pagi

5:51 07 Desember 2010

 

http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/orang-pajak-dari-miskin-hingga-menjadi-kaya/

MENGAPA ANDA MASIH TETAP MISKIN?


MENGAPA ANDA MASIH TETAP MISKIN?

(KIAT CEPAT JADI ORANG KAYA)

    Alhamdulillah, Allah masih memberikan kesempatan kepada saya untuk menuangkan apa yang ada dalam pikiran saya selama lebih dari sepekan ini. Setelah mendengar khuthbat jum’at seorang khothib (saya bersyukur bahwa pada saat itu saya tidak tertidur), saya berpikir kembali tentang penyebab dari sebuah kemiskinan yang melanda kita atau sebagian dari saudara-saudara kita.

    Namun sebelum bercerita lebih banyak lagi tentang hal itu, saya sedikit mengingatkan kepada Anda bahwa Anda tentunya sering mendengar keluhan dari teman-teman Anda. Atau Anda juga yang sebenarnya mengeluh tentang kondisi ekonomi Anda?

    Ya, dengan tingkat persaingan yang tinggi, ditambah hedonisme yang merajalela, rasa kesetiakawanan yang mulai meluntur, membuat hidup yang sudah sulit menjadi bertambah sulit. Anda sudah mati-matian cari duit, cari dunia, tapi kok hidup begini-begini bae. Enggak ada perubahan. Siang malam hidup Anda didedikasikan untuk menjaga bagaimana timbunan uang yang ada di rekening bank Anda tidak berkurang bahkan sebaliknya. Mending bagi Anda yang sudah punya seperti itu.

    Tapi Anda misalnya yang hidupnya benar-benar di jalanan, pasti hanya memikirkan bagaimana bisa bertahan hidup untuk keesokan harinya. Atau yang mendingan lagi bila Anda adalah orang yang hidupnya pas-pasan. Gaji yang Anda terima atau duit yang Anda peroleh ya cukup untuk kehidupan sehari-hari dan kebutuhan yang paling dasar yaitu sandang, pakan, dan papan.

    Untuk menabung? Tidak ada bagian yang disisakan untuk itu. Untuk piknik? Boro-boro, tidak terpikir sama sekali. Untuk anak sekolah? Dipaksa-paksakan untuk ada, karena pendidikan itu penting bagi anak-anak Anda. Supaya kemiskinan itu tidak diturunkan sampai keturunan yang ketujuh. Tak masalah dapat dari berhutang atau dari mana yang penting halal. Bukan dari merampok atau pinjam dari bank keliling.

    Semua jenis tipe Anda itu lalu sama-sama mengeluhkan tentang betapa miskin diri Anda, betapa kurangnya penghidupan Anda, betapa jarangnya rezeki mengalir kepada Anda. Lalu Anda pada akhirnya akan berkata: “Allah telah menghinakan kita.”

    Tidak!!! Sebenarnya bukan karena Allah telah menghinakan Anda sehingga menyebabkan Anda miskin dan rezeki Anda tertahan di langit, tidak turun-turun, dan jatuh pada dirinya. Tapi karena empat hal ini.

    Ketika seharusnya Anda dapat proyek besar ternyata dalam hitungan menit seharusnya proyek itu sudah berada dalam genggaman Anda tetapi tiba-tiba proyek itu lenyap dan jatuh ke tangan pesaing Anda. Empat hal ini bisa jadi karena telah Anda lakukan. Apa itu?

    Yang pertama penyebab Anda miskin dan gagal dalam meraih rezeki adalah karena Anda tidak menafkahi anak yatim. Pantas saja para pejabat dan pengusaha itu kalau ada acara keagamaan, mereka selalu mengundang anak yatim untuk disantunin. Wajar kalau mereka semakin bertambah kaya. Ya dengan menyantunin anak yatim mereka menjaga aset mereka tidak hilang dan memastikan aset mereka terus bertambah dan bertambah, serta tujuan atau keinginan yang dimaksud tercapai. Jadi, kalau Anda mau kaya, lakukan cara ini dulu: santuni anak yatim.

Yang kedua, mengapa Anda tetap miskin? Ini dikarenakan Anda tidak memberikan nasehat kepada yang lain untuk memberi makan orang miskin. Ternyata penyebab kedua ini adalah bukan sekadar Anda belum memberi makan orang miskin. Tetapi kalau Anda sudah memberi makan mereka tetapi Anda belum menganjurkan kepada sahabat-sahabat Anda, teman-teman Anda, sanak kerabat Anda untuk melakukan hal yang sama dengan Anda, Anda dipastikan tetap akan miskin.

Coba, aspek apa yang mencolok dari penyebab yang kedua ini? Anda sejatinya dituntut untuk menjadi kader-kader kebaikan, tidak hipokrit, dan anti dengan kemunafikan. Karena sebelum meminta kepada orang lain untuk berbuat kebaikan Anda dituntut untuk melakukannya terlebih dahulu. So, kalau Anda mau kaya: Anda beri makan orang miskin dan anjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan Anda. Karena surga diciptakan bukan hanya untuk sahaja.

Yang ketiga, mengapa sampai saat ini Anda masih miskin? Ini dikarenakan Anda memakan harta warisan dengan cara mencampurbaurkan antara yang halal dan haram. Penyebab ketiga ini bermula dari cara Anda mendapatkan harta warisan itu. Dengan cara yang licik, menjijikkan, tidak adil, dan tidak syar’i.

Anda yang seharusnya mendapatkan harta warisan sesuai hukum faraid, tapi Anda serakah dan ingin mengangkangi semuanya hingga menzalimi Saudara-saudara Anda. Bahkan yang lebih zalim lagi lalu Anda mempergunakan harta warisan itu untuk sesuatu yang diharamkan oleh Allah. Bersiap-siaplah Anda akan miskin seumur hidup Anda jika melakukan hal yang ketiga ini. Miskin tulen dan laten.

Nah Pembaca, perhatikan ketiga hal di atas ini. Semuanya berdimensi adanya pihak lain yang berhubungan dengan Anda. Dengan kata lain secara sosial Anda harus baik dengan mereka: anak yatim, orang miskin, dan saudara-saudara Anda sebagai sesama ahli waris. Anda dilarang untuk berbuat tidak adil dengan mereka kalau Anda tidak mau jadi orang miskin sampai Anda mati.

Islam memperhatikan betul masalah sosial kemasyarakatan ini sehingga ketika Anda mencederainya Anda langsung menjadi miskin karena ulah Anda sendiri.

Penyebab keempat Anda miskin inilah yang menyangkut kepentingan Anda sendiri. Enggak ada kaitannya dengan orang lain. Apa itu? Anda cinta mati sama harta Anda dengan kecintaan yang berlebihan.

Memangnya Anda kagak boleh demen
ama itu duit? Ama emas yang berkilo-kilo, ama perempuan-perempuan cantik, ama anak-anak Anda yang ganteng-ganteng dan ayu-ayu, ama Ferarri Anda, ama tumpukan saham Anda, ama jabatan yang membuat orang-orang iri, ama perusahaan anda yang sudah menjadi bo-na-fi-de? TENTU BOLEH saudara-saudara.

Itu adalah hak Anda. Itu sudah menjadi sunnatullah, kecenderungan alami, naluri kuno yang tak bisa ditutup-tutupi. Karena Allah sudah menegaskan semua kecenderuangan itu menjadi kecintaan terhebat yang pernah ada yang bisa dilakukan oleh manusia. Semua itu dibuat indah oleh Allah di pandangan manusia.

Masalahnya cuma satu, Anda cinta benar sama harta itu. Titik.

Saking cintanya, lalu cinta itu membutakan Anda. Anda tabrak semua rambu-rambunya. Ibadah Anda terbengkalai, panggilan Haji Anda abaikan, rintihan kelaparan Anda lempar jauh-jauh dari telinga Anda. Anda—sekali lagi—buta. Anda lupa. Ya sudah siap-siap saja Anda akan miskin. Atau bagi Anda yang saat ini sudah miskin, dikuadratkan lagi kemiskinan itu. Atau yang seharusnya besok Anda dapat rezeki yang banyak, eh…ternyata tidak dapat sama sekali. Anda yang seharusnya lulus dari ujian eh ternyata tidak lulus. Dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Tapi memang di dunia ini ada saja yang anomali. Anda sudah memakan harta anak yatim sampai habis tidak tersisa bahkan anak yatim itu malah jadi anak jalanan tetapi Anda semakin kaya saja. Anda juga sudah tidak pernah infak kepada orang miskin, kasih recehan pun tidak sudi tetapi hitungan rumah Anda semakin bertambah saja.

Bahkan Anda sampai rebut harta warisan dari Saudara Anda, eh bukannya Anda jatuh bangkrut, tetapi Anda dan sanak keluarga Anda semakin jaya saja. Anda jadi Anggota DPR RI yang terhormat di Senayan. Istri Anda jadi Bupati. Anak Anda yang sulung jadi Ketua Partai tingkat Propinsi. Anak yang kedua jadi pengusaha sukses. Anak Anda yang bungsu dan cantik itu jadi model dan sekarang sedang kuliah di Aussie. Enggak ngepek…(benar-benar pakai p bukan f).

Bahkan Anda ngebet banget ama harta. Jadi gaji dan tunjangan Anda yang besar berasa tidak cukup. Akhirnya Anda terima suap dari kolega Anda untuk memuluskan usahanya. Tapi ya kok KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ndak melirik sama sekali Anda. Bahkan PPATK pun sampai terbengong-bengong dan tidak bisa menganalisis uang dari mana hingga membuat rekening Anda semakin hari semakin bertambah. Pokoke Anda aman dan sentosa saja.

Anomali apa ini sehingga empat hal itu tidak membuat Anda miskin seketika. Cuma Allah yang menghendaki itu: ISTIDRAJ. Pembiaran dari-Nya. Sampai Allah akan tuntut sehabis-habisnya Anda di akhirat sana. Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya.

Anda ingin kaya? Anda ingin rezeki Anda mengalir terus? Anda tidak mau miskin? Jangan lakukan empat hal itu.

Semoga bermanfaat.

***

Maraji’: AlFajr surat ke-89 ayat 15-20

 

riza almanfaluthi

yang sedang belajar jadi orang kaya

dedaunan di ranting cemara

17.07 08 Mei 2010